
...•••••••...
Cahaya matahari sudah benar-benar tenggelam, namun sejoli itu terus berdiri di bibir pantai, memandang penuh kagum ombak lautan yang tampak sedikit tenang.
Alvaro terus memeluk bahu Sisil, juga menjadikan ceruk leher prempuan itu sebagai tumpuan kepalanya.
"Abang?" Sisil menepuk lengannya.
"Hemm, kenapa sayang?" Alvaro menoleh, hingga bibirnya benar-benar menempel kepada pipi istrinya.
"Ayok pakai bajunya, kita pulang. Mama pasti nyariin kita!" Sisil berujar.
Alvaro diam dengan posisi yang sama, dia terus menatap wajah Sisil dari jarak yang sangat dekat, sembari mencium aroma tubuh yang sangat Alvaro sukai.
"Abang!"
"Biarkan dulu seperti ini, suasananya terasa romantis bukan?!"
"Ck! mana ada romantis, nggak ada hadiah apapun. Cepat pakai bajunya, aku nggak suka ciwi-ciwi itu terus merhatiin kamu!" kata Sisil, lalu menunjuk beberapa prempuan yang duduk tidak jauh dan terus mencari perhatian suaminya.
Alvaro berusaha tidak memperdulikan itu, namun saat Sisil menunjuknya, ada perasaan senang di dalam hati.
"Biarkan saja! aku tidak pernah di kagumi istriku, jadi di kagumi banyak wanita lain saja .. itu lebih menyenangkan!"
Seketika raut wajah Sisil berubah, matanya memerah dengan nafas yang sudah memburu, terlihat dari dadanya yang terlihat naik turun lebih cepat.
Sisil menepis tangan Alvaro yang kini tengah memeluknya, lalu dia pergi.
"Sayang?" Alvaro berteriak, namun bibirnya tersenyum.
Cepat akui atau aku akan terus membuat dada mu sesak, sayang!
Dengan cepat dia meraih baju yang ia simpan begitu saja, kemudian berlari untuk menyusul Sisil yang sudah berjalan lebih jauh.
Sisil terlihat mengusap pipi dengan punggung tangannya.
Prempuan itu menangis.
Alvaro memincingkan mata, meneliti wajah Sisil yang sudah tampak memerah dengan seksama.
Dia mengenakan pakaiannya terlebih dulu, berjalan mendekat, namun Sisil menghindari kontak mata dengan suaminya.
"Hey, kamu menangis lagi?" Alvaro meraih pergelangan tangan istrinya.
Sisil tidak menjawab, prempuan itu terus berusaha menghindar dari suaminya.
"Naisilla? kamu menangis hanya karena aku berbicara seperti itu? apa kamu cemburu?" Alvaro meraih wajah Sisil, meski dia terus memberontak, akhirnya Sisil diam juga.
Alvaro menatap lekat mata merah dengan airmata yang terlihat menggenang.
"Abang kenapa sih? kok seneng banget bikin aku kesel!" akhinya Sisil berbicara.
Alvaro tersenyum.
"Kamu cemburu .. yah tentu, kamu sedang cemburu. Dan aku bahagia, karena dengan peraasaan itu berarti kamu sudah mencintai aku, Naisilla!"
"Aku nggak cemburu, aku kesal." sergah prempuan itu.
"Tidak. Itu cemburu namanya!" Alvaro meraih tubuh Sisil, menariknya pelan dan membawa tubuh Sisil kedalam pelukannya.
"Aku mau pulang."
"Iya, kita akan pulang. Mama pasti sudah menunggu, dan Nova pasti sudah pulang!"
"Tidak, aku mau pulang kerumah ibu." katanya sambil terus terisak.
"Kamu ini .. apa-apa mau ngadu ke ibu! Sikap kamu aneh akhir-akhir ini, jadi sedikit melankolis yah!" balas Al seraya terkekeh cukup kencang.
"Aku juga tidak tau, kenapa setiap kesal pasti menangis." dia meraih baju suaminya, lalu mengusap ingus dan sisa air mata menggunakan kain yang melekat di tubuh Al.
"Nah .. kebiasaan mu!" cicit pria itu, dengan nada gemas.
"Ayok pulang!" Sisil merengek.
"Kerumah Papa?"
Sisil mengangguk.
"Baiklah, ayok masuk." titah Al, namun Sisil menggelekan kepala.
"Kenapa?" pria itu menjengit.
"Pengen di sun."
"Aih .. kenapa kau semakin manja, dan terlihat semakin menggemaskan." Alvaro tertawa.
Cup!
"Kening dulu, nanti sudah di kamar baru semuanya." Alvaro menggerak-gerakan kedua alisnya.
"Ish .. dasar mesum!" Sisil memukul dada pria itu, lalu dia masuk terlebih dulu.
...•••••...
"Abang kemana sih? lama amat deh jalan-jalannya!" kata Nova kepada Rida, saat dia akan bergabung duduk di kursi meja makan bersama kedua orang tuanya.
"Biarkan saja, mereka baru saja saling menerima ... wajar jika lebih sering menghabiskan waktu bersama."
Nova dia, dia meraih satu mangkuk mie yang Rida berikan.
"Mama nggak bikin pangsit rebus?" Nova meneliti isi mangkuk itu.
"Tidak, hanya mie istimewa untuk menyambut Kaka ipar mu!"
Nova mengangguk-anggukan kepala.
"Papah mau mie sekarang?" Rida menatap suaminya.
Bayu tersenyum.
"Boleh."
Tidak lama setelah mereka duduk di meja makan, suara handle pintu yang di tekan mulai terdengar, di selingi dengan suara obrolan Alvaro dan juga Sisil.
"Kami pulang!" suara Alvaro menggema.
Pandangan Nova langsung teralih, dia meninggalkan mangkuk mienya sesaat, lalu bangkit dan berjalan kearah ruang depan.
"Abang!" Nova memanggil.
Gadis itu tersenyum, lalu berlari dan menghambur kedalam pelukan Kaka laki-laki satu-satunya.
"Hey .. kau sudah pulang?"
Nova merenggangkan pelukannya, dia mendonga lalu menganggukan kepala dengan bibir yang terus mengukir senyum.
"Ini dia Kaka mu, peluklah! bukanya kau sangat bahagia karena Abang sudah menikah." ungkapnya kepada sang adik.
Tanpa rasa canggung Nova langsung memeluk tubuh Sisil, setelah melepaskan pelukannya di tubuh Alvaro terlebih dahulu.
Sisil diam, dia melirik ke arah Alvaro.
"Usia kalian tidak terlalu jauh, mungkin hanya terpaut 3-4 tahun saja. Wajar jika dia merasa akan mempunyai teman!" jelas pria itu.
"Selamat datang Kaka, semoga betah .. biar bisa disini bareng aku terus." ucap Nova.
"Ah i-iya." Sisil tersenyum, dia tampak malu-malu.
"Untuk apa kalian tetap disana? kemarilah, kita makan mie bersama!" panggil Bayu kepada anak dan menantunya.
Mereka bertiga mengangguk, terutama Nova, gadis itu sudah lebih dulu menarik Sisil bersamanya.
"Jangan sampai nanti Nova meminta tidur bersama istriku! tentu itu tidak akan aku izinkan." Alvaro berbisik.
...•••••...
"Al, bawa istrimu. Dia sudah terlihat sangat kelelahan!" Bayu menatap Sisil dan Alvaro bergantian.
"Baiklah sayang, ayok kita masuk kamar!" Alvaro bangkit, dia mengulurkan tangannya kearah Sisil.
Prempuan itu mendongak, menatap suaminya lalu beralih kepada Nova dan kedua mertuanya.
"Sisil masuk dulu, selamat beristirahat. Mama, Papa, Nova!" pamit Sisil, dia beranjak dengan tangan yang saling menggenggam.
Kedua orang tua Al mengangguk, namun Nova ikut bangkit tanpa menjawab sepatah katapun.
"Mau kemana?" Alvaro memincingka mata, menatap adiknya tajam.
"Mau ikut boleh? kalo nggak ka Sisil aja yang tidur bareng aku!"
"Nggak ... nggak ada kaya gitu!" Alvaro menggelekan kepala dengan cepat, lalu menarik tangan Sisil sampai masuk kedalam kamar.
Alvaro baru melepaskan genggaman tangannya, setelah ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Abang, kasian Nova!"
"Nggak!" sergah pria itu.
"Yasudah, Sisil mau mandi dulu. Abang ambilin koper di mobil gih."
Namun ketika Sisil akan masuk kedalam pintu kecil yang berada di dalam ruangan sana, tangan Alvaro meraihnya, lalu menarik Sisil sampai prempuan itu terjerembab keatas tempat tidur.
"Abang mau apa?" Sisil terlihat was-was, apalagi saat melihat pandangan pria itu yang tampak sudah di penuhi kabut gairah.
Dia tidak menjawab, Alvaro terus merangkak lebih mendekat, sementara Sisil terus memundurkan tubuhnya, sampai terbentur sandaran ranjang.
"Abanga jangan!" cicit Sisil, dia menggigit bibirnya kuat.
Alvaro tidak menjawab, dia justru menarik celana yang tengah Sisil kenakan saat ini.
Dengan cepat Al langsung membekap mulut Sisil, saat prempuan itu akan berteriak. Dan mungkin saja akan memanggil beberapa orang karena jeritanya.
"Cukup menjadi penurut, jangan banyak bergerak apa lagi banyak berbicara." Alvaro berbisik.
Sisil diam, dia menatap pria itu yang mulai menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuh keduanya.
Sisil bersandar di beberapa tumpukan bantal di belakangnya. Dengan keadaan yang sudah sama-sama polos tanpa menyisakan apapun.
"Abaang?" Sisil memanggil pria di hadapannya dengan suara rendah.
"Ya .. kenapa sayang?" Alvaro menjawab tidak kalah pelannya.
"Aku mau mandi."
"Nanti kita mandi, setelah kita selesai oke?"
Sisil diam, dia terus menatap mata Al yang juga sedang menatapnya.
"Tapi ini di rumah Papa!" Sisil mulai memejamkan mata, saat hembusan nafas suaminya mulai menyapu tulang leher.
"Abang tau, jadi .. bisakah kamu sedikit memelankan suamu? menahan semua yang selalu kau teriakan?" Alvaro menyatukan keningnya bersama Sisil.
Prempuan itu kembali memgigit bibirnya kencang, saat desiran gairah yang Alvaro berikan semakin meningkat.
"Are you ready darling?" Alvaro kembali berbisik.
Dia meraih pinggang Sisil, membuka lebar-lebar paha prempuan itu, dan lebih mendekat lagi.
Sisil mengangguk, mendongak, memandang wajah tampan milik suaminya, lalu meletakan telapak tangan di atas dadanya, mengusap perlahan dan berhenti di atas bahu kokoh itu.
Alvaro tersenyum, dia lebih mendekatkan diri, dan segera memangut bibir tipis nan ranum milik istrinya.
Suara decapan mulai terdengar, saat Sisil mulai membalas cumbuan Alvaro. Mata keduanya terpejam, saling meresapi permainan keduanya.
Al menghentikan permainannya sesaat, lalu mengarahkan miliknya kepada inti tubuh Sisil, lalu mendorongnya perlahan.
Tangan Sisil meremat kuat bahu pria itu, dengan kepala mendongat dan mata yang terus terpejam.
Cup!
Al mencium tulang leher Sisil.
"Ahh.. you look so sexy Babe!" ucapnya pelan, namun dengan nada yang terdengar sangat menggoda.
Sementara prempuan itu terus mengigit bibirnya kencang, berusaha menahan suara erotis yang mungkin akan segera keluar dari mulutnya.
Perlahan Alvaro menggerakan pinggulnya, namun itu membuat cengkraman tangan Sisil di bahunya semakin mengencang.
Suara angin kencang terdengar dari arah luar, kemudian riuh suara hujan menyusul dan ...
"Abang!" Sisil memekik, saat lampu kamarnya mati, dan membuat pandanganya menghitam.
"Shutttt! tenanglah!" dia melepaskan pautan tubuh mereka terbebih dulu, dan meraih celananya yang tergeletak untuk mencari ponsel.
"Apa cahayanya kurang? dimana ponsel mu?"
"Tidak .. ini cukup." suara Sisil lirih.
Pria itu tersenyum, dia kembali naik keatas tempat tidur dan melanjutkan permainan panasnya bersama sang istri yang sangat dia cintai.
"Ahhh ... Abang!" Sisil menjengit, sementara suaminya hanya terus tersenyum, menatap wajah memerah yang tampak sangat menggemaskan tanpa menghentikan pacuan di inti tubuh keduanya.
Tok ... tok ..
"Al apa kalian masih bangun?" Rida memanggil.
Keduanya diam.
"Al ...
"Kami sudah tidur! gelap seperti ini tidak masalah." dia berusaha tenang, walau nafasnya tersenggal-senggal.
"Oh .. baiklah."
"Abaaang!" tubuh Sisil membusung, ketika pria itu kembali berpacu, setelah merasa ibunya pergi.
Nafasnya Sisil dan Alvaro menderu-deru, dada mereka terlihat naik turun dengan cepat.
Suara rintihan dan geraman pelan terus bersahutan, di selingi suara pautan bibir yang terdengar sangat erotis, dan menjadi pembangkit gairah bagi Alvaro saat suara itu terus terdengar.
Hentakan Alvaro semakin tidak terkendali, matanya terpejam dengan geraman panjang saat pria itu telah sampai pada puncak pelepasan.
"Menahan suara seperti ini membuat kepala ku pusing, sungguh!" Sisil mengeluh.
Cup!
Cup!
Cup!
Alvaro mencium bibir Sisil beberapa kali.
"Dan Abang tau jika kau menyukainya." pria itu menyeringai, melepaskan tautan tubuh dan berbaring di samping Sisil.
Sisil memutar tubuhnya.
"Ya .. this is my favorite!" Sisil mengusap perut sixpack suaminya.
"Of course, it's yours." Alvaro tersenyum.
...•••••...
Nah kan! author mulai sehat.
Jangan lupa! like, komen, hadiah dan vote yah. Klik favorite jangan lupa.
~Papayo cuyung kalian~