My Ex Husband

My Ex Husband
Asinan.



...••••••...


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya David saat dia baru saja kembali kedalam kamar dan mendapati Anna yang sedang duduk di atas sofa, dengan tangan yang terus mengusap-usap perutnya dengan raut wajah masam.


Anna menjawab dengan gelengan kepala.


"Hari ini mas ke kantor?" pandangan Anna menengadah, mengikuti pergerakan suaminya yang terus melangkah dan berakhir duduk tepat di sisi kosong berdampingan dengan dirinya.


Satu tangan David bergerak dan langsung ia letakan di atas perut bulat Anna. Pria itu tersenyum, membungkukan badan agar bisa lebih dekat dengan perut istrinya itu.


"Hay, selamat pagi. Apa kamu nakal? kenapa raut wajah Mama mu masam pagi-pagi begini?" kata David kepada bayi di dalam perut Anna.


Begitupun dengan tangan Anna, jemari lentik itu menyentuh kepala David, dan mengusapnya perlahan.


"Mas?" panggil Anna dengan suara pelan, namun masih bisa David dengar dengan sangat jelas.


David mendonga, menatap wajah Anna yang kini tengah menunduk.


"Kenapa?" dia tersenyum, sembari membenarkan posisinya, hingga kini dia berbaring terlentang di atas pangkuan Anna dengan paha yang menjadi tumpuan kepada David.


Manik kecoklatan itu terus memperhatikan pria yang sedang berbaring, dengan bibir yang terlihat sedikit berkedut, seolah ingin mengatakan sesuatu namun Anna tahan.


"Kenapa? apa sekarang mau melarang pergi ke kantor lagi?!" David mengangkat satu tangan untuk mengusap pipi Anna.


Samar senyuman itu terlihat.


"Sudah ku duga." ujar David sembari tertawa pelan.


"Bukan begitu, aku mau makan asinan Bu Ningsih!" jelasnya dengan suara yang terdengar mendayu-dayu.


Anna manja.


"Asinan? memangnya Bu Ning, jual?" David menatap Anna penuh tanya.


"Tidak, aku mau kesana ... minta di bikinkan!" rengeknya lagi.


Seketika David bangkit, duduk menyandarkan punggungnya kepada sofa besar yang ada di dalam kamarnya.


"Kasian Al, dia kerja sendirian terus sampai beberapa hari ini, karena kamu yang terus meminta ku tetap berada di rumah. Lalu sekarang apalagi? kalo mau asinan kita suruh saja Bu Ning yang kesini, karena aku harus berangkat ke kantor!" jelas David.


Wajah Anna di tekuk, bibirnya mengerucut cemberut, dan dengan cepat di bangkit meninggalkan David kearah tempat tidur, dimana putrinya masih terlelap dengan selimut yang membungkus tubuh mungilnya.


Dia merajuk lagi! batinnya.


Pria itu tersenyum bahagia, kemudian dia bangkit, berniat mendekati singa betinanya yang akhir-akhir ini selalu seperti itu, Anna marah jika keinginannya tidak David turuti.


Decitan ranjang terdengar saat David naik, merebahkan tubuh di samping Anna dan memeluknya erat dari arah belakang.


"Marah lagi?" ucap David tepat di dekat daun telinganya.


Anna diam, dengan mata yang juga ikut terpejam.


"Akhir-akhir ini kamu sering kesal, dan selalu terlihat marah kepada ku."


Anna masih bungkam, namun tubuhnya bergerak saat dia ingin terlepas dari dekapan pria di belakangnya.


"Hey!" David langsung meraih tubuh Anna, dan menariknya agar kembali mendekat.


Duk!


Anna meyikut perut suaminya, sampai rintihan pelan terdengar.


"Apa sekarang kamu tega menyakiti aku? kamu kecil, dan siku tangan mu tajam sayang, ini terasa ngilu jika terus menerus mengenai perut ku!" kata David kepada istrinya.


"Kamu nyebelin, katanya aku sama anak kamu prioritas nomor satu, tapi buktinya apa? ke khawatiran kamu lebih besar kepada kantor dari pada aku, Balqis dan Adik." Anna merancau.


Sementara pria yang berada di belakang tubuhnya hanya terus tersenyum.


"Kini kamu protes? sedangkan uang hasil aku bekerja masuk semua kedalam rekening mu ... dan itu untuk kalian, untuk keperluan dan keinginan anak dan istriku!"


David menarik lengan Anna kuat, dia memberontak, namun tak urung juga membuat tubuhnya berbalik sampai pandangan keduanyA kini beradu.


Wajah itu di tekuk, sekilas terlihat menakutkan, namun tetap cantik.


David berangsur lebih mendekat, memeluk pinggang Anna erat dan menempelkan kening kedunya, sampai hembusan nafas hangat menyapu wajah.


"Aku kesel! mas sekarang sibuk." Anna merengek.


Kekesalannya cukup terlihat jelas, dari wajah yang memerah, juga tangan yang mulai terangkat mengarah ke dada David.


Namun belum sempat mendarat, David terlebih dulu mencakal penggelangan tangannya.


"Sekarang kau berani terus-menerus memukulku, hemm?!" suara itu terdengar sangat rendah, dengan tatapan mata tajam dan raut wajah dingin tanpa ekspresi.


Kini nyali Anna menciut, tatapan menusuk itu terlihat sangat menakutkan, sampai dia memundurkan kepala agar bisa menjauh.


Namun lagi-lagi David menggeser tubuhnya untuk kembali mendekap tubuh ibu hamil di hadapannya.


"Ayolah pukul lagi! agar aku bisa menghukum mu saat ini juga, mumpung si sulung masih tidur." David berbisik, bibirnya tersenyum namun tampak sangat menyeramkan.


"E-em .. mas aku mau mandilah! mumpung masih jam lima pagi." Anna melepaskan tangan David yang melilit di pinggangnya, dia bangkit dan segera menuruni tempat tidur untuk menghindari puma yang terlihat kelaparan.


Anna berjalan cepat. Sayang, sebelum dia meraih handle pintu, tubuhnya terasa melayang saat David mengangkat Anna dengan sangat mudah, dan membawanya kearah pintu yang tidak lain adalah ruang kerja pria itu.


"Siapa yang mengizinkan? enak saja main pergi-pergi saja setelah membangunkan sesuatu! dasar tidak bertanggung jawab." geram David.


Anna diam, namun pandangannya langsung tertuju pada sesuatu yang terasa mengganjal di dekat pinggangnya.


David menurunkan Anna tepat di atas sofa besar yang berada di ruangan itu. Segera David menarik lepas kaos yang masih melekat di tubuhnya.


Dan terpam-panglah tubuh yang masih terlihat indah, meski usia David tidak muda lagi.


Setelah menanggalkan semua pakaiannya, David segera mengungkung tubuh Anna dan meraup bibir ranum yang selalu tampak menggoda.


Anna diam, tidak menolak atau pun merespon. Prempuan itu memejamkan mata untuk menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan.


Tangan David mulai menggerayang nakal, menyapu kulit kaki Anna yang menekuk, menyingkap gaun tidur pendek yang Anna kenakan.


David tersenyum, dia menatap Anna penuh damba.


Gaun itu kini terlepas, hingga tubuh polos itu terekspos, karena prempuan itu tidak pernah memakai pakaian dal*m jika saat hendak tidur.


David mulai memposisikan diri di antara kedua paha istrinya yang terbuka cukup lebar saat David mulai menekan paha Anna.


Anna menyentuh perut David, dan sedikit menahan saat pria itu mulai mendorongnya perlahan.


Pandangan David kembali tertuju pada Anna, dia menatap penuh tanya, dan menyingkirkan tangan Anna di perutnya.


"Aku akan pelan, jangan khawtir sayang." ucapnya seraya menahan geraman, saat miliknya kini benar-benar terbenam sempurna.


Anna menjengit, matanya terpejam dengan dada yang terlihat sedikit membusung, menahan sesuatu yang kini sudah memenuhinya.


Suara Anna mulai terdengar, bersahutan dengan suara erotis yang menggema di dalam ruangan kerja milik David.


"Oh sayang!" Kapala David mendongak.


Anna meraih bahu milik suaminya, lalu memeluk erat saat guncangan itu terasa terus meningkat.


Awalnya semua masih terkendali, namun di beberapa detik berikutnya David mulai mempercepat hentakan, saat milik Anna terasa mencengkram kuat, dan sesuatu didalam dirinya menyeruak.


"Mmhh ... Paapa!" Anna merintih kencang.


"Nghh, ahh .. I'm done." suaranya menggeram, dengan gerakan yang terus tak terkendali.


Leguhan panjang terdengar, di susul ambruknya David di atas tubuh Anna.


"Nanti siang anterin ke rumah Bu Ning ya, Papa ganteng." pinta Anna saat David menarik diri dan melepaskan pautan tubuh keduanya.


"Baiklah, aku tidak bisa menolak keinginan kalian." dia mengusap perut Anna, lalu beranjak dan memunguti pakaian keduanya untuk kembali mereka kenakan.


"Langsung ke kamar mandi saja!" tukas Anna.


"Iya, tapi kita tidak tahu. Apa Kaka sudah bangun atau belum! kalau sudah masa dia mau lihat keadaan kita yang tel*nj*ng bulat." sergah David.


"Iya yah?" katanya lalu memakai gaun tidur yang tadi sempat terlepas.


Selesai mengenakan pakaian, mereka berdua pun beranjak, keluar dari ruangan itu.


Benar saja, Balqis sudah duduk menyandarkan diri, dengan iPad di tangannya.


"Aku rasa kita sudah butuh kamar baru untuk Kaka." Anna berkata pelan.


"Kita rombak kamar tamu." David menjawabnya dengan bisikan juga.


...••••...


Cuyung .. hari Senin ini! like, komen, hadiah dan Vote oke.


Jangan lupa klik Favorite juga! biar othor kembali semangat ... karena sesungguhnya othor Meu berhenti, tapi baner-bener berat karena sayang kalian banyak-banyak.


Inget! Vote dulu Vote ...


~Zeyeng kalian~