
...••••••...
Lima hari setelah pernikahannya dengan seorang pria yang ia kenal sebagai asisten dari suami bosnya (Anna).
Jam baru saja menunjukan pukul setengah tujuh pagi, namun Sisil sudah selesai memasak, menata nasi dan telur dadar sebagai lauknya di atas meja makan.
"Sudah rapih? mau kemana?!" Alvaro menatap Sisil dari atas sampai bawah, lalu duduk di kursi meja makan.
Sisil tersenyum.
"Hari ini saya masuk kerja, Pak." Sisil menjawab, kemudian meletakan piring berisi nasi di hadapan Alvaro.
"Telur dadar lagi!?" pria itu menjengit.
Sisil duduk tepat dihadapan Alvaro, dia kembali tersenyum dan menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kenapa? nanti saya bisulan kalau makan telur terus. Kemarin ceplok, sekarang dadar! sesekali masaklah ayam pepes."
"Isi kulkas cuma telur pak, jadi aku masak yang ada saja."
Seketika Alvaro menghentikan kegiatan makanya, lalu melirik lemari pendingin yang berada tidak jauh dari sana.
"Kita belum belanja yah?"
Sisil mengendikan kedua bahunya bersamaan, lalu melanjutkan makannya dengan sangat lahap.
"Baiklah nanti aku akan mampir ke swalayan."
Sisil tidak menjawab, prempuan itu hanya fokus kepada nasi dan telur dadar miliknya, sampai suasana kembali terasa hening, hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar.
Tidak ada yang spesial di setiap harinya, bahkan mereka terkesan hidup masing-masing. Tidur terpisah, tidak terlalu banyak obrolan, bahkan Alvaro terkesan lebih cuek. Dia hanya bangun, menyapa, pergi bekerja, lalu pulang dan tidur.
Begitu saja terus setiap hari.
"Kamu berangkat pakai apa?" Alvaro kembali bertanya.
"Pakai taksi!" jawab Sisil singkat.
"Bukanya tidak punya uang yah!?" pria itu kembali bertanya.
Sisil mengangguk.
"Terus bagaimana bayarnya?"
"Ngutang!"
"Ngutang? memang bisa?"
Nih orang tumben bawel, biasan ham Hem ham hem doang! pikir Sisil.
"Sisil? kalo saya nanya itu di jawab!"
"Ya itu di jawab, bapak aja yang banyak nanya!" Sisil mendelik.
Alvaro mengehela nafasnya kasar, lalu merogoh dompet di dalam saku celananya.
"Ini, ... ongkos sama buat jajan kamu. Saya nggak bisa anter, ada beberapa jadwal meeting yang tidak bisa pak David hadiri."
Sisil menatap tangan Alvaro cukup lama.
"Ambil!" cicit pria itu.
"Di bikin nota nggak nih? hutang aku kebanyakan nanti!"
"Kalo nggak sanggup bayar, bisa bayar pakai yang lain ... ehh maksudku itu em apa! dicicil, iya di cicil!" pria itu gelagapan.
Astaga Alvaro, kepala elu isinya kenapa itu mulu. Baru sekali lu liat Sisil, itupun nggak sadar, tapai kenapa pas liat dia malah semakin penasaran!
Alvaro berbicara didalam hati.
"Yasudah, saya berangkat duluan kalau begitu pak." Sisil meraih beberapa lembar uang yang suaminya berikan.
"Papay!" katanya lalu melambaikan tangan kepada Alvaro.
Pria itu hanya diam membisu, apalagi saat melihat Sisil tersenyum.
Gadis itu memang manis!
Hatinya berbicara, mulut Alvaro menganga, dengan mata yang terus tertuju kepada Sisil yang mulai menjauh, lalu menghilang saat dia keluar dan pintu apartemen kembali tertutup.
(Awas encesnya netes bang) para readers berteriak.
...•••••...
"Hey, sudah bangun?" David yang tengah duduk di sofa kamarnya menatap Balqis yang terlihat bangkit.
Wajah sembab dengan mata yang masih tertutup itu mengangguk, lalu turun dari atas tempat tidur berjalan jalan kearah pintu.
"Sayang kau cari Mama? dia masih tidur lihatlah!" David kembali memanggil putrinya.
Balqis kembali menoleh, dengan tangan yang sudah terletak diatas handle pintu.
"Mau ke kamar Nenek sama Kakek ah!" suaranya serak, lalu keluar begitu saja.
David menatap Balqis seperti linglung, bahkan dia mengerjap beberapa kali.
"Kenapa akhir-akhir ini Balqis selalu pergi pagi-pagi sekali ke kamar ayah dan ibu?!" dia menjengit, David bingung.
David menutup laptop di pangkuannya, kemudian dia bangkit dan segera berjalan kearah pintu.
Pria itu menyeringai.
"Sayang, bangun!" David berteriak.
Gulungan selimut itu menggeliat, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Mas!" Anna memekik saat tangan David tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Cup!
"Ayok!" David berbisik.
"Kemana? aku kesiangan lagi yah?"
"Mau disini atau di bathtub?" tanya David yang sudah mulai mengecup daun telinga dan segera turun ke tengkuk.
"Balqis mana?" Anna meraba sisi kosong di sampingnya.
David menarik lengan Anna, sampai posisi prempuan itu kini ada dibawah kungkungan nya.
"Kita aman, negara api tidak akan menyerang lagi. Sepertinya ibu mempunyai sesuatu sampai gadis kecil kita pergi hampir setiap pagi!" David tersenyum, namun tampak menyeramkan.
Lalu tanpa menunggu lebih lama, David menarik kaos rumahan yang dikenakannya, membungkuk dan meraih belayah kenyal yang selalu menggodanya setiap saat.
Anna yang juga menginginkan hal yang sama pun mulai memeluk pundak David erat, sambil terus membalas setiap permainan yang David berika.
Suara decapan mulai terdengar jelas, begitupun dengan hembusan nafas keduanya yang mulai memburu.
Tangan David menelusup di area bawah Anna, menyingkap gaun tidurnya lebih keatas.
"Emmmhhh!" erangan Anna mulai terdengar saat David mengusap pahanya dan lebih keatas.
"Are you ready darling?" David menempelkan kening keduanya.
Anna mengangguk, lalu mendorong dada David, namun pria itu menahannya.
"Kali ini aku yang buka!" David segera menarik gaun tidur itu, dan terlihatlah tubuh polos tanpa selehai benang pun.
Tubuh yang terlihat sedikit berisi, dada sintal, dengan kulit yang terlihat putih mulus, namun ada sedikit bekas luka di perut bagian bawah Anna.
David membuka sisa kain yang menempel ditubuhnya, lalu kembali mencumbui Anna.
Berawal dari kening, turung ke bibir, lalu beralih ke pipi dan terus turun kerahang, lalu menyesap puncak buah dada Anna saat David menemukannya.
"Ahhh sayang!" Anna sedikit menjerit saat David menggigitnya nakal.
Cup!
David mencium singkat bibir Anna.
"Apa bekas luka ini akan kembali terbuka, kalau perut mu membesar lagi nanti?!" David mengusap bekas luka operasi di perut Anna.
"Tidak akan!" prempuan itu menggigit bibir bawahnya.
"Argghhh ... kau selalu nakal!" David menggeram.
Pria itu sudah terlihat tidak sabar, begitupun Anna, prempuan itu terlihat sudah pasrah dibawah sana.
David menarik paha Anna, menyiapkan diri, menarik lalu menekuk dan menekan paha Anna, kemudian mengarahkan senjata miliknya.
Pria itu mulai mendorong pinggungnya perlahan, sampai membuat Anna menggeliat, dengan mata yang terpejam dan mulut yang sedikit menganga.
"Jangan ditahan, kamar kita aman dari segala macam suara sayang. Termasuk Des*han mu!" David berbisik, lalu mengigit daun telinga istrinya.
"Mmhh .. mas? kita menikah hampir satu bulan, ta-tapi kenapa rasanya masih sesak dan ... Ahhhh ....
Anna berhenti berbicara saat David mulai berpacu di atas tubuhnya. Menghentakan pinggul dengan sangat kencang, sampai membuat Anna menjerit dan meneriakkan namanya.
Pria itu menyeringai, saat melihat wajah Anna yang tampak memerah, dengan peluh yang mulai bercucuran.
"Nggghhh ... mas!!"
"Iya sayang!" David menggeram.
Tubuh Anna terus menggeliat, bergarak tidak tau arah ketika hentakan yang David berikan semakin intens.
"David kau membuatku gila!" Anna berteriak.
"I'm done baby!" David menggeram kencang, dan setelah beberapa detik kemudian dia berhenti, setelah menyemburkan bibir unggulnya.
David kembali menyatukan kening kedunya dengan nafas yang sudah tersenggal-senggal.
Pria itu menjauhkan pandangannya, menatap Anna yang masih memejamkan mata.
David tersenyum, menyusut keringat di kening Anna, lalu membungkuk untuk meraih bibir itu yang sedikit terbuka.
Cup!
"I love you more than anything."
ucap pria itu, lalu bangkit dan membawa tubuh Anna kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
...••••••...
Yang penganten Saha? yang hot jeletot Saha! 🥴
Yaudahlah gusy ... 3eps lagi untuk hari ini, jangan lupa like, komen, hadiah dan vote ya cuyung-cuyung nya author ...