
Suara derit ranjang terdengar meski Adam sudah seperlahan mungkin menaikinya. Dan untuk yang kedua kali, Haleth dibuat terbangun. Benar-benar terbangun dan terkejut. Sebelum Haleth berteriak, Pria itu terlebih dahulu mengusap puncak kepala Haleth.
"Shhh, maaf membangunkan mu." bisiknya.
Tapi mengingat mimpi absurd tadi, membuat Haleth terbengong sesaat. Matanya menyipit, lantas tangannya menyentuh bahu Adam. Okay, terasa nyata. Tak sampai disitu. Haleth juga mencubit lengannya yang sontak membuat Adam membelalak.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Kini pun Haleth benar-benar tersadar. Wanita itu terkejut seterkejut kejutnya seraya beringsut mundur menjauhi Pria itu. "K-kau?! Sedang apa di sini?!"
"Tenang Haleth. Aku baru saja pulang," ungkap Adam dengan wajah bingung. "Mengapa kau sampai seperti itu?"
"H-huh?! Bukannya kau sedang ke Texas?! Atau, itu hanya akal-akalan mu saja?!"
"Aku kan baru bilang aku baru pulang. Aku meninggalkan rumahmu dari tadi siang karena Carl meneleponku, dan aku langsung terbang ke Texas." Adam memperhatikan Haleth yang tampak mencerna ucapannya. Pria itu terkekeh kecil sebelum kembali menarik Haleth agar lebih dekat dengannya.
"Kau terlihat bingung sekali. Ada apa, hm? Apa sesuatu mengganggumu?"
Gelengan kepala Haleth dibalas anggukan dari Adam.
"Kalau begitu kembalilah tidur. Aku hanya memastikan kau benar-benar di sini. Aku akan tidur di kamar yang lain,"
"Tidak, jangan," cegah Haleth tak memberi Adam kesempatan menyelesaikan ucapan. "Lebih baik kau yang tidur di sini. Aku akan pulang saja,"
"Apa?" Adam mengernyit. "Ini masih dini hari. Sudah, kau tidur di sini Haleth."
"Ini kamarmu. Aku yang akan pindah,"
"Sudahlah Haleth. Tidak perlu," tangan kekarnya mengusap bahu Haleth perlahan. "Aku, akan bersih-bersih dulu."
Arah pandangan Haleth mengikuti Adam hingga pria itu lenyap dari penglihatan. Haleth menghembuskan nafasnya, meremas baju di bagian dada lantaran terlalu gugup hingga detak jantungnya tak beraturan.
Mengapa, dekat dengan Adam, semakin hari semakin berbahaya, untuk hatinya?
...***...
Sementara itu di sebuah ruangan lembab yang di dominasi oleh suara gemericik air, sosok Adam menengadah menerima guyuran air dari shower yang menyala. Ia menyugar rambut, lantas menunduk melihat ereksinya.
Teringat peristiwa beberapa saat yang lalu. Dimana Adam melihat jelas mantan istrinya berbaring dengan nyenyak di ranjangnya. Begitu menggairahkan, membuat otaknya langsung berputar, memutar memori saat-saat mereka menghabiskan malam bersama. Mau tak mau kenangan itu berhasil membuatnya 'menegang'.
Senyum miring tercetak di bibir pengusaha muda itu. Ia benar-benar yakin, Haleth adalah rumahnya. Meski sedikit pesimis, Adam akan berusaha keras dan mencoba yakin untuk mendapatkan Haleth nya kembali.
...***...
Jam terus berputar hingga berdentang menunjukkan pukul 3 dini hari. Haleth menghembuskan nafasnya. Hingga saat ini ia masih terjaga, bahkan sedikitpun tidak merasakan kantuk. Selain berbaring dan mengubah-ubah posisinya, tak ada lagi yang bisa Haleth lakukan. Haleth bukan tipe orang yang selalu sibuk dengan ponselnya. Itu sebabnya, ponsel canggih miliknya pun hanya tergeletak di nakas.
"Huh, sebenarnya aku ini sedang apa? Terlalu memikirkan mimpi itu, padahal sudah jelas hanya mimpi," gerutunya. Haleth bangkit, lalu berjalan keluar dari kamar tersebut untuk menuju ke dapur.
Tiap lampu di lorong yang dilewatinya otomatis menyala, memberikan penerangan penuh pada Haleth yang berjalan tanpa alas kaki. Dinginnya lantai marmer menusuk telapaknya yang memucat. Satu per satu anak tangga ia turuni hingga matanya menangkap ruangan yang begitu terang.
Sepertinya, ada seseorang di dapur.
Tetapi Haleth tak begitu penasaran, karena tujuannya sekarang adalah mengambil liquid transparan yang dingin untuk menyegarkan tenggorokannya. Ia semakin dekat dengan dapur, dan ia pun akhirnya tau, siapa seseorang itu.
"Kenapa belum tidur?" Adam meletakkan cangkir kopinya di meja begitu sadar kedatangan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Haus," jawab Haleth seraya berjalan mendekati kulkas dan membukanya. "Kau sendiri?"
"Pekerjaan ku masih banyak." Adam menyahut.
Haleth meletakkan gelas berisi air putih di meja dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Adam. Kedua tangannya bersidekap. "Apa kau tidak lelah?"
"Hm, aku harus menjawab jujur atau tidak?"
Wanita itu merotasi bola matanya.
Adam terkekeh kecil seraya menyangga dagu menatap Haleth. "Lelah ku hilang saat melihat kau di sini, Haleth. Penasaran aku. Apa, kau mau datang, sampai mau menginap di sini karena tau aku sedang tidak di rumah?"
"Menurutmu?!"
"Ah, jadi aku benar?" pria itu mengangguk dengan senyum geli. "Apa perlu aku kembali ke Abu Dhabi agar kau seterusnya tinggal?"
"Huh?" Haleth menautkan kedua alisnya. "Tidak udah mengada-ada ya! Aku menginap hanya untuk menemani Tasha dan Ibuku!"
"Tapi kau tidur sendiri di kamarku tadi," mata pria itu tak lepas dari netra Haleth.
"Tasha tidur dengan Ibuku,"
"Oh, begitu,"
Obrolan mereka terhenti. Haleth menatap tangannya yang sedang memainkan gelasnya yang telah kosong. Tentu saja dia sadar Adam menatapnya, begitu intens dan mengintimidasi. Maka dari itu ia menghindarinya. Tak ingin netra elang itu menembus pertahanan hatinya yang bisa mengakibatkan jantung Haleth berdetak dengan kencang.
"Ngomong-ngomong Haleth," wanita itu mengangkat wajahnya. "Kau, hari ini bekerja?"
"Ingin berangkat denganku?"
"Kau ini benar-benar workaholic ya?!" nada bicara Haleth sedikit meninggi.
"Kau butuh tidur, kau tau? Apa kau yakin, bisa bekerja dengan benar sedangkan otakmu saja belum istirahat?!"
"Ah, rindu rasanya dikhawatirkan olehmu Haleth," senyum manis Adam kian membuat Haleth bergidik.
"Aku tidak mengkhawatirkan mu ya! Aku hanya memperingatkan mu, agar kau tidak mati muda!"
"Agar kita bisa bersama lagi?"
"Sinting!" desah Haleth kasar. Wanita itu mulai kesal. Suara kursi terdorong menggema bersamaan dengan Haleth yang bangkit dari duduknya. Wanita itu meletakkan gelas bekas ia minum di wastafel.
"Tidur saja di kamarmu! Aku bisa tidur di sofa, atau pindah kamar!" putusnya sebelum pergi meninggalkan Adam yang mematung.
Dengus kekehan Adam terdengar. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Wanita itu, gegabah sekali. Apa dia tidak takut aku tiduri lagi?"
...***...
"Haleth? Apa yang kamu lakukan?!" wanita yang sudah rapi dengan setelan kerjanya itu menoleh melihat kehadiran Jessica.
"Oh, maaf aku lancang. Aku, hanya ingin membuat sarapan,"
"Astaga! Kamu ini! Kemari kan! Biar aku saja!" Haleth menolak tawaran Jessica yang hendak mengambil alih spatula di tangannya.
"Biar aku saja tidak apa-apa. Lagipula, tinggal sosis saja." katanya.
Jessica menghela nafas, lalu menatap Adam yang tiba-tiba datang seraya mengusap bahu wanita tersebut.
"Ya sudah, biarkan saja. Mungkin, Haleth rindu membuat sarapan untukku," ujar Adam dengan senyum menggoda ke arah Haleth. Dan seperti biasa, Haleth hanya merotasi bola matanya.
"Ah, begitu,"
"Aku ingin berbicara dengan Haleth. Apa Mama bisa bersama Tasha dulu?"
"Tentu saja," Jessica mengusap punggung Adam dan tersebut. "Mama tinggal kalau begitu,"
"Thanks,"
Adam memperhatikan sang Ibu hingga tak lagi terlihat oleh mata. Pria itu lantas berjalan menduduki kursi tinggi. Tangannya bertumpu pada sebuah minibar, seraya memperhatikan aktivitas Haleth.
Merasa diperhatikan, Haleth balik menatap Adam. Memicing tak kalah tajam sambil menunjuk wajah pria itu menggunakan spatula. "Apa?!"
"Kasar sekali," Adam terkekeh. "Apa tidurmu nyenyak?"
"Ya menurutmu?!" wanita itu masih menggunakan nada yang tidak santai.
"Padahal kau bisa pindah tidur di sampingku. Tapi kau justru pindah kamar. Menyebalkan sekali."
"Huh, lalu? Ingin memperkosaku lagi?" tudingan itu reflek membuat Adam terkekeh-kekeh.
"Kau mau?" pria itu menggoda.
"Dasar kau sinting!" geram, Haleth menggelengkan kepalanya lantas menyusun sarapan yang sudah ia buat ke piring. Setelahnya, ia meletakkan piring itu di depan Adam. "Makan itu. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk yang lainnya. Aku harus cepat-cepat ke rumah sakit,"
"Katanya ingin berangkat bersama?" Adam mengernyit.
"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi,"
"Mobilmu?"
"Mama yang bawa."
"Bawa mobilku saja kalau begitu," tawar pria tersebut seraya menyerahkan kunci pada Haleth.
"Ck, tidak usah!" dan wanita itu menolak.
Adam mendecak lalu melemparkan kunci mobil itu ke arah Haleth, yang mengakibatkan wanita itu mau tak mau harus menangkapnya.
"Adam!"
"Bawa mobilku," paksa Adam kemudian menatap Haleth seraya mengangkat alis kirinya. "Thanks for breakfast, Mommy,"
"Ingatkan aku untuk membakar mobilmu nanti."
Adam kembali terkekeh sambil melambaikan tangannya pada Haleth. "Hati-hati di jalan. Have a nice day,"
"Okay. Thanks by the way,"
"Anytime!"