
...••••••...
Sekitar dua jam setelah mereka berangkat dari apartemen yang keduanya tempati. Kini sepasang pengantin baru itu sampai, pada hampir sore hari di kediaman kedua orang tua Alvaro.
Hembusan angin sejuk terus menyapu rambut Sisil, prempuan yang terus tertidur hampir di sepanjang perjalanan.
"Hey bayi koala, bangunlah. Ini sudah hampir sampai dan kamu masih terus tertidur!" suara Alvaro terdengar sedikit berteriak.
Sisil tidak terganggu sedikit pun, prempuan itu terus memejamkan mata dengan sangat tenang.
Perlahan Alvaro mengurangi kecepatan kendaraan roda empatnya, lalu menepi dan berbelok tepat di sebuah rumah besar namun terlihat sangat sederhana, persis seperti bangunan jaman dahulu.
Terlihat kedua orang tua Al sedang duduk di teras depan rumah. Mereka menoleh, memandanga kearah dimana mobil Al terparkir.
Rida dan Bayu bangkit secara bersamaan, raut wajahnya pun terlihat berbinar, dan berjalan kearah mobil.
Alvaro membuka pintu mobil, dia keluar lalu melepaskan kacamata hitamnya.
Dia tersenyum.
"Al, menantu Mama kemana?" Rida dengan sangat antusias.
Seketika senyum di bibir pria itu pudar.
"Ini anak sulungnya lho dateng! kok yang pertama kali di tanyain malah menantunya!" Alvaro kesal.
"Sama saja, ... jadi dimana Naisilla?" sambung Bayu, hingga membuat Alvaro menghela nafas sampai beberapa kali.
"Ck! kalian ini!" Alvaro mendelik.
Alvaro berjalan memutari mobil, lalu berdiri tepat di samping kursi yang Sisil tempati.
"Nah .. menantu Mama dan Papa itu sedang menjadi siluman koala! dari berangkat sampai sini dia terus tertidur."
Rida tersenyum, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat sang menantu kesayangan.
Dan benar saja, Rida melihat Sisil tengah terlelap. Matanya tertutup rapat, rambut terurai yang terlihat acak-acakan, juga mulut yang sedikit terbuka.
"Al, apa Sisil sedang mengandung?" Rida menatap wajah putranya penuh harap.
Alvaro diam, menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Tidak. Memangnya kenapa?" pria itu balik bertanya.
Rida kembali memandang Sisil, lalu senyum di bibirnya kembali terbit.
"Istrimu terlihat lebih berisi, begitupun dengan wajahnya yang terlihat memancarkan aura yang berbeda."
"Mama ngaco!" sergah Al, dia menggelengkan kepalanya pelan.
Begitupun dengan Sisil, sayup suara seseorang tengah mengobrol terus terdengar. Perlahan mata Sisil mengerjap, lalu membulat sempurna saat kedua mertuanya tengah memandang dengan raut wajah berbinar.
"Aduh .. aku ke tiduran yah?" Sisil terlihat canggung.
Prempuan itu menegakan tubuh, merapikan rambut lalu keluar dari dalam sana.
"Nah, gimana? jadi tontonan Mama, Papa lho dari tadi!" ucap Al kenapa Sisil.
Sisil tersenyum gugup, bahkan wajahnya sudah terlihat sangat memerah.
"Kenapa Abang nggak ngebangunin aku!" cicit Sisil pelan, lalu mencubit pinggang Alvaro.
"Astaga Naisilla! kenapa kamu ini?" Alvaro menjengit, dia bergeser lebih menjauh dari istrinya.
Sisil tidak menjawab, dia hanya terus tersenyum.
"Kalau begitu mari masuk. Mama bikin mie, mau Mama buatkan?" Rida merangkul bahu Sisil, lalu menuntunnya sampai masuk kedalam rumah.
Prempuan itu menurut, melangkahkan kaki kemana pun Rida membawanya.
Tampaklah sebuah ruangan yang terlihat rapih, dengan gaya klasiknya. Beberapa guci berukuran besar tampak terlihat, juga jam dinding, dan beberapa benda lainnya termasuk tv dan juga kursi.
Aih, suasananya kenapa horor! umpat Sisil, dengan pandangan yang terus meneliti sekitar.
Sisil menoleh kebelakang, lalu melihat suaminya yang juga sedang berjalan menyusul bersama sang ayah.
"Nova dimana?" Alvaro bertanya.
"Dia sedang keluar, biasa di ajak teman-temannya!" sahut Rida.
"Ohh .. kalau begitu Al mau bawa Sisil ke kamar dulu, pinggangnya pasti sakit karena duduk terlalu lama!" izin pria itu kepada orang tuanya.
Rida tampak mengangguk, lalu melepaskan rangkulannya.
"Tunggu sampai Nova pulang saja, biar kita bisa makan bersama." Sisil tersenyum.
"Oke baiklah." Rida menjawabnya dengan seulas senyuman hangat.
"Sisil ikut Abang dulu ya Ma, Pa!"
"Semoga betah ya, nak!" Bayu mengusap kepala Sisil lembut.
Sisil mengangguk pelan, kemudian dia berjalan bersama Alvaro dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Mereka terus berjalan, kemudian Alvaro sedikit menundukan pandangan, menatap Sisil yang terlihat sedikit berbeda.
"Sayang kamu kenapa?" dia bertanya.
Sisil menoleh, lalu menggelengkan kepala.
"Kamu ketakutan?" Alvaro memincingkan mata, saat melihat gelagat istrinya sedikit berbeda.
"Ti-tidak!"
Alvaro menyeringai.
Sepertinya seru, jika aku mengerjai mu!
Alvaro membatin.
"Baiklah, ini kamar ku saat belum bekerja bersama pak David."
Klek!
Sisil menatap ruangan itu dengan seksama.
Kamar berukuran kecil, tanpa cat dan banyak hiasan, hanya berhiaskan bata merah namun terlihat sangat rapih.
"Abang nggak ada niatan buat di tembok terus pakai cat gitu?" kata Sisil sembari melangkahkan kaki.
Alvaro menguluk senyum, lalu menutup pintu dan menarik Sisil kearah tempat tidur.
"Mau tidur?"
"Nggak usah, tadi aku udah tidur terus kan kata Abang!?"
Alvaro menyeringai.
"Senyum kamu aneh!" Sisil mendorong dada suaminya.
Aku tau kau sedang ketakutan, jadi kita lihat nanti malam, apa kau akan tetap berusaha menjauhkan aku dari dirimu?!
"Abang?"
Deg! Alvaro terkejut.
"Huum, kenapa?" pria itu tersenyum.
"Ayok jalan-jalan, aku mau lihat pemandangan sekitar, sepertinya bagus .. Angin sorenya juga segar!"
Alvaro mengangguk.
"Ayok, ada pantai di dekat sini."
Alvaro bangkit, dia meraih tangan sisil, menggenggam dengan erat dan ..
Cup!
"Welcom home, menantu kesayangan Mama .. Papa!" kata Alvaro setelah mencium kening Sisil terlebih dulu.
Mereka tersenyum, lalu berjalan kearah luar kamar, dan melanjutkan perlajanannya menuju pantai yang berada tidak jauh dari sana.
...•••••...
Jangan lupa!
Like, komen, hadiah dan vote.
~Cuyung kalian~
Bonus foto Abang pas lagi mantai~ berburu sunbret😅