My Ex Husband

My Ex Husband
testpack.



...•••••...


Selesai menyantap mie rebus yang Alvaro buatkan. Sisil menyimpan mangkuk kotor itu diatas meja, meraih segelas air yang sudah suaminya itu siapkan juga, kemudian menghempaskan punggungnya kesadaran Sofa.


Alvaro menoleh, dia melihat Sisil yang kini sedang mengusap-ngusap perutnya dengan mata yang terpejam.


"Kenyang nya!" kata Sisil pelan.


Alvaro mengeser tubuhnya agar lebih merapat, lalu menyentuh tangan Sisil yang terletak di atas perut.


Seketika pandangan Sisil tertuju kepada Alvaro.


"Kenapa?" Sisil menatap suaminya penuh tanya.


Alvaro bungkam, lalu mencium pipi Sisil beberapa kali, sampai membuat prempuan itu memundurkan kepalanya.


"Nggak mungkin kalo satu mangkuk mie bikin Abang mabuk!" prempuan itu menggeleng-gelengkan kepala.


"Mabuk?" pria itu tergelak kencang.


"Abang aneh!" sergah Sisil, lalu menyentuh kening suaminya dengan punggung tangan.


"Aku baik-baik saja! kenapa kamu menyangka kalau aku sedang mabuk, hemm?"


"Tuh kan! ... Abang aneh tau, senyam-senyum melulu!" Sisil menunjuk wajah Alvaro, dengan raut wajah yang tampak bingung dan sedikit ketakutan.


"Kesambet kali yah? Abang mandinya kelamaan sih." Sisil menjauh.


Alvaro tersenyum samar, dia kembali mendekat dan menyentuh perut Sisil seperti tadi.


"Apa dia sudah ada disini?" tangan Alvaro terus mengusapnya.


Sisil diam.


"Sayang apa dia sudah berada di dalam rahim mu?" Alvaro mengulangi pertanyaan nya.


Namun Sisil tetap bungkam, dengan pandangan yang terus saling beradu.


"Kapan terakhir kali kau datang bulan?" pria itu berusaha menyadarkan Sisil, namun prempuan itu hanya menggelangkan kepala sebagai jawaban pertanyaannya.


"Bicaralah, kenapa kamu menjadi pendiam?"


"Aku nggak tau." kata Sisil singkat.


Bahkan dia sampai menundukan kepala, dan menatap perut yang sedang di usap tangan suaminya.


"Kita sudah sebulan menikah, tapi kamu belum ada tanda-tanda mau ada tamu bulanan."


"Ish .. tapi jangan terlalu berharap, nanti Abang kecewa, toh aku juga sering telat kaya gini kok." jelas Sisil.


Alvaro tersenyum.


"Mau periksa?" katanya, lalu meraih bibir Sisil, dan memangutnya sesaat dengan sangat lembut.


"Abang ke apotik dulu yah?" Alvaro berujar setelah melepaskan pautan bibir keduanya.


"Ini sudah lewat tengah malam, sebaiknya Abang istirahat ... besok Abang kerja!"


Alvaro menggelengkan kepala.


"Kamu tunggu yah, biar Abang yang keluar mencari apotik 24 jam."


"Tidak usah, kita tidur saja!"


"Kenapa? Abang hanya ingin memastikan. Setidaknya kita bisa lebih berhati-hati jika dia sudah berada didalam perut mu."


"Tapi ...


"Aku ke apotik dulu, tunggu sebentar dan jangan tidur dulu!"


Cup!


Alvaro bangkit, dia berlari kearah kamar dan keluar setelah memakai jaket, lalu berlari kearah pintu keluar.


Melihat tingkah suaminya malam ini, Sisil hanya menghembuskan nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.


"Aku hanya takut Abang kecewa! banyak pasangan yang sedih karena semua tidak terjadi sesuai harapan mereka!" dia bermonolog.


...•••••...


Cukup lama Sisil menunggu, bahkan pandanganya beberapa kali menatap jam, saat Alvaro belum juga kembali, bahkan sudah hampir tiga puluh menit dia pergi.


Matanya mengantuk, dia segera merebahkan tubuhnya, namun tiba-tiba pintu apartemen terbuka.


Alvaro berlari, dia datang dengan sebuah kantong plastik bening dan sebuah kotak kecil berada di dalamnya.


"Ayok chek!" dia datang menghampiri, meletakan plastik itu kemudian duduk tepat disamping Sisil.


"Bukanya harus pagi-pagi yah?" Sisil bangkit, lipatan matanya sudah terlihat bengkak saat prempuan itu terus menahan kantuknya.


"Sekarang juga bisa!" pria itu terlihat sangat bersemangat.


"Yasudah, aku coba pake sekarang .. jangan kecewa tapi yah!" Sisil memperingati.


Pria itu mengangguk, dia tersenyum lalu bangkit dan berlahan perlahan di belakang Sisil.


Sisil masuk kedalam kamar mandi, namun pintunya tertahan saat ia akan menutupnya.


"Abang ngapain?" tanya Sisil saat melihat pria itu berdiri di ambang pintu.


"Mau ikut .. boleh yah!"


"Nggak usah, nanti aku kasih tau hasilnya."


"Yasudah, aku duduk di sofa yah?" Alvaro berucap, kemudian dia berbalik badan.


Alvaro duduk, dia berusaha tenang meski jantungnya terus berdebar dengan sangat kencang.


"Mungkin ini yang di maksud pak David. Baru mau mastiin aja udah bahagia, apalagi beneran punya." Alvaro menyandarkan punggungnya, dengan pandangan yang terus tertuju kearah yang tertutup rapat.


Sekitar hampir sepuluh menit Alvaro menunggu, lalu pintu kamar mandi itu mulai terbuka, dan munculah Sisil dengan sesuatu di tangannya.


"Bagaimana?"


Raut wajah Alvaro berbinar, dia bagkit dan berlari kearah Sisil.


"Negatif!" Sisil memberika testpack itu kepada suaminya.


Alvaro tampak mengulum senyum. Dia mengangguk, kemudian beralih menatap Sisil.


"Tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu bukan?" Al memeluk tubuh Sisil, lalu mencium keningnya beberapa kali.


"Sudah sangat larut, mari tidur."


Pria itu menuntun Sisil kearah tempat tidur.


"Abang?" dia memanggil saat sisil berbaring, dan Alvaro menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.


Alvaro menoleh, dia berjalan memutari ranjang dan segera naik keatas tempat tidur, berbaring tepat di samping istrinya.


"Hemm?"


Al menarik Sisil, lalu memeluk tubuh itu erat.


"Abang sedih yah?"


"Tidak sayang, kita masih punya waktu! jadi ayok tidur .. ini sudah sangat larut."


Katanya dengan kedua mata yang sudah terpejam.


"Tapi Abang kaya sedih, ahh nyesel aku pake test itu. Padahal tadi Abang senyum-senyum, sekarang malah nggak." Sisil mencecar.


Cup!


Alvaro mencium kening Sisil.


"Pikiran mu itu! Abang biasa aja ini. Tidurlah, kita harus bekerja besok!"


Sisil mengangguk, dia meraksek lebih mendekat kearah suaminya, lalu menyurukan kepala di dada bidang milik Alvaro.


"Abang?"


"Iya sayanggg ... apalagi?" Alvaro membuka mata.


"Usapin punggung aku!" Sisil tersenyum.


"Astaga! kau mulai lagi." Alvaro tersenyum.


"Ish aku nggak bisa bobo, kalau nggak di usapin." kata Sisil.


"CK. Padahal tiga malam itu kamu terlihat baik-baik saja!"


"Nggak, aku suka susah tidur tau!"


Alvaro diam.


"Abang ih!"


"Hhhh ... baiklah."


Katanya lalu mengusap punggung Sisil perlahan.


Sisil mengeratkan pelukannya, mulai memejamkan mata lalu bibirnya tersenyum.


"Selamat bobo Abang!" kata Sisil kepada suaminya.


Cup!


Dia mencium bibir Alvaro.


"Tidurlah, karena ada sesuatu yang mulai bangun lagi jika kau terus bergerak-gerak." Alvaro menggeram.


Prempuan itu terdiam.


"Good girl, jangan membua ku lepas kendali. Atau kita akan kesiangan karena terlalu sering berpacaran."


"Pacaran yang aneh!" sahut Sisil dengan kekehannya.


"Indah bukan? pacaran kita tidak akan di grebek pak RT."


"Katanya mau tidur! kok malah ngobrol." ucap Sisil.


Alvaro tertawa. "Kamu yang mulai, aku hanya menjawab saja."


"Bisa tidak .. besok kita libur saja?" kata Sisil.


Pandangan Sisil menunduk, menatap dada suaminya, dan memainkan jari telunjuk disana. Bergerak tidak beraturan, bahkan Sisil menusuk-nusuknya beberapa kali.


"Kenapa, mau jalan-jalan kah? tunggulah sebentar. Saat pak David masuk, Abang pasti minta cuti."


"Bukan itu!" sergah Sisil.


"Lalu apa Naisilla? ayoklah ini sudah hampir jam dua mal ...


"Aku mau pacaran lagi!" Sisil mendongak, menatap wajah pria yang juga sedang menunduka kepala untuk menatapnya.


Tatapan Al sudah terlihat menajam.


"Abang, aku mau pa ...


Alvaro langsung membungkam mulut Sisil, menyesapnya beberapa kali kemudian menghentikannya sesaat.


"Kamu yakin?"


Sisil mengangguk.


"Aku tidak apa, tapi mungki kamu yang tidak akan bisa bekerja besok, karena sel*ngka*gan mu akan terasa nyeri." dia berbisik.


"Aku nggak peduli, aku cuma mau pacaran!" cicit Sisil, dia bangkit lalu duduk diatas perut suaminya.


Nah .. nah ..nah : )


...•••••...


Jangan lupa like, komen dan hadiahnya.


Klik favorite juga jangan lupa!


Btw, disini ada emak-emak yang bingung soal vote kah? Jadi vote itu nggak bayar yah, gratis .. munculnya di setiap hari Senin, jadi kalo ada yang mau nge-vote tinggal di klik aja tulisan votenya di bawah deskripsion box.


~Makaciw~