
...••••••...
"Jadi periksa Adik hari ini?" Daniel meletakan secangkir teh hangat yang baru saja di minumnya, lalu menoleh kearah samping kiri, dimana David tengah duduk bersandar memandang lurus kedepan.
Pria tampan dengan pakaian yang terlihat lebih santai dari pada biasanya itu menatap sang ayah, dia tersenyum lalu menganggukan kepalanya perlahan.
"Hah ... semoga ayah masih ada, dan bisa menghabiskan waktu bersama dia. Karena ayah hampir tidak pernah menghabiskan waktu dengan Balqis dulu, mau bertemu saja harus sembunyi-sembunyi, agar kamu tidak tau dan itu yang menantu ku inginkan." Daniel tersenyum getir.
"Kalian memang tega sekali, memisahkan seorang ayah dengan putri kandungnya. Bahkan kalian juga tega, membiarkan Anna melewati itu sendirian ... Astaga, aku tidak tega kalau ingat itu, dia juga sering mual muntah bukan? dan dia bisa melewatinya tanpa diriku!"
"Kamu bodoh, kamu bebal! sudah ayah katakan dan kau tidak pernah mau mendengar."
"Sungguh harus berapa kali aku bilang. Ini hanya untuk nyawa Mika, tidak ada cinta apalagi lebih dari itu!" David berusaha membela diri dihadapan ayahnya.
"Itu bukan alasan, mana ada suami yang tega menyakiti hati istrinya. Seharusnya kau bisa tegas sejak dulu, dan itu akan membuat Anna tetap berada disisimu."
"Tunggu! kenapa kita jadi bahas ini?" dahi David menjengit keras.
"Entahlah, ayah jadi ikutan kesal karena mempunyai putra semata wayang yang bodoh!"
"Iya karena sekarang anak ayah itu istriku, dan bukan aku!" celetuk David, sampai membuat Daniel menoleh.
Pria tua itu diam, menatap David yang sedang menundukan wajahnya dengan seksama.
Menyesal, sedih dan kecewa berpadu menjadi satu. Bahkan wajah David terlihat muram.
"Kau tetap putra ku!" Daniel menepuk bahu David.
"Pergilah, sudah siang .. atau mungkin Anna sudah menunggu mu di dalam." ucap Daniel kembali.
"Baiklah, aku pergi dulu. Seperti biasa, Kaka tidak akan ikut, dia hanya ingin menunggu di rumah bersama Kakek dan Neneknya!"
David bangkit dari kursi teras yang ia duduki, kemudian berbalik arah. Namun dia cukup terkejut saat melihat Anna yang sudah berdiri di ambang pintu dengan bibir yang tersenyum.
"K-kamu!?" David menjengit. "Sejak kapan berdiri di sana!?" David gugup, dia takut Anna akan mendengar obrolannya bersama sang ayah beberapa menit lalu.
"Sejak, kalian bahas mbak Dira!" kata Anna.
"Selama itu?" Daniel ikut bertanya.
"Kalian ini kenapa? aneh sekali!" Anna menatap ayah mertua dan suaminya bergantian.
"David tidak salah, ayah yang memulai jadi ...
"Ish ayah ini! aku nggak apa-apa, itu hanya kepingan masa lalu."
Dua pria itu saling memandang, mereka bingung.
"Ayok, tunggu apa lagi? ini kesiangan tau, nanti kita dapat antrian berapa?" cicit Anna kepada suaminya.
"Mmm baiklah, kalau begitu kami pamit yah." ucap David, kemudian dia beranjak pergi dengan jemari yang sudah saling terpaut satu sama lain.
...•••••••...
Di hari yang sama, Sisil dan Alvaro juga baru saja menapakan kaki di salah satu rumah sakit, mereka berencana memeriksakan keadaan janin yang berada di rahim prempuan itu, setelah beberapa hari lalu mereka mengetahui keberadaannya.
Alvaro terus menggenggam tangan istrinya erat, seolah takut terjadi sesuatu kepada prempuan yang tengah mengandung benih cinta kedunya itu.
"Tangan kamu dingin sekali!" Alvaro berucap, lalu mencium punggung tangan Sisil beberapa kali dengan kaki keduanya yang terus melangkah.
"Abang, ini rumah sakit ... aku malu!" Sisil melihat sekitar, dan tempat itu tampak ramai pada siang hari ini.
Alvaro tersenyum, namun lagi-lagi dia menciumi tangan Sisil dengan gemas.
"Ayank!" Sisil tersenyum malu, sampai dia menundukan pandanganya.
"Hanya cium tangan, bukan bibir!" Al berbisik dengan senyum jahilnya seperti biasa.
"Tatep saja ... mbak-mbak perawat disana melihat kearah kita terus, sebaiknya ayok kita pergi mendaftar terlebih dulu!" Sisil ikut berbisik.
"Sudah, via online. Dan kita hanya perlu menunggu disini, sampai Dokter memanggil kita untuk masuk." jelas Al lagi kepada istrinya.
Alvaro menarik tangan Sisil, dan mereka duduk tepat di samping pintu ruangan Dokter yang tertutup.
"Aku gugup ... dan bahagia." Sisil melirik Al.
Wajah Sisil tampak lebih berseri-seri. Tentu saja prempuan itu bahagia.
"Sama, Abang juga." Alvaro membalas senyuman itu.
Satu pasien, kemudian dua pasien. Alvaro dan Sisil kedunya terus menunggu, sampai kedatangan seseorang tidak mereka sadari.
"Kalian disini?" suara bariton itu terdengar sangat jelas.
"Eh, bapak ... ibu!" ucap mereka.
"Astaga, mereka kompak sekarang!" Anna sumringah.
"Ibu periksa juga?" Sisil bertanya.
"Iya, ini sudah jadwalnya." balas Anna kepada Sisil.
Anna memilih duduk di samping Sisil setelah Alvaro bangkit dan berpindah ke kursi lain.
"Perut ibu sudah terlihat besar." Sisil meneliti, dia tersenyum seraya mengusap perutnya sendiri.
"Tentu saja, kau juga akan seperti ini nanti!"
Sementara David terus menatap Alvaro tajam, dia terlihat ingin bertanya banyak hal, namun mengurungkan niatnya setelah melihat kearah Anna.
Cih, suami takut istri! batin Alvaro bermonolog.
"Cepatlah masuk kerja, aku kewalahan jika tidak ada kau." David setengah berbisik.
"Besok saya masuk pak, tenang saja. Hanya saja, izinkan saya membawa Sisil ke kentor!" ucapan itu sontak membuat David membulatkan mata.
"Kantor!?" David menjengit. "Untuk apa? wah .. wah, kau tega sekali. Bukannya ibu hamil harus banyak istirahat?"
"Dia hanya menemani saya, dan saya pasti mengurus semua keperluan istri saya dengan sangat baik, bagaimana pak?"
David diam.
"Kalau begitu saya kerja di rumah saja, berikan semua lewat email."
"Terserah kau, bawa saja Sisil .. dan Bu Ning jika itu perlu!" sergah David dengan nada sedikit kesal.
"Terimakasih pak."
"Benar kata Anna, kau lebih parah dari ku! kau mengerikan, Al!"
David menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu memijak pelipis ketika kepalanya mulai terasa pusing.
Bagaimana bisa pergi bekerja membawa istri! gumam David.
Klek!
Pintu ruangan Dokter itu mulai terbuka, keluarlah seorang wanita dengan perut yang sudah sangat besar, di temani seorang pria yang terus menuntunnya.
"Ny. Naisilla?" seorang perawat tampak melihat sekitar.
"Saya disini Bu!" Sisil berdiri tepat di hadapan prempuan itu, lalu tersenyum.
"Oh, mari ikut saya ... suaminya mana?"
Sisil melihat ke arah suaminya yang sedang asik berbincang.
"Abang!" Sisil berteriak.
Alvaro menoleh, lalu bangkit dan segera mendekat saat melihat Sisil sudah berdiri di ambang pintu masuk.
"Bu Anna, kami duluan!" pamit Al dan Sisil, lalu dia masuk dan pintu ruangan itu tertutup rapat.
"Wajah kanebo itu sudah berubah, tentu saja .. Sisil seperti air yang mampu melunakkan wajah kaku Al, dan dia berhasil, kini mantan bujangan lapuk itu terlihat lebih sering tersenyum."
"Siapa yang kamu maksud itu!"
Deg!
...••••...
Jangan lupa! like, komen hadiah dan votenya ...
Inget vote ya .. vote ..
Klik favorite jangan lupa!
Sama othor mau ngasih rekomen nih, sambil nungguin om bewok up .. boleh mampir ke (Married by Accident)
Dijamin ngukuk deh, rasain sensasi kram tulang rahang dan perut secara bersamaan.
Cuss kepoin nungguin apaan lagi!!!