My Ex Husband

My Ex Husband
(Mood)



...••••••...


"Pergilah, untuk apa berdiam diri lebih lama lagi. Toh kita tidak punya apapun untuk membantu ibu mu itu!"


"Dulu Bibi meminjam uang ayah bukan? maka Anna mau menagihnya untuk berobat ibu."


"Pergilah, Kaka ku saja tidak pernah menangihnya, kenapa jadi kalian yang sewot sih!"


"Sungguh, bibi tidak mau membantu di kami?" suara gadis itu lirih, dengan air yang tampak sudah menggenang di pelupuk mata.


"Ayah mu sudah mati, otomatis hubungan ku dengan kalian sudah terputus. Pergilah, beritahu ibu mu kalau kita tidak punya uang!" prempuan yang ia ketahui sebagai adik kandung dari ayahnya berteriak, dengan mata membelakan dan nafas menderu-deru.


Dia terlihat marah.


"Tolong ibu sekali ini saja bi! nanti Anna ganti kalau Anna sudah bekerja." Anna mengiba.


"Pergi!" dia berteriak.


"Bi Ann ...


"Pergi sendiri atau—"


"Yasudah, terimakasih sudah mengizinkan Anna masuk." Anna sedikit membungkukan badan.


Gadis yang masih mengenakan pakaian sekolah SMA pun bangkit, berjalan kearah pintu keluar dengan hati yang begitu hancur.


Bagaimana tidak, satu-satunya kerabat dekat justru membuang dia dan ibunya secara terang-terangan, hanya karena ayah Anna sudah tiada.


"Jangan datang lagi, ingat!" prempuan paruh baya itu meneriakinya di ambang pintu, dengan bedecak pinggang.


Anna terus berjalan, tanpa menoleh sedikit pun, sampai tidak terasa air matanya menetes begitu saja.


"Anna gagal Bu, ... Anna harus kerja agar kita tidak memohon belas kasihan orang lain." ucapnya sambil terus berjalan menyusuri jalan setapak yang terlihat sepi pada hampir sore hari ini.


...•••••...


Anna terus terdiam, tubuhnya seolah membeku saat melihat sosok prempuan yang sangat ia kenali dulu.


Wanita tua yang tidak pernah menyukai keberadaan nya bersama sang ibu.


Tatapan matanya mengiba, senyumannya terlihat memohon. Dia berjalan kearah Anna, seraya terus memanggil nama keponakannya yang terus membisu.


David diam, pria itu menatap keduanya bergantian.


Dia membuka luka lama! ucap David dalam hati.


"Anna, ini bibi!" dia menepuk dadanya sendiri.


Anna masih diam, namun kali ini matanya tampak memerah dengan nafas yang terlihat memburu.


"Sudah lama kita tidak bertemu, bibi terkejut saat rumah ini tiba-tiba di hancurkan, kemudian menjadi bagus dan sebesar ini!" wanita itu terus merancau, berusaha membuat Anna berbicara.


Wanita itu menatap seluruh ruangan dengan wajah berbinar.


"Apa sekarang bibi berubah pikiran? bukannya dulu kalian sudah membuang kami, karena ayah ku sudah meninggal dan otomatis tali persaudaraan itu terputus? lalu untuk apa sekarang bibi menemui ku?" suara Anna rendah penuh penekanan.


"Oh. Atau bibi mau memberikan pinjaman? yaa .. dulu ibu butuh uang untuk menebus obat, tapi kalau sekarang ibu sudah tiada, atau bibi tidak tau yah? kalau ibu ku sudah mati juga!"


Prempuan itu menggelekang kepalanya perlahan, dia maju beberapa langkah untuk meraih tangan Anna.


Namun dengan cepat Anna mundur, seolah enggan di dekati wanita itu.


"Sayang, jangan seperti ini!" David mencoba menenangkan istrinya.


Anna diam, prempuan itu menatap suaminya lekat.


"Ini putri mu? canti sekali." katanya, dia membungkuk menatap wajah Balqis dari jarak yang lebih dekat.


Anna langsung menarik Balqis, menyembunyikan gadis kecil itu di belakang tubunya.


"Sayang?" David terlihat bingung.


"Jika dulu mas bertanya-tanya kenapa tidak ada satupun kerabat ku yang berada di pemakaman ibu, maka tanyakanlah kepada dia." sergah Anna, dia meraih tangan Balqis dan segera berjanjak pergi.


David tertegung saat mendapati Anna pergi bersama putrinya.


"Mungkin anda datang di waktu yang tidak tepat, Anna tidak seperti itu .. dia prempuan baik dan memiliki sopan santun. Jadi datanglah lain hari, siapa tau dia lebih melunak." jelas David, lalu dia berjalan cepat untuk menyusul Anna.


David berlari, raut wajahnya muram saat melihat sikap Anna yang sangat berbeda. Dia tahu betul istrinya, dan sikap dia kali ini membuat David terkejut.


"Istri ku tidak pernah seperti ini kepada orang yang lebih tua, kecuali kepada ku dulu!" pria itu bermonolog.


David meraih lengan Anna, hingga langkahnya terhenti seketika dan berbalik badan hingga pandangan keduanya beradu.


"Mau pulang?" David menatap manik kecoklatan itu sendu.


Anna mengangguk, dengan satu tangan yang mulai menyentuh perutnya.


"Adik kenapa?" David bertanya dengan suara pelan, lalu menyentuh perut istrinya itu.


"Perut aku keram, sakit!" tukas Anna.


"Baiklah, ayok masuk. Kita pulang sekarang ... sepertinya keadaan kalian tidak baik-baik saja."


"Mama oke?" Balqis bertanya, saat mereka sudah masuk, dan duduk di kursi masing-masing.


Anna menoleh kearah belakang dimana putrinya berdiri. Wajah polos itu menatapnya penuh tanya.


"Mama oke, hanya lelah."


"Nenek tadi siapa? kenapa dia tiba-tiba masuk? itu kan nggak sopan ya pah?" Balqis beralih kepada pria yang sudah mulai fokus dengan setir mobilnya.


David tersenyum.


"Didikan mu memang bagus, sayang. Dia bahkan tau bagaimana cara bersopan santun." David menoleh kearah Anna, prempuan yang terus mengusap-usap perut bulatnya.


"Apa rasanya sakit?"


"Nggak tau .. aku bingung kalau ini sakit atau bukan! cuma perut aku itu terasa sangat kencang." suara Anna sedikit merengek.


"Fokus saja mengenmudi, aku tidak apa-apa!"


"Yakin mau pulang! tidak kerumah sakit terlebih dahulu?" David meyakinkan.


"Tidak usah, mungkin ini yang dinamakan keram ... aku sedikit kurang paham, karena dulu pas hamil Kaka aku hanya mengalami mual dan muntah."


David mengangguk-anggukan kepala.


Seketika suasana menjadi hening. David fokus mengemudi, sementara Anna mengelus perutnya. Mencoba menenangkan perutnya yang sejak tadi terasa nyeri.


"Kaka tidur?" ucap David saat dia melihat kearah sepion di hadapannya.


Anna langsung melihat kearah belakang.


Disanalah putri sulungnya, Balqis Raline Julian, tertidur sangat tenang.


"Dia seperti aku yah, ... diam tiba-tiba tidur."


"Memang ... dan setelah hamil kamu malah lebih parah! tidur tanpa menunggu ku terlebih dulu."


Anna diam.


"Emmm ... sayang? sepertinya kita harus berbicara kepada bibi mu, kasian dia. Kulihat keadaannya sedikit memprihatinkan."


Prempuan itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku tidak bisa." tegas Anna kepada suaminya.


"Kenapa? kamu bukan tipikal orang yang pendendam!"


"Mas, bisa tidak jangan bahas itu dulu! mood ku kembali memburuk!" sergah Anna, dia terlihat sangat kesal.


"Setidaknya de ...


"Stop! kamu bahas dia lagi, aku turun!"


David langsung bungkam, mengatupkan mulut lalu kembali fokus kearah jelanan yang ada dihadapannya.


"Tadinya aku mau ngajak kamu ke hotel, tapi kamu bikin aku kesal! yasudah .. aku berubah pikiran." Anna menggerutu.


"Kamu ambekan!" cicit David pelan.


"Biarin. Salah sendiri bikin mood istrinya turun lagi, udah bagus-bagus aku lupa, malah di ingetin lagi. Kamu nggak tau apa? sejahat apa dia sama ibu aku dulu? bayangkan, dia mengusir ku dengan hina, bahkan cecaran dan teriakan yang tidak enak di dengar ... mungkin kalau kamu jadi aku, kamu akan melakukan hal yang sama."


"Baiklah, maafkan aku." satu tangan David berusaha meraih tangan Anna.


"Jangan pegang-pegang!"


Namun pria itu tidak peduli, dia meraih tangan Anna dan menggenggamnya erat.


Cup!


David mencium punggu tangan Anna.


"Kamu tidak tahu yah? kalau melakukan sesuatu saat marah itu justru lebih nikmat." goda pria itu.


"Bodo amat!" Anna ketus.


"Oh, minta di paksa yah! yasudah kita antar Balqis terlebih dulu, kita ke hotel dan bersiaplah untuk sesuatu yang akan membuat mu terus berteriak!"


"Ancanman mu itu!" dia bergumam, lalu memutar bola matanya jengah.


...•••••...


Hey ... kalian ini! like sama komen lah ..


Jangan di kasih eps panas dulu baru pada muncul : ^


Othor tuh sayang kalian, jadi kasih hadiah dulu, sama vote kalo masih ada ...


Btw, season ² mau kisah Sisil atau Balqis nih? othor bingung ... season ini bentar lagi tamat kayanya, tapi belum tentu sih, gimana kalia : )


~Papayo, cuyung kalian banyak-banyak~