
...••••...
Beberapa menit David berada di dalam kamar mandi. Akhirnya dia keluar dengan aroma lavender yang juga menyeruak di dalam ruangan sana.
David meraih celana panjang yang sempat ia tanggalkan, kemudian memakannya kembali.
Trek!
David menyalakan lampu ruangan, kemudian berjalan kearah sofa dimana Anna berada.
Rambut coklat panjang Anna berantakan, wajahnya pucat, dengan bibir yang terlihat sangat merah, dan bekas gigitan di bibir bagian bawahnya.
Pria bertelanjang dada itu pun berjongkok, mengusap pipi, beralih ke rambut, kemudian menciumnya dengan perasaan yang sudah tidak bisa di gambarkan.
David tersenyum dengan mata yang terus meneliti wajah Anna. Lima tahun berlalu, tidak hanya sikapnya yang berubah menjadi tangguh, namun tubuhnya pun kini menjadi lebih mempesona dari pada sebelumnya.
"Sayang?" David menusuk-nusukan jemarinya di pipi Anna.
Hal yang selalu Anna lakukan dulu, kini turun ke Balqis dan kini ia pun ikut mengikutinya.
Cup!
David kembali mencium kening Anna, dengan bibir yang tak berhenti tersenyum.
"Kau tau Anna? aku sangat bahagia bisa kembali mendapatkan mu, mendapatkan cinta mu, mendapatkan dunia mu. Sungguh aku bingung harus berterimakasih bagaimana kepada Tuhan, ini hadiah yang sempurna di ulang tahun ku tahun ini!" pria itu berkata banyak hal, seolah Anna kini tengah mendengarkannya.
Dan benar saja, Anna mulai mengerjapkan matanya, sampai mata bulat itu memincing karena silau.
"Bangunlah sayang .. bersihkan diri dulu! baru kita tidur." David kembali mengusap pipi Anna, memandang prempuan itu lekat.
Anna menggeram, seraya menggeliat karena tubuhnya terasa pegal dan remuk.
"Aduh! tubuhku lelah sekali." gumam Anna sambil mendudukan dirinya.
David hanya tersenyum, dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan, menatap Anna penuh puja.
Anna yang merasa terus di perhatikan membuka matanya lebar-lebar, mencoba mengusir kantung yang terus melanda.
"Mas kenapa?" Anna mengulurkan tangan, kemudian menyentuh pipi suaminya.
"Aku sedang mengagumi ibu dari putriku. Dia semakin terlihat cantik!" David meremat jemari Anna.
Cup!
Pria itu mencium punggung tangan istrinya.
"Katakan, apa setelah ini mau bulan madu? hal yang belum pernah kita lakukan." David tersenyum.
Anna tersenyum, namun ia menggelengkan kepala.
"Berpacu dalam waktu lebih seru!" Anna terkekeh.
"Menurut ku tidak ... aku was-was Balqis bangun saat kita sedang melakukannya!" sergah David sambil tertawa.
"Baiklah, aku akan membantu mu untuk membersihkan diri." David meraup tubuh Anna, lalu membawanya kedalam kamar mandi.
"Tidak usah mandi ... nanti kamu flu!" tukas David, ia keluar setelah menurunkan Anna dari pangkuannya.
Lama Anna berdiri dihadapan cermin washtafel, menatap beberapa tanda merah ke unguan yang David berikan.
Anna tersenyum, lelu menyentuhnya dengan perasaan tidak percaya.
"Seindah inikah dicintai pria yang jauh lebih dewasa, aku merasa mas David selalu memperlakukan aku istimewa .. ya Meksi dia pernah berbuat bodoh, namun ku rasa Tuhan sudah memberikan pelajaran yang cukup."
Setelah selesai, Anna membuka pintu kamar mandinya, menyembulkan kepala mencari David.
Dan disanalah pria itu, duduk di atas sofa bekas mereka bertarung, dengan layar laptop yang menyala.
Kenapa tidak memakai baju? pikir Anna.
"Mas?" Anna memanggil.
Seketika pandangan David beralih, menatap Anna.
"Ya .. kenapa Mam?" David menatap Anna.
Mam? panggilan yang selalu Balqis ucapkan. Kini di ucapkan Papanya ..ish ini sangat menggemaskan.
Batin Anna menjerit, dengan perasaan berbunga-bunga.
"Anna .. kenapa? ada apa?" David menyingkirkan laptopnya, lalu mendekat kearah Anna.
"Apa rasanya sakit lagi? seperti pertama kali kita melakukannya!? Ah .. maksud ku pertama kali untuk mu waktu itu?"
Anna menggelengkan kepala.
"Tolong ambilkan gaun tidurku!" Anna menunjuk bajunya yang tergeletak diatas ubin.
"Ahh .. ku kira kamu kenapa-kenapa." gumam David seraya membawa gaun Anna.
"Pakailah cel*na dalam, atau aku tidak bisa mengendalikan diri." kata David saat memberikan gaun itu kepada Anna.
Anna tersipu.
"Tapi kalau tidur aku hanya mengenakan gaun saja .. tidak sekumplit kalau aku mau berpergian," Anna tersenyum.
Dengan cepat Anna memakain gaunnya, kemudian berjalan keluar, menghampiri David yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.
"Ayok .. Papa harus tidur! karena besok Papa yang membawa mobil." Anna menggenggam tangan David, lalu menariknya sampai tempat tidur.
"Duluan saja, aku masih ada kerjaan." David mencium kening Anna.
"Lanjut besok pas kita sudah sampai di puncak boleh? aku pengen bobok sama Papa juga!" kata Anna.
David yang sudah kembali duduk di sofa pun terkejut, ia kembali mengalihkan pandangannya.
"Serius?" David menjengit, mengangkat kedua alisnya.
"Malam pertama di tinggal kerja? ah nggak romantis!" Anna merengek, dia naik keatas tempat tidur.
Dengan segera David menutup laptopnya, kemudian menyusul Anna yang sudah berbaring.
"Aku suka saat kau manja seperti ini .. aku merasa berguna. Sungguh!" ucapnya kemudian memeluk Anna erat.
Anna memutar tubuh, kini ia menghadap dada bidang polos tanpa sehelai benang pun, kemudian Anna mendongak.
"Kenapa? tidurlah. Besok harus berangkat!" cicit David.
Anna tidak menjawab, prempuan itu hanya mengulum senyum.
"Apa Mas yakin? usia mas di tahun ini empat puluh satu!?" Anna mengusap bulu-bulu yang tubuh di rahang suaminya.
David tertawa.
"Tentu saja, aku dua belas tahun lebih tua dari mu, sayang!" David mencubit pipi Anna.
"Aku tidak yakin .. di luaran sana kepala empat sudah seperti bapak-bapak. Kalo kamu masih keren, walau ubannya udah tumbuh." celetuk Anna.
"Ini karena energi dari mu, makanya aku selalu terlihat muda!"
Anna menjengit.
"Kamu gombal, jelas-jelas kita baru bersatu malam ini." Anna terkekeh.
David terkekeh. "Dia tidak tau, setiap hari aku ikutin!" David membuka kartunya sendiri.
Tidak ada rasa kesal didalam hati Anna, justru ia penasaran dengan kehidupan David lima tahun tanpa Anna.
Anna tersenyum, menarik tangannya, kemudian beralih bermain-main di atas dada Devid.
"Lima tahun tanpa aku, Mas ngapain aja?" Anna mengusap lalu menusuk-nusuk dada David.
"Hanya memikirkan bagaimana bisa kembali bersamamu!" jawab David singkat.
"Maksud aku bukan itu .. Mas kan pria dewasa, terus kalo nggak salah denger kata Dira, kalian bahkan sama sekali tidak melakukannya! ini aneh .. mana ada pria yang sanggup menahan hal yang satu itu." cecar Anna dengan jemari tangan yang terus bermain di dada suaminya.
Tap!
David memegangi pergelangan tangan Anna.
"Berhentilah ... kau hanya mengusapnya, tapi aku merasakan hal lain yang mulai bangkit." David kembali berbisik, dia merangsek lebih mendekatkan keningnya.
Anna mendorong David, hingga pandangan keduanya kembali beradu.
"Kenapa? apa mas mau melakukannya? maka lakukanlah!" Anna menantang David dengan tatapan dan ekspresi se*sual.
"Kau menantang ku? aku akan menghukum mu ... tapi nanti, sekarang Balqis tidur! Dan aku takut kegiatan kita membangunkannya." ucap David yang mati-matian menahan gejolak hasrat yang kembali menyala.
Anna tersenyum, dia bangkit lalu duduk di atas perut suaminya.
"Anna .. ayok tidur besok kita aka....
Suara David berhenti saat Anna membungkam mulutnya.
"Kamu yang berisik .. kamu yang akan membangunkan Balqis. Diamlah! aku menginginkannya lagi.
Prempuan itu membungkuk, berbisik tepat di daun telinga David, setelah menjada cumbuannya.
David mematung, pria itu diam dengan debaran yang terus meningkat.
"Kita harus pindah ke sofa lagi Anna!" David akan segera bangkit, namun Anna menahan dadanya.
"Percayalah, Balqis tidak akan bangun! dia selalu tidur tepat waktu, begitu pun juga jam bangun tidurnya, dia akan bangun ketika jam lima atau enam."
Cup!
Anna mencium bibir David singkat.
"Anna kau nakal!" pria itu menggeram, kemudian menekan tengkuk Anna agar prempuan itu mendekat.
Keduanya kembali saling memangut, menikmati sentuhan satu sama lain, saling menyalurkan rasa hangat saat dinginnya angin malam mulai menelusup dari celah pentilasi udara.
Tangan David terus menggerayangi Anna, menyentuh setiap lekuk tubuh wanita yang duduk diatasnya.
Pria itu terus mencumbu Anna, bahkan lebih menggebu-gebu, dengan tangan yang kini mulai menanggalkan celana panjangnya yang David kenakan.
Kegiatan keduanya terjeda, saat Anna menegakan badan, lalu kembali melepasan drees panjangnya.
Jakun David terlihat naik turun, tenggorokannya terasa kering saat melihat Anna duduk di atas perutnya tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
"Kenapa? jangan di lihatin terus, aku ini milik mu, seluruh tubuh ini milik mu David Julian!" katanya dengan suara parau, kemudian kembali meraup bibir suaminya.
"Baiklah, ayo kita berpacu lagi!" David menggeram, dengan kedua tangan yang mulai mengangkat pinggul Anna.
Anna menjengit, keningnya berkerut dengan mulut yang juga terbuka saat David mulai memasuki inti tubuhnya.
Sementara David tersenyum samar saat melihat ekspresi wanita di atasnya.
Balqis menggeliat, saat suara Anna dan David bersahutan.
"Jangan berisik, atau gadis kita akan segera bangun!" David berbisik saat kegiatan mereka terhenti sesaat.
"Kalau begitu ayok bawa aku pindah." ucap Anna kepada suaminya.
Dengan sekali gerakan David bangkit, berjalan kearah pintu kamar mandi dengan Anna yang berada dalam pangkuannya.
Mereka masuk, pintu di kunci dengan rapat untuk melanjutkan permainan keduanya yang terhenti.
Kabooorrrrrr💃💨💨💨💨💨💨
...•••••...
Jangan lupa like, komen dan hadiah!