
...••••••...
Mobil sedan hitam milik Alvaro terus melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kemudian mobil itu perlahan menepi, dan berbelok memasuki area gedung tempatnya berkeja.
Pandangan Alvaro langsung tertuju kepada mobil Audi R8 berwarna hitam milik David yang sudah terparkir disana.
Dengan cepat Alvaro turun, dan berlari kearah Lobby untuk segera naik kelantai teratas gedung itu, dimana ruangan David berada.
"Selamat pagi Pak?" dua prempuan yang berdiri di hadapan menja resepsionis menyapa.
Pria itu menoleh, kemudian menganggukan kepala tanpa membalas senyuman manis dari para bawahannya itu.
"Aih ... gimana ya biar bisa ambil hati satu bujangan itu? cuek banget sama cewek, apalagi ke kita!" salah satunya berbicara.
"Jangan terlalu berharap, mungkin selera Pak Al lebih tinggi dari kita, model atau aktris gitu!" jelas temanya.
"Padahal aku nggak jelek-jelek amat, baju juga tiap hari rapih!" katanya seraya menatap rok di atas lutut yang ia kenakan.
"Mungkin sudah ada pacar, cuma di sembunyikan." temannya kembali menimpali.
Dua wanita itu terus berbincang, membicarakan sosok pria tampan yang tidak kalah dingin dengan bos mereka.
"Akhirnya kau datang juga!" ujar David saat melihat Asistennya datang.
Seketika pandangan Al tertuju kepada David yang sedang duduk diatas kursi kerjanya.
"Bapak sudah menemui kliennya?" Alvaro bertanya, kemudian duduk di samping David.
"Sudah, ... tadinya mau menunggu mu. Tapi kau sangat lama sekali, aku jengkel jadinya!" cicit David.
"Saya harus antar Sisil dulu pak, jarak apartemen ke rumah ibu mertua saya cukup jauh."
David menoleh.
"Apa kau sudah mulai memperhatika Sisil?" David menatap Asistennya tidak percaya.
Sesaat Alvaro diam, hingga pandanganya saling beradu.
Tak!
David melempar bolpoinnya sampai menimpa kepala Alvaro.
"Di wajab, bukannya di tatap!" David mendengus, dengan kedua bola mata yang terlihat mendelik.
"Dia tanggung jawab saya Pak, jadi kalau ada apa-apa lagi ... yang pertama menghajar saja bukan ayah mertua saya." Alvaro menjawab.
"Siapa?" David memincingkan mata kearahnya.
"Bapak, siapa lagi!" Alvaro berseru.
"O'oh iya yah? saya lupa kalau pernah menghajar kamu!"
Alavro hanya mengangguk.
"Tiga pukulan Pak!"
"Nanti tolong temui satu klien lagi yah! saya mau pulang cepat, ibunya Balqis sedang tidak bisa di tinggal lama!"
"Bu Anna sakit? tapi kenapa Sisil masih kerja di kantornya, tidak membantu mengurus Aqis saja?"
"Tidak sakit, hanya ngidamnya yang parah. Setiap malam dan pagi dia selalu merasa mual dan berakhir muntah. Kalau Balqis, ada Nenek .. Kakeknya yang selalu menemani." jelas David kepada Alvaro.
"Balqis akan mempunyai adik?"
David tersenyum.
"Wah, selamat ya pak!" Alvaro mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut David dengan wajah yang tampak berbinar.
"Semoga kau segera menyusul, agar merasakan bagaimana rasanya bahagia saat akan memiliki sosok kita versi kecil." kata David, lalu terkekeh pelan.
"Semoga pak." Alvaro mengamini.
"Yaudah, mana berkas yang harus saya tanda tangani? berikan .. saya kedalam dulu." tukas David yang langsung di jawab anggukan oleh Alvaro.
...••••••...
"Suami kamu mulai perhatian Sil?" Syaif berjalan kerah prempuan yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah.
Sisil menoleh, kemudian meletakan ponsel di atas meja.
"Memangnya kenapa?" Sisil menjawab dengan pertanyaan lagi.
"Tadi kamu sampai di antar ke rumah ibu, biasanya kamu naik taksi atau ojek online." kata Syaif.
"O'oh itu?" Sisil menganggukan kepala. "Kami memang pergi kerja bersama!" jelas Sisil kembali.
"Bukannya dia kerja kantoran yah? kok bisa berangkat sesiang itu!"
Sisil menjengit, dia menatap pria yang duduk dihadapannya dengan pandangan penuh tanya.
"Bang Syaif kok nanya-nanya soal suami aku, kenapa?" keduanya saling menatap.
Syaif terdiam, kemudian wajahnya memerah.
"Ng itu ... aku cuma mau ngasih tau, pria itu bisa melakukan apapun tanpa rasa cinta!" tiba-tiba saja Syaif berbicara seperti itu.
Sisil semakin bingung, dengan maksud perkataan pria di hadapannya.
Syaif menghembuskan nafasnya perlahan, dengan tatapan yang terus tertuju pada leher Sisil yang terlihat sedikit tanda merah, dan Syaif tau betul itu bekas apa.
"Begini Sil, kamu jangan terlalu percaya sama pria itu! bisa saja dia bersikap manis karena hanya ada maunya saja!" jelas Syaif.
Sisil mencoba mencerna perkataan Syaif.
"Aku ngomong gini bukan benci lho, tapi karena sayang .. jangan sampe kamu jatuh untuk kedua kalinya!"
Deg!
Sisil membisu, dia mulai mengerti maksud Syaif.
Apa benar yang di katakan bang Syaif? dia baik dan manis karena hanya ingin sesuatu dari ku?
Hati Sisil menjadi tidak karuan, perasaan yang sepertinya mulai bangkit kini menghilang karena rasa takut yang mulai muncul.
"Apa semua pria begitu?" Sisil menatap Syaif sendu.
"Yah, mereka bisa melakukan apapun hanya karena nafsu, bukan cinta. Ketahuilah Sil, mungkin dia menikahi mu hanya karena rasa kasian atau hal lainnya!"
"Iya kah? apa bang Al kaya gitu?"
"Entahlah, hanya saja kau harus lebih hati-hati. Jangan terlalu memakai perasaan dalam apapun!"
Sisil diam, dia melemparkan punggungnya kesadaran sofa, dengan pandangan yang menatap lurus kearah langit-langit rumah.
"Jangan kaya Bu Anna dulu, .. dia hamil dan su ....
"Stop! udah bang, aku nggak mau denger apapun lagi!" sergah Sisil yang mulai jengah dengan Syaif.
Pria itu diam.
"Aku duluan ke rumah ibu yah? toh udah selesai juga!" kata Sisil.
Dia bangkit, meraih tas dan memasukan ponsel miliknya.
"Barengan aja Sil!" Syaif berteriak, lalu beranjak mengejar Sisil yang sudah berjalan kearah luar.
...•••••...
Sesampainya di kediaman kedua orang tua Sisil.
Prempuan itu langsung turun, kemudian berlari masuk kedalam rumah.
"Kalian sudah selesai?" Ningsih bertanya, namun Sisil tidak menjawab, dia berlalu sampai masuk kedalam kamarnya.
"Lho!" Ningsih bingung.
Kemudian pandangannya beralih kepada pria yang berjalan kearahnya.
"Ip, Sisil kenapa? apa ada sesuatu lagi?"
"Nggak ada Bu, Syaif cuma jelasin kalau pria ngelakuin sesuatu, .. ya nggak semuanya karena cinta, bisa juga kerena nafsu!" ujar Syaif.
Ningsih diam, dia bingung harus berbicara apa lagi.
"Ibu tinggal dulu yah!" Ningsih menatap Faiqa, Anis dan Ratmi bergantian.
"Iya bu." mereka menjawab bersamaan.
Ningsih beranjak kearah pintu kamar Sisil.
"Lu apain lagi tuh Sisil? jangan macem-macem deh Ip! malu sama Bu Ning, dia baik banget lho sama kita-kita yang bukan siapa-siapa nya dia." Anis berbicara pelan.
"Kagak ada, sumpah!" katanya lalu duduk di samping teman-temannya.
Tok .. tok ..
"Sil, boleh ibu masuk nak?"
Klek!
Sisil membuka pintu, kemudian menatap ibunya dan mengangguk.
"Kenapa? apa terjadi sesuatu lagi?" Ningsih berbisik, dia menutup pintu kamar Sisil, lalu menuntun anaknya duduk di tepi ranjang.
"Apa bang Al nikahin Sisil cuma kasian, atau nggak enak sama bapak dan ibu?" Sisil menatap ibunya sendu.
Ningsih terdiam, kemudian memeluk Sisil erat.
"Semoga saja tidak Sil. Alvaro kelihatan pria baik, tapi memang sifatnya .. sedikit dingin yah!" Ningsih terkekeh, agar Sisil tidak terlalu kepikiran.
"Sikapnya sudah mulai menghangat, tapi kata bang Syaif ... bisa saja hanya karena dia menginginkan sesuatu."
"Jangan berprasangka buruk ya nak, tidak semua pria seperti itu."
Sisil mengangguk, sambil terus memeluk tubuh ibunya erat.
Semoga kamu tidak begitu suami ku!
...•••••...
Jangan lupa like, komen dan kirim hadiah yang banyak yah guys!!!