My Ex Husband

My Ex Husband
Ayah tidak bisa di (tolak)



...••••...


Pria tinggi itu terus berdiri, memperhatikan keduanya sambil tersenyum, dengan kedua tangan yang David selipkan di saku celana jeans yang dikenakannya.


Kaos polos lengan pendek berwarna hitam, di padukan dengan celana denim, tidak lupa ia juga mengenakan sendal jepit berwarna senada dengan bajunya. Ya penampilan David hari ini terlihat lebih santai dari pada biasanya.


Anna terlihat fokus memilah sayuran, sementara putrinya berjalan kearah lemari pending. Dengan piawainya Balqis membuka benda tersebut, lalu membawa beberapa bungkus sosis dan memasukannya kedalam trolli.


"Ambil apa lagi?" suara Anna terdengar jelas, prempuan itu menatap lekat putrinya, namun Balqis hanya tersenyum manis tanpa menjawab apapun.


"Sosis dirumah masih ada, kenapa ambil lagi!?" cicit Anna.


"Yang dirumah nggak ada kejunya!" gadis kecil itu kembali tersenyum.


"Sayang, badan kamu kecil! tapi kenapa selera makan mu tinggi!?" katanya lagi.


"Tentu ... dalam hal ini dia persis seperti mu!" timpal David.


Dua prempuan beda usia itu terkejut, lalu menoleh secara bersamaan.


"Paapaa!" Balqis menjerit, dia berjingkrak dan setelah beberapa saat dia berlari ke arah David.


Pria itu tersenyum, merentangkan kedua tangan, menyambut gadis kecil itu lalu membawa kedalam pangkuannya.


Cup!


David mencium pipi putrinya.


"Papa kesini?" Balqis terlihat sangat senang.


"Iya, tidak sengaja melihat mobil Mama, jadi Papa ikutin." jelas David kepada putri kecilnya.


Sementara Anna masih mematung, dengan posisi yang sama persis seperti pertama mengetahui keberadaan David.


"Jangan mengomel terus, kasian Balqis. Berikan saja apa yang dia mau, dia sedang berada dalam tahap pertumbuhan." David berjalan mendekat, dengan Balqis yang masih berada dalam pangkuannya.


"Aku tidak mengomel ... dia itu suka mubazir makanan, dan itu tidak boleh." jelas Anna.


Prempuan itu kembali memilah beberapa tomat untuk Anna masukan kedalam plastik.


Suasananya menjadi sangat berbeda, entah kenapa Anna merasa sangat canggung sekarang, padahal sebelumnya tidak seperti ini.


David menjengit saat merasa tingkah Anna sedikit lebih aneh dari pada biasanya.


Kenapa dia tidak mau menatap mata ku? apa dia gugup, atau malu karena kita melakukan hal yang tidak biasa tadi malam?


David membatin.


"Ayok kita ke tempat makanan ringan!" kata Anna, prempuan itu langsung mendorong troli belanjaannya.


Anna berjalan lebih dulu, meninggalkan Balqis dan David yang berjalan pelan di belakangnya.


"Balqis turun yah? kasian Mama dorong trolinya sendiri ... biar Papa bantuin Mama!"


Balqis mengangguk, lalu berjalan menggandengkan tangan David setelah pria itu menurunkannya.


"Ann ... biar aku yang dorong trolinya, kau boleh memilah dulu ... apa saja yang mau di ambil." David menghampiri.


"Tidak usah, biar Balqis yang memilih jajanannya!" Anna tersenyum canggung.


"Ee .. baiklah, sana ambil apapun yang Aqis mau!" seru David, lalu melepaskan genggaman tangannya.


Dia mengangguk, kemudian berlari dan memilah ciki dan beberapa kripik yang berada dihadapannya.


"Mas, jangan seperti itu. Aku takut dia jadi anak yang manja!" Anna menengadah, menatap David yang juga sedang menundukan pandangannya.


Pria itu tersenyum.


"Aku yang bayar!" jawab David singkat.


"Bukan itu, tapi aku takut dia memberontak kalau tidak mendapat apa yang dia inginkan suatu saat nanti." Anna mengutarakan ketakutannya.


"Dia putriku, aku ingin memanjakannya Anna! Jadi biarkan saja." satu tangan David terulur, lalu meraih pinggang Anna, agar prempuan itu semakin mendekat.


"Kenapa sikap mu sedikit aneh hari ini? apa kamu gugup karena hubungan kita kembali membaik?"


Anna diam, dengan mata yang terus memperhatikan putrinya.


"Anna?" David berbisik.


"Ya ... biasanya kita menjaga jarak, tapi kini berubah sepenuhnya, aku malu!" cicit Anna.


David terkekeh pelan.


"Bukan aku, tapi kamu yang menjaga jarak kepada ku. Bahkan walau itu urusan ku dengan Balqis, tapi kamu seperti memberi jarak yang sangat jauh di antara kita!"


Anna mengangguk, lalu menundukan kepalanya.


"Setelah ini kita ke rumah ibu dan ayah, aku menyiapkan sesuatu karena mereka juga sudah tau keadaan kita sekarang," David berujar.


"Mas memberitahu ayah dan ibu? aih .. ini terlalu cepat, mas!"


"Lebih cepat lebih baik, lagipula mereka bahagia mendengar kabar ini."


"Baiklah," Anna kembali menatap David kemudian tersenyum.


"Aku selesai!" Balqis berjalan menghampiri orang tuanya.


"Banyak sekali?" Anna menjengit.


"Ada buat Mama .. Papa .. teteh Sisil! aku beliin semua."


"Oke, kita bayar dulu yah?" David langsung mendorong troli belanjaa Anna.


...••••...


"Mobil Mas dimana?" Anna menoleh ke arah pria yang tenga sibuk memasukan kantung belanjaan kedalam bagasi mobil.


"Sudah di bawa Al, jadi aku bawa mobil mu saja. Tidak apa-apakan?" David menatap Anna.


Anna mengangguk.


"Kalau begitu ayok, Aqis masuk dulu." Anna menarik tangan putrinya kearah pintu depan mobil.


Gumam David saat melihat Anna membawa masuk Balqis dan membuatkannya duduk di kursi samping kemudi.


Suara pintu bagasi di tutup terdengar, kemudian terlihat David yang berjalan kearah pintu dan segera masuk.


"Mana kuncinya?" pinta David kepada prempuan yang duduk di kursi belakang.


Anna meletakan kunci mobilnya tepat di telapak tangan David.


"Kita ke rumah Kakek dulu yah!" David tersenyum kearah Balqis.


"Iya Papah." sahutnya singkat.


Balita itu mulai mengantuk, terlihat dari sikapnya yang tiba-tiba diam, dengan pandangan mata yang juga sudah terlihat sayu.


David mulai melajukan kendaraan roda empat milik Anna, melajukannya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Daniel.


Satu jam berlalu, akhinya mereka sampai di rumah besar milik kedua orang tua David. Anna turun lebih dulu, kemudian memangku Balqis yang sudah terlelap.


"Biar aku saja, dia berat!" David langsung meraih Balqis.


Dengan langkah cepat pria itu memasuki rumah, berjalan kearah kamar miliknya.


"Anna .. putriku!" Rosa datang menghampiri.


Anna tersenyum, lalu memeluk tubuh prempuan tua itu.


"Aya dan ibu apakabar?" Anna tersenyum.


"Kami semua baik, apalagi saat mendengar kabar ini." jelas Rosa.


Anna tersenyum malu.


"Ayo, ayah sudah menunggu di ruang tengah!" Rosa menuntun tangan Anna.


Suara beberapa orang yang sedang berbincang terdengar sangat jelas.


"Ayah lagi ada tamu ya bu?" Anna bertanya, namun Rosa hanya tersenyum.


Sesampainya di ruang tengah Anna menjengit, saat melihat beberapa orang berpakaian rapih, dengan jas hitam dan peci yang juga berwarna senada.


"Sisil!" Anna semakin terkejut saat melihat keberadaa Asistennya yang juga sudah berada disana.


"Duduklah Anna." Daniel berbicara, dia melambaikan tangannya agar Anna cepat mendekat.


Anna mengangguk, lalu duduk di sofa kosong samping Sisil dan Rosa.


"Saya bilang jaga rumah, kenapa kamu kesini?" Anna berbisik, pada sosok yang duduk tidak jauh darinya.


"Saya di jemput pak supir Bu, katanya Bu Rosa yang nyuruh."


Anna menghela nafas, dadanya berdebar dengan pikiran yang terus bertanya-tanya.


"Lebih cepat akan lebih baik Anna! jadi ayah langsung membicarakan ini kepada David, dan dia setuju." Daniel berujar.


Apa ini? setuju apa?


"Bisa kita mulai sekarang?" pria berpeci hitam itu bertanya saat David tiba disana dan duduk tepat di samping Anna.


David mengangguk.


"Tunggu, ada apa ini?" Anna menatap semuanya bergantian penuh tanya.


"Kalian Ayah nikahkan siang ini." Daniel menjelaskan.


Deg!


Anna tersentak.


"Siang hari ini? ta-tapi aku .. aku ..


"Sudahlah, ayah tidak bisa di tolak!" David tersenyum, sementara raut wajah Anna terlihat merah padam.


Antara terkejut, senang, malu dan bingung. Semuanya melebur menjadi satu.


Tidak ada riasan, tidak ada suara alunan musik yang terdengar romanti, tidak ada pakaian yang rapih. Semuanya berjalan begitu saja, namun terasa hikmat, apalagi ketika dengan lantangnya David mengatakan janji suci sehidup semati dengannya.


"Bagaimana saksi? sah!?" penghulu itu menatap wali hakim dan Daniel bergantian.


Sah!


Suara Rosa paling menonjol.


Sementara David menoleh, menatap Anna kemudian tersenyum manis.


"Kau sudah menjadi istriku sekarang!" David berbisik.


Anna diam, dia masih terkejut dengan ijab-kabul dadakan siang ini.


Rosa menangis, memeluk tubuh Anna erat, begitupun dengan Sisil, gadis itu ikut menangis karena terbawa suasana.


"Anna .. jika David berbuat buruk lagi. Katakan! aku yang akan membunuhnya hari itu juga." Daniel menatap Anna.


"Ayah, ancamannya seram sekali!" David mencibir.


"Ayah serius, tua-tua begini masih mampu membuat pelajaran untuk mu." sergah Daniel.


"Sudahlah .. kalian ini kenapa, setiap berkumpul pasti ribut!" Rosa tampak kesal pada keduanya.


Rosa kembali memeluk tubuh Anna erat, mengusap punggung prempuan itu lembut seraya membisikan kata-kata nasihat, dan hanya mereka berdua yang tau.


Langit, bisakah kau turunkan om Aip untuku. Aku ingin menikah tanpa harus mencintai dalam diam, ini sakit sekali!


...•••••...


Ih Sisil mah .. dia nangisin nasibnya yang jadi jomblo akut, bukan karena terharu : /


Nah .. like, komennya jangan lupa! yang ada hadiah boleh lempar kesini, yang nggak ada nggak apa-apa, like komen sama tekan tombol favorite sudah cukup : )


Apa kalian sudah siap dengan part hilafnya? kalo nggak, othor skip skip💃💨


Ig:@_anggika15