My Ex Husband

My Ex Husband
Alasan yang Tidak Bisa Diterima



Kacau, lelah, marah, kesal. Keempat elemen yang mengendap di dalam hatinya itu semakin menyiksa Haleth yang kini ditambah oleh rasa pening yang menyerang kepalanya. Ia ingin menangis. Sangat sangat ingin. Tapi entah mengapa tak ada setitik pun air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin berteriak. Tetapi setiap Haleth hendak membuka suara, tenggorokannya seperti tercekat dan berakhir hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.


Kedua kakinya bergerak menginjak karpet yang terhampar di putihnya marmer. Berjalan dengan wajah lesu memasuki kamar mandi, Haleth lantas melucuti pakaiannya satu per satu. Berendam di air hangat mungkin bisa membantunya merilekskan tubuh dan pikirannya. Sebelum menuju bath tub, wanita itu mengambil essential oil di rak. Namun sebuah pantulan dirinya di cermin membuat Haleth terdiam lebih lama di sana.


Mata kecoklatan nya menatap nanar tubuh telanjangnya yang terdapat bekas-bekas kemerahan yang membiru. Entahlah, kenapa ia baru sadar jika jumlahnya begitu mengejutkan. Seganas apa percintaannya dengan Adam semalam?


Huh? Percintaan? Itu hanya sebuah kesalahan yang berakhir dengan kecelakaan. Tidak ada perasaan yang terlibat.


Wanita itu mendengus kemudian melakukan tujuan awalnya. Haleth mengubur dirinya dalam tumpukan busa yang meluap dari bath tub nya. Matanya terpejam. Ia mencoba menikmati waktunya dan berusaha keras melupakan semua masalahnya.


Haleth menghabiskan waktu cukup lama untuk menenangkan dirinya, dan meninggalkan bath tub setelah merasakan pegal pada punggungnya. Haleth berjalan kembali ke kamarnya, lalu memakai pakaiannya satu per satu sebelum memutuskan untuk keluar.


Kakinya melangkah membawanya menuju dapur. Wanita itu lapar dan butuh sesuatu untuk di makan. Ia ingat makanan yang Adam beli untuknya tadi. Mungkin Haleth bisa memakannya, toh pria itu sudah pergi dari rumahnya. Jika Adam menanyakan apakah dirinya memakan atau tidak menu makan siang yang pria itu belikan, Haleth akan bilang tidak. Jangan harap Haleth akan jujur. Dia pasti ditertawakan oleh gengsinya yang selangit itu.


Namun langkahnya seketika berhenti saat Haleth sampai di ambang perbatasan dapur dengan ruang tengah. Haleth menghembuskan nafasnya putus asa.


"Hai. Kau ingin makan siang?"


Sial!


...***...


"Aku melihatnya. Mereka sepertinya tidak terlalu dekat. Mungkin karena sikap Haleth."


"Aku justru diajak berbicara oleh pria itu. Ah, kalau dia masih lajang, aku pasti akan mendekatinya."


"Dia masih lajang, mungkin. Buktinya dia mendekati Haleth, kan?"


"Ah, benar. Mengapa Haleth tidak merespon pria tampan, gagah, dan yang pasti banyak wanita menginginkan? Sayang sekali,"


Niel menghela nafasnya. Lebih dari 10 menit lamanya ketiga rekan kerjanya itu dengan semangat membicarakan seseorang yang menjemput Haleth beberapa menit lalu. Desas-desus itu bahkan sudah menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit.


Sampai sekarang hanya segelintir orang yang tau bahwa Adam adalah mantan suami Haleth. Terlepas dari ikatan pernikahannya dengan Adam, Haleth menjadi wanita yang acuh terhadap pria. Pantas wanita itu sekali didekati oleh seorang pria, gosip pasti tak dapat dihindari.


Niel meletakkan pulpennya lantas menatap ketiga rekan kerjanya yang masih melanjutkan obrolan. "Dia itu Adam Legrand, mantan suaminya Haleth." beritahu nya.


"Apa?" ketiga wanita itu menoleh secara bersamaan.


"Adam Legrand?"


"Tidak mungkin,"


"Pantas wajahnya tidak asing!"


Niel merotasi bola matanya. "Bukankah kalian sudah pernah bertemu dengan Tasha? Anaknya Haleth saja bahkan mirip sekali dengan Ayahnya,"


"Wah, serius Adam Ayahnya Tasha?"


"Kalau begitu, kau punya saingan yang berat ya, Niel?!"


Niel mendengus. "Aku tidak pernah melihat mereka sedekat ini sebelumnya. Makanya aku ambil start meskipun Haleth merespon ku seadanya."


Salah satu dari mereka mengusap bahu Niel. "Ah, ayolah. Meskipun begitu, dia tetap mau berbicara denganmu. Teruslah berusaha, Niel."


Pria itu mengangguk sekilas sebelum berdiri. "Aku akan kembali ke ruangan ku," katanya kemudian pergi.


Usai menutup pintu ruangan yang semula ia tempati, Niel melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit yang tak begitu ramai. Pria itu memasang ekspresi yang sulit diartikan, lantaran memikirkan hal yang mengganjal di pikirannya sedari tadi pagi. Itu menyangkut Haleth, wanita yang selama ini sudah memikat hatinya. Selama Niel mengenal wanita itu, belum pernah ia melihat hubungan Haleth dengan Adam sebaik yang terlihat hari ini. Ia tidak tau, tetapi ia selalu berfikir, apakah diantara mereka, terjadi sesuatu?


...***...


"Kenapa kau masih di sini? Aku menyuruhmu pergi tadi." Haleth meraih sumpitnya lantas menatap Adam datar.


Pria itu menempatkan sepotong caviar sushi di antara sumpit Haleth sambil tersenyum. "Memastikan kau makan dengan baik. Itu adalah favorit mu kan? Makanlah," ucapnya.


Haleth melahap sushi itu tanpa suara. Ia juga menghindari tatapan Adam yang intens.


"Jadwal mu di rumah sakit padat sekali." pria itu kembali membuka suara.


"Sudah biasa," jawab Haleth sekenanya.


"Apa kau tidak masalah? Tasha pasti akan merindukanmu. Bahkan saat weekend nanti, kau harus berada di rumah sakit seharian,"


"Darimana kau tau?" obrolan Adam mulai menarik perhatiannya.


"Tidak penting darimana aku tau. Aku akan membeli rumah sakit itu, dan menetapkan jadwal yang baru untukmu,"


Haleth mendecih seraya meletakkan sumpitnya. "Karirku tidak perlu campur tanganmu. Berhenti bersikap seolah-olah kau bisa mewujudkan semua keinginanmu terhadapku. Aku muak! Kau bukan siapa-siapa ku Adam!"


"Berhenti menyulut pertengkaran. Aku hanya memberikan solusi agar kau punya cukup waktu untuk Tasha,"


"Huh? Sorry?! Bukankah seharusnya ucapan mu itu ditunjukkan untuk dirimu sendiri?!" emosi Haleth mulai naik. Tanpa diperjelas pun, semuanya tau jika Haleth menolak mentah-mentah ide Adam.


Tetapi pria itu tetap menanggapi segala amarah Haleth dengan kepala dingin. Ia tidak akan meninggikan suaranya meski emosi Haleth mulai tak terkontrol sekalipun. Karena Adam tau, kesempatan kedua tidak akan datang 2 kali.


Adam menghela nafasnya. "Kau melarang ku membawa Tasha. Jika kau berfikir aku tidak punya cukup waktu untuk anak kita, aku bisa membawa Tasha ke Abu Dhabi kapanpun aku mau."


"Jangan lancang ya! Aku lebih berhak atas Tasha!"


"Haleth, ayolah. Singkirkan keegoisan mu itu. Apa kau yakin, Tasha senang dengan kau yang seperti ini?"


"Aku lebih mengerti Tasha. Jadi kau diam saja!"


"Dari sisi mana kau mengerti putri kita?"


Nafas Haleth memburu dengan tatapan mata yang tidak bersahabat. Pertanyaan Adam membungkamnya.


"Kau lebih menjunjung tinggi ego mu, dan membelenggu Tasha di sana. Apa itu yang kau sebut mengerti?"


Sial! Haleth kehabisan kata-kata!


"Kau tidak bisa terus memaksa Tasha untuk mengikuti semua keinginanmu,"


"Aku bekerja untuknya, jadi dia harus menurut padaku!"


"Aku juga bekerja untuk Tasha, Haleth. Tapi aku tidak pernah menekankan ego ku padanya," Adam lagi-lagi berhasil memojokkan Haleth. "Aku tau kau tidak sadar. Tapi, kau tidak pernah bekerja untuk kesenangan Tasha. Kau bekerja untuk kesenangan mu sendiri, menyibukkan diri untuk mengalihkan masa lalu kita, benar kan?"


Haleth terkekeh dengan nada mengejek. "Sok tau!"


"Aku tidak sok tau," Adam menyangkal. "Memang benar seperti itu, kan? Jika kau tidak bisa melupakan masa lalu kita, kenapa kita tidak memulainya kembali, Haleth?"


Tawa Haleth meledak. Wanita itu berdiri dari kursinya lantas tersenyum angkuh. "Keep dreaming! Hal itu tidak akan terjadi, sampai kapanpun! Dan satu lagi. Apapun alasannya, kau tidak akan bisa mengusik karirku sebagai Dokter! Jika kau mau membeli rumah sakit itu, beli saja! Maka dengan senang hati aku akan mengundurkan diri, Mr Legrand!"


Ia mendorong cukup kencang kursi yang semula ia duduki, berniat merapikannya. Namun karena emosi menguasainya, kursi tersebut justru tak terlihat rapi. Disusul perginya Haleth dari ruangan tersebut, kontan membuat Adam menghela nafasnya frustasi. Ia terlampau bingung menghadapi temperamen Haleth yang naik turun. Padahal, Adam melakukan ini demi kebaikan Haleth juga. Tapi entah mengapa, ide bagus itu selalu tampak berbeda dari sudut pandang wanita tersebut.


Cara apa lagi, yang harus Adam lakukan untuk mendapatkan kesempatan kedua dari Haleth?