
...•••••...
"Bagaimana kerjaan kamu? mudah-mudahan lancar yah!" ucap Anna kepada Sisil, yang saat ini duduk tepat di hadapannya.
"Lancar Bu, ini pekerjaan yang sangat gampang. Catan pemasukan, pengeluaran! udah itu nominal bersih yang akan ibu terima." Sisil tersenyum.
Anna mengangguk-anggukan kepala, dia terus tersenyum seraya memasukan uang yang sudah Sisil rapihkan kedalam tasnya.
"Balqis tidak ikut bu?" Sisil bertanya.
"Ikut, cuma tadi pas mau turun dia minta ke minimarket dulu sama Papanya." jelas Anna.
Sisil mengangguk lagi.
Selesai memasukan uang kedalam tasnya, dia beranjak, berjalan kearah pintu ruang kerjanya yang terbuka sangat lebar.
Anna melihat Syaif yang sedang sibuk di depan layar laptop yang menyala.
"Lancar Ip?" Anna berdiri di ambang pintu.
Syaif yang mendengar suara Anna pun seketika menoleh, dia tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Makin lancar bu, saking banyaknya pesanan, tangan Bu Ning suka panas karena sering kena rawit!" Syaif terkekeuh, begitupun dengan Anna.
"Teteh!"
Pandangan Anna beralih, saat suara putrinya menggema di dalam ruma sana.
Anna tersenyum, ketika melihat Balqis yang kini terlihat memeluk tubuh Sisil erat, bahkan gadis kecil itu sedikit berjingkrak karena bahagia.
"Hey ... ini belanjaan mu gadis yang sudah merasa besar!" David datang menyusul, dengan sebuah kantung berisi berbagai macam makana rangan dan minuman di tangan kiri dan kanannya.
"Gadis yang sudah merasa besar?!" Anna berjalan kearah suaminya.
"Ya, setiap aku mengomel pasti dia bilang begitu!" David meletakan kantong belanjaan nya di atas meja.
"Papa cepet tua lho! dari tadi marah-marah terus." Balqis menunjuk ayahnya.
"Papa memang sudah tua ka!" celetuk Anna yang langsung membuat pria itu membulatkan mata.
"Tua? kamu bilang aku tua, sayang!" David memekik.
Anna tidak menjawab, dia hanya tertawa. Begitupun dengan Balqis dan juga Sisil, mereka terdengar tertawa pelan.
"Aku beliin minuman dingin lho, buat teteh sama om Aip!" Balqis membuka kantung tersebut, mencari beberapa saat. Dan mengeluarkannya.
"Wahh .. terimakasih Adek!" Sisil mengusap kepala Balqis.
"Ish, jangan panggil adek lagi teh! aku udah mau punya Dede bayi, jadi panggil Kaka Aqis." katanya.
Sisil terkejut, dia menatap Anna yang masih berdiri di samping suaminya.
"Ibu hamil?" Sisil berbinar.
Anna mengusap perutnya yang masih rata, dia menganggukan kepala perlahan.
"Otw enam minggu, kamu kapan Sil?" Anna tersenyum.
Sisil tertegung saat Anna menanyakan hal tersebut. Tiba-tiba saja ia menundukan kepala, lalu menyentuh perutnya.
"Belum yah? yaudah sabar aja. Kalian masih punya banyak waktu." tukas Anna.
Sisil mengangguk.
"Bagaimana Al?" tanya pria itu, lalu duduk.
"Baik Pak, memangnya tidak ketemu tadi?"Sisil bingung. "Bukanya hari ini ada satu pertemuan, bersama bapak juga kan?" ucapnya lagi.
David mengangguk.
"Maksud saya bukan itu, tapi sikapnya terhadap mu. Baik atau bagaimana?"
"O'oh ... kami baik pak." Sisil tersipu, bahkan pipinya terlihat memerah.
"Syukurlah, kalau dia berbuat sesuatu bilang saja. Saya yang pertama kali akan menghajarnya seperti dulu." seru David.
"Ayok Ka .. kita pulang!" ajak Anna.
"Sayang aku baru saja duduk!" David menggerutu.
"Tapi semuanya selesai, aku lelah mau tidur."
"Yasudah, ayok!" David bangkit.
Sementara Balqis, gadis kecil itu masih menempel kepada pengasuhnya.
"Kaka?" David memanggil.
"Aku masih kangen teteh lho Pah" dia merengek.
"Kapan-kapan lagi yah? Mama cape, kasian adik bayinya."
"Ck." Balqis berdeka, kemudian dia turun dan meraih tangan David yang terulur.
"Nanti kita suruh om Al bawa teteh kerumah ka, jangan cemberut." David menjelaskan.
"Beneran yah! awas nggak." gadis kecil itu mengancam.
"Iya iya ... kalau begitu kami pamit ya Sil. Kamu boleh pulang, toh kerjaan kamu sudah selesai."
"Iya Bu." Sisil tersenyum.
"Papayo teteh!" Balqis melambaikan tangan, yang langsung di balas Sisil.
"Papayo Kaka Balqis."
Sisil berdiri, dia berjalan mengekor di belakang Anna dan berhenti tepat di ambang pintu.
"Eh iya, jajanannya bu!" Sisil memanggil.
"Simpan saja, buat kalian." David berteriak, kemudian dia masuk.
Sisil menganggukan kepala, kemudian kembali masuk setelah mobil Mazda CX-5 hitam milik David keluar dari pekarangan rumah Anna.
Sisil meraih tas miliknya, memasukan ponsel dan berniat segera pulang, namun langkahnya terhenti saat Syaif berteriak memanggil namanya.
"Kemana Sil?" dia berjalan kearah sofa ruang tengah.
"Ini punya siapa?" Syaif duduk, lalu meraih sebuah kaleng minuman yang tadi Balqis keluarkan.
"Oh, di minum saya. Balqis membelikannya untuk kita." Sisil tersenyum. "Aku duluan yah, kerjaan aku selesai soalnya." pamit Sisil kepada Syaif.
"Duduk dululah sebentar, temenin. Kita ke rumah ibu barengan, aku juga selesai!" Syaif membuka kaleng tersebut,kemudian mulai meneguknya.
"Tapi ...
"Barengan kenapa sih? duduk sini." Syaif menepuk sisi kosong di sampingnya.
Prempuan itu terlihat sedikit bingung.
"Sil, sini ... ayok buka minuman kamu."
Akhirnya Sisil menurut, dan dia duduk di sofa berhadapan dengan pria itu.
"Ada apa? aku mau pulang cepat soalnya."
Syaif meletakan kaleng minumannya kembali ke atas meja, dia bangkit dan pindah sampai duduk di samping Sisil.
"Gimana? suami kamu udah ada ngomong kalau dia cinta sama kamu belum!"
Sisil diam.
"Ih, jawablah. Biasanya juga suka curhat, kok sekarang malah jadi tertutup." Syaif tersenyum.
"Kenapa bang Syaif nanya itu mulu sih?" Sisil heran.
"Cuma mau memastika, kalau kamu aman bersama suami kamu."
Sementara di saat yang bersamaan, mobil Civic milik Alvaro berbelok memasuki halaman rumah Anna.
Dia keluar, kemudian berjalan cepat dengan wajah yang tampak berbinar.
"Sejauh ini belum, mungkin dia bukan tipikal orang yang suka mengungkapkan sesuatu, tapi dia lebih ke melakukannya." kata Sisil.
"Mana bisa begitu, kalau dia cinta dan sayang harusnya dia bilang. Hubungan macam apa yang kalian jalani Sisil? kalau menurut kamu berat lepaskan saja, masih ada aku!" Syaif meraih tangan Sisil, namun dia menepisnya kencang.
"Bang Syaif apaan deh, .. justru kata-kata Abang yang bikin aku bingung. Suami aku baik, dia memperlakukan aku dengan sangat baik juga! jadi tolong jangan berbicara seolah dia pria yang buruk!" sergah Sisil.
Alvaro yang mendengarkan ucapan keduanya mematung, berusaha sabar walau hatinya mulai bergemuruh, apalagi ketika pria itu mulai berani menyentuh Sisil, walau hanya sebatas telapak tangannya.
"Dia memang buruk Sisil! lihatlah cara dia menikahi mu, dia bahkan di paksa kedua orang tuanya. Apa kamu yakin setelah ini nasib mu akan bagus?"
Sisil diam, dia tidak menyangka Syaif akan berbicara seperti itu.
"Setidaknya dia masih melihat ku, menghargai ku, dan menerima ku walau aku hanya seorang pengasuh." jelas Sisil.
"Sisil ... dengarkan perkataan Abang baik-baik, banyang kan kalau dia tidak di paksa menikahi mu oleh ke dua ....
Bugh .. Bugh ...
Alvaro langsung menghajar Syaif di depan istrinya.
"Abang!" Sisil terkejut, dia bangkit dan berusaha melepaskan cengkraman tangan di kerah kemeja Syaif.
"Jadi kau penyebab semua ini? kau yang menyebabkan Sisil istriku menjadi ragu terhadap suaminya, hah!" suara Alvaro menggema.
Syaif menyeringai, lalu mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Berikan Sisil kepada saya jika anda memang tidak menginginkannya. Bukannya kalian juga mempunyai sebuah surat perjanjian? dan akan bercerai jika Sisil tidak hamil, maka ceraikan dia karena dia tidak mengandung benih anda bapak Alvaro yang terhormat."
Bugh!
Lagi-lagi Al memukul Syaif di bagian wajahnya.
"Abang stop ... jangan di pukul lagi!" Sisil menari tubuh Al yang sudah mengungkung Syaif.
Dengan kasar Al menerpis tangan Sisil.
"Jadi kamu berbicara semuanya tentang rumah tangga kita?" Alvaro tersenyum getir.
"Jika ingin, pergilah. Aku akan melepaskan mu jika kau mau, secepatnya." tegas Al dengan nafas yang sudah tersenggal-senggal.
Sisil menggelengkan kepala, dengan perasaan yang tidak menentu. Rasa takut, dan juga merasa bersalah atas tindakannya.
"Dan lu, dasar baj*ngan!" Al menunjuk Syaif, kemudian berjalan kearah luar, meninggalkan Syaif dan Sisil begitu saja.
"Abang tunggu!" dia berteriak.
"Maaf bang Syaif, aku harus pergi!" Sisil berlari kearah luar.
Sementara pria itu tersenyum getir, bangkit dan memegangi wajahnya yang terasa nyeri di sertai panas.
"Abang jangan marah, aku bisa jelasin kenapa kejadiannya bisa seperti ini." Sisil meraih tangan suaminya.
Al memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafas perlahan.
"Kejadian ini sudah sangat jelas. Dia juga cinta pertama mu bukan? jadi gapailah, dia sudah bersedia sekarang." suaranya terdengar rendah.
Sisil menggelengkan kepala.
"Abang tau?"
"Ya, aku membaca diary mu waktu kita istirahat di rumah ibu, dan kau sedang membersihkan diri di kamar mandi."
Sisil tertegung, jantung dan aliran darahnya terasa berhenti. Entah kenapa dia takut akan kehilangan Al saat ini.
"Lanjutkan pekerjaan mu, aku mau pulang!" Al kembali berjalan, begitupun dengan Sisil yang kembali meraih lengan suaminya.
"Aku ikut!" katanya yang langsung masuk kedalam mobil, mendahului suaminya.
Alvaro kembali menghela nafasnya kasar, lalu masuk kedalam mobilnya, dan pergi dari sana dengan perasaan yang berkecamuk.
...•••••...
Vote sama hadiahnya dong! like sama komen tetep yah, itu juga dukungan lho buat othor : )
Klik favorite jangan lupa yah!
~Sayang kalian, Papayo~
Ig. @_anggika15