
...••••...
Anna berjalan ke arah luar untuk segera menutup pintu gerbang yang masih terbuka setelah kepergian Syaif.
"Balqis sudah siap berangkat?" tiba-tiba saja David datang, sampai membuat Anna sedikit tersentak kaget.
"Kamu ngagetin mas!" Anna memegangi dadanya.
Pria itu tersenyum.
"Aku tunggu di mobil, Ann. Kalau sudah siap antar saja!" kata David yang langsung berbalik arah.
Sesaat Anna diam, menatap punggung bidang itu lekat.
"Emm ... mas?" Anna memanggil.
Langkahnya terhenti, dia menoleh.
"Ya, kenapa?"
"Balqis tidak masuk sekolah dulu mas, mungkin dia baru masuk setelah libur sekolahnya selesai." Anna berujar, prempuan itu berusaha tenang, namun ada sedikit gurat ketakutan di wajahnya.
David menjengit, kemudian ia kembali berjalan mendekat kearah Anna.
"Kenapa? apa karena aku yang mengantar?" kata David, menatap Anna penuh tanya.
Anna kembali diam, ia takut untuk memberitahu kebenaran tentang putrinya, yang terjatuh hingga terluka dan mengakibatkan jahitan di keningnya.
"Ann! apa karena kejadian semalam?" David bertanya.
Anna menggelengkan kepala.
"Bukan, Balqis memang sedang tidak enak badan." seru Anna.
"Sakit? sejak kapan? kenapa kamu tidak memberitahu ku!?" raut wajahnya terlihat panik.
"Mas sibuk? kalau tidak ... Balqis ada di dalam masih tidur, tapi mungkin sekarang udah bangun." ajak Anna kepada manta suaminya.
"Kalau kamu mengijinkan aku masuk." pria itu menatap Anna lekat, dan mata berbinar pastinya.
Anna mengangguk, lalu beranjak masuk kedalam rumah dengan David yang berjalan mengekor dibelakangnya.
"Aku tunggu disini saja!" David hampir duduk di sofa ruang tengah.
"Naik saja, mungkin hari ini kepalanya sakit dan pusing." kata Anna kepada ayah dari putrinya itu.
David mengangguk, lalu kembali berjalan dibelakang Anna. Tatapan matanya kembali sendu, saat melihat Anna berjalan di depannya.
Rasanya aku tidak rela kalau kau dekat dengan pria lain, aku tahu aku gila! tapi ini kenyataanya.
David berbicara dalam hati.
"Sil, kamu boleh kebawah." Anna tersenyum ke arah Sisil.
Gadis itu mengangguk.
"Jangan lupa sarapan sama minum obat sakit giginya." Sisil mengangguk.
"Selamat pagi bapak?" Sisil menyapa saat berpapasan dengan David yang baru masuk kedalam kamar Anna.
David tersenyum seraya menganggukan kepala kepada gadis yang sudah lama mengasuh putrinya.
Mata David menatap sekitar, meneliti setiap sudut kamar tidur yang terbilang kecil di bandingkan kamar milik mereka dulu.
"Mas, kemarilah!" titah Anna.
David kembali tersadar, dia menatap Anna kemudian mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya.
"Anna? putri kita kenapa?" pria itu panik, duduk di tepi ranjang kemudian mengusap kepala Balqis yang masih terlelap.
Anna duduk di sofa.
"Balqis jatuh semalam, sepertinya dia mencariku saat aku tidak ada," kata Anna.
"Kemana Sisil? bukankah ini kewajibannya untuk menjaga putri kita!?" seketika raut wajahnya berubah.
"Jangan marah sama Sisil, keadaan dia saat ku tinggal juga sedang kurang enak badan, giginya sakit sampai dia harus meminum obat pereda nyeri."
Keduanya saling memandanga, menatap satu sama lain.
"Berapa jahitan?" David kembali menatap kening Balqis yang terbungkus perban.
"Kening nya tiga, kalo bibirnya nggak di jahit karena hanya robekan kecil." Anna menjelaskan.
Davis terdengar menghela nafas, kepalanya menunduk.
Cup!
Satu kecupan di kening Balqis David berikan.
"Maafkan Papa karena tidak bisa menjaga mu, lihatlah! wajahnya mu pucat, pasti Balqis pusing kan sayang." David berbicara.
Anna diam ketika melihat sikap David yang tampak sangat menyayangi putrinya.
"Mas mau berangkat?" Anna kembali bertanya saat melihat David mulai bangkit.
Pria itu mengangguk, namun tidak berjalan ke arah luar melainkan kearah Anna duduk saat ini.
"Aku ingin menghabiskan waktu dengan putriku, berbicara banyakhal juga. Tapi aku sibuk, Alvaro tidak bisa masuk hari ini, dia menemani Mika cuci darah."
David duduk di samping Anna.
"Aku ingin mengungkapkan sesuatu boleh?" David bertanya.
Anna berpikir sesaat. Namun sebelum Anna memberi jawaban David sudah memeluk tubuhnya terlebih dulu.
Tubuh prempuan itu terasa membeku, sampai tidak bisa berbuat apapun selain diam dan membiarkan David memeluknya.
"Aku merindukan mu, Ann. Aku merindukan kalian berdua!" suara David lirih dan sedikit bergetar.
"Aku akan berusaha ikhlas, kalau memang kamu sudah menjalin hubungan baru!" sambung David lagi.
Mas David nangis? Anna menjengit.
"Maama!" panggilan Balqis membuat Anna tersadar.
"Mas, nanti Sisil datang." Anna langsung mendorong tubuh pria yang sedang mendekapnya.
"Ahahah ... maaf!" pria itu terkekeh seraya mengusap sudut mata dengan jemarinya.
Dia benar menangis?!
"Papa?" gadis kecil itu bangkit, menatap ayahnya kemudian tersenyum.
Dengan langkah cepat David langsung menghampiri putrinya.
"Hai cantik?" David merentangkan kedua tangannya.
"Kangen Papa." ucapnya dengan tangan yang melilit di leher sang ayah.
"Papa nginep? aku keboboan. Semalem aku di jahit, ada gunting nya aku takut." dia mengadu.
"Kenapa bisa sampai begini? apa yang kamu lakukan?" David bertanya.
"Aku takut Pah!" kata Balqis kepada ayahnya. "Mama nggak ada, teteh juga bobo .. aku sendiri, cari Mama eh jatuh." ucapnya lagi.
Cukup lama Anna memperhatikan keduanya dalam diam, bahkan Balqis seolah tidak menyadari keberadaannya.
"Turunlah, Papanya mau kerja." titah Anna, prempuan itu menghampiri.
Balqis menoleh, melihat Anna lalu menggeleng kan kepala.
"Papa nggak boleh kerja! aku kan sakit. Jadi Papa harus temenin aku, berdua sama Mama juga." Balita itu menatap kedua orang tuanya bergantian.
Anna meraih tangan mungil itu, menariknya sampai Balqis kini berada dalam gendongan Anna.
"Tidak boleh seperti itu!" kata Anna.
Seketika raut wajah putrinya berubah muram.
"Tapi aku mau Papa." suara Balqis terdengar sangat pelan, kepalanya menunduk. Menyembunyikan wajah memerah karena mulai menangis.
David diam, dia menatap Anna bingung. Di satu sisi dia benar-benar harus bekerja, namun disisi lain David juga tidak tega dengan keadaan Balqis sekarang.
"Sambal mu tidak produksi lagi?" David bertanya.
"Mereka aku liburkan, nanti Minggu depan baru mulai lagi." jawab Anna.
"Mereka liburan? kenapa kalian tidak?"
"Dua atau tiga hari lagi kami berangkat, kepuncak." Anna tersenyum.
"Sayang, Papa berangkat dulu yah? sudah siang nanti Papa dimarahin Kakek!" David mengusap pipi Balqis. "Nanti sore kesini lagi, mau Papa bawain apa?" sambung pria itu kembali.
Balqis yang tadinya menundukan kepala pun langsung menatap David.
"Nggak bohong?" katanya.
"Tidak, Papa janji." David mendekat, tubuhnya sedikit membungkuk lalu mencium pipi kening dan bibir milik putrinya.
"Mama bilang Papa mau nginep sini! tapi Papa suka bohong, makanya nggak datang."
Deg!
Mati gue, kebongkar dah!
Anna menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan mata.
"Kali ini tidak, nanti sore Papa datang .. oke?"
Balqis mengangguk.
"Sun Papanya dulu!" David mendekatka pipinya.
Cup!
"Sayang Papa," kata Balqis.
Cup!
David kembali mencium pipi putrinya.
"Sayang Balqis!" balasnya kemudian tersenyum.
David menegakan tubuhnya kembali, dia menatap Anna tajam.
"Jangan membohongi putriku lagi!" suaranya pelan, namun Anna mendengarnya dengan sangat jelas.
Masih galak aja! batin Anna.
"Maaf." Anna menganggukan kepala.
"Baiklah, Papa pergi." David hendak beranjak, namun panggilan Balqis kembali menghentikan langkahnya.
"Paapah?!"
"Ya sayang?" pria itu berdiri di ambang pintu kamar Anna.
"Papa nggak sayang Mama?"
David menjengit.
"Emmm .. sayang!" jawab David singkat.
"Kenapa nggak sun?" wajah polos itu menatap David tanpa ragu.
Sementara dua orang dewasa itu terpaku, diam entah harus menjawab pertanyaan ini dengan jawaban seperti apa.
"Paapa!?" Balqis turun dari pangkuan Anna, dia berlari menghampiri David.
"Jangan lari-lari!" suara David memekik.
Balqis menggelengkan kepala, kemudian menarik tangan ayahnya kembali mendekat kearah Anna.
Tubuh Anna membeku, aliran darahnya terasa berhenti, ketika Balqis membawa ayahnya semakin mendekat.
"Papa ha-haturus berangkat Aqis!" sergah Anna.
"Iya Aqis tau kok Mam .. tapi Papa sayang Mama dulu! tadikan Aqis sun sayang Papa .. terus Papa sun sayang Aqis. Kenapa nggak sun sayang Mama?" balita itu merancau.
"Aku kesingan Ann, maaf!" katanya, lalu.
Cup!
"Sayang Mama Anna." ungkap David setelah mencium pipi Anna.
"Kalau begitu Papa berangkat, bye?" pria itu berlari keluar.
"Papay!" Balqis melambaikan tangan, dia berlari ke arah kaca untuk melihat kepergian ayahnya.
Sementara Anna diam, dia belum mampu mengendalikan kesadarannya yang seketika menghilang.
...••••...
Uhuy .. jangan lupa like dan komen. Bunga, kopi juga deh boleh.
Klik favorite jangan lupa, biar notifikasinya bunyi .. author update 2bab sehari lho.
~Terimakasih atas dukungan yang kalian berikan kepada othor bubuk rengginang ini, seperti biasa .. Zeyeng kalian~
Instagram: @_anggika15
Fb: Anggika Putri Anjani.