
...••••••...
Suasana pagi di kediaman Daniel sudah terlihat ramai seperti bisa. Beberapa pekerja tampak di sibukan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Daniel berjalan keluar dari kamar miliknya, di susul Rosa yang langsung memegangi lengan suaminya.
"Jangan seperti ini!" Daniel berujar, dia menatap cengkraman tangan Rosa di lengannya.
"Shut, ayah jangan bawel. Kalau jatuh siapa yang sedih?"
"Kamu lebay, aku hanya ingin terlihat baik-baik saja di mata anak, menantu dan cucu ku." katanya lagi, sambil terus melangkah kan kaki menuju meja makan.
Pria tua itu tersenyum, saat Balqis memandang kearahnya dengan pakaian yang sudah terlihat sangat rapih.
"Pagi-pagi sekali sudah rapih, mau kemana?" Daniel bertanya, kemudian dia duduk di kursi meja makan, berhadapanp dengan Anna.
"Kita mau ke sekolah Kek, mau daftar yah?" katanya lalu menoleh kearah putri sulungnya.
Balqis mengangguk, namun dia menoleh kearah ayahnya dengan tatapan sendu.
"Tapi Papah nggak bisa antar Aqis!"
David yang tengah fokus menatap layar ponsel pun seketika menoleh, memandanga tatapan sendu putrinya.
"Papah harus kerja, om Al nggak masuk. Jadi Kaka diantar Mama saja yah?" David meletakan ponselnya, lalu dia meraih tubuh gadis kecil itu, dan mendekapnya erat.
Cup!
"Nanti Papa nyusul kalau senggang." dia mengusap kepala Balqis.
Namun gadis kecil itu menundukan kepala, dia terlihat sedih.
"Kakek antar mau?" Daniel menimpali.
"Sudah, nanti saja bahas sekolahnya. Sekarang kita sarapan dulu! .. mau isi telur atau selai?" Rosa bangkit, dia membawa beberapa lembar roti tawar kupas.
"Sama Anna aja Bu, ibu duduk saja!" Anna hampir bangkit, namun wanita paruh baya itu menghentikan Anna.
"Duduk saja, hari ini biar ibu yang menyiapkan sarapan."
Anna mengangguk.
"Siapa yang mau telur saus mayo?" Rosa bertanya.
"Aqis Nek!"
"Kakek juga."
"Ahh .. kalau begitu Papah juga!"
"Emmm .. Mama Chocolat cheese saja."
Rosa tersenyum, dia menatap wajah Balqis dan David bergantian.
"Entah kenapa, semakin besar ibu merasa Balqi sangat mirip dengan mu Dav!" Rosa terkekeh.
"Memang. Dan aku berharap Adik akan mirip dengan ku, biar adil." ucap Anna seraya menerima roti yang sudah Rosa beri olesan selai coklat dan cream cheese.
"Kenapa begitu? mirip keduanya dong, bikinnya juga sama-sama." sergah David.
"Tidak .. tidak, Kaka sudah sama persis dengan mu, giliran Adik yang mirip Mama nya!" Anna menggeleng-gelengkan kepala.
"Matanya mirip dengan mu!" David tidak mau kalah.
"Hanya mata? sementara bentuk wajah, bibir, alis hidung dan hampir semuanya sama persis dengan mu!"
Pandangan mereka saling beradu, begitupun dengan Balqis yang menatap keduanya bingung.
"Anak itu selalu begitu!" Daniel bergumam.
"Menggemaskan bukan? mereka berselisih faham hanya karena wajah anak mereka." Rosa berbisik.
"Tidak .. ada yang lainnya." David berseru.
"Apa?" Anna langsung menatap wajah Balqis, yang saat ini terlihat mendongak, menatap David.
"Kelaminnya!" celetuk pria itu.
"Ck!"
Anna bedecak sebal, lalu kembali menikmati sarapannya.
"Aduhh .. Aqis pusing, denger Mama sama Papa berantem terus. Di kamar berantem .. di sini juga berantem! Papa lebih cerewet dari Mama." gadis kecil itu merancau.
Seketika keempat orang dewasa itu terdiam, dengan mata yang saling menatap.
Lalu Daniel tergelak, dia tertawa lepas sampai kepalanya mendongak.
"Rancauan mu itu, membuat Kakek selalu merasa gemas, dan tidak rela jika kamu sebentar lagi akan menjadi anak gadis yang akan benar-benas tumbuh besar." kata Dabiel.
"Hemm, tahun sekarang masuk SD, nanti naik kelas .. begitu terus sampai nanti Aqis kuliah!" cicit Rosa.
"Apa tidak terlalu kecil? Balqis baru lima tahun?" Daniel menatap Anna.
"Harusnya tahun depan, tapi Balqis minta masuk tahun ini. Toh Balqis juga sudah menyelesaikan sekolah di taman kanak-kanak, masa harus di ulangi lagi." jelas Anna.
"Anak Papa memang pintar." David menyambar.
Pria itu mengusap kepala hingga turun ke punggung, lalu memberinya beberapa kecupan di kening.
"Sekolah yang pintar, nanti kalau sudah besar jadilah Dokter agar bisa menolong banyak orang, termasuk seseorang dengan penyakit yang mematikan, seperti kanker." David tersenyum, kemudian di menatap Anna.
...•••••...
Maaf bisa up sedikit, othor kurang enak badan juga ...
Like, hadiah sama votenya jangan lupa oke! Papayo ...
...•••••...