
...••••••...
Uhuk .. uhuk .. uhuk
Mata David mengerjap, saat suara samar Anna terdengar cukup jelas di telinganya.
Dengan cepat David bangkit, dan segera berjalan kearah pintu kamar mandi yang tertutup.
Klek!
Anna yang sedang bersimpuh di hadapan washtafel pun menoleh. Wajahnya pucat, matanya memerah dan berkaca-kaca.
"Sayang?" David berjongkok di hadapan Anna. "Kamu muntah lagi?" pria itu menatapnya khawatir.
Anna mengangguk, lalu memeluk tubuh David saat ia merasa lemas dan pusing karena hampir semalaman dia merasa mual dan berakhir dengan memuntahkan cairan bening.
"Sudah selesai?"
Anna mengangguk.
"Baiklah, ayok kita kembali ke kamar!" dengan mudahnya David mengangkat tubuh Anna.
Prempuan itu terlihat sangat lemas, sampai Anna terus memejamkan matanya saat David membawa dia kembali kedalam kamar.
"Kamu ingin sesuatu?" David bertanya setelah membaringkan tubuh Anna.
"Makan seblak kwetiau enak kayanya, apa lagi kalo pedes .. seger gitu ... siapa tau mual aku berhenti." jelas Anna kepada suaminya.
David diam, kemudian dia meraih ponsel yang terletak di atas nakas, dan menekan tombol power sampai layarnya menyala.
"Dimana cari seblak jam tiga pagi?!" pria itu bingung.
Bibir Anna mengerucut, lalu menggelengkan kepala.
"Siapa tau di dapur ada bahan-bahannya, mau aku suruh bibi buatkan?" David mulai mengusap perut Anna.
"Nggak ah, aku mau beli yang di taman kota. Abang-abangnya mirip opa-opa Korea!" Anna tersenyum.
David menjengit.
"Mau makan seblak atau makan opa-opa Korea?!" tatapannya tajam.
Anna menepuk bahu suaminya kencang, kemudian dia tergelak.
"Aku bercanda tau, ... itu muka udah di tekuk aja kata kanebo kering!" kata Anna, hingga membuat David mendelik.
"Ish Papa ... jangan marah dong, ini maunya adek bayi lho!"
David mendekatkan wajahnya kearah perut Anna, menciumnya beberapa kali lalu berbisik.
"Hey .. jangan membuat Mama mual sama muntah ya, keinginan setelah itu yang Papa tidak suka, masa Mama mu mengagumi wajah pria lain, mana tukang seblak lagi ... harga diri Papa mu sedang di pertaruhkan nak!" katanya sambil terus mengusap perut Anna.
Sementara prempuan itu tertawa kencang, sampai menitikan air mata.
"Aduh, perut ku kram!" cicit Anna.
"Nah, dia tidak suka kamu mengagumi pria lain selain Papanya."
"Aku tidak mengagumi .. hanya sedikit senang saja kalau melihat wajahnya!" sergah Anna.
"Dih ... senang katanya!" David memutar bola matanya.
Lagi-lagi Anna tertawa kencang, melihat raut wajah David saat ini membuat moodnya menjadi lebih baik.
"Sini Pah, kita bobo lagi masih pagi." Anna menrik tangan suaminya.
David mengikuti kearah mana Anna membawanya, lalu berbaring dan langsung saja tubuh itu Anna peluk.
"Mas, nanti jangan pakai sabun yang suka kita pakaian yah! pakai sabun Kaka saja, aku menyukai baunya." seru Anna, sambil terus mengendus dada suaminya.
"Baiklah, nanti aku tidak pakaia sabun itu lagi, dari pada kamu mual dan tidak mau aku dekati!" ujar David, pria itu mulai memejamkan mata.
Anna mengangguk, tangannya terus memeluk pinggang David erat. Dan di beberapa detik kemudian mereka kembali terlelap, seperti Balqis yang tidak terganggu sedikit pun.
...•••••...
Selesai mandi pagi dan bermalas-malasan beberapa saat. Sisil mulai bangkit, menyimpan ponselnya di atas meja televisi kemudian beranjak kearah dapur.
Hal pertama yang Sisil lakukan adalah memeriksakan bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin.
Sisil berdiri di hadapan kulkas cukup lama, melihat sekaligus membayangkan masakan apa yang akan ia buat pagi hari ini.
Tiba-tiba saja sepasang tangan memeluk tubuhnya erat, sampai membuat Sisil sedikit terkejut, lalu prempuan itu berteriak cukup kencang.
"Astaga aku kira apa!" pekik Sisil saat ia menoleh, dan menangkap Al yang sedang tersenyum kearahnya.
Cup!
Al mencium leher Sisil.
"Nanti dulu, aku mau buat sarapan." jelas Sisil. "Terus itu ... kenapa belum pakai baju?" kata Sisil kembali, saat melihat Alvaro masih mengenakan bathrobe.
Bathrobe bagian atas yang sedikit terbuka, juga rambut yang masih terlihat basah, Alvaro tampak segar dipagi hari ini.
Dia semakin tampan, astaga! pikir Sisil.
"Mau pacaran lagi boleh?" Alvaro berbisik, posisinya masih sama, pria itu memeluk Sisil dari belakang.
"Kita harus kerja kan? jadi nanti lagi yah! sekarang skip dulu." Sisil berusaha menetralkan perasaannya, walau tidak bisa di pungkiri kini jantungnya sedang berdebar.
Alvaro tidak menjawab, pria itu diam dengan posisi yang sama. Memeluk dan menghujani leher Sisil dengan kecupan basah.
"Mau sarapan apa pagi ini? aku bingung masaknya!" Sisil menoleh, lalu kembali menatap isi lemari pendingin itu.
Bukannya menjawab, Alvaro justru menarik lengan Sisil dan membuatnya menjadi saling berhadapan, lalu menutup pintu kulkas.
Deg!
Perasaan Sisil semakin tak karuan, saat tangan pria itu mulai meraih pinggang dan memeluknya erat.
Alvaro tersenyum, namun terlihat sedikit nakal.
"Aku tidak suka di abaikan!" katanya seraya mengusap pipi Sisil dengan punggung tangannya.
"Bukan begitu, ta-tapi aku mau buat ...
Suara Sisil terhenti saat Alvaro meraup bibirnya tanpa aba-aba, mel*mata bibir Sisil seolah baru saja merasakan untuk pertama kalinya.
Perlahan tapi pasti Sisil mulai membalas ciuman yang kini terasa semakin panas, apalagi saat Alvaro meremat bagian belakangnya dengan sangat gemas.
"Ahh jangan, aku takut!" cicit Sisil saat pria itu mengangkat dan membuat Sisil duduk di atas meja makan.
"Ada aku! kenapa harus takut?"
"Aku takut ketinggian!" suaranya terdengar pelan, namun ekspresi wajahnya terlihat sangat menggemaskan, dengan kedua tangan yang sudah memeluk erat leher suaminya.
Brugh!
Alvaro melempar tubuh Sisil di atas tempat tidur, sampai membuat drees rumahannya tersingkap ke atas.
"A-abang ... nanti kita kesiangan!" Sisil gugup, apalagi Alvaro mulai menanggalkan bathrobe, dan memperlihatkan tubuh polo itu dengan miliknya yang terlihat sudah sangat menegang.
Pria itu hanya terus tersenyum, kemudian naik keatas tubuh Sisil dan mengungkungnya.
"Hanya sebentar, ... tadinya aku mau menghabisi mu tadi malam, tapi aku takut kamu tidak bisa bangun karena kelelahan!" pria itu berbisik tepat di telinga Sisil.
Lalu menggigitnya.
"Sshhh!" Sisil mendesis.
Cup!
Alvaro beralih mencium leher Sisil, sampai prempuan itu menggelinjang tidak tentu arah.
Melihat Sisil sudah terjatuh di atas kabut gairah, tangan pria itu mulai nakal, mengusap dan meremat setiap lekuk tubuh Sisil.
Dan dengan sekali tarikan Alvaro membuat drees rumahan Sisil terlepas, menyisakan kain hitam berenda yang menempel di area sensitif prempuan itu.
"Kenapa di tutupi?" Alvaro menyikirkan tangan Sisil yang menyilang di atas dada.
"Malu!" rengeknya.
"Malu? padahal aku sudah melihat semuanya tadi malam." Alvaro terkekeh pelan.
"Malam itu beda, ruangannya gelap. Terus kita pakai selimut juga!" Sisil kembali merenget, dengan pipi yang sudah terlihat memerah.
Alvaro kembali membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajah untuk kembali meraih bibir merah yang terlihat sangat menggoda.
"Sudah ku kasih contoh semalam! apa tidak mau kembali mempraktek-kan nya sayang?" katanya sambil mengusap kepala Sisil lembut, juga menatapnya penuh kagum mata bulat dengan bulu mata lentik milik Sisil.
Prempuan itu diam, lalu mengalihkan pandangannya kepada bibir Alvaro.
"Kau cantik!" suaranya terdengar parau.
Netra Sisil kembali menatap suaminya.
Cup!
Sisil mengecup singkat.
Alvaro menggeram, dia meraih kain segitiga itu dan menariknya sampai terlepas.
Sisil diam saat Alvaro menarik pahanya, membukanya lepas dan ...
Mata Sisil terbelalak, saat Pria itu bermain di bawah sana dengan lidahnya.
"Nggghhh ..." Sisil meremat kuat rambut suaminya, dengan dada yang ikut membusung.
Sisil mulai me*desah, lalu memanggil nama suaminya, saat ia merasa gila dengan permainan lidah pria itu.
"A-bang, aku ... harus ke kamar mandi dulu sebentar!" Sisil mend*sah.
Namun pria itu terus melakukan aksinya, sampai Sisil benah-benar berteriak ketika Sisil mendapatkan pelepasan pertamanya.
Nafas Sisil memburu, matanya terpejam dengan dada yang tampak naik turun.
Alvaro bangkit, dia tersenyum.
Cup!
"Kamu siap?"
Sisil membuka matanya perlahan, menatap Alvaro sayu, kemudian tersenyum malu.
"Habis ini aku harus ganti seprai nya!" ucap Sisil pelan.
"Tidak apa, nanti aku bantu." kata Alvaro, lalu menyiapkan diri, untuk melakukan hal yang bisa membuat Sisil lebih gila lagi.
Mulut prempuan itu perlahan terbuka, keningnya menjengit keras dengan mata yang juga ikut terpejam, saat Alvaro memasuki inti tubuhnya.
Cup!
"Hey, buka mata mu. Lihat aku Naisilla!" Alvaro mengusap pipi Sisil.
"Apa masih sakit?" pria itu kembali berbicara saat Sisil mulai membuka matanya.
Sisil menggelengkan kepalanya.
Alvaro mulai menariknya perlahan, lalu mendorongnya kembali, sampai membuat Sisil kembali merapatkan bibir, agar bisa menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya dengan sangat erotis.
Melihat ekspresi wajah Sisil, Alvaro semakin merasa gemas, sampai dia mulai hilang kendali dan Sisil pun mulai berteriak sekencang-kencangnya dengan tangan yang mulai mencengkram punggung Alvaro.
"Ohh ... aku ... nggghhhh!!"
"Lepaskan saja sayang!" Alvaro terus berpacu, dan tidak memberi kesempatan Sisil Untu diam walau hanya sedetik.
"Ah ini gila!" teriak Sisil.
Alvaro menyeringai, kemudian kembali menundukan kepala dan mulai menelusuri wajah Sisil.
"Ini memang tujuan ku, membuat mu gila karena ku Naisilla. Kau milikku .. hanya miliku!" Alvaro menggeram, rahangnya mengeras seraya memperceptan hentakannya.
"Oh... you're driving me crazy baby!" Sisil berteriak.
"Ahhh ... sayang aku selesai!" leguhan panjang pria itu terdengar, saat Alvaro mencapai puncak gairahnya.
Setelah itu keduanya terdiam, dengan nafas tersenggal dan peluh membasahi tubuh.
Setelah beberapa saat diam dengan tubuh yang masih bertautan. Akhirnya Alvaro bangkit, menarik miliknya sampai cairan hangat yang ia semburkan kedalam rahim Sisil kembali keluar.
"Sepertinya kita memang harus mencuci seprai kamar kita!" Alvaro terkekeh.
Sementara Sisil hanya terdiam dengan mata yang masih terpejam.
Dia tidur setelah pergumulan panasnya.
🥵🥵🥵🥵
Iced coffe jelly enak kayanya, bikin eps makaroni pedes bikin pedih mata sama pikiran : )
...•••••...
Selamat bobo nyenyak cuyung-cuyungnya othor ketjeh : *
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote kalo masih ada. Klik favorite juga yah jangan lupa!
~Papayo~