My Ex Husband

My Ex Husband
Merajuk!



...••••...


Suasana kamar yang Anna tempati tampak temaram, sayup suara kicauan burung mulai terdengar mengalun ketika jam sudah menunjukan pukul 05:00 pagi.


Anna mulai mengerjakan mata, menatap langit-langit kamar lalu meraih ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


Beberapa menit Anna memainkan game yang ada di dalam ponselnya, kemudian ia segera bangkit, menuruni tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hingga ketika 20 menit berlalu, prempuan itu baru keluar dengan keadaan segar dan hanya lilitan handuk yang menutupi tubuh bagian atas sampai lutut.


Anna menggeser pintu lemari pakaiannya yang cukup besar, menarik beberapa pakaian dan segera mengenakannya.


"Maa!?" Balqis memanggil, namun nada suaranya terdengar ketakutan.


Tentu saja, gadis kecil itu takut gelap.


"Mama disini, pakai baju dulu .. jangan takut!" Anna terus bersuara agar putrinya itu tetap tanang.


"Nyalain lampunya!" Balqis merengek.


"Iya, iya. Tunggu Mama pake baju dulu."


Setelah selesai Anna langsung meraih saklar lampu, kemudian menekannya hingga ruangan itu terang benderang.


Gulungan selimut itu bergerak, dan munculah kepala mungil dengan wajah sembab namun menggemaskan.


"Mama sudah mandi?" Balqis duduk.


"Sudah, Mama mau buat sarapan. Aqis mau sarapan apa?" Anna berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang kemudian merentangkan tangan menyambut Balqis agar segera memeluknya.


Dan benar saja, gadis kecil itu bergeser kemudian memeluk tubuh ibunya erat.


"Sayang Mama!" katanya dengan suara malas khas bangun tidur.


"Mau sarapan apa? biar Mama masakin!" Anna menyingkirkan setiap anak rambut yang menghalangi wajah cantik putrinya.


Balqis diam, matanya kembali tertutup.


"Jangan tidur lagi! ayo bangun." Anna menepuk bahu milik Balqis lembut.


"Five minute Mam!" Balqis bergumam.


"Baiklah, ini masih pagi. Tapi Mama harus kebawah!" ujar Anna.


"Nggak boleh!" gadis kecil itu berkata, seraya mengeratkan pelukannya.


Anna tersenyum, lalu ikut naik keatas tempat tidur, menemani Balqis yang masih mengantuk.


Untuk beberapa menit Anna diam, duduk memangku kepala sang putri yang saat ini sudah kembali tertidur.


Perlahan Anna mengangkat kepala Balqis, membawa bantal dan meletkannya kembali dengan sangat hati-hati.


Prempuan itu turun dari atas tempat tidur, berjalan menuju kaca yang masih tertutup rapat oleh gorden tebal, lalu menariknya kearah sudut dan membuka jendelanya seperti biasa.


"Sejuknya!" kata Anna, lalu menghirup udara pagi itu banyak-banyak.


Anna meninggalkan ruangan itu, beranjak kebawah untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Balqis sang putri tercinta.


"Selamat pagi?" sapa Anna kepada Sisil yang sedang sibuk membersihkan area bawah.


"Pagi Bu." gadis itu tersenyum.


Anna tersenyum, sambil terus berjalan ke arah dapur. Anna membuka lemari penyimpanan makanan, membawa beberapa slice roti tawar kupas.


Anna kembali berjalan kearah lemari pendingin, membuka dan segera membawa telur ayam berserta saus dan mayo.


Trek!


Anna menyalakan kompor, menyiapkan teflon untuk membuat telur mata sapi sebagai isian roti tawar kupas yang ia siapkan tadi.


Dengan sangat telaten Anna mengerjakan semuanya sendiri, mondar-mandir untuk semua yang akan ia siapkan.


Setelah beberapa saat Anna selesai, ia kembali kearah ruang tengah, lalu meletakan sandwich buatannya diatas meja makan.


"Sil, tinggal apa?" Anna bertanya.


"Tinggal di pel aja Bu." jelas Sisil yang langsung mendapat anggukan dari Anna.


"Hari ini para karyawan libur ya, Bu?"


"Iya, saya close order dulu. Mungkin nanti saya juga ajak mereka jalan-jalan, atau kasih mereka waktu menghabislan waktu bersama keluarga masing-masing." jelas Anna.


"Saya ke atas dulu Sil, mau bangunin Aqis."


Anna langsung berlari menaiki tangga, tanpa menunggu jawaban dari pengasuh sekaligus Asisten rumahnya itu.


Cup!


Anna langsung mencium pipi Balqis sesampainya ia di atas tempat tidur, mencoba membuat putrinya terbangun.


"Sayang .. ayok bangun!" Anna menepuk tubuh Balqis.


Tubuh mungil itu menggeliat, dan mengerjapkan matanya perlahan.


"Susu!" kata Balqis.


"No! udah gede nggak boleh minum susu di botol."


"Maama ish .. kenapa nggak boleh!" Balqis merengek.


Gadis itu sedikit terlihat kesal, merancau dengan bahasa yang sulit Anna mengerti, namun raut wajahnya tampak jelas bahwa balita itu sedang sebal kepada ibunya.


"Sekali ini aja Maaa!" Balqis meraih lengan Anna lalu menggoyangkannya.


Anna menggelengkan kepala, namun bibirnya tampak mengulum senyum.


"Maaa ....


Balqis kembali merengek.


"Cepat mandi, kita berangkat sekolah." ujar Anna.


"Mau susu, sekali lagi aja." Balqis tetap berusaha.


"No! udah mau 5 tahun masa masih minum susu di botol!" sergah Anna.


Balqis berdecak sebal, matanya mendelik lalu turun dari tempat tidur dan segera menghabur kedalam kamar mandi.


...••••...


"Nah, dimakan rotinya. Mama yang bikinin ini khusus buat kita." ucap Anna seraya meletakan roti isi telur mata sapi dengan olesan saus mayo.


Gadis cantik dengan rambut yang sudah di kucir dua itu tampak diam, dengan raut wajah yang tampak muram.


"Apa Aqis mau sereal?" Anna menatap lekat wajah putrinya.


Balqis menggelengkan kepalanya dengan bibirnya yang tanpak mengerucut.


"Aqis marah sama Mama?" Anna bertanya.


Balqis diam.


"Sil sarapan dulu!" Anna mengalihkan pandangannya, menatap Sisil yang sedang mondar-mandir menyiapkan keperluan sekolah Balqis.


Sisil datang menghampiri.


"Saya bikin roti isi telur, makanlah." Anna menggeser piring kearah Sisil.


Sisil duduk berhadapan dengan Anna, kemudian menyantap roti isi yang Anna buat tadi.


"Dek? makan sarapannya, Mama yang bikin .. ini kesuakaan kamu." seru Anna kepada putrinya.


Balqis masih diam, sampai membuat Anna terdengar menghela nafasnya kasar.


"Mama cuma nggak ngasih minum di botol yah! bukan nggak ngasih susunya." kata Anna.


Mata gadis kecil itu memerah.


"Aih .. jadi Mama harus bagaimana ini?" Anna bingung ketika putrinya hanya diam sambil menahan tangis.


"Yasudah, saya naik Sil. Antar sekolah naik taksi aja, Balqis ngambek sama saya." Anna bangkit, namun Balqis menahan tangannya.


"Maah!" Balqis menatap Anna sendu. "Maafin Aqis." katanya dengan airmata yang mulai berderai.


"Makanlah sarapannya, jangan seperti ini Mama jadi bingung." jelas Anna.


Balqis mengangguk, melapaskan lilitan kecil dilengan Anna, kemudian mulai menyantap roti isi saus mayo buatan Anna pagi tadi.


Sementara dua orang dewasa itu hanya saling menatap, lalu tersenyum.


"Kan cantik kalo nurut sama Mama, minum susu di gelas aja, udah gede." Anna mengusap kepala Balqis.


"Iya .. Maa!"ucap Balqis.


Selesai sarapan, Anna segera bergegas. Membawa Balqis memasuki mobil miliknya.


"Anna!" seseorang memanggil dari arah luar rumah.


Prempuan itu menoleh, hingga pandangan keduanya bertemu.


"Paapah ...


Raut wajah Balqis berbinar.


"Maa .. naik mobil Papa aja yuk." Balqis turun, menarik tangan Anna untuk menghampiri David.


"Tapi mobil Mama juga sudah menyala Qis." cicit Anna.


"Ish .. Jazlyn juga pernah di anter Mama, Papanya." balita itu berseru.


"Yasudah, sama teteh Sisil! Mama banyak kerjaan."


Anna melepaskan genggaman tangan Balqis, kemudian berjalan ke arah mobil untuk mematikan mesin kendaraannya.


"Sil, antar adek." tukas Anna yang langsung berjalan kedalam rumah.


Sementara David tertegung ketika melihat sikap Anna yang kembali menghindarinya, namun perbedaan saat ini Anna memberikan izin Balqis untuk bersama dirinya.


...••••...


Jangan lupa like, komen, hadiah, dan vote. Klik favorite juga untuk notifikasi setiap update-an eps terbarunya.


Ig. @_anggika15


~Sayang kalian~