My Ex Husband

My Ex Husband
Hantu tampan (2)



...••••...


Perlahan David membaringkan tubuh Anna di atas sofa, sesaat cumbuan keduanya terhenti, menempelkan kening satu sama lain kemudian tersenyum.


Mata keduanya saling memandang dengan jarak yang sangat dekat, meneliti wajah yang sangat mereka rindukan dengan seksama.


Tangan Anna bergerak, menyentuh rahang David yang selalu di tumbuhi bulu.


"Kenapa?" Davidi menyentuh tangan Anna yang tengah mengusap pipinya lembut.


"Tidak ada, aku ... hanya merindukan Papa David!" katanya dengan mata berbinar.


"Jika kau merindukan aku, kenapa kau sulit sekali di jangkau? kenapa kau harus membuat hatiku sakit dulu, merasakan nyeri dan sesak di dada ku karena melihat kau dekat dengan beberapa pria!" suara David terdengar rendah.


Anna diam sambil mengulum senyum.


"Katakanlah? apa kau pernah jatuh cinta kepada pria selain aku?"


Anna masih diam.


"Ann? apa kau mau jika aku langsung mengajak mu menikah?" David terus bertanya, namun wanita yang berada di bawah Kungkungan tubuhnya terus terdiam.


Anna terus mantap David dalam diam, melukis wajah pria itu dengan ekspresi datar, entah apa yang prempuan itu pikirkan saat ini.


"Kyara Anna?" David berbisik.


"Hummm?" Anna menjawab dengan bergumam.


"Kita harus menikah .. agar tidak ada rasa canggung saat Balqis meminta kita untuk tidur bersama," seru David.


"Aku harus pikirkan dulu .. aku butuh waktu!" ucap Anna.


"Waktu untuk apa? aku tidak mau membuang waktu Ann. Usia ku sudah memasuki kepala empat, harusnya kita sudah memberi adik untuk Balqis."


Seketika wajah Anna bersemu merah, saat pikirannya menangkap hal lain.


"Bagaimana?" tanya David.


"Aku takut itu akan ...


Belum selesai Anna berbicara, David kembali membungkam Anna dengan bibirnya, menyesapnya dengan lembut, agar prempuan itu berhenti berbicara, apalagi tentang masa lalu keduanya yang pahit.


"Kita sama-sama terluka ... sama-sama tersiksa namun dengan cara yang berbeda! selama Lima tahun aku hidup tidak tenang, merasa bersalah karena tidak bisa mempertahankan mu!"


"Apa kita tidak pacaran saja dulu? bukankah dulu kita tidak pernah menjalin hubungan yang satu ini?" Anna berujar.


Dengan cepat David menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak tau .. kalau pacaran setelah menikah itu lebih nikmat!?" David menyeringai.


Aih otakku! kenapa hanya dengan kalimat nikmat pikiran itu langsung tertuju kesana! batin Anna.


"Baiklah, hanya acara keluarga biasa! tidak ada pesta dan tamu undangan," pinta Anna.


David tersenyum puas.


"Oke .. secepatnya aku akan menikahi mu .. sayangku!"


Keduanya terus berbicara dengan posisi yang sama, sampai tidak menyadari ada seseorang yang membuka pintu rumahnya.


"Astaga ... Aqis tutup mata!" Sisil menjerit.


"Ish .. teteh malah tutup mulut aku!" Balqis menepis tangan pengasuhnya, lalu meletakan telapak tangan Sisil dengan benar sampai menutupi mata.


"Ini baru tutup mata!" dengan polosnya Balqis berkata demikian.


"Ahh .. teteh Sisil nggak tau mata Aqis dimana?" mereka berdua bersikap konyol.


Anna tertegung, sepontan prempuan itu mendorong David agar sedikit menjauh dari dirinya.


"Emm .. ka-kalian pulang? bukannya mau-mau menginap di rumah Nenek yah?" David gugup.


"Tenang Mah .. Pah! aku tidak melihat apapun." kata gadis kecil itu, saat tangan Sisil terus menutup matanya.


"Oh itu ... ahahah kita hanya sedang mengobrol sayang, kalian salah paham." Anna tertawa canggung.


Balqis menyingkirkan tangan Sisil, kemudian berjalan kearah sofa dimana ayah dan ibunya berada dengan raut wajah yang tampak sangat bahagia.


Sementara Sisil masih mematung dan berusaha menarik kesadarannya.


"Bukannya mau nginep di rumah Kakek dan Nenek?" David berusaha mengalikan pikiran anaknya.


"Aku mau Mama .. lagian Papa juga kenapa pergi lagi setelah mengantar aku? kan aku bete lagi." katanya.


"Oh, tadi Papa mau jemput Mama!" David berbohong.


"Ehemm .. kalau begitu saja izin masuk kamar dulu. Pak David .. Bu Anna!" Sisil berlari, kemudian mengurung dirinya didalam kamar.


Mata suci kuu!! Batin Sisil menjerit.


"Balqis nggak jadi tinggal sama Papah?" Anna menatap putrinya.


"Tidak, hanya nengok Kakek. Kakek sakit, di tengokin aku jadi sembuh lho!"


Anna langsung menoleh, menatap David dengan tatapan tajam.


"Apa?" David tertawa.


"Mas bohongin aku? jadi yang tadi hanya ancaman!?" Anna memekik.


"Tapi dengan seperti itu kau jadi jujur atas perasaan mu!" David mengusap pipi Anna.


"Mama! nggak boleh gitu. Nggak sopan!" Balqis langsung memeluk tubuh ayahnya.


"Lihat? aku sedang berada di posisi aman." Lagi-lagi David tergelak.


"Ya ya ya .. Balqis memang selalu ada di pihak mu setelah kalian kembali dekat!" Anna menggerutu.


"Pulang di antar siapa?" David kini menatap wajah putrinya.


"Pak supir," Balqis menjawab singkat.


"Papah bobo sini?" Balqis bertanya, namun tatapannya tertuju kepada Anna.


Anna menggelengkan kepala, dia bingung.


"Nanti kalau sudah boleh, sekarang Papah masih harus pulang. Nanti ada hantu tampan yang akan membuat Mama mu tidak bisa tidur kalau Papa bobo disini!" David terkekeh.


Balqis menjengit.


"Disini nggak ada hantu .. iyakan mah?"


"Jangan mengotori pikiran putrimu mas, dia masih polos."


Jawab Anna justru membuat tawa David semakin kencang.


"Otak mu yang kotor Ann!" ledek David.


"Maama? kapan kita liburannya? ajak Papa boleh?"


"Haduh .. Papa lagi .. Papa lagi!" Anna memutar bola matanya.


"Boleh ya Maa?" Balqis memohon.


"Iya iya .. atur sajalah!" cicit Anna.


"Yeay aku liburannya bareng Mama Papa." Balqis bersorak.


"Baiklah kemari, biarkan Papa pulang. Ini sudah malam." kata Anna seraya merentangkan kedua tangannya.


Balqis menggelangkan kepala.


"Boboin aku dulu, baru Papa boleh pulang!" Balqis tersenyum.


Sementara Anna kembali dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah putrinya itu.


"Oke .. masuk ke kamarmu, Aqis boleh tidur sama Papa, biar Mama tidur sendiri!" Anna bangkit, berjalan ke arah tangga meninggalkan Balqis dan David begitu saja.


"Maama memang ngambekan Pah, kalo aku nggak nurut pasti ngambek kaya gitu!" gadis kecil itu terkikik.


Serasa punya netizen! mereka kompak dalam segala hal, termasuk membully ku saat ini! batin Anna berteriak kesal.


"Oh ya? kalo lagi kangen Papa juga begitu, jadi kalo Mama ngambek kasih tau Papa aja yah?"


"Aku denger kalian yah!" Anna yang baru saja masuk kedalam kamarnya berteriak.


Mendengar Anna berteriak keduanya saling memandang, kemudian tergelak bersama dengan suara yang sangat kencang.


"Aih .. sifat menyebalkan keduanya sama persis." gimana Anna, wajah nya cemberut.


Dia kesal.


"Naiklah, ayo Papa antar. Nanti kalo Mama mu marah lagi .. Papa repot, naklukinnya hampir 5tahun." David bangkit, menggenggam tangan mungil putrinya, dan segera melesat ke lantai atas.


David kembali menatap kamar minimalis yang Anna tempati, mencari sosok yang tidak terlihat, namun samar air keran terdengar jelas di dalam kamar mandi sana.


Klek!


Anna keluar dengan drees rumahan di atas lutut, rambutnya di cepol tinggi dengan wajah yang masih tampak meneteskan air.


Dia memang selalu merawat diri! kata David dalam hati.


"Balqis mau tidur, aku pulang dulu." kata David yang tiba-tiba merasa gugup.


"Tidak jadi tidur bersama? eh .. maksud ku kalian .. di kamar Balqis."


"Tidak, lain kali saja," David tersenyum.


"Jangan buat Mama kesal, kalau begitu Papa pulang, nanti liburan kita bisa bobo bareng." jelas David.


Gadis kecil itu mengangguk, mendekat kepada Anna lalu memeluk pinggang ibunya erat.


"Papay .. hati-hati ya Pah!"Balqis melambaikan tangan.


"Papay sweet heart." pria itu membalas lambaian tangan Balqis.


"Aku pulang .. Mama Anna!" David mengulum senyum.


"Iya .. hati-hati, ingat jangan ngebut!" ujar Anna.


Kata-kata yang sederhana, namun mampu membuat hati David kembali menghangat.


Dengan perasaan berbunga-bunga David meninggalkan kediaman Anna, berjalan ke arah luar rumah dan segera pulang dengan mobilnya yang ia parkiran di luar gerbang rumah milik Anna sejak sore tadi.


...••••...


Bonus lagi nih!!


Jangan lupa like .. komen .. hadiah .. dan vote kalo yang masih punya : )