
Haleth membawa Adam ke dapur, agar aroma alkohol dari whiskey yang Adam bawa tidak menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Wanita itu berjalan mencari gelas untuk Adam minum. Sebenarnya tidak masalah baginya kalau pria itu hendak minum langsung dari botolnya. Tapi Haleth tidak mau Adam lepas kontrol dan tiga botol whiskey yang dibawanya habis sendiri olehnya.
"Ini. Jangan minum banyak-banyak!" Haleth duduk berhadapan dengan Adam setelah memberikan gelas shot pada pria tersebut.
"Terima kasih, Dokter. Aku bisa minum langsung dari botol. Ngomong-ngomong, kau cantik sekali dengan gaun tidur itu."
"Yeah, whatever! Dan jangan panggil aku Dokter!"
Terdengar suara kekehan dari Adam yang menurut Haleth begitu menyebalkan. Tidak habis pikir dengan mantan suaminya itu. Bisa-bisanya bertamu ke rumahnya, mengajak minum-minum pula! Kurang ajar sekali!
Dan satu lagi pertanyaan yang terlintas di pikiran Haleth,
"Apa kau meninggalkan Tasha di rumahmu sendirian?!" Haleth meninggikan suaranya, menunjuk Adam yang tengah meneguk whiskey nya.
"Ada Jessica dan Emery. Dia tidak sendirian, Dokter."
Mata kecoklatan Adam menatap Haleth yang mendecak, dan bersidekap dengan raut wajah datar. Wanita itu benar-benar cantik sekali. Dari ujung rambut hingga ujung kakinya, Haleth terlihat sempurna di mata Adam. Terlebih lagi bibir plumpy kemerahan yang pernah menjadi candunya kala itu. Sial! Memikirkannya saja bisa membuatnya gila!
Adam meraih gelas shot yang Haleth bawakan untuknya tadi, dan menuangkan whiskey di gelas tersebut. "Hei. Mau minum satu gelas?" tawar Adam sambil memberikan gelas itu pada Haleth.
"No, thanks." tetapi Haleth menolaknya.
"Ayolah, hanya satu gelas." dan bukan Adam namanya jika tidak memaksa, sampai keinginannya terwujud.
Karena malas berdebat, Haleth pun menerima gelas itu dan meminum whiskey nya dalam sekali teguk. Untuk beberapa detik, memang tak ada reaksi apapun. Namun di detik ke 40, Haleth sukses menundukkan kepalanya, merasakan pening yang cukup menyakitkan menyerang kepalanya.
"Itu enak kan, Dokter?" bisik Adam dengan tatapan sayu.
Haleth tak menjawab, masih mencoba meminimalisir rasa pening nya.
"Yang aku bawa ini alkoholnya tidak tinggi. Ayo yakin kau bisa minum, sekali lagi, lagi, dan lagi,"
"Shut up," Haleth menggumam rendah, lantas mengangkat wajahnya. "Jika aku besok terlambat ke rumah sakit, kau yang akan ku maki, Adam sial!"
Adam tersenyum. "Yeah, kau bisa maki aku semau mu, Dokter."
Pria itu pikir Haleth akan berhenti dengan sekali minum saja. Namun diluar dugaan, Haleth justru meraih botol yang sudah terbuka dan meneguk minuman itu cukup banyak hingga membuat wajahnya memerah.
Hanya menyangga dagu, sambil memperhatikan tiap gerak-gerik Haleth, itulah yang Adam lakukan. senyumnya tertarik saat wanita itu mulai meracau, menunjuk-nunjuk dirinya, bahkan memakinya. Tetapi Adam hanya menanggapinya dengan senyum tulus yang hanya ia perlihatkan pada Haleth, meski wanita itu tidak menyadarinya sekalipun.
"Sayang sekali aku tidak bisa menikam mu saat melihat kau! Dengan wanita sialan itu bercumbu! Brengsek! Terkutuk kau Adam! Kau sudah membuatku berantakan!"
Wanita itu mabuk, lucu sekali.
Adam tak henti terkekeh mendengar cemoohan Haleth untuknya. Kapan lagi melihat wanita itu banyak bicara setelah beberapa tahun ini Haleth terus mendiamkannya.
Tetapi tiba-tiba Adam membelalak, berdiri dan dengan cepat menghampiri Haleth yang bergerak membuka tali kimono nya.
"Panas sekali!" racaunya.
"H-hei! Kau tidak boleh membukanya!" dengan sekuat tenaga Adam menahan tangan Haleth. Namun wanita itu memberontak dan berakhir menampar pipi Adam hingga membuat pria itu terkejut bukan main.
Rasa sakitnya menjalar, tapi Adam merasa baik-baik saja setelah melihat Haleth tak lagi mencoba menarik simpul tali kimono nya.
"Tindakan bodoh mu itu membahayakan, Haleth!"
Bukannya diam, Haleth justru melakukan hal yang lebih ekstrim dari sekedar membuka tali kimono.
Butuh beberapa detik untuk Adam menyadari apa yang terjadi. Saat ia membuka matanya dan mengerjap beberapa kali, Adam reflek menelan saliva nya dengan susah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan, karena sesuatu yang kenyal dan basah menyapu bibirnya.
Adam bingung bagaimana harus mengekspresikan keterkejutannya. Apalagi dengan posisi yang semenantang itu, Adam sukses berdebar.
Kedua mata sayu mereka lantas saling menatap, membuat getaran aneh yang sudah lama tidak Adam rasakan. "Haleth,"
"You, you won't leave me, right?" bisikan Haleth yang terdengar seduktif tak mampu membuat Adam menahan diri.
Tangannya bergerak membelai pinggang Haleth, lantas meremasnya perlahan. "Yes. I will never leave you again,"
Dan di malam itu, terjadi sebuah accident yang mungkin akan disesali oleh Haleth seumur hidupnya.
...***...
Pagi harinya, Haleth dibangunkan oleh rasa haus yang sampai-sampai membuat tenggorokannya terasa sakit. Perlahan matanya terbuka, dan seketika Haleth bisa merasakan lelah, dan pegal di seluruh tubuhnya.
"Astaga. Kenapa rasanya sakit semua?" gumamnya dengan suara serak.
Haleth lantas mengubah posisinya menjadi duduk, masih belum sadar jika ada orang lain yang tengah bersamanya di ruangan tersebut. Kesadarannya benar-benar pulih saat bed cover yang menutupinya tubuhnya terjatuh begitu saja, hingga mengekspos tubuh atasnya yang tidak tertutupi oleh apapun.
Dengan susah payah Haleth menelan saliva nya, saat ia mendapati gaun tidurnya berserakan di bawah, dengan pakaian seseorang yang tidak ingin Haleth sebut namanya.
"Fucking hell?! Apa yang terjadi?!" Haleth merapatkan bed cover nya, lantas membangunkan Adam. Pening tak henti menyerang kepalanya saat Haleth berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. Dia, benar-benar tidak ingat, bagaimana bisa ia berakhir satu kamar dengan mantan suaminya.
"WAKE UP, YOU JERK!"
Adam membuka matanya, menarik senyuman tipis yang membuat Haleth geram.
"Hei, you awake?"
"Berhenti bicara yang tidak penting, Adam! Explain! Kenapa kita tidur bersama di ruangan ini, dan, telanjang?!"
"Hei, calm down," Adam duduk mendekati Haleth dan hendak mengusap bahu wanita tersebut. Tetapi Haleth reflek saja memundurkan tubuhnya, menolak sentuhan itu.
"Just, explain!" suara Haleth merendah, tanda wanita itu benar-benar bingung dengan keadaan. Hal itu terjadi karena Haleth benar-benar tidak ingat peristiwa yang menimpanya, dan berakhir overthinking seperti sekarang.
Adam mengacak rambutnya, menatap Haleth yang masih menunggu penjelasan darinya. Tak ada alasan untuk berbohong. Jejak kemerahan di leher hingga perut wanita itu akan menjadi pertanyaan jika Adam sampai berani berbohong tentang peristiwa semalam.
"Sorry Haleth. Kau benar-benar mabuk semalam, dan ini terjadi begitu saja."
"Don't tell me," nada suara Haleth terdengar begitu frustasi.
Haleth mengusap wajahnya dengan kasar, saat mendengar kata maaf lagi dari bibir Adam.
"Kau, bajingan Adam! Aku memintamu untuk segera pergi semalam, dan kau tidak melakukannya?! Kau memanfaatkan situasi dengan aku yang sedang mabuk untuk meniduri ku?! Kurang ajar!"
Adam menahan Haleth yang hendak melayangkan tamparan, lantas menarik wanita itu hingga terduduk di pangkuannya.
"What the f—,"
"Listen to me!" suara Adam yang meninggi membuat Haleth mengatupkan bibirnya. Nafasnya masih memburu lantaran emosi.
"Tantu saja kau tidak ingat apapun, Haleth! Kau mabuk berat. Tapi alasanku ada di tempat ini, adalah kau," perlahan Adam mendorong Haleth hingga wanita itu kembali berbaring dengan ia diatasnya.
"Kau bohong."
"Aku tidak akan melakukannya, jika kau tidak memulai,"
"You fucking liar! Mana mungkin aku memulainya?!"
"Ada cctv di ruang makan! Jika kau masih bilang aku berbohong, mau memeriksa rekamannya?!"
Terdiam Haleth dibuatnya. Matanya terpejam, dan di dalam batinnya ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri jika yang dikatakan Adam benar adanya.
Dan satu lagi pertanyaan yang melintas di pikirannya. Apa, mereka sempat melakukannya di ruang makan?!
Wajahnya tiba-tiba merona. Bukan karena malu, lantaran sibuk menahan amarah dan juga overthinking. Terlebih lagi tatapan intens Adam, usapan pada lengannya yang membuatnya meremang, menambah rasa gelisah Haleth yang makin menjadi.
"Bagaimana? Ingin memastikan?" pria itu kembali bersuara, kini merendahkan nada bicaranya.
Dan itu berhasil menggerakkan Haleth. Ia meronta, meminta dilepaskan dari cengkeraman pria di atasnya. Tanpa suara Haleth mendorong Adam, membebaskan dirinya dari kukungan pria tersebut. Haleth kemudian bergerak mengambil gaun tidurnya yang tergeletak di lantai, lantas memakainya. Tak peduli dengan Adam yang menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya, seolah berkata, apa mantan istrinya itu mau di serang lagi?
Tetapi sepertinya Adam harus menepis pikiran kurang ajarnya itu. Kenyataannya, Haleth meninggalkan ranjang, membuat Adam bertanya-tanya.
"Mau kemana?"
"Hospital,"
"Naik? Emery tidak pulang semalam." terang Adam. Haleth tak tau harus marah atau bagaimana. Bahkan Ibu nya saja membiarkan dirinya terjebak dengan buaya darat ini.
Haleth curiga, mantan suaminya bersekongkol dengan Ibunya sendiri.
"Aku antar," Adam menawarkan diri.
"Ada taksi. Tidak perlu." dan seperti biasa, Haleth pasti akan menolaknya.
"Jangan naik taksi. Aku belikan kau mobil sekarang!"
Tak bisa berkata-kata. Haleth hanya menggelengkan kepalanya yang makin dibuat pening oleh ocehan Adam.
Akhirnya, Haleth pun memutuskan untuk melangkah mendekati pintu, dan memicingkan matanya ke arah Adam sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Dasar, orang sinting!"