My Ex Husband

My Ex Husband
Hantu tampan.



...••••...


Hari semakin larut, indahnya langit kuning keemasan sudah berganti menjadi hitam pekat, dengan hiasan cahaya rembulan dan kelip bintang-bintang di atas hamparan langit luas yang tampak sangat mempesona.


Tepat pada pukul delapan malam Anna menuruni taksi yang di tumpanginya. Prempuan itu menjengit, memandang penuh tanya saat area rumahnya terlihat sangat gelap.


"Apa mereka ketiduran? sampai lupa menyalakan lampu!" Anna terus berjalan, mendekat ke arah pintu.


Klek!


"Tidak di kunci! bagaimana kalau ada orang masuk .. Sisil memang ceroboh!" Anna menggerutu.


Suasana rumah sangat gelap, tidak ada satu cahayapun yang menyala di dalam sana. Kakinya melangkah perlahan, hatinya merasa ragu untuk masuk lebih kedalam.


"Ish .. aku tidak suka gelap!" Anna bergumam.


Prempuan itu berdiri menyandarkan punggungnya di pintu, dengan jantung yang mulai berdebar dan perasaan yang juga mulai gelisah.


"Sisil? tolong nyalakan lampunya, saya tidak pake kacamata!" suara Anna menggema di dalam rumah kecilnya.


Hawa dingin sudah sangat terasa, tubuhnya merinding dengan bulu kuduk yang mulai berdiri.


Anna takut.


Hati Anna berbicara semuanya akan baik-baik saja, namun otaknya terus memutar hal aneh dan sangat menakutkan.


"Panggil security sih ini! mataku buram nggak kelihatan." Anna berbicara lantang, berusaha mengusir rasa takutnya.


Anna berdusta, pandangannya tentu masih bisa melihat dengan jelas, namun dia enggan mengakui kalau dia sedang ketakutan.


"Sisil kau tidur!?" Anna kembali berteriak.


"Yasudah .. saya panggil pak satpam dululah!" Anna gusar.


Nafas prempuan itu bahkan memburu saat jantungnya berdebar tidak tentu karena rasa takut yang terus menyeruak dalam dirinya.


"Hah!" Anna menghembuskan nafasnya kencang, lalu memutar tubuh untuk kembali keluar.


Sebelum benar-benar Anna menekan handle pintu, tiba-tiba saja lengannya terasa ada yang menggenggam.


Deg!


Sesaat Anna berhenti bernafas, matanya membulat sempurna, bahkan debaran di jantung yang terasa semakin kencang dari sebelumnya.


"Aaaaaa ..." Anna menjerit dengan sangat kencang, hingga suaranya menggema di seluruh ruangan itu.


"Aih .. jangan berteriak, telingaku sakit!" suara bariton seseorang yang sangat di kenali Anna terdengar jelas.


Namun bukannya tenang, Anna justru semakin panik hingga ia kembali berteriak.


"Haantuuu!" katanya, namun sebuah tangan besar membekat mulutnya.


"Ini aku .. mana ada hantu setampan aku!" David berbicara.


Anna diam, dengan nafas yang memburu, hingga dadanya terlihat naik turun tidak beraturan.


"Mas!" cicit Anna, saat David menyingkirkan telapak tangan dari mulut Anna.


"Hemmm .. ini aku." katanya kemudian berlalu pergi.


Trek!


David menyalakan lampu ruang tengah, beserta lampu lainnya.


"Balqis tidur?" Anna bertanya dengan raut wajah yang masih terlihat ketakutan.


"Mungkin." sahut David ketika ia mendudukan dirinya di atas sofa ruang tengah.


"Kenapa mungkin? apa Sisil tidak membawanya keluar kamar?"


David bersedekap, seraya menggelengkan kepalan.


"Putriku pulang, di jemput Nenek dan Kakeknya!" ujar David santai.


Deg!


"Mas .. kenapa tidak memberitahu aku dulu!?" Anna berjalan mendekat, kemudian duduk di samping David.


Pria itu mengerenyitkan dahi, lalu bedecak dengan senyum getir yang juga sudah terlihat.


"Balqis yang meminta pergi, kau tau? dia marah padamu .. dia menghubungiku agar pulang cepat karena ibunya pergi bersam OM-EDGAR!" David menekankan nama pria itu.


Anna tertegung.


"Dia mengadu?" Anna terus menatap wajah pria yang terlihat enggan menatap kearahnya.


"Ya, dan dia bilang ingin tinggal bersama ku sekarang!" dia menoleh, menatap mata Anna lekat dengan ekspresi dingin.


Anna terlihat semakin panik.


"Mas, jangan begitu!" Anna meraih lengan David, menatap pria itu penuh permohonan.


"Kenapa?" David mencebik, tersenyum mengejek mantan istrinya.


"Iyakah? bukannya sekarang kau mulai mengabaikan putriku? pergi bersama kekasih mu dan tidak mau dia mengganggu kalian?" tatapan David menusuk semakin tajam.


Anna menggigit bibirnya kencang, dengan tatapan sendu.


"Tidak, maksud aku tidak begitu mas! aku tidak membawa Balqis karena luka di keningnya belum sembuh."


David menggeser tubuhnya, memposisikan diri agar dapat menatap wajah cantik Anna dari jarak yang sangat dekat.


"Kalau kau tau putri kita sakit .. lantas kenapa kau berani meninggalkan nya dengan orang yang juga sedang sakit? dimana pikiran mu Kyara Anna!?"


"Mas .. tidak begitu! jadi biarkan Balqis pulang."


David diam, lalu mnoleh kearah tangan Anna yang terus memegangi lengannya.


"Dia yang mau, bukan aku yang paksa." David mengendikan bahu.


"Baiklah, aku pulang dulu. Menunggu dari sore membuatku kesal kepada mu Ann!" David bangkit, namun Anna menahan lengannya.


"Apa lagi?"


Kenapa sikapnya jadi dingin? apalagi tatapannya, lihatlah Anna. Dia benar-benar marah karena putrinya tidak kau ajak.


Anna membatin.


"Lepas, aku mau menemani putriku!" ucap David ketus.


"Mas .. kenapa kau marah?" Anna merengek.


"Jelas, aku tidak suka Balqis kau perlakukan seperti ini! jika kau ingin menjalin hubungan baru, maka bawalah dia bersama mu! perkenalkan dia kepada calon suamimu." cecar David menggebu-gebu.


Anna menghela nafas.


"Kalian salah paham!" Anna menarik lengan David.


"Tidak .. pengakuan Balqis sudah cukup sebagai bukti," sergah David.


"Kalian kalau marahan kompak sekali." gumam Anna.


"Kau sudah pulang. Aku hanya memberitahukan kalau mulai malam ini Balqis tinggal bersama ku!" David mulai beranjak, walau Anna masih menahan lengannya.


"Aku ikut!" Anna berteriak.


"Tidak usah .. Balqis dan aku sudah membebaskan mu pergi dengan pria manapun."


Anna menghempaskan tangannya, dia mulai merasa kesal saat David begitu keras kepala atas keputusannya.


"Pria .. hubungan .. pria .. hubungan!" Anna menggerutu. "Pria dan hubungan mana yang mas Maksud!?" cicit Anna.


Pria itu menoleh, kembali melangkahkan kakinya mendekat kearah prempuan yang terlihat sedang kebingungan itu.


"Edgar! bahkan kalian sudah mulai membeli cincin tunangan bukan? maka pergilah, biarkan Balqis bersama ku, aku tidak percaya dengan pria lain .. dia tidak akan menyayangi Balqis sama seperti ku!"


David berteriak, matanya memerah dengan dada yang naik turun ketika nafasnya memburu menahan kesal sejak tadi.


Jarak keduanya sudah sangat dekat, sampai hembusan nafas David bisa dirasakan Anna.


"Mas cemburu?" Anna bertanya. "Kenapa aku merasa kemarahan mas bukan karena aku tidak mengajak Balqis!" timpal Anna kembali.


"Ck! apa cemburuku akan berlaku? tentu tidak Anna. Aku mencoba mendekat, memperbaiki semuanya, menyesal di setiap saat atas kebodohan ku! tapi apa? kau memang sudah tidak mau memberiku kesempatan kedua. Kau tahu, bahkan aku merasa kau lebih sombong dari Tuhan, dia menerima setiap insan yang ingin bertaubat dan menyesali kesalahannya! tapi kau tidak, kau culas." cecar David, sampai membuat Anna bungkam.


"Aku janji, Balqis akan baik-baik saja dengan ku. Hidup berdua tanpa orang baru, hanya kita. Dua manusia yang memiliki ikatan darah."


David mundur, memutar tubuhnya untuk keluar dan meninggalkan kediaman Anna.


"Aku sedang mencoba!" Anna berteriak sangat kencang. "Apa mas tidak merasakan itu?" katanya kembali.


Deg!


"Aku hanya takut, aku memaafkan mu! aku hany ingin memastikan kejadian dulu tidak akan pernah terjadi lagi. Ucapan mu sama dengan ucapan Rika, dia berkata kalau aku sombong dan culas, makanya aku mencoba membuka hati lagi! untuk mu, bukan pria lain!"


Hatinya terasa menghangat saat mendengar penuturan Anna, amarah yang sejak tadi berkobar menghilang begitu saja entah kemana.


"Memang benar kata orang .. cinta pertama memang sulit di lupakan, walau kau memberiku rasa sakit yang teramat sangat!"


"Apa kau sadar?" David memandang Anna dari kejauhan.


Prempuan itu mengangguk.


David kembali berjalan kearah Anna, tanpa basa-basi dia meraup bibir prempuan itu, memangut ya dengan perasaan menggebu, lalu mengangkat tubuh Anna.


Anna memeluk bahu David, melingkarkan kedua kakinya di pinggang pria itu erat.


Keduanya bercumbu, saling membalas satu sama lain, meluapkan rasa rindu yang sudah lama tertunda.


Awas ada setan lewat om!


...••••...


Bonus vote nih! jadi kalo masih ada vote lempar aja kesini! kalo nggak ada .. ya kopi sama mawar misalnya💃💨


Like, komen itu wajib : )