
...•••••...
Hari demi hari berlalu.
"Hari ini ke kantor, Ann?" Rosa datang menghampiri.
Prempuan yang sedang menyiapkan bekal untuk suaminya pun menjawab dengan anggukan kepala.
"Seperti biasa .. mas David cuma mau makan siang yang aku bawa!" kata Anna.
Rosa tersenyum.
"Masak apa hari ini?" mata Rosa melihat-lihat.
"Ada sapi lada hitam sama capcay. Ayah sama ibu kalau mau masih ada, aku masak banyak tadi." jelas Anna.
Kotak bekal itu sudah selesai di isi, Anna simpan di atas meja makan bersama sebotol air mineral.
"Anna ambil tas dulu, Bu." Anna menatap Rosa, kemudian berjalan kearah kamarnya.
"Ibu makan ya, Ann!" Rosa berteriak.
"Makan aja, sekalian sama ayah. Tenang, aku kasih ladanya cuma sedikit kok, ya .. biar ayah bisa makan juga."
Prempuan itu kembali berjalan kearah meja makan, dengan tas selempang kecil yang sudah melekat ditubuhnya.
"Ayah, ibu? Anna berangkat yah!" Anna meraih tas berisi kotak bekal untuk suaminya, tak lupa juga dengan botol air minum yang sudah Anna siapkan tadi.
Prempuan itu keluar dari rumah, berjalan kearah pintu kecil yang berada disamping pos security.
"Kenapa nggak pake mobil, neng?" seseorang berteriak dari arah pos.
"Pak Yasir mulai deh!" cicit Anna dengan mata yang tampak mendelik.
Security itu tertawa.
"Bukannya kemarin sudah belajar sama pak David?" pak Yasir menimpali.
"Iya .. tapi aku masih suka lupa, rem sama pedal gasnya!" ujar Anna. " Udah ah .. saya berangkat dulu!" kata Anna yang langsung masuk kedalam taksi ketika mobil itu berhenti tepat di hadapannya.
...••••...
Sekitar satu setengah jam Anna menempuh perjalanan, akhinya ia sampai dimana suaminya berada saat ini, setelah terjebak kemacetam puluhan menit lamanya.
"Terimakasih, pak!" kata Anna lalu menutup pintu taksi itu.
Anna melangkah masuk, ia tersenyum ketika beberapa pegawai menyapanya dengan angguka kepala dan senyum ramah.
"Mbak Ayu, bapak ada?" Anna berdiri tepat dihadapan meja resepsionis.
"Bapak baru saja keluar, tapi beliau berpesan agar anda menunggu di ruangannya." prempuan itu menjelaskan.
Anna mengangguk.
"Kalau begitu saya keatas ya, mbak?" Anna tersenyum, kemudian beranjak meninggalkan tempat itu dengan botol dan tas bekas yang dibawanya.
Ting!
Pintu lift itu terbuka, di susul Anna yang keluar dengan senyum ramah yang diperlihatkannya kepada para pegawai yang berada disana.
Seorang pria yang melihat kedatangan Anna tampak kaget, sampai ia bangkit dari duduknya.
"Bu Anna?" suara Alvaro memekik.
"Hallo, selamat siang?" Anna menyapanya.
Alvaro mengangguk dengan senyum yang terlihat gugup.
"Kamu tidak ikut? bukanya pak David sedang ada urusan diluar?" kata Anna.
"Ti-tidak Bu, saya sedang mengerjakan beberapa laporan." sahut Alvaro.
"Kalau begitu, saya menunggu didalam saja yah!?" tukas Anna lalu meraih handle pintu.
Klek!
Pintu ruangan David terbuka, kemudian tertutup kembali setelah Anna benar-benar masuk kedalam sana.
Setelah Anna masuk kedalam ruangan itu. Dengan segera Alvaro meraih ponsel miliknya, dan berniat menghubungi David.
"Pak, istri anda sudah datang!" kata Alvaro setelah panggilan nya tersambung.
—Setelah selesai saya langsung ke kantor.
"Baiklah." sahut Alvaro.
Sementara itu di dalam ruangan sana. Anna meletakan air dan tas bekal milik David di atas meja.
Mata Anna meneliti sekitar, lalu pandangannya terkunci pada salah satu foto yang terpajang, yaitu Poto David bersama dirinya.
Senyum Anna mengembang.
"Kenapa aku kaku sekali!" Anna bergumam. "Sepertinya harus foto ulang." ucapnya lagi.
Ponsel yang berada didalam tas nya bergetar.
"Iya mas?" Anna penuh semangat.
—Sudah sampai?
"Hem .. kamu dimana? nanti nasinya keburu dingin." kata Anna.
—Setelah urusanku selesai, aku langsung ke kantor.
"Cepatlah, atau aku akan merajuk!" Anna terkekeh.
—Jangan, nanti aku tidak mendapatkan jatah ku kalau kamu marah. Sergah David.
"Cepatlah." kata Anna.
—Baik, sudah dulu yah? i love you.
"Love you more .. my big baby!"
Suara tawa David terdengar sangat jelas sebelum pria itu menutup sambungan telfonnya.
...••••...
"Saya harus kembali, ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap David kepada dua lansia yang saat ini duduk berhadapan dengannya.
"Tolong pikirkan keinginan Mika, itu permintaan terakhir putrikami. Entah bagaimana penyesalah kami nanti, jika suatu saat nanti Mika benar-benar pergi dan permintaan itu tidak pernah terpenuhi."
Wanita tua itu menangis di hadapan David.
"Apa kalian tidak bisa berpikir jernih, saya pria yang sudah mempunyai istri, tapi kenapa kalian meminta hal yang bahkan tidak mungkin saya wujudkan." sergah David.
Pria itu terlihat menghela nafas, ketika ingatannya kembali berputar saat dua lansia mendatangi kantornya, manangis dengan penuh permohonan, hingga ia benar-benat tidak bisa menolak dan ikut dengan mereka.
Awalnya David mengira ini hanya akal-akalan Mika, namun itu berbanding terbalik dengan pikirannya. Mika benar-benar terbaring lemas dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Kami mohon, Mika sudah di nyatakan tidak akan hidup lebih dari tiga bulan. Sakit ginjalnya sudah benar-benar parah!"
David diam.
"Apa saya harus mencari pendonor?" David menatap kedua orang tua Mika.
"Keinginannya hanya anda, nak David. Itu tertulis jelas dari surat ia berikan." ayahnya berbicara.
"Sebelum Mika benar-benar down, dia hanya terus menangis, mengurung dirinya didalam kamar." katanya kembali.
"Jadi kenapa dia bisa drop?"
"Mika tidak meminum obatnya, bahkan dia melewatkan jadwal cuci darah yang harus dia lakukan lima hari lalu."
"Apa kalian tega, jika putri kalian yang berada di posisiku istriku saat ini?" pandangan David sendu.
"Apa nak David tega juga? hidup senang sementara putri kami menderita. Dia sudah berjuang sejak lama, tapi ketika dia membaik dan pulang, dia malah mendapati anda menikah dengan gadis yang bahkan entah siapa dan asalnya dari mana!"
David tercenung.
Apa aku memang jahat? pikirnya.
"Bayangkan betapa sakitnya Mika, setiap bulan dia harus mencuci darahnya. Tapi ketika dia pulang, dia malah mendengar kabar ini."
Wanita paruh baya itu terus menangis keadaan putrinya.
"Saya harus pergi." kata David, lalu bangkit dan mulai berjalan menjauh.
"Kalau memang sudah tidak mencintai Mika, maka lakukan itu atas dasar menolong sesama manusia! jangan berprilaku layaknya pengecut nak David!" ibu Mika berteriak, namun David berusaha mengacuhkannya.
"Sudahlah Bu, keadaan memang rumit." suaminya berbicara.
"Ini mudah, dia hanya menikah dan putri kita akan mati. Tapi kenapa laki-laki itu seolah menganggap ini semua sandiwara, padahal dengan jelas dia melihat keadaan Mika." wanita itu terus merancau.
Sementara David berusaha acuh, walau hati ya terenyuh ketika melihat keadaan Mika saat ini. Tubuhnya tampak lebih kurus, matanya terlihat lebih dalam dengan bibir yang terlihat sangat pucat.
"Hanya Anna, David. Hanya Anna!" ujarnya saat Davis sudah berada di dalam mobil.
Apa nak David tega juga? hidup senang sementara putri kami menderita. Dia sudah berjuang sejak lama, tapi ketika dia membaik dan pulang, dia malah mendapati anda menikah dengan gadis yang bahkan entah siapa dan asalnya dari mana!
"fokuslah!" David memekik ketika kata-kata itu terus berputar dikepalanya.
Beberapakali David menghembuskan nafasnya secara teratur, lalu mulai melajukan mobilnya setelah ia merasa tebih tenang.
...••••...
Selamat malam minggu! tetap dirumah, rebahan sambil baca Noveltoon aja yah!! Boleh juga di temenin sama mie rebus dikasih rawit sayur sama telor : )
Jangan lupa jempol kalian. Like, komen, hadiah dan votenya nanti setiap hari Senin.
~Sayang kalian~
Follow juga. @_anggika15 biar kita semakin didepan eh dekat deng.