
Haleth menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Beberapa menit sekali wanita itu selalu berpindah posisi untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Tetapi hingga detik ini, tak ada hasil sama sekali.
Saat Haleth memutuskan membuka mata, barulah ia tau penyebabnya. Sosok bertubuh besar dengan tangan yang kekar melingkari pinggangnya sontak membuat Haleth terbangun. Mengusap kasar wajahnya guna memastikan jika ia tidak salah lihat.
"Hn? Haleth? Ada apa?"
Dengan kilat Haleth menyingkirkan tangan itu dari tubuhnya. Ia beringsut mundur, dan turun dari ranjang. "K-kau? Kenapa ada di sini?!"
"Kau ini bicara apa? Aku sedari tadi menemanimu di sini. Ayo, kemari. Ini masih tengah malam, tidurlah lagi," tangannya terulur hendak meraih tangan Haleth. Namun wanita itu menepisnya lebih cepat.
"Adam. Bukannya, kau sedang ke Texas?" Haleth mengernyit curiga. Atau jangan-jangan, ini semua hanya akal-akalan Jessica agar dia mau menginap?
Adam tersenyum. "Hm, aku memang ke Texas. Tapi, aku segera pulang setelah semua selesai. Maaf membuatmu menunggu,"
Haleth mematung dan sukses terjatuh kembali di ranjang akibat tarikan tangan Adam. Bahkan tubuhnya tak bisa berkutik saat bibir Adam mendarat memberikan kecupan-kecupan ringan pada bibirnya. Dia benar-benar tidak bisa mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
"I miss you,"
"A-adam, don't," Haleth berbisik, mencoba mendorong Adam yang mulai menyerang leher Haleth yang masih terdapat kissmark di sana.
"Kenapa? Tidak ingin melakukannya denganku lagi?"
Memejamkan mata, Haleth menahan lenguhannya agar tidak keluar akibat ulah nakal bibir pria yang berbaring dibawanya itu.
"Aku terkejut kau ada di sini. Membuatku melupakan masalah pekerjaan yang membuat kepalaku hampir pecah,"
"A-adam,"
"Yes Baby?"
"Stop, ada Tasha,"
"Tasha tidur dengan Jessica. Ingin melakukannya?"
Apa-apaan ini? Tidak! Haleth tidak ingin hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya!
"Aku akan pakai ******, tenang saja,"
Haleth menggeleng lemah. "Jangan,"
"Oh, tidak ingin aku pakai ******?" senyum jahil tercetak semakin lebar di bibir Adam. "Baiklah, kemari Sayang,"
"Haleth!"
Haleth membuka matanya dan terbangun dengan nafas memburu. Mengedarkan pandangannya dengan tatapan panik. Degup jantungnya berpacu disertai wajah yang berkeringat dan merona.
"Kamu kenapa?" Emery mengernyitkan dahinya, lantas menempelkan punggung tangannya di dahi putrinya itu. "Keringat mu dingin sekali."
"Mimpi buruk," wanita itu menjawab dengan suara pelan. Tubuhnya menyandar pada ujung ranjang yang ia tempati. Seraya menunduk, Haleth sesekali memijit pangkal hidungnya. "Ada apa Ma? Tasha di mana?" ucapannya bertanya.
"Tasha tidur di kamar Mama," Haleth sontak mengangkat wajahnya.
"Kenapa? Kok tidak di sini denganku?"
"Ya, Mama tidak tau."
Haleth menghembuskan nafasnya dengan lega. Dengan Emery bukan? Ya, bukan dengan Jessica. Meski terasa seperti deja vu, tetapi setidaknya yang tadi benar-benar mimpi.
Kurang ajar! Tidak di mimpi, di dunia nyata, Adam tetap menjadi pria kurang ajar dengan tingkah tidak senonohnya!
"Ngomong-ngomong, Haleth," Emery kembali bersuara seraya menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Haleth. "Bekas di leher kamu itu, membuat Mama penasaran."
"Huh?!" Haleth reflek menutupi lehernya menggunakan selimut. "Mama, kenapa fokusnya ke situ?"
Emery mengendikkan bahu. "Kelihatan sih. Melakukannya dengan siapa? Dengan Adam?" sebelah alis Emery tertarik ke atas.
"Sok tau ih Mama. Keluar, Haleth mau tidur!"
"Tidak mau. Jawab dulu pertanyaan Mama!" Emery menolak usiran Haleth.
Kesal, Haleth merotasi bola matanya. "Bukan urusannya Mama."
"Kenapa begitu? Kan Mama hanya memastikan. Kalau dengan Adam syukurlah, kalau bukan ya sudah."
Haleth mendengus kemudian kembali membaringkan tubuhnya membelakangi Emery. Tak lupa, ia juga merapatkan selimutnya hingga sebatas lehernya.
"Justru itu. Nanti kalau tiba-tiba kamu hamil lagi, bagaimana? Ingat pesan Mama ya! Keselamatan diutamakan. Tapi kalau sama Adam, mau tembak dalam berkali-kali juga terserah,"
"Mama!" Emery terpenjat saat Haleth membuka kasar selimutnya seraya memicing kearahnya. "Kenapa tidak Mama saja sih yang hamil kalau ingin punya bayi lagi?! Memaksa terus anaknya yang mau terus menikmati masa-masa janda nya!"
"Kan Mama maunya cucu lagi. Bukan anak!" tak menyerah Emery membujuk kekeraskepalaan putri semata wayangnya itu.
Tetapi, tak ayal hal itu juga membuat kesabaran Haleth diuji. Hanya bisa mengusap dada jika sang Ibu terus menyinggung hubungannya dengan Adam yang sudah lama berakhir. Dan apalagi itu? Jika dengan Adam, mau tembak dalam berkali-kali juga terserah? Memang benar-benar! Sekali itu saja karena kecelakaan! Jika Haleth sadar saat itu, mungkin kecelakaan yang kini selalu membuatnya overthinking pasti tidak akan terjadi.
Sial! Bahkan overthinking nya terhadap insiden itu sudah menembus hingga ke mimpi-mimpi.
Jemari lentik Haleth memberi garukan penuh rasa kesal pada leher jenjangnya. Cukup sudah. "Aku dan Adam tidak akan bersatu lagi. Jadi Mama jangan terlalu berharap. Haleth tidak mau Mama kecewa." ujarnya lantas kembali memunggungi Emery. Kemudian memejamkan mata, namun kembali terbuka saat merasakan pergerakan dari ranjang yang ia tempati.
Emery, meninggalkannya. Helaan nafasnya terdengar saat pintu kamar sudah ditutup lagi.
"Sebenarnya apa yang Mama pikirkan." Haleth bermonolog dengan pikiran runyam. Masih tak habis pikir mengapa Ibu, bahkan mantan Ibu mertuanya begitu antusias mendesak agar dirinya dan Adam segera rujuk. Ya, alasan pertama memang sudah jelas. Mereka ingin cucu lagi. Huh, tapi yang benar saja?
"Bukannya hubungannya dengan Iris baik-baik saja? Kenapa mereka tidak menikah saja dan membiarkanku sendiri sih?!"
Entah mengapa, semesta seolah tak membiarkan Haleth terus merasakan nikmatnya tidak mempunyai beban hidup bernama Pria.
...***...
"Boss, ada telepon dari Nyonya,"
"Kemari kan ponselku." ujarnya seraya menyerahkan pistol yang ia bawa pada Carl. Tak memedulikan jas nya yang kotor akibat muncratan darah, toh warna hitam tak akan kalah dengan warna merah.
Adam menggeser layar ponselnya menerima panggilan itu. "Hi, Ma?"
"Lama sekali?! Ngapain sih?!"
"Adam sedang ada urusan Ma. Carl, urus itu," tubuh tegapnya melangkah keluar dari ruangan remang yang lembab itu seraya membuka kancing jas nya.
"Ck, cepatlah pulang. Haleth ada di sini. Dia, sedang tidur di kamarmu sekarang."
Informasi dari sang Ibu sukses membuat Adam menghentikan langkahnya. Bibirnya menarik senyuman tipis. "Benar? Mama tidak bohong?" tanyanya memastikan.
"Benar. Sebisa mungkin sampai sebelum matahari terbit. Gunakan waktunya untuk berbicara empat mata dengan Haleth. Atau, lebih dari itu juga tidak apa-apa. Tasha sedang tidur dengan Emery sekarang."
Ah, rasanya seperti jutaan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Tapi ingat, jangan sampai membuat mood Haleth menjadi buruk. Itu akan berimbas padamu juga. Adam, jangan pernah menyerah membujuk Haleth untuk kembali padamu. Kamu mengerti?"
"Hm, ya. Tentu saja aku tidak akan menyerah, Ma. Apalagi, Adam tau jika saat ini Haleth sedang didekati oleh seseorang. Adam tidak akan menyerahkan Haleth pada Pria manapun."
"Bagus. Sekarang cepat pulang. Mama akan menunggumu."
"Tidak perlu. Mama tidur saja."
"Ah, baiklah. Kalau begitu, hati-hati saat menuju California."
"Okay. Good night."
Adam mengakhiri sambungan itu secara sepihak sebelum menyimpan ponselnya ke dalam saku. Pria itu berbalik guna melihat keberadaan asistennya.
"Sudah ditangani Boss! Kematian Mr Warren akan dipalsukan seperti yang sudah direncanakan."
Adam mengangguk. "Siapkan Helikopternya. Kita kembali ke California sekarang."
"Boss, tidak ingin istirahat di sini saja?"
Senyum seringai Adam membuat Carl mengernyit samar. "Tidak. Mantan istriku, sedang menunggu di ranjang sekarang." gumamnya. Semburat kemerahan tipis-tipis mewarnai pipi tirus Pria berkebangsaan Amerika itu.
"Ah, begitu," Carl menyahut seraya terkekeh geli dalam hatinya. Kapan lagi melihat Boss nya di mode menggemaskan seperti sekarang?
"Baiklah. Helikopter akan siap secepatnya Boss!"
"Untuk selanjutnya, temukan Mr Lowell."
"Baik Boss!"
Dan di detik berikutnya, kedua Pria itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.