My Ex Husband

My Ex Husband
Kepala garong.



...•••••...


Tepat pukul jam 19:00 Wib.


"Pak, ... bu? Sisil, mbak Ratmi sama ibu izin jalan keluar dulu yah sebentar?" gadis itu berdiri dihadapan Anna dan David yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"Mau kemana malam-malam? kalo mau jalan kenapa nggak pas dari sore aja sih? malem gini kalian mau lihat apa!" tanya Anna.


"Mau nyari Indomie Bu, sama mampir ke pasar malem, nggak jauh kok,"


"Yasudah, hati-hati sama barang bawaan kalian!" kata Anna.


Sementara David, pria itu hanya dia dengan mata yang terus fokus kearah televisi yang sedang menyala.


"Aqis mau ikut?" Sisil bertanya.


"Balqis di atas, dia sudah tidur karena tadi siang nggak tidur."


"Ohh .." Sisil mengangguk, kemudian segera memutar badan untuk kembali kebelakang.


"Sil?" David memanggil.


"Iya pak?" Sisil kembali menoleh.


"Ini ... untuk beli Indomie!"


Sisil terdiam.


"Ibu udah ngasih kok pak, sebelum berangkat kesini."


"Yasudah ini adalah tambahannya!" kata David. "Cepat, nolak rejeki itu nggak baik!" ucap pria itu kembali.


Sisil tersenyum, meraih beberapa lembar uang berwarna merah muda dari David.


"Terimakasih pak!" katanya seraya menganggukan kepala.


Pri itu menjawab dengan anggukan kepala.


Setelah menerima uang dari David, Sisil bergegas kearah dapur, dimana ibu dan temannya sedang menunggu izin dari sang nyonya.


"Gimana?" Ratmi langsung bangkit.


Sisil berjingkrak, lalu mengibaskan uang yang tadi David berikan.


"Wih ... duit siapa tuh?" mata Ratmi berbinar.


"Ini buat ibu ... ini buat mbak Ratmi .. ini buat aku, semuanya rata! dua ratu, dua ratus."


"Widih manteb ini, makan Indomie berapa mangkok juga hayuk!" Ratmi tertawa.


"Yasudah ayok, nanti kemaleman .. eh Adek nggak ikut, Sil?" Bu Ningsih bertanya.


"Balqis udah bobo."


"Ohh, yaudah ayok!"


Mereka bertiga berjalan kearah pintu bekalang, membukanya lalu mulai keluar dan menutup pintu itu kembali.


"Mas mau kopi?" Anna bertanya.


David menoleh, dengan kedua sudut bibir yang melengkung.


"Boleh, kita minum kopi di luar yah? pemandangan dari sana cukup bangus."


"Yasudah, kopi hitam atau ..."


"Kopi hitam dulu, susunya nanti saja!" David menyambar perkataan Anna.


Anna mendelik, dia bangkit dan segera berjalan kearah belakang.


...•••••...


Klek!


Anna mendorong pintu kaca itu dengan bahunya saat kedua tangan prempuan itu memegangi cangkir berisi kopi dan coklat panas.


"Kopinya sayang!" Anna meletakan satu cangkir di atas meja, dan satunya lagi ia pegang untuk menghangatkan telapak tangan.


Anna duduk tepat di samping David, lalu menyandarkan kepadanya di bahu pria itu.


"Pemandangan disini bagus yah? mungkin karena daratannya lebih tinggi, jadi lampu-lampu kota kelihatan."


David mengangguk, dia juga ikut memiringkan kepala, untuk ia sandarkan di kepala istrinya.


"Ann!?" David memanggil dengan suara pelan.


"Humm?" Anna bergumam.


"Aku David Julian, ayah dari satu putri. Ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintai mu!" ucap David, lalu mencium puncak kepala Anna.


Sementara prempuan itu tersenyum, lalu memejamkan mata, saat angin berhembus menyapu wajah cantiknya perlahan.


"Kyara Anna? apa kau juga mencintai ku! pria yang dua belas tahun lebih tua dari mu!?" David mengulangi pertanyaannya.


Kepala Anna bergerak, keatas dan kebawah sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya baru saja.


"Katakanlah!" cicit David.


"Aku sangat mencintai mu, David Julian. Ayah dari putri ku, dan cinta pertam ku!" jawab Anna sambil tersenyum, namun matanya masih tertutup.


"Kau minum kopi juga?"


"Coklat panas mas, aku tau kau akan mengomel jika aku minum itu," Anna tertawa pelan.


Tubuh Anna kembali duduk tegap, dan segera meminum coklak panas miliknya.


"Kenapa dulu kau jadi keras kepala? padahal aku hanya bertanya sejak kapan kau meminum kopi!?


Anna menunduk.


"Saat itu hanya berusaha tegar, karena berada di dekat mu itu sangat sulit!" tukas Anna.


David menjengit, sampai kedua alisnya nyaris bertemu.


"Apa itu maksudnya!?" David mengser tubuhnya agar lebih mendekat.


"Aku berusaha mengingat kesalahan mu, membenci mu, agar rasa cinta ini pudar. Tapi entah kenapa ... semakin aku ingin melupakan mu, justru semakin susah!" Anna tertawa.


David diam, saat melihat Anna tertawa lepas, matanya seolah enggan berpaling dari wajah cantik yang terlihat bersemu malam ini.


"Ish .. kenapa menatap ku seperti itu?" Anna menyenggol lengan suaminya.


"Kenapa?" Anna menjengit, tiba-tiba raut wajahnya berubah serius.


Pria itu membisu.


"Mas?" panggil Anna lagi, namun David tetap diam sambil terus memandang wajahnya.


"Kok aku takut yah, kalo kamu kesambet!" Anna menyentuh kening dengan punggung tangannya.


"Kau cantik sayang, semakin cantik!" kata David.


"Hemm ... berterimakasih-lah kepada ayah, karena sudah dua kali dia mendekatkan aku kepada mu!" Anna mengusap pipi suaminya.


"Kau benar," David menyentuh telapak tangan Anna yang tengah mengusap pipinya lembut.


Sedang asik berbincang, tiba-tiba saja ponsel Anna berdering. Keduanya menoleh kearah dalam, dimana handphone Anna terletak di atas meja.


"Sebentar ya mas!" katanya lalu meletakan coklat panasnya di atas meja, dan berlari kearah dalam.


"Iya hallo Rik, kenapa?" sapa Anna setelah menggeser tombol hijau.


—Ann, gua di bawa Edgar ke hotel! gimana dong?


Suaranya terdengar lirih dan sedikit ketakutan.


"Apaa!?" Anna berteriak, hingga membuat David bangkit dari duduknya, dan menghampiri Anna.


—Gue harus gimana? gua takut!


"Astaga, kok bisa? coba telfon orang tua Lo .. gua lagi di luar kota nggak bisa nyamperin." Anna terlihat panik.


Sementara David menatap Anna penuh tanya.


"Sayang siapa?" David berbisik, namun Anna membekap mulu suaminya.


—Ceritanya panjang, gua takut, gua bingung juga harus apa!


"Sekarang Edgar diamana?"


—Di kamar mandi!


"Nah ... kesempatan untuk kabur ayok!"


—Nggak bisa.


"Kenapa!?" Anna berteriak, sampai membuat David menepis tangan dari mulutnya.


"Ada apa sih?" David mengkerut kan dahi.


"Mas ... diem!" sentak Anna.


"Rik, lu masih di sana?"


—Iya Ann, tolong bantu gua harus ngapain?


"Kabur cepetan!"


—Nggak bisa!


"Kenapa, jangan bego jadi cewe!"


—Aduh gimana?


Suara Rika terdengar gelisah.


"Cepetan kabur!"


—Nggak bisa.


"Kenapa!?"


—Karena kita udah nikah, gua takut Anna. Nanti gimana? baru masuk kepalanya aja sakit, apakabar sama badannya!


Deg!


Seketika raut wajah Anna berubah, yang tadinya terlihat khawatir menjadi kesal.


"Eh bangsyut ... lu yah! gua udah khawatir, takut elu di apa-apain, eh udah nikah! Gilak emang."


—Ih kok elu marah-marah!


"Bodo mamat, nikmatin tuh kepala garong! gua kira apa, dasar nggak ada rahang!" katanya lalu menjauhkan ponselnya dan menggeser tombol merah.


"Apa?" Anna tertegung saat melihat David menatapnya tajam, dengan ekspresi dingin.


"Udah berani bentak-bentak yah!" David mendekat lalu meraih pinggang Anna.


Deg!


Anna terhenyak.


Mati gue!


"Bu-bukan begitu mas, aku terkejut Rika di ajak ke hotel sama Edgar!"


"Hemm ... terus!?" David memincingkan mata.


"Ya nggak ada terusannya, mereka nikah hari ini ternyata ... maaf ya sayang!"


David diam.


"Rika aneh, masa suaminya minta takut sampe mau nangis!" sambung Anna lagi.


David tertawa, lalu menarik hidung Anna sangat kencang.


"Memangnya kamu tidak menangis waktu itu!?" David berbisik.


Anna diam dengan pipi yang bersemu merah.


"Malah kamu beteriak, Mas please stop!"


"Sudahlah, itu sudah berlalu."


Anna mendorong tubuh David, lalu berlari ke arah tangga dan melesat ke lantai atas.


...•••••...


Please jangan lupa like, sama komen. Othor cuma bisa bilang gini 💃💨