
...•••••...
Beberapa hari berlalu.
Di sebuah rumah pagi-pagi sekali. Suara pria terbatuk-batuk sangat jelas terdengar, hingga membuat sosok prempuan yang masih terlelap di atas tempat tidur itu menggeliat dan mengerjapkan mata secara bersamaan.
Rika bangkit, duduk di tepi ranjang untuk beberapa saat.
Klek!
"Astaga ini sangat menyiksa, sungguh!" ucap Edgar yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Rika menoleh, dia menatap suaminya yang berjalan sempoyongan.
"Ayank mual dan muntah lagi?" Rika berdiri, dan berjalan mendekat kearah suaminya.
Edgar hanya mengangguk, dia bahkan terlihat sedikit mengabaikan Rika yang berjalan kearahnya, meninggalkan prempuan itu menuju sofa kamar.
"Kok aneh sih, udah beberapa hari Ayank kaya gini! mau ke Dokter? tapi sepertinya memang harus." ucap Rika lagi, lalu duduk di samping Edgar.
Edgar diam, dia menyandarkan punggungnya kesadaran kursi, dengan jemari yang mulai memijat pelipisnya perlahan.
"Sayang, tolong ambilkan minyak kayu putih." Edgar bergumam, namun masih bisa Rika dengan dengan sangat jelas.
Prempuan itu menganggukan kepala, lalu bangkit dan segera berjalan keraha meja rias untuk membawa sesuatu yang suaminya minta.
"Mau sesuatu? akan aku ambilkan ke dapur."
"Tidak usah, tunggu dulu sampai rasa mualnya hilang."
"Baiklah. Ini, ... kamu mau pakai dimana?" tanya Rika saat dia kembali duduk di samping Edgar.
Dengan cepat Edgar meraih botol berukuran sedang itu, membuka tutupnya dan segera mendekatkan kearah hidung.
"Hanya mencium baunya sudah sangat cukup."
Rika terdiam, dia menatap wajah Edgar yang terlihat sangat pucat, apalagi bibirnya terlihat kering.
Rika mengulurkan tangan, lalu mengusap-usap punggung Edgar pelan.
"Aku buatkan teh manis hangat yah!?"
"Tidak, disini saja. Temani aku!" tukas Edgar, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rika.
"Hari ini tidak usah ke toko yah! dirumah saja, istirahat." pinta Rika.
"Hemm ... sudah aku rencanakan dari kemarin, toh di toko juga aku cuma diam. Lemas, pusing, ngantuk terus!"
Rika berpikir, sambil terus menatap wajah suaminya.
"Kayanya kamu hamil!" celetuk prempuan itu.
"Hamil?" Edgar menjengit.
Rika mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Gejalanya seperti Anna dulu. Ngantuk, mual muntah, dan banyak lagi." jelas Rika.
"Terus?" Edgar menatap Rika gemas.
"Ya ... kamu hamil, ini menurut aku lho yah!" Rika belum menyadari kekonyolannya, tentu saja. Laki-laki mana yang bisa mengandung.
Pletak!
"Awhhhh!" Suara Rika memekik, dia menatap Edgar penuh tanya, dengan satu tangan kanan yang juga mengusap telinganya yang memerah.
"Kamu ngaco!" Edgar tertawa.
"Kenapa di sentil? kan sakit!" cicit Rika, dia kesal.
"Omongan mu itu. Mana ada aku hamil, yang ada itu kamu!" ucap Edgar.
Pria itu tertawa kencang, sementara Rika bungkam memperhatikan Edgar dalam diam.
Aku? hamil? ah yang benar saja!
Ucap Rika dalam hati.
"Apa kita harus ke Dokter, sayang?" Edgar bertanya.
Dia bergerak lebih mendekat, lalu mengusap perut Rika yang terlihat masih rata.
"Kamu yang sakit, kok aku!" sergah Rika.
"Kita periksa saja dulu."
"Nggak mau, nanti aku kecewa lagi .. sebelum-sebelumnya juga begini. Lagian paling kamu kecapean, masuk angin juga, jadi seperti ini ... dan nggak ada hubungannya sama aku." jelas Rika.
"Iya ... juga yah?!"
Rika mengangguk lagi.
"Iya, jangan sangkut-pautankan dengan aku."
"Apa kamu sekecewa itu? sampai tidak mau datang lagi ke rumah sakit hanya untuk sekedar memastikan."
"Kita sudah berapa kali ke Dokter? hampir di setiap aku telak datang bulan, dan itu selalu berakhir menyakitkan, karena aku belum juga bisa memberimu anak sampai saat ini!"
"Terus, kalau kamu sekarang hamil bagaimana? setidaknya kalau kita tau kita bisa menjaganya sejak dini."
"Tidak usah, nanti aku tanya Anna saja. Pas dia hamil om David mual-muntah nggak."
"Aku akan ke toko sajalah
." Edgar berujar, kemudian dia bangkit, kembali berjalan kearah kamar mandi.
"Sudah baikan?" Rika berteriak.
"Sudah tidak separah tadi!"
"Memang, di rumah aku bosan."
"Baiklah, aku siapin sarapan dulu. Eh sama aku izin ketemu Anna yah nanti siang." kata Rika lagi.
"Ya." teriak Edgar di dalam kamar mandi sana.
...••••••...
Ting! ...
Pintu lift yang berada di lantai teratas gedung milik David terbuka. Dan munculah sosok prempuan cantik, rambut coklat panjang terurai, dengan dress motif bunga berwarna kuning di atas lutut berlengan panjang.
Anna tersenyum, lalu kepalanya mengangguk pelan saat beberapa pegawai menyapanya.
"Selamat siang Bu Ann!"
"Selamat siang." balas Anna dengan senyum hangatnya seperti biasa.
Kaki jenjang dengan flat shoes berwarna hitam itu terus melangkah dengan cepat, dan baru berhenti saat Anna berdiri tepat di depan meja kerja milik Al.
"Dimana suamu ku, Al?" Anna berdiri tepat di depan meja kerja pria yang sedang duduk dan fokus kepada layar laptopnya.
Seketika Al mendongak, melepaskan kacamata bacanya, dia menatap Anna.
"Ada di dalam, beliau baru saja menyelesaikan meeting."
Anna mengangguk.
"Kau tidak membawa Sisil? bukannya itu rencana mu beberapa hari lalu!?"
"Sisilnya yang tidak mau, aku paksa pun percuma! dia malah mengancam akan pergi bekerja jika aku tetap memaksakan kehendak." jelas Al kepada istri atasannya itu.
"Nah, setelah ini kau berhutang untuk mencarikan satu pekerja untuk ku!" seru Anna.
"Tidak usah, kurasa bocah tengil itu bisa mengatasi semuanya." Alvaro berdecak sebal.
"Bocah tengil!? wah ... wah, kau cemburuan sekali, padahal mereka hanya rekan kerja saja." Anna tertawa.
"Anda tidak tau saja, jika istriku sedang dalam bahaya ... oh maksudku, anak itu masih berusaha mendapatkan Sisil, dan akan jadi apa rumah tanggaku jika aku tidak berusaha mencegah itu semua." cecar Al.
"Dan satu lagi, dia cinta pertama Sisil. Jadi aku tidak akan membiarkan dia mendekat, dan membawa Sisil dari ku!" sambungnya lagi.
"Pintar. Kalau begitu, ini untuk mu!" Anna meletakan satu kantung plastik berisi kotak makanan yang dibawanya.
"Selamat makan, saya masuk dulu." pamit Anna, kemudian dia berjalan kearah pintu ruanga kerja suaminya.
Tok ... tok ...
Klek!
Anna masuk, lalu menutup pintu itu kembali.
"Kau ini, sudah ku bil ...
"Sayang, kau datang!?" David menatap Anna dengan mata berbinar.
"Kamu ini, aku datang sudah menggerutu!" sergah Anna, prempuan itu mendelik sebal.
David bangkit dari duduknya, meninggalkan beberapa pekerjaan dan segera berjalan kearah Anna.
"Ku kira yang datang itu Alvaro." jelas David, lalu dia memeluk tubuh Anna dari belakang.
"Bagaimana adik hari ini?" David mengusap perut bulat Anna.
"Dia baik, tidak nakal." kata Anna.
"Kaka tidak ikut?"
"Dia sedang belajar sambil bermain, sampai aku ajak pun tidak mau ... ku rasa dia benar-benar sudah besar." Anna tergalak.
"Dia sudah tidak mau ikut kemanapun aku pergi!" Anna sedikit mengeluh.
David diam.
"Ah .. aku bawa nasi goreng bebek sambal hijau kesukaan kamu." Anna duduk, kemudian meletakan bungkusan itu, dan segera membukanya.
"Makanlah." Anna menarik tangan suaminya.
David menurut, dia duduk tepat di samping Anna.
"Jangan bersedih, Balqis anak pintar. Dia mengerti sebentar lagi adiknya yang lebih membutuhkan banyak perhatian." David mengerti kesedihan istrinya.
"Tidak, aku hanya takut saja!"
"Tidak usah takut ... dia tetap putri manja kita, hanya saja sekarang dia sedang cosplay menjadi anak gadis dewasa." David terkekeh.
"Mungkin. Makanlah mas, setelah ini aku mau bertemu Rika."
"Rika? dimana?"
"Di salah satu cafe yang sering kita kunjungi."
David mengangguk.
"Jika aku pulang cepat, aku akan menjemputmu. Dan satu lagi! jangan minum kopi! aku tidak mau asam lambung mu naik, dan berakibat fatal untuk bayi kita!"
"Siap pak bos."
David mengusap kepala Anna, bibirnya tersenyum, dan segera menyantap makanan yang Anna bawakan.
...•••••...
Minta hadiah sama votenya kalo masih ada ... Klik favorite jangan lupa !
Like komen tetep wajib yah : )
~Papayo ... cuyung kalian semua~