
"Kamu menangis, dan seberantakan itu hanya karena melihat aku bersama Aleesa?" Tanya Randy penuh penekanan.
Ayumi mengatupkan kedua bibirnya hingga merapat, lalu menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa?"
Randy mencondongkan tubuhnya, meletakan kedua tangan diatas meja sampai jarak keduanya semakin dekat.
"Ngg, ... itu ... itu ..." Ayumi menjadi gelagapan, saat otaknya tiba-tiba saja terasa kosong dan tidak mampu memberikan alasan yang tepat kepada pria di hadapannya.
"Kamu kesal?"
"Tidak!" Ayumi mengelak.
"Kamu marah?"
"Sudah aku katakan tid ..."
"Kamu ini curang tahu! kamu tidak menerima sebuah pernyataan cinta, tapi kamu cemburu dan marah saat aku bersama perempuan lain. Jadi mau kamu bagaimana? saya menjauh salah, mendekat juga lebih salah." Ekspresi Randy terlihat sangat serius.
Sementara Ayumi mengigit bibirnya kuat. Apa yang di katakan Randy benar adanya, sampai dia tidak mampu menyangkal setiap ucapan yang pria itu ungkapkan.
"Katakan jika kamu mau saya menjauh. Katakan juga jika kamu mau saya tetap berada di dekat mu seperti dulu! jangan membuat saya bingung dengan sikap mu ...."
Ayumi mencondongkan tubuhnya. Mencium bibir Randy untuk membungkam pria itu dari cercaan yang terus menerus terdengar.
Cup!
"Bapak berisik!" Kata Ayumi.