
...•••••...
Pagi hari tepat pukul 06:30 di sebuah apartemen yang terletak di lantai 6.
Sinar matahari mulai menghangat, masuk menembus kaca besar dan menerangi sebuah ruangan tengah yang terlihat sudah sangat rapih.
Begitupun dengan sosok prempuan yang terlihat baru saja selesai mandi. Dia berdiri di depan meja, memotong beberapa macam sayuran dengan handuk yang masih melilit di atas kepala.
Dengan sangat telaten dan hati-hati Sisil mulai memasukan potongan dada ayam kedalam panci berisi air yang sudah mendidih.
Ya, menu sarapan yang Sisil masak hari ini adalah sup ayam.
Tiba-tiba saja suara dering notifikasi ponsel Sisil berbunyi nyaring, sampai dia berlari kearah kamar, dan meraih benda pipih itu yang terletak di atas nakas.
Bu Anna.
Naman itu tertulis jelas di layar ponsel, lalu Sisil menggeser tombol hijau dengan segera.
"Halo, selamat pagi bu?" Sisil menyapa terlebih dahulu.
—Selamat pagi Sil, kamu sedang sibuk tidak?
"Tidak, kenapa bu?"
—Oh, saya cuma mau ngasih tau. Nanti sore saya ke sana yah, ambil catatan kamu! ini sudah akhir bulan.
"Iya boleh."
—Yasudah, hanya itu yang masu saya sampaikan.
"Siap bu!"
—Sampai ketemu nanti Sil.
Kemudian Anna menutup sambungan telfonnya.
Sisil kembali meletakan ponsel itu di atas nakas, pandangannya beralih menatap tempat tidur yang terlihat kosong.
Prempuan itu melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, dengan suara gemercik air yang samar terdengar.
Bayangan pergumulan panas di setiap malam kedunya kembali teringat, sampai membuat pipi Sisil memerah. Begitupun dengan malam tadi, mereka kembali melakukannya, seolah pria itu tidak pernah lelah dengan hal yang satu ini, meski beberapa kali dia mengeluh kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang David berikan.
"Astaga! supnya." Sisil berlari kearah luar.
Melihat ayam yang sudah matang, Sisil memasukan wortel dan kentang kedalam panci yang sama.
"Untung masak sup, kalo goreng-goreng pasti udah gosong!" wanita itu bergumam.
Setelah beberapa saat Sisil memasukan sayur kol, lalu memberinya kaldu jamur agar masakannya terasa lebih nikmat.
Sementara Alvaro, pria itu terlihat sudah memakai jeans hitam panjang miliknya, berjalan kearah luar dengan bertelanjang dada menghampiri istrinya yang terlihat sedang asik berdiri di hadapan kompor.
Alvaro terus berjalan untuk lebih mendekat, kemudian memeluk tubuh Sisil dari belekang.
Cup!
"Morning baby!" katanya seraya meletakan kepalanya di bahu Sisil, setelah mencium leher istrinya seperti biasa terlebih dulu.
Sisil menoleh, dia tersenyum samar.
"Kebiasaan, kenapa nggak di pake bajunya?" ucap Sisil.
"Sengaja, karena aku tau kamu suka lihat tubuh polos ku bukan!" Alvaro menahan senyum.
Plak!
Sisil memukul tangan yang sedang melilit di perutnya cukup kencang, sampai menimbulkan jejak kemerahan disana.
"Ini masih pagi, kenapa pembahasan udah kesana aja!" cicit prempuan itu, dia terlihat sedikit malu.
Alvaro tersenyum gemas, menghirup leher Sisil yang masih menyisakan bau sabun, kemudian melepaskan dekapannya.
"Kamu masak apa?" Alvaro menggeser tubuhnya, sampai benar-benar di depan meja kompor.
"Sup ayam, siapa tau Abang suka." jelas Sisil.
Pria itu mengangguk.
"Sangat suka, apapun masakannya. Asal kamu yang buat, aku pasti sangat suka!" kata Al kepada Sisil.
"Mana sendok, aku mau coba."
Sisil mengangguk, dia menarik laci di hadapannya, lalu membawa satu sendok dan memberikannya kepada Alvaro.
"Gimana? kurang apa?" Sisil menatap wajah pria yang sedang mencoba masakannya lekat.
Alvaro mengangguk-anggukan kepala.
"Sudah cukup, ini enak." dia tersenyum.
"Yasudah tolong matikan .. aku mau potong daun seledri nya dulu."
Alvaro menurut, dia langsung mematikan komor dihadapannya, sampai luapan air mendidih pun berhenti.
Sisil terlihat mencuci dedaunan untuk toping supnya, juga satu buah tomat merah dan langsung memotongnya.
"Awhhhh!"
Prank!
Alvaro yang masih sibuk menyicipi nikmatnya sup buatan Sisil terperangah, dia menatap Sisil yang sedang memegangi jemarinya, lalu mendekat.
"Hey .. kenapa?" dia panik, meraih tangan Sisil yang berdarah, lalu memasukan jari telunjuk itu kedalam mulutnya.
"Jangan!" cicit Sisil kepada Alvaro.
"Diamlah, ini supaya darah mu berhenti." untuk beberapa detik Al melihat jari itu, lalu mengulumnya kembali.
Raut wajah Sisil terlihat sedikit muram, begitupun dengan guratan wajah panik Sisil yang terpampang jelas.
"Duduk dulu, aku akan ambilkan plaster." Alvaro menuntun istrinya sampai duduk di kursi meja makan.
"Tapi seledri dan tomatnya?"
"Tidak usah, biarkan saja!"
Sisil mengangguk, tatapannya terus tertuju kepada pria yang berjalan mendekat kearah kotak obat.
Alvaro bahkan terlihat sedikit lebih panik darinya.
"Sini, pake dulu obat merahnya." Alvaro menarik tangan itu.
"Abang nggak mau, .. itu perih!" Sisil menahan tangannya.
"Hanya sebentar sayang!" bujuknya, dan meneteskan obat itu pelahan.
Deg!
Hatinya berdebar, saat panggilan itu kembali Alvaro katakan.
"Lain kali hati-hati, kamu mikirin apa sih? kok bisa sampe kena pisau, mana lukanya dalem lagi!" pria itu mengomel, sambil terus fokus memasangkan plasternya.
Pandangan Sisil terkunci pada wajah Alvaro yang terlihat sedang menunduk, mengobati luka di jemarinya.
"Dengerin kalau aku ngomong tuh, di jawab iya kek atau apa gitu!" akhirnya dia beralih menatap Sisil.
"Iya maaf!" kata Sisil.
"Jangan meminta maaf, tapi berhati-hatilah jika melakukan sesuatu. Untung aku ada, kalau tidak ada bagaimana?" Alvaro terus mencecar Sisil.
"Abang nggak kerja?"
"Kamu selalu mengalihkan pembicaraan!" sergah Al.
"Tidak, aku sungguh bertanya. Tumben Abang pake jeans, biasanya celana bahan."
Alvaro mengangguk.
"Ini weekend, kamu lupa?" dia bertanya. "Aku libur, hanya ada satu pertemuan hari ini. Ada pasangan yang baru menikah, mereka memakai jasa desain interior kita untuk rumah barunya." jelas Al.
Sisil mengangguk.
"Selesai."
Cup!
"Cepat sembuh yah!" Alvaro mencium telunjuk yang sudah di balut plaster itu.
"Eee .. a-aku bawa sup nya dulu!" Sisil langsung bangkit.
"Baiklah, aku juga mau ambil baju dulu." katanya lalu pergi dari dapur.
Sisil membawa dua mangkuk berukurang sedang, kemudian menuangkan sup ayam itu kedalamnya.
Sisil meletakkannya di atas meja, kemudian ia duduk.
Manis sekali bukan? hanya sebuah sayatan kecil dari pisau yang super tajam, tapi dia mengkhawatirkan aku seperti aku terkena luka parah.
Sisil berbicara dalam hati, dengan ekspresi wajah berbinar dan bibir yang tersenyum merekah.
"Baiklah, ayok sarapan. Dan biarkan aku untuk mengantar mu bekerja hari ini." Alvaro duduk.
"Mau pakai nasi merah? aku masak tadi." Alvaro mengangguk.
"Boleh, sedikit saja." Sisil tersenyum, kemudian dia bangkit dan berjalan kearah rice cooker yang terletak tidak jauh dari sana.
Beberapa menit mereka saling duduk berhadapan, menikmati semangkuk sup ayam lezat yang Sisil masak.
Akhirnya mereka selesai, dan segera bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Nanti aku datang, mudah-mudahan tidak lama yah." kata Alvaro saat keduanya memasuki mobil.
"Mau tunggu di rumah ibu?" Sisil melihat kearahnya.
"Kita lihat nanti, kalau masih siang aku akan langsung ke rumah Bu Anna saja."
Keduanya sudah berada di dalam mobil, dan kendaraan itu mulai bergerak perlahan kaluar dari basemen apartemen yang mereka tempati.
...••••...
Hey votenya jangan lupa! Hadiah yang banyak biar makin semangat updatenya nih.
Klik favorite juga yah! notifikasi kalian akan berbunyi jika othor update eps terbaru.
Papayo .. vote dulu vote ....