My Ex Husband

My Ex Husband
Ketus.



...•••••...


"Terimakasih pak, mari!" kata Sisil kepada supir taksi.


"Iya neng, sama-sama!" pria tua itu menoleh kemudian tersenyum.


Sisil segera menutup pintu mobilnya, lalu berjalan dengan penuh semangat kearah sebuah rumah yang terdengar sudah sangat ramai oleh celotehan dan diselingi gelak tawa.


Tok ... tok ...


"Hallo, ... selamat pagi semuanya!" sapa Sisil saat ia di ambang pintu, melihat sang ibu yang sedang sibuk berdiri di depan kompor, dengan tangan yang terus mengaduk sesuatu didalam wajan yang berukuran besar.


Sontak semua yang berada disana diam dan menoleh kearah suara.


"Anak ibu!" Ningsih berteriak, dia berlari kearah Sisil lalu memeluknya erat.


"Kau sembuh? maaf ibu belum sempat melihat mu waktu Al memberi tahu ibu, kalau kamu pernah di bawa ke UGD."


"Aku hanya terlalu banyak pikiran, tapi aku akan seperti Bu Anna. Dia tangguh, dia bangkit dan berdamai dengan keadaan." kata Sisil kepada ibunya.


"Wah, mbak Sisil pas udah nikah malah semakin terpancar yah auranya!" kata Faiqa kepada Sisil.


"Makanya lu nikah, biar makin cantik kaya mbak Sisil." Anis menepuk bahu temannya.


"Hallo mbak Faiqa, mbak Anis, mbak Ratmi ... emmm om Aip!" Sisil tersenyum.


Namun Syaif tetap diam, dengan mata yang terus memandang Sisil yang kini memang terlihat sedikit berbeda.


Kulit yang terlihat lebih putih, tubuh yang tampak berisi, ah ... satu lagi! Sisil membiarkan rambut sebahunya terurai.


"Suami kamu mana? apa tidak di ajak masuk!?" Ningsih mencari keluar.


Ah, suami. Kenapa sesuatu yang telah menjadi milik orang lain terlihat lebih bagus, justru aku baru menyadari kalau Sisil memang cantik! Syaif berbicara dalam hati.


"Pak Al harus kerja Bu, dia tidak mengantarku, aku pakai taksi," jelas Sisil.


"Aduh ibu jadi lupa kalau lagi numis bawang!" Ningsih melepaskan dekapannya, lalu kembali berdiri di depan meja kompor.


"Mulai kerja mbak?" Anis yang sedang duduk santai pun bertanya.


"Iya, mungkin setelah ini ke rumah Bu Anna."


"Lho, nggak bareng Syaif lagi!?"


"Ah i-iya, maksud saya mau bertanya sama Bu Anna, apa saya masih bekerja disini atau kembali mengasuh Balqis." Kata Sisil yang langsung di angguki Anis.


"Bapak dimana bu?"


"Ke kebun biasa!"


Sisil mengangguk, kemudian dia berjalan masuk kearah kamarnya.


Klek!


Suasana ruangan kecil terlihat sangat rapi, namun ada yang sedikit berbeda. Sisil menatap tempat tidur yang kini sudah berubah ukuran.


"Untuk apa ibu mengganti ini!" Sisil duduk di tepi ranjang, lalu mengusap tempat tidur itu.


"Ah, telfon Bu Anna dulu lah!" Sisil membuka tasnya, lalu membawa handphone, dan segera menghubungi Anna.


—Hallo, kenapa Sil?


Ucap Anna setelah panggilan keduanya tersambung.


"Hari ini saya masuk kerja Bu, harus kesana atau kerja disini?


Anna yang sedang duduk di sofa kamar dengan bathrobe yang masih ia kenakan pun terkesiap, lalu menatap David yang sudah berpakaian lengkap disampingnya.


"Why? ekspresi mu selalu membuat ku takut Anna." David menjengit.


Anna mengatupkan mulutnya yang sempat sedikit terbuka, menggelengkan kepala kearah suaminya lalu kembali fokus kepada Sisil.


"Bu Anna? hallow!"


—Kamu mau dimana? saya serahkan kepada kamu saja. Emm .. apa kamu sudah benar-benar pulih? saya dengar dari Al kamu sempat masuk UGD?


"Saya sudah jauh lebih baik, tidak baik jika saya terus berlarut-larut. Ibu adalah contoh baik untuk saya, aku ingin berdamai dengan keadaan dan diriku sendiri."


Anna diam.


"Kalau begitu saya disini saja, salam untuk Balqis Bu." kata Sisil kepada Anna, dengan bibir yang terus tersenyum.


—Baiklah Sil, selamat bekerja. Kalau ada apa-apa adukan kepada saya yah! jangan seperti kemarin.


Sisil mengangguk.


"Iya Bu."


—Yasudah, terimakasih sudah menjadi kuat Sil.


"Ini semua atas dukungan kalian!" ucap Sisil.


—Saya tutup telfonya yah!


Sisil hanya diam mendengarkan, sampai suara 'tuut' terdengar, baru gadis itu menjauhkan ponsel miliknya.


...•••••...


Setelah membuat keputusan yang membuat Syaif sedikit terkejut. Akhinya mereka berdua sampai di rumah Anna dulu, yang sekarang di alih pungsikan menjadi kantor.


Syaif duduk di depan meja dengan laptop yang menyala, memeriksa beberapa list pesanan perharinya.


"Sil, kamu selesai?" Syaif keluar dari ruang kerja Anna dulu.


Seketika pandangan Sisil beralih menatap pria yang sedang berjalan kearahnya.


"Sedikit lagi, kalau mau kerumah ibu duluan, ... duluan aja, nanti aku nyusul pake taksi!" ucapnya lalu kembali fokus kepada buku catatannya."


Syaif mencelos, saat tatapan kagum Sisil tak lagi ada, bahkan Sisil kini terkesan lebih cuek kepacanya.


Kenapa gua nggak rela kalo Sisil mulai bersikap biasa! batin Syaif berbicara.


"Kamu nggak laper? atau mau jajan es Nutrisi Sari di depan gitu!"


"Bang Syaif mau? minta tolong aku beliin yah? yaudah sini uangnya!" Sisil menutup buku catatannya, lalu menengadahkan telapak tangan.


Pria itu menggelengkan kepala.


"Bu-bukan mau nyuruh lho, aku ngajak!" kata Syaif.


"Oh, yaudah hayu!" ujar Sisil lalu dia bangkit.


Mereka berjalan kearah luar beriringan, menuju sebuah kedai kecil di sebrang jalan.


"Kamu nggak marah lagi?" Syaif bertanya.


"Marah sama siapa? sama Pak Alvaro?"


Syaif menggelengkan kepala, lalu menoleh ke arah Sisil dan tersenyum canggung.


"Saya, karena kata-kata saya dan perlakuan saya terhadap kamu Sil!"


Gadis itu tersenyum, lalu menjawab dengan gelengan kepala.


"Hanya kesal, tapi sekarang nggak."


"Gimana suami kamu?"


"Gimana apanya? pertanyaan kamu sepotong-sepotong!"


"Perlakuannya sama kamu, atau apapun itu! bukannya kalian menikah tanpa ada rasa cinta yah!?" Syaif mulai banyak bertanya.


"Ohh ... itu! kita udah bikin kesepakatan, kalo aku nggak hamil, kita akan cerai. Lagian pernikahan macam apa yang kami jalani ini, tidak ada kontak fisik, bahkan hal romantis pun belum pernah dia lakukan. Kalo aku tanya, jawabannya singkat-singkat." Sisil bercerita, sementara Syaif menyimak dengan seksama dan menganggukan kepala saat dia mengerti.


"Mang, ... Nutri Sari semangkanya satu yah! sama makaroni basahnya satu juga, pedesnya dikit weh!" Sisil memesan.


"Samain mang!" Syaif ikut memesan.


Sambil mereka menunggu pesanan, Sisiil dan Syaif pun duduk di bangku yang tersedia.


"Badan kamu lebih berisi yah, makin cantik!" Syaif menatap Sisil.


"Hmmm ... akhir-akhir ini aku minum vitamin, jadi nafsu makan aku bertambah daripada biasanya." Sisil menjawab.


Setelah menunggu beberapa menit, kemudian Sisil beranjak untuk kembali kedalam rumah milik bosnya itu, namun saat ia akan menyembrangi jalanan komplek, ia melihat sebuah mobil hitam yang sudah terparkir tidak jauh dari sana.


"Kenapa Sih?"


"Bang Syaif duluan deh, aku kesana dulu yah!"


Pria itu tidak menjawab, melainkan berdiri sambil memperhatikan Sisil yang sedang berjalan menghampiri sebuah mobil hitam, yang Syaif lihat sudah cukup lama menepi disana.


Tok .. tok ..


Sisil sedikit membungkuk.


Kaca mobil itu terbuka, dan terlihatlah seorang pria dengan wajah masam.


"Bapak kesini?"


"Ambilah, aku membelikan mu makan siang tadi." ucapnya ketus.


Sisil mematung, dia menatap bungkusan itu lalu kembali kepada wajah suaminya yang sedikit tidak enak di pandang.


"Di bela-belain jauh dari kantor ke rumah ibu, eh malah berduaan disini!"


"Dih ... bapak aneh hari ini!"


"Ambilah makan siang mu, saya akan kembali ke kantor."


"Kok dua?" ucapnya penuh tanya saat Sisil meraih kantong plastik bening berisi dua kotak makanan.


"Tadinya saya mau makan bareng kamu, kasian tadi pagi cuma makan telur dadar. Eh malah asik ketawa-ketiwi sama orang lain! awas ... saya berangkat lagi!"


Sisil menjengit, dia memundurkan kakinya beberapa langkah, dan membiarkan Alvaro pergi dengan raut wajah kebingungan.


"Dih, kenapa dah!?" Sisil linglung.


"Padahal aku mau nawarin makaroni lho, kok malah ketus?" Sisil bergumam, dengan pandangan yang terus tertuju kepada mobil Civic tipe R hitam yang melaju semakin menjauh.


...••••••...


Jangan lupa di like, komen, beri hadiah, kasih vote kalo masih ada. Klik favorite juga jangan lupa! agar notifikasi muncul saat othor update eps baru.


Hari ini satu eps aja cukup kali yah : )


Jangan lupa di follow Ig othor cantik ini bestieh💃💨 @_anggika15


~Cuyung kalian~