
...•••••...
Suasana sunyi, hanya terdengar suara kucuran air shower di selingi suara Alvaro bersenandung di dalam kamar mandi sana.
Sisil yang terlebih dulu membersihkan diri sepulangnya dia di rumah kedua orang tuanya kini mulai beranjak, membawa satu bantal dan selimut kecil ke ruang tengah.
Trek!
Sisil mematikan lampu ruangan itu, kemudian dia berbaring di atas sofa, dan menutupi tubuhnya dengan selimut kecil yang selalu Sisil kenakan.
Sisil tercenung, dia menatap langit-langit apartemen dengan bayang-bayang Alvaro di kepalanya.
Dia masih bingung dengan sikap pria itu, apakah benar dia sudah mulai membuka hati, apalagi dia sampai mengajak Sisil untuk memulai dari hal kecil, seperti pacaran contohnya.
"Haduh, kok malah mikirin itu mulu!" Sisil mengusak rambutnya kesal, saat ucapan Alvaro terus berputar-putar di kepalanya.
Jangan Sil, jangan! kita nggak tau hati seseorang kaya gimana. Kamu juga nggak tau niat Pak Al itu apa? siapa tau dia cuma terus ngerasa bersalah dan kasihan sama kamu, jadi stop .. jangan kepedean.
Sisil berpikir.
Perlahan Sisil mulai memejamkan mata, namun panggilan seorang pria kembali membuka matanya dengan sempurna.
"Naisilla?"
"Iya pak, kenapa?" Sisil bangkit, saat Alvaro terlihat berjalan kearahnya.
"Kamu tidak dengar? atau memang tidak mau mendengar?!" ucapan Alvaro membuat Sisil diam.
"Masuklah ke kamar, sudah ku bilang kita mulai dari hal kecil dulu. Jadi ayok, kita tidur bersama." pinta Alvaro kepada istrinya.
"Saya ...
"Tidak ada penolakan Sil, ayoklah!"
Alvaro langsung meraih tangan Sisil, lalu menuntunnya masuk kedalam kamar.
Sisil tidak banyak bertanya, sungguh dia terlihat linglung disetiap perlakuan Alvaro hari ini.
"Naiklah terlebih dulu, aku akan mematikan lampunya." kata pria itu kepada Sisil.
Sisil mengangguk, berjalan kearah tempat tidur, dan kembali meletakan bantal itu di sampin bantal yang lainnya.
"Apa akan terjadi sesuatu? aku sudah menikah, tapi rasanya aneh!" Sisil berbisik.
Dengan segera dia naik, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Mata Sisil terus memperhatikan Alvaro, pria itu terus berjalan kearah kaca besar yang sudah di tutupi gorden tebal.
Dia menggesernya kearah ujung. Dan tampaklah sebuah kota yang terlihat indah dari ketinggian.
"Aku suka lampu luar, dibanding lampu tidur." jelas Alvaro sambil berjalan kearah tempat tidur, dimana Sisil sudah berbaring miring kearah kaca di bawah gulungan selimut sana.
"Aku tidak tau kalau malam akan lebih indah." kata Sisil kepada suaminya.
Alvaro hanya tersenyum, kemudian menenggelamkan diri didalam selimut yang sama.
Sisil menatap Alvaro yang terlihat sudah memejamkan mata, memperhatikan wajah yang semakin terlihat berbeda.
Ya, dia tampan ternyata! pikir Sisil, seulas senyum pun terbit.
Tiba-tiba saja dua bola mata yang tertutup itu terbuka, sampai Sisil dan Alvaro beradu pandang, dibawah ruangan yang termaram.
"Kenapa? apa yang kamu pikirkan sampai kamu menatap ku seperti itu!?"
Prempuan itu diam, menjawab pun percuma karena dia tidak mempunyai alasan.
Alvaro bergerak, merangsek lebih mendekat, kemudian memeluk pinggang Sisil.
Deg!
Sisil menahan nafasnya untuk beberapa saat.
"Sepertinya tidur kita sore tadi terlalu nyenyak, Samapi kamu tidak bisa cepat memejamkan mata!" Alvaro menatap wajah Sisil dengan jarak yang sangat dekat.
Sisil masih diam.
"Mau pacaran?" dia tersenyum.
"Hmmm ...
Alvaro menarik pinggang Sisil, agar lebih merapat kearahnya.
"Mau ku ajari sesuatu?" Suara Alvaro rendah, namun masih terdengar lembut, apalagi dengan senyumannya, Sisil sampai tidak bisa berucap satu patah katapun.
"Em .. tidurlah pak, ini sudah malam. Besok kita harus bekerja bukan!" Sisil mendorong dada suaminya agar sedikit lebih menjauh.
"Buka mulut mu!" Alvaro kembali berbisik, dengan mata yang terus menatap Sisil.
"Hah .. ta-tapi mau apa?"
"Diamlah, dan buka mulut mu!" pinta Alvaro lagi.
Sisil diam, namun menutup mulutnya rapat-rapat sambil terus mendorong dada Alvaro.
Pria itu mencengkram erat pergelangan tangan Sisil, lalu menyingkirkan dari dadanya.
"Buka mulut mu, Naisilla!" Alvaro tersenyum.
Sisil sedikit membuka mulutnya, dan dengan penuh perasaan Alvaro menyatukan bibir keduanya.
Melu*at bibir Sisil perlahan, sampai prempuan itu meutup matanya, dengan satu tangan yang juga sudah berada di atas dada Alvaro.
"Kamu bisa mengikutinya?" Alvaro bertanya, saat menjeda cumbuannya kepada Sisil.
Sisil mengangguk.
"Jadi, .. ayok berbalas ciuman."
Alvaro kembali meraup dua belahan kenyal berwarna merah alami milik Sisil, menyes*p nya perlahan, begitupun dengan Sisil, dia melakukan hal yang sama meski permainannya masih terasa kaku.
Mata Sisil terpejam.
Jantungnya bedebar lebih kencang lagi, nafasnya bahkan sudah terdengar menderu-deru, saat sebuah desiran mulai menjalar keseluruh tubuh.
Astaga, aku merinding! batin Sisil berbicara.
Mata Sisil perlahan terbuka, saat Alvaro menghentikan cumbuannya.
Pria itu menatap Sisil dengan mata sayu, prempuan itu tahu benar apa yang suaminya inginkan, namun ia tidak mau bertanya, tentu saja dia malu.
"Emm ... apa bapak menginginkan sesuatu yang lebih!?" Sisil ragu.
"Iya, tapi kali ini aku tidak akan memaksa. Aku akan melakukannya jika kau juga ingin." Alvaro tersenyum.
Dia menarik selimut sampai menutupi bahu istrinya, lalu menepuknya perlahan sambil berkata...
"Tidurlah sayang, sudah larut. Aku tau pekerjaan mu juga banyak, jadi jangan sampai kelelahan." Alvaro mulai memejamkan mata, saat ia tidak mampu menahan gejolak hasrat yang terus membara.
Sayang? dia manggil gue sayang!
Katanya sambil terus memperhatikan wajah Alvaro yang mulai berkeringat.
Sisil memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya dan meraih wajah Alvaro, untuk ia cumbui bibirnya kembali.
Alvaro yang masih terjaga pun seketika membulatkan matanya dengan sempurna.
"Bapak ingin melakukannya bukan? aku siap .. sungguh!" Sisil memejamkan mata.
Dia malu.
"Tidurlah, aku tidak akan memaksa mu Sisil!" Alvaro bergumam.
"Aku yang memaksa kalau begitu!" ujar Sisil.
Alvaro diam, menatap lekat-lekat wajah Sisil yang terlihat mempesona malam ini.
"Apa kau bersungguh-sungguh? karena aku tidak bisa berhenti jika sudah melakukannya." suara Alvaro parau.
Tidak ada cinta dari pernikahan kalian, tapi ini pesan ibu untuk mu, hormati dia sebagaimana mestinya. Berikan apa yang Alvaro minta, termasuk kewajiban istri untuk memenuhi kebutuhan batin suami mu nanti.
Sisil meraih bahu suaminya, lalu memeluknya erat.
"Ya, jadi lakukan apa yang ingin bapak lakukan. Kita sudah suami istri bukan?"
Cup!
Sisil mencium bibir Alvaro.
Pria itu kembali meraih pinggang Sisil, memeluknya dengan sangat erat, kemudian menerjang bibir Sisil yang masih tertutup.
Alvaro bangkit tanpa melepaskan pautan bibir keduanya, membalikkan posisi sampai kini Sisil berada di bawah Kungkungan tubuhnya.
Alvaro memangut bibir Sisil dengan menggebu-gebu. Bahkan satu tangannya sudah bergerak nakal, mengusap paha Sisil dengan leluasa, karena prempuan itu hanya mengenakan celana tidur pendek.
"Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin?" dia kembali bertanya kepada prempuan yang sudah memejamkan mata di bawah tubuhnya.
Sisil menganggukan kepalanya perlahan.
"Bukalah mata mu, lihat aku. Pria yang sudah menjadi suami mu hampir satu Minggu ini!"
Prempuan itu membuka mata, dan langsung melihat Alvaro yang kini tampak tersenyum kepadanya.
Alvaro menegakan tubuhnya, lalu menarik baju yang masih dia kenakan, kemudian melemparnya kesembarang arah.
Dan Alvaro melakukannya kepada Sisil, dia menanggalkan setiap pakaian yang mereka kenakan, Samapi kini keduanya sama-sama polos di dalam selimut itu.
Alvaro kembali meraup bibir Sisil, belaih ke pipi, lalu turun ke leher dan berhenti saat menemukan puncak dada istrinya.
"Ah!" Sisil memekik saat Alvaro mengigitnya nakal.
Sementara pria itu menyeringai.
"Kamu siap?" Alvaro bertanya.
Sisil tidak menjawab, setiap sentuhan tangan Alvaro membuatnya terlena, dan tidak mampu berkata-kata.
Sisil memperhatikan Alvaro yang mulai mengarahkan senjatanya, saat kedua paha Sisil di buka lebar oleh pria itu.
Mata Sisil mulai terpejam, jemari Sisil pun mencengkram tangan Alvaro, saat pria itu mulai mendorong panggulnya perlahan.
"Emmhhh!" lenguhan Sisil tertahan, saat merasa inti tubuhnya terasa penuh.
"Lepaskan saja, sungguh tidak akan ada yang mendengar mu!" kata Alvaro, kemudian kembali memangut bibir istrinya.
"Nggghhh ... ahh ..."
Suara erotis mulai terdengar, saat Alvaro menarik dan mendorong dengan sedikit hentakan kencang.
"Apa sakit?"
Sisil tidak menjawab, dia terus memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan yang Alvaro berikan.
Melihat respon Sisil yang sangat baik, Alvaro kembali berpacu di atas tubuh Sisil, menyalurkan segala hasrat yang sudah lama ia pendam.
Suara de*ahan dan pautan tubuh yang saling bersahutan terdengar menggema di dalam kamar apartemen milik Al, bahkan sesekali Sisil menjerit dan merintih ketika pria itu sedikit hilang kendali.
"Ahhh ... pak ... aku ...
Cup!
Alvaro mencium telinga Sisil.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" katanya tanpa menjeda permainan.
Al semakin mempercepat hentakannya saat inti tubuh Sisil menggenggam miliknya sangat erat.
"Abanghhh ...
Jeritan Sisil menggema.
"Oh! Naisilla ku ...
Lalu pria itu ambruk di atas tubuh Sisil, saat sudah mencapai puncak permainan panas keduanya.
Cup!
Alvaro mencium kening Sisil, lalu dia bangkit dan berbaring di samping Sisil dengan tangan yang mulai memeluk tubuh lemas istrinya.
"Terimakasih, selamat tidur istriku!" ucap Alvaro seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
...•••••...
Jangan lupa! like, kome, dan hadiahnya gusy ... klik favorite juga, biar othor makin semangat updatenya.
~Cuyung kalian~