My Ex Husband

My Ex Husband
Kado.



...•••••...


Tangan David terus menggenggam Anna, dengan pandangan yang terus tertuju kepada layar monitor.


"Adek bayi nya mana Pah? itu cuma hitam sama putih, nggak kelihatan dedenya!" Balqis yang sedang duduk di pangkuan David pun menatap ayahnya penuh tanya.


Dokter prempuan yang sedang berdiri di samping David dan Anna pun tersenyum, dia melirik Balqis sekilas, lalu kembali melihat layar monitor.


"Ini dia dedek bayinya ... masih kecil dan harus dijaga Papa sama Kakanya yah!" Dokter itu menatap Balqis, dia tersenyum saat gadis kecil itu juga menatapnya.


"Bulat?" Balqis masih menatap Dokter prempuan itu.


"Iya, ini masih bulat. Karena usianya baru memasuki tiga minggu!"


"Kirain Aqis dedek bayinya boleh ambil sekarang, ibu Dokter yang ambilin nanti aku gendong." celetuknya polos.


"Tidak bisa, harus tunggu 9 bulan dulu!" jelas David kepada putrinya.


"Baiklah, janinnya sehat. Usianya baru memasuki 3 Minggu, dan bulatan kecil ini kantung janin namanya!" Dokter itu menjelaskan.


Anna mengangguk, dan segera bangkit setelah membersihkan gel di perut bawahnya dengan tissue yang Dokter berikan.


"Apa ada makanan khusu untuk istri saya Dok?" David duduk berhadapan dengan seorang Dokter prempuan itu.


"Sepertinya Bu Anna sudah tau, .. saya juga Dokter Balqis dulu, dan beliau bisa membuat pertumbuhan Balqis semakin baik di setiap bulanya. Padahal dulu ngidamnya parah ya Bu, bisa mual muntah setiap pagi dan malam."


Anna mengangguk.


Sementara David yang baru mengetahui prempuan itu adalah Dokter yang sama dengan Dokter istrinya dulu hanya menatap keduanya bergantian.


"Kalian sudah saling kenal?"


Anna dan Dokter Ira mengangguk.


"Bu Rosa yang membawa istri anda kesini." jelasnya kepada David.


Sesaat pria itu diam.


"Saya akan resepkan vitamin, dan ini USG pertama baby kalian." Dokter Ira memberikan amplop kecil kepada Anna.


"Kalau begitu kami pamit, terimakasih Dokter." kata Anna.


"Salim dulu sama ibu Dokter ka!" titah David kepada putrinya.


Balqis mengangguk, lalu mengulurkan tangan, dan mencium punggung tangan Dokter Ira.


...•••••...


"Lho, kalian sudah pulang lagi? bukanya mau ajak Balqis main, terus mampir ke kantor sebentar?"


Anna dan David hanya tersenyum.


"Aqis punya kado buat Nenek ... Kakek!"


Balqis meletakan sebuah kotak berukuran sedang, lalu duduk disamping Daniel.


"Apa itu?" Daniel menyentuh kepada Balqis, lalu mengusapnya lembut.


"Buka aja, ... tapi barengan yah bukanya!" jelas Balqis kepada Rosa dan Daniel.


Mereka saling menatap, tersenyum lalu meraih kota tersebut.


"Apasih? kok ibu deg-degan yah." Rosa terkekeh.


Dengan tidak sabarnya Daniel menarik tali pita yang menghiasi kotak tersebut, lalu membuka tutupnya.


Untuk beberapa detik mereka diam, meneliti setiap isi yang ada di dalam sana.


"Ini serius!?" Daniel yang baru saja menyadari langsung menatap David dan Anna bergantian.


Anna mengangguk, sementara David langsung mengusap perut istrinya.


"David junior sudah ada di perut Anna, selamat kalian akan segera mempunyai cucu baru." ucap David dengan perasaan yang sangat senang.


"Oh ya tuhan, akhinya kebahagiaan kalian kembali." kata Rosa, dia bangkit dan segera mendekat kepada Anna.


"Sekarang Nenek tidak akan banyak memperhatikan mu, karena ada Papa yang selalu siap untuk kalian, Nenek fokus kepada kakek kalian dulu yah!" Rosa mengusap perut Anna.


"Jadi, ibu dulu tau dari awal tentang kehamilan Anna?" David bertanya.


"Tidak, ... ibu baru tahu sejak Balqis berusia lima bulan dalam kandungan Anna."


"Baiklah, terimakasih sudah menjaga mereka. Yah .. walau sebenarnya aku kesal, karena ibu menyembunyikan mereka. Dan memberi tahu aku setelah aku putus asa dan tidak memiliki gairah hidup." cicit David.


"Sudah mas, jangan kesal karena aku yang meminta ibu agar tidak memberitahukan tentang aku dan Balqis."


"Nah, jadi sekarang buanglah sifat bodoh mu. Jaga agar mereka tetap berada disisimu!" sambung Daniel.


"Itu sudah pasti." David menjawab.


...•••••...


Tepat pukul lima sore hari, Alvaro menepikan mobil miliknya dikediaman kedua orang tua Sisil.


Irwan datang menghampiri mobil Alvaro yang sudah berhenti, lalu dia menyambutnya dengan senyuman hangat seperti biasa.


"Mau jemput Sisil Al?" Irwan bertanya saat pria itu baru saja menyembulkan kepalanya.


Alvaro mengangguk, dengan bibir yang juga ikut tersenyum.


"Sisilnya ada pak?" Alvaro mendekat, lalu meraih tangan Irwan dan mencium punggung tangannya.


"Mungkin sebentar lagi datang." sahut Irwan.


Alvaro mengangguk.


"Selamat sore mas Al!" Faiqa menyapa.


Pria itu hanya menganggukan kepala, tanpa berucap sepatah katapun.


"Eh, ada Al." wanita itu tersenyum.


"Mau jemput Sisil Bu, bikinin kopi dululah!" titah Irwan saat mereka duduk di kursi rotan tengah rumah.


"Mau kopi apa Al?"


"Capuccino Bu, kalau ada." pinta Al.


"Ada, tunggu sebentar yah!"


Alvaro mengangguk, dia meneliti sekitar. Rumah sederha yang Sisil tempati saat dari kecil.


"Nah itu Sisil!" ucap Irwan seraya melihat kearah luar, dimana mobil putih milik Anna berhenti tepat di samping mobilnya.


Deg!


Raut wajah Alvaro seketika berubah, saat melihat Sisil turun dari mobil disusul Syaif, dan mereka tampak saling tertawa.


Posisi kau tidak aman Al!


Pria itu bermonolog, dengan mata yang terus tertuju pada Sisil dan Syaif.


Syaif duduk bergabung bersama ketiga temannya, sementara Sisil masuk. Saat mengetahui suaminya sudah berada disana.


"Bapak disini?" Sisil bertanya, dengan bibir yang tampak tersenyum.


Al mengangguk, namun wajahnya terlihat datar.


"Kamu pulang?" Ningsih bertanya, lalu meletakan segelas kopi di atas meja.


"Iya Bu, baru selesai!"


"Di minum Al." sambung Ningsih.


"Terimakasih Bu." Alvaro tersenyum.


"Sisil masuk kamar dulu yah?" izin Sisil, lalu meninggalkan ruang tengah dan segera memasuki kamar.


Dua pria berbeda usia itu mulai berbincang, sambil meminum kopi buatan Ningsih tadi.


Hari semakin larut, satu-persatu pegawai Anna mulai pulang. Termasuk Syaif, bahkan dia terlihat berani mengetuk pintu rumah hanya untuk berpamitan pulang kepada Sisil.


"Sisil di kamar Ip, lagi mandi kayanya!" jelas Ningsih kepada Syaif, sementara dua pria itu hanya diam.


Apalagi Alvaro, dia sangat memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Syaif. Sampai membuat pria itu berpamitan dengan cepat, tanpa menunggu Sisil terlebih dulu.


"Al, boleh ke kamarnya Sisil nggak pak?" Alvaro bertanya.


Irwan mengangguk.


"Susul saja istrimu!" Irwan tersenyum.


Alvaro yang mendapat lampu hijau dari ayah mentuanya pun mengangguk, lalu beranjak dari sana.


Tok .. tok ..


"Sil, boleh saya masuk?"


Alvaro memanggil, dan tidak lama setelah itu pintu kamar Sisil terbuka.


Klek!


"Bapak mau masuk?" Sisil bertanya.


"Boleh?"


"Tapi kecil, dan nggak sebagus kamar bapak di apartemen."


"Tidak apa!" katanya lalu masuk setelah Sisil membuka pintu kamarnya lebar-lebar.


...•••••...


Jangan lupa like, komen, sama hadiah yah yang banyak : )