
...•••••...
Pagi-pagi sekali, tepatnya pukul 06:00 Wib. Sisil sudah terlihat rapih dengan baju kemeja dan celana jeans yang selalu ia kenakan. Tak lupa dengan rambut panjang yang selalu ia ikat asal dan sedikit polesan make up agar tidak terlihat terlalu pucat.
Sisil meraih tas selempang yang selalu ia bawa, memasukan dompet dan ponsel miliknya lalu meraih handle pintu.
Klek!
Sisil membukanya perlahan, menyembulkan kepala untuk memastikan keadaan di ruang tengah.
"Kenapa ngintip-ngintip?" seorang pria yang sedang duduk di kursi rotan bertanya.
"Eh bapak!" Sisil keluar, dia tersenyum canggung. "Udah ngopi aja pagi-pagi!" kata Sisil lagi, sambil terus melihat ayahnya yang sedang asik mengaduk kopi.
"Mau kemana? bukannya sekarang kamu kerja disini?" dia menatap Sisil.
Gadis itu mengangguk, namun dengan cepat menggelengkan kepala.
"Apa itu?" ayah Sisil menjengit.
"Aku di suruh ke rumah Pak David sekarang." Sisil berbohong.
"Oh yah?"
Sisil mengangguk.
"Ini masih sangat pagi, bahkan ibumu belum pulang dari pasar. Tunggulah dulu, bantu dia mencuci tomat dan cabai, setelah itu kamu boleh berangkat!"
Tubuh Sisil menengang, dia tidak mungkin harus menunggu ibunya bukan? jelas-jelas dia sedang menghindari banyak pertanyaan dari Bu Ningsih hari ini.
"Tapi Aqis udah telfon Pak, nyuruh aku kesana cepat-cepat."
Ayahnya diam, lalu kembali menatap jam yang menggantung di dinding.
"Tunggulah satu jam lagi!"
"Nggak bisa, nanti mereka keburu dateng! Eh ... maksud aku Balqis keburu ngambek." Sisil panik.
"Yaudah aku berangkat ya Pak, nanti kalo ibu nanya Bapak, bilangin aja aku di telfon Bu Anna." katanya lalu beranjak pergi, tanpa menunggu jawaban dari sang ayah terlebih dulu.
Sisil berlari ke arah tepi jalan, berharap hari ini bisa menghindari banyak pertanyaan dari sang ibu, dan yang paling utama ia tidak bertemu apalagi bertatap muka dengan sosok pria yang sudah menyakiti hatinya kemarin.
Gadis itu berdiri di pinggir jalan cukup lama, lalu munculah sebuah angkutan umum yang langsung Sisil stop dan masuk kedalam sana.
Sementara itu, seseorang juga baru saja menuruni mobil angkot dari arah berlawanan dengan beberapa kantung merah besar berisi belanjaannya hari ini.
"Terimakasih bu!" ucap seorang supir angkot yang terlihat masih muda.
"Iya iya, terimakasih kembali." Bu Ningsih menganggukan kepala sembari tersenyum ramah.
Bu Ningsih kembali menenteng kantong belanjaannya yang sempat ia simpan, kemudian berjalan kearah halaman rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sana.
Klek!
Dia masuk, lalu menyimpan barang belanjaannya begitu saja.
"Sisil belum bangun Pak? ini sudah siang padahal!" wanita itu berbicara sambil terus berjalan mendekat kearah suaminya.
Ayah Sisil menoleh, dan segera meletakan cangkir kopi, setelah meminumnya.
"Lho, ... ibu nggak lihat Sisil? padahal dia baru saja berangkat."
Bu Ningsih terdiam, dengan cepat dia masuk kedalam kamar Sisil.
"Mau kemana Sisil sepagi ini Pak?"
"Katanya Non Anna telfon, Balqis meminta Sisil segera datang." jelas suaminya.
"Masa sih? orang neng Anna bilang sama ibu, kalo Sisil ngerjain usaha sambel dulu! kok malah pergi ... apa jangan-jangan dia mau ketemu cowok pak, pacaran gitu misalnya!" wanita itu terlihat sedikit panik.
"Ibu kalo mikir suka kemana-mana! maklum saja kalo Balqis belum bisa lepas seutuhnya sama putri kita, toh mereka bersama sejak saat Balqis berumur satu tahun!"
"Jadi nggak apa-apa? ibu nggak usah telfon neng Anna?" Bu Ningsih bertanya.
"Tidak usah, ibu boleh lanjut kerja saja! bapak mau ke kebun dulu, tadi pak RT nyuruh bapak nyangkul di kebun sayur miliknya."
"Iya pak, hati-hati!"
Pria itu mengangguk, kemudian bangkit dan berjalan kearah luar setelah Bu Ningsih mencium punggung tangannya.
...•••••...
Setelah melalui jalanan kota yang terlihat cukup padat di pagi hari ini, akhirnya Sisil sampai di kediaman Daniel.
Dia berdiri tepat di depan pos keamanan.
"Pak Yasir, selamat pagi?" gadis itu menyapa.
Seorang security yang sedang berjaga pun mengangguk, dia bangkit dan segera membukakan pintu gerbang samping untuk Sisil.
Rumah besar itu sudah terlihat ramai, dengan beberapa orang pekerja yang sudah disibukan dengan pekerjaannya masing-masing.
"Eh Encus nya Aqis dateng?" seorang asisten rumah tangga menyapa saat menyadari kehadiran Sisil.
"Iya Bi, Balqis sudah bangun?" Sisil berdiri di depan teras.
"Sudah, silahkan masuk!" katanya lalu dijawab anggukan oleh Sisil.
Sisil berjalan di belakang Asisten rumah itu, hatinya berdebar dengan perasaan malu yang mendominasi.
Suara celoteh Balqis mulai terdengar di telinga Sisil. Gadis kecil itu tertawa lepas, saat suara David terdengar melemparkan candaan.
"Permisi, ada Encus nya non Aqis!"
Seketika mata mereka tertuju kepada Sisil yang berdiri di belakang seorang wanita paruh baya.
"Wah .. teteh dateng!" Balqis menyambutnya hangat, dia bahkan tersenyum dengan raut wajah sumringah saat melihat Sisil berada disana.
"Saya permisi ke belakang lagi!" pamitnya lalu di angguki Rosa.
Balqis yang sedang duduk di kursi meja makan pun turun, lalu berlari kearah Sisil yang sudah siap menyambut dengan kedua tangan yang terbuka.
"Aku kangen teteh, kenapa nggak pernah dateng lagi?" Balqis bertanya, dengan kedua tangan yang melilit erat di pinggang sang pengasuh.
"Iya, teteh sibuk bantu ibu Ning dulu, maaf yah?" kata Sisil, dia mengusap kepala Balqis.
"Selamat pagi Pak Daniel, Bu Rosa, Bu Anna, Pak David. Maaf saya tidak mengabari kalau saya datang!" Sisil sedikit membungkuk kan tubuhnya.
Rosa tampak tersenyum ramah seperti biasa.
"Tidak apa-apa, sini kita sarapan bersama!" ajak Rosa, dia bangkit lalu menggeser satu kursi kosong di samping Anna.
"Tidak usah Bu," Sisil tersenyum.
Sementara Anna dan David saling menatap, saat merasa aneh dengan sikap Sisil saat ini.
"Adek sudah sarapannya bu?" Sisil bertanya kepada Anna.
"Dia sudah menghabiskan satu roti isi." jawab Anna.
"Sudah mandi?" Sisil beralih bertanya kepada Balqis.
"Belum, aku baru bangun terus di suruh Papa sarapan!"
"Yasudah, ayok kita main salon-salonan!" Sisil menggenggam tangan kecil itu, lalu berjalan ke arah sisilain rumah besar milik Daniel.
"Lihat? mereka akan susah di pisahkan mas, beberapa minggu tidak bertemu saja Balqis sudah serindu itu sama Sisil!" Anna menatap suaminya.
"Dia akan lupa kalo Sisil nya nggak ada!" David masih kekeh dengan keputusannya.
"Sudahlah, biarkan Balqis terus bersama Sisil." kata Anna lagi.
"Nanti dia tidak mandiri sayang, padahal sebentar lagi dia akan menjadi Kaka." celetuk David, sampai membuat dua manusia lainnya terperangah.
"Anna hamil? aih kenapa kalian tidak memberi tahu ibu!" Rosa sumringah, bahkan wanita itu bangkit dan langsung mengusap perut Anna.
"Be-belum Bu ... masih remang-remang belum ada tanda-tanda!" jelas Anna dia terlihat gugup.
Rosa diam, dia menatap wajah putranya.
"Ahahah, yasudah. Kita harus bersiap-siap kalau begitu, tidak apa-apa kalau belum!" seru Rosa lalu kembali duduk disamping suaminya.
"Kamu kebiasaan ... suka heboh nggak jelas!" Daniel menggerutu.
"Aku hanya senang, rumah ini akan segera ramai dengan suara tangisan bayi!"
"Belum Bu, doakan saja bulan depan Anna positif." David menimpali.
"Jangan terlalu berharap, kapan saja yang penting sehat aku nya." Anna berujar.
"Nah betul itu!" Daniel mengangguk. "Tapi memang mereka heboh Ann, jangan aneh. Ibu dan anak sama saja!"
Anna yang mendengar penjelasan Daniel pun tergelak, begitupun dengan Rosa yang tersenyum malu, namun David hanya memutar bola matanya.
"Senang sekali ayah menyudutkan aku!" cicit David kesal.
...•••••...
Jangan lupa like, komen, hadiah. Kalo ada tips juga boleh : )
Sama jangan lupa klik Favorite yah, biar othor makin semangat updatenya.
~Papay, selamat malam, selamat beristirahat cuyung-cuyung nya othor~
Ig. @_anggika15