My Ex Husband

My Ex Husband
Spaghetti carbonara.



...••••...


Malam hari tepat pukul 20:00.


Anna menepikan mobilnya di bahu jalan, tepat di samping sebuah gang kecil yang tampak gelap dan sepi.


"Sebentar, Mama telfon Onti dulu!" seru Anna kepada Balqis yang duduk tepat di kursi samping kemudi.


Gadis kecil itu diam, tidak banyak bicara. Tentu saja! makanan ringan selalu sukses membuatnya sibuk mengunyah, dan melupakan hal lain yang menurutnya kurang penting.


"Hallo, dimana Rik?" ucap Anna saat sambungan telfon itu terhubung.


Tidak lama setelah Anna berbicara, Rika muncul dan berjalan kearah mobil dengan ponsel yang menempel di telinga seraya tersenyum dan melambaikan tangan.


"Hey kamu! lagi makan apa?" ucap Rika saat membuka pintu belakang.


"Lagi makan kripik kentang, Onti mau?" katanya yang berusaha melihat kearah belakang.


"Tidak, Aqis saja." tukas Rika lalu menutup pintu itu dengan segera.


Anna kembali memutar setir, fokus melihat kearah kiri dan kanan, kemudian memacu mobil putih kesayangannya dengan kecepatan cukup tinggi.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Anna, Balqis dan juga Rika sampai disalah satu mall besar yang tidak jauh dari kediaman mereka.


"Let's go baby girl ... kita habiskan uang yang ada di ATM Onti Rika!" ucap Anna kepada putrinya yang seketika membuat Rika membulatkan mata.


"Nggak ada! cuma time zone sama es krim yah!" Sergah Rika dengan wajah yang di buat sok serius.


Anna dan putrinya tertawa bersamaan, sementara Rika memutar bola matanya.


Wajah boleh jiplakan Bapaknya, usilnya seribu persen Anna! umpat Rika dalam hati.


Mereka bertiga berjalan bersama, dengan Rika dan Anna yang berjalan menghimpit Balqis menggenggam tangan kecil yang malam ini terlihat sangat bahagia.


Sesampainya di lantai teratas mall itu, Balqis dan Rika langsung berlari kearah arena bermain. Sementara Anna hanya duduk sambil terus memperhatikan interaksi keduanya.


Seulas senyum timbul, rasa bahagia itu terus memenuhi hatinya. Anna bersyukur bisa dipertemukan dengan Rika, prempuan yang tidak memiliki ikatan darah dengannya, namun dia bersedia menolong Anna, sejak ia tau tengah mengandung putri pertamanya.


"Maama .. ayok main!" gadis kecil itu berlari kearah ibunya.


"Sama Onti ajalah! Mama disini liatin kalian." kata Anna.


"Mama sakit? kok sekarang Mama maunya sendiri terus?" Balqis menatap lekat.


Anna menggelekan kepalanya pelan, lalu meraih wajah putrinya dan segera mendaratkan ciuman di seluruh wajah Balqis.


"Sekarang anak Mama udah banyak nanya yah!" Anna terkekeh pelan. "Apa yang Mama lakuin sekarang di bawelin Aqis!" sambung Anna kembali.


"Mungkin Mama laper! jadi ... gimana kalo kita ajak Mama makan dulu?" Rika datang menghampiri.


Balita itu mengangguk, kemudian menggenggam tangan Anna dan segera menariknya.


"Mau makan apa Ann?" Rika bertanya.


"Terserah yang mau traktir dong! iya nggak sayang?" Anna menundukan pandangannya, sementara Balqis mendongak lalu mengagumkan kepala.


Rika menghela nafas.


"Nanya emaknya gitu mulu! dari dulu jawabannya terserah .. mulu!"Rika sebal.


"Aqis mau makan apa? Onti yang bayar." Rika berjongkok.


"Emm! Aqiis .. mauu.." sesaat Balqis diam, dia tampak berpikir keras.


Begitupun dengan dua orang dewasa, mereka ikut diam dengan mata yang tertuju pada Balqis.


"Nungguin yah!?" Balqis menatap Rika dan Anna bergantian.


Anna dan Rika mendengus secara bersamaan.


"Emak sama anak usilnya sebelas .. dua belas!"Rika menatap Anna, lalu mendelikan mata.


"Gua lagi yang kena!" Anna bergumam, lalu tertawa.


"Jadi mau makan apa?" Rika Kemabli menatap gadis itu.


"Mmmm ...


"Aelah! jangan am em am em kenapa sih!?" Rika mulai tak sabar.


Bukannya cepat menjawab, Balqis malah terkikik geli dengan sikap Rika.


"Dih .. bocah kenapa?" Rika memincingkan mata.


"Aku gemes sama Onti!" katanya.


"Ada juga gue yang gemes ame elu! dasar .. anaknya om bewok!" ia mencubit pipi Balqis gemas.


"Ahh .. Mama!" Balqis mengusap pipinya yang tampak memerah.


"Ish .. kalian suka mulai deh! akurnya bentaran doang," cicit Anna. "Jadi Aqis mau apa? biar kita cepat makan?" tanya Anna kembali.


"Aku mau pasta!" sahut Balqis.


Rika mengangguk, bagkit kemudian kembali menggenggam tangan Balqis dan segera mencari restauran yang menyediakan pasta.


"Jadi kita ke Pizzaro yah? disana banyak aneka pasta .. Aqis tinggal pilih." jelas Rika yang langsung menarik Balqis.


Mereka duduk, tidak lama setelah itu seorang waiters datang menghampiri seraya memberikan buku menu kepada Rika dan Anna.


"Aqis mau .. carbonara sama ice macchiato." katanya.


Seketika Anna menatap putrinya.


"Yah .. Mama nggak asik ya, Onti?"


Rika mengangguk.


"Tapi anak kecil cocoknya mini iced Taro aja deh." jelas Rika.


"Iyalah ... masa minum kopi lagi!" Anna ketus.


"Hhhmm .. mas?" Rika menatap pria itu. "Carbonara nya satu, iced Taro nya juga satu Yah!" pesan Rika.


"Ann? lu apa?"


"Zuppa sup, sama ice Lecce tea deh."


"Kalo saya sweet banana pizza satu, minumnya ice Lecce tea juga."


Pria itu mengangguk.


"Saya ulangi pesanannya yah!" pria itu berujar.


"Carbonara satu, Zuppa sup nya satu, Sweet banana pizza juga satu, ice Taro sama dua ice Lecce tea ya ka?" waiters itu tersenyum ramah.


"Iya mas." kata Anna.


"Apa ada tambahan?"


"Sudah cukup mas!" Rika membalas senyuman pria itu.


Pria itu mengangguk pelan, kemudian berlalu pergi ke arah belakang mengantarkan pesanan mereka.


...••••...


"Suka?" tanya Rika kepada Balqis yang sedang menikmati spaghetti carbonara miliknya.


Gadis kecil itu mengangguk-anggukan kepada seraya mengangkat satu jempol tanganya sambil terus mengunyah.


"Pelan-pelan! tidak ada yang akan meminta kamu untuk berbagi." ucap Anna kepada putrinya.


"Sampe belepotan gitu!" Rika langsung menyusut sudut bibir Balqis.


"Ini enak Mam! nanti kesini lagi yah? ajak teteh sama Papah." katanya.


Anna diam, namun pandangan matanya beradu dengan Rika.


"Mereka udah sedeket itu? bukannya Balqis nggak mau ya sama bapaknya?" Rika mulai penasaran.


"Seenggaknya mereka punya ikatan batin, sejauh apapun Balqis menolak, David pasti punya cara biar anaknya bisa deket lagi sama dia." jelas Anna.


"Anjir .. David nggak tuh! ketauan orangnya lu bisa di hukum." kata Rika.


"Hukum apa?" Anna menjengit.


Rika hanya terkekeh pelan, ketika otaknya memikirkan hal yang aneh.


"Otak elu Rik! harus cepetan nikah." Anna bergidik.


"Hmm .. lakiknya kagak peka mulu!" katanya dengan suara kencang.


Sementara disisi lain, tampak menoleh. Mencari keberadaan pemilik suara yang sangat di kenalnya.


"Rika!?" pria itu bergumam, lalu melangkah sesaat setelah menemukan prempuan yang kini sedang menikmati pizza.


"Kamu disini?" pria itu menyentuh bahu Rika, hingga ia menoleh.


"Kamu!" Rika terkejut.


Anna memincingkan mata.


"Debkolektor!" refleks Anna menunjuk pria yang sedang berdiri di delakang sahabatnya. "Eh .. maksudnya .." Anna bingung, ketika Rika menatapnya tajam.


"Kalian udah pernah ketemu?" Rika bertanya. "Eh duduk dulu sini." kata Rika kepada pria itu.


"Pas kita ngopi malem-malem itu lho Rik!" kata Anna.


Rika mengangguk.


"Iya, dia anterin gue waktu itu." jelas Rika. "Btw .. kenalin, ini Edgar cowok gue." Rika tersenyum malu.


"Hallo Anna."


"Edgar."


Ucap mereka ketika berjabat tangan.


"Maaf ya waktu itu nabrak kamu." Edgar tersenyum ramah.


"It's oke." Anna tersenyum.


Setelah Edgar bergabung, mereka terlihat berbincang, membicarakan banyakhal. Sampai suara tawa itu terdengar nyaring ketika mereka melempar candaan satu sama lain.


...••••...


Jangan lupa like, komen, hadiahnya cuyung : )


Klik favorite juga jangan lupa! agar tidak ketinggalan update-an setiap harinya.


Instagram: @_anggika15


~Sayang kalian my beloved readers~