
...••••...
"Jadi restaurant mana yang mau kau datangi sekarang?" sesaat pria itu menoleh, lalu kembali fokus kedepan dengan tangan yang terus menggenggam setir mobil miliknya sangat erat.
"Bagaimana kalau restauran korea? sepertinya aku sudah lama tidak makan Sundubu Jjiagae!" wanita itu tampak senang.
"Bukanya kau sedang sakit? kenapa memakan makanan yang pedas?" sergah David tampa mengalihkan pandangannya.
"Hanya sekali tidak apa." Mikaila berujar.
David tidak menjawab, pria itu hanya mengangguk sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi.
Sekitar tiga puluh menit mereka menyusuri jalanan kota yang tampak tidak terlalu ramai. Akhirnya David memutar setir mobil ke arah kiri, berbelok memasuki parkiran yang terlihat sangat luas, dan dipenuhi mobil.
"Ini memang tempat favorite kita sayang?" Mika bertepuk tangan. "Tidak sia-sia kita menjalin hubungan selama ini, ya walau harus LDR." Mika tertawa, namun bedahalnya dengan David yang hanya memasang raut wajah datar.
Tanpa banyak berbicara David langsung membuka pintu mobil disampingnya, lalu keluar meninggalkan Mika yang masih duduk di kursi samping kemudi.
Seolah tidak menyadari perbedaan sikap David, Mikaila terus tersenyum, memasang ekspresi wajah yang selalu berbinar.
"Sayang, sebentar!" Mika berteriak, saat David terus berjalan semakin menjuh.
Mikalika melangkahkan kakinya sedikit berlari, berusaha mengimbangi langkah lebar kekasihnya.
"Berhentilah berteriak, ini siang bolong. Rasa nya sedikit risih ketika terik begini mendengar orang berteriak." kata David.
"Ish ... kamu sensi!" Mika menepuk lengan David.
"Kau ingin memberitahuku sesuatu bukan? maka aku juga akan memberitahukan sesuatu juga!" kata David sambil terus berjalan masuk.
Dan disanalah mereka, dua kekasih yang sudah tidak bertemu cukuplama, duduk berhadapan sambil menunggu makanan yang mereka pesan masing-masing.
"Sayang, kamu yakin tidak mau makan? masa hanya pesan kopi!" Mika tersenyum kearahnya.
David tak menjawab, pria itu hanya terdengar menghela nafasnya pelan.
"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan nama seperti biasanya? ini tempat umum dan aku tidak mau menjadi perhatian orang lain ketika kau memanggilku seperti itu!" David mendengus kesal.
"Kamu marah yah?" Mika terus tersenyum, berusaha mencairkan suasana yang terus terasa canggung.
"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" David bertanya.
Mikaila menyandarkan punggungnya, seraya melipat kedua tangan.
"Janji tidak akan menyesal?" Mika kembali mengubah posisi duduknya. Kini ia mencondongkan tubuh nya lebih mendekat.
"Janji!" satu jeri kelingking ia angkat.
"Apa harus?" David menatap jari kelingking Mika.
Prempuan itu mengangguk.
"Katakan!" ucap David setelah menautkan jemari keduanya.
"Hah!" Mika menghembuskan nafasnya kasar. "Ginjal ku bermasalah, Dav!" raut wajah Mika berubah.
David terhenyak.
"Maksud mu, dengan ginjal bermasalah itu apa?"
"Aku gagal ginjal stadium akhir, Dav. Aku sakit, aku tidak berguna, aku berhenti kuliah karena aku harus berobat, bahkan sekarang aku harus rutin melakukan cuci darah." jelas Mika prempuan itu tersenyum getir.
"Aku menyesal tidak mendengarkan kata-kata mu dulu, aku terlalu banyak minum-minuma beralkohol dan sangat jarang minum air putih. Aku menyesal Dav!"
Sorot mata David terus menelitinya, hingga Mika tak mampu lalu menundukan kepala.
"Permisi?" seorang waiters datang. "Satu Sundubu Jjiagae, mineral water sama iced coffenya! apa ada tambahan lain?" pria itu bertanya.
"Sudah cukup, terimakasih!" David berucap, lalu dijawab anggukan oleh pria tersebut.
"Jadi .. apa yang mau kamu bicarakan, Dav!?"
David meraih gelas ice coffe itu, menyesap sedikit lalu meletakan kembali keatas meja dihadapannya.
"Makanlah dulu, selesai itu baru akuakan bicara." kata David.
Mikaila mengaduk makanan berkuah merah dihadapannya, dan segera menikmati makanan khas korea berkuah pedas tersebut dengan sangat lahap. Sesaat keduanya terdiam, menikmati hidangan yang mereka pesan sebelumnya.
"Itu pedas! bagaimana dengan ginjal mu!?" David menatap prempuan dihadapannya.
"Hanya sekali tidak apa." katanya.
"Menantang maut!" David bedecak.
"Berhentilah bersikap pecicilan, dan habiskan makanan mu." titah David.
Mika mengacungka kedua ibu jari tangannya.
"Aku selesai!" prempuan itu menjawab dengan mulut yang masih mengunyah.
Kemudian menggeser mangkuk itu agar sedikit menjauh.
David meraih gelasnya kembali, lalu meminum ice coffe miliknya hinga tandas.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan!?"
Matanya tampak berbinar, bibirnya tersenyum. Entahlah, mungkin dia berpikir David akan segera melamarnya, setelah sekian lama menanti hubungan yang terus seperti ini, bahkan tidak ada kemajuan sama sekali.
"Maaf!" kata David.
Mika mengatupkan mulutnya, lalu memincingkan mata kearah David.
"Kamu lagi bercanda apa gimana sih? sikap kamu aneh hari ini!" Mika terkekeh pelan.
"Mungkin hubungan kita memang tidak cocok sejak dari awal, tapi sampai kamu memilih pergipun aku masih berusaha mempertahankan hubungan ini, tapi maaf sekarang sepertinya kita harus akhiri semuanya disini." David berujar dengan tatapan yang terlihat sangat serius.
Mikaila tersentak, ia menjengit seraya tersenyum miris.
"Apa ini!?" Mika berdecak. "Kenapa setelah aku pulang kamu malah seperti ini, David!"
"Ya, ini salahku. Baru mengakhiri hubungan kita sekarang, seharusnya dari dulu, semenjak kau pergi dan selalu mengabaikan ku."
"Apa karena aku penyakitan sekarang?" ucap Mika sedikit meninggikan suaranya.
Merasa dirinya sedang diperhatikan oleh banyaknya pasang mata. David diam, meneliti sekitar yang terlihat sangat ramai.
"Pelankan suaramu!" suara David memekik.
"Jawab aku! apa ini semua karena penyakit ku David?" Mika menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan itu!" David berusaha terlihat tenang.
"Lalu apa!?"
Wajah Mika memerah, terlihat sangat jelas ia sedang menahan amarah.
"Aku sudah menikah, dan aku mencintai istriku." ucap David yang sontak membuat Mika terbelalak.
Tubuhnya melemas, aliran darahnya terasa berhenti, namun yang lebih mendominasi adalah rasa tidak terima dan amarah yang sudah berkobar didalam dirinya.
"Setega itu kamu?" Mika merintih. "Aku berjuang melawan penyakit ku agar tetap hidup, tapi kamu asik menjalin cinta dengan wanita lain!"
"Maaf, tapi aku yakin ada pria baik yang akan menerima mu."
"Padahal aku ingin benar-benar sembuh walau itu mustahil, ingin menjalani hari-hari bersama mu di akhir usiaku, dan banyak keinginan lainnya, bahkan aku mengharapkan cuci darah Minggu depan bisa ditemani kamu, David!" Mika menangis sejadi-jadinya.
"Maaf." hanya itu yang bisa David ucapkan.
Mika terus merintih, ketika rasa sesak kini memenuhi dada dan relung hatinya yang bahkan sudah hancur berkeping-keping.
"Pergilah, pulang dan temui istrimu." cicit Mika.
"Aku akan mengantarmu pulang!"
Mika menjawab dengan gelengan kepala.
"Tidak usah, biarkan aku seperti ini!"
David mengangguk.
"Baiklah," katanya lalu bangkit, dan segera melangkahkan kaki.
"Hemm .. pergilah, akan kupastikan kau tenggelam dalam rasa bersalah mu! David." Mika bergumam, menyusul kedua pipinya yang basah dengan tissue, lalu menyeringai.
"Dia pikir aku akan diam? tentu tidak!" katanya lagi.
...••••••...
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya. Klik favorite untuk notifikasi setiap update eps terbaru.
...Instagram: @_anggika15...
~Sayang kalian~
~Makanan khas Korea dengan cita rasa pedas ini terbuat dari seafood, tofu, telur, dan sayur. Sundubu jjiagae memiliki kuah bercita rasa pedas. Seperti makanan Korea lainnya, rasa pedas yang muncul di makanan ini berasal dari gochujang atau pasta cabai khas Korea dan gochugaru atau cabai bubuk. Menu ini cocok untuk dinikmati saat musim hujan, karena bisa memberikan sensasi hangat di tubuh.~