My Ex Husband

My Ex Husband
Piknik Keluarga?



Pagi hari tepat pukul 6, Haleth dibangunkan oleh suara ricuh yang berasal dari luar kamarnya. Haleth tak tau tepatnya dimana. Tetapi, wanita itu sukses buka mata dan terbangun dari ranjang.


Sebelum tinggalkan kamar, Haleth memakai robe satin untuk lapisi gaun tidurnya. Memakai sandal, lantas keluar dari kamar. Haleth langkahkan kaki menuju sumber suara, dan tangkap figur Adam yang tengah mengajak Tasha bermain.


Wanita itu sontak berhenti berjalan, tatap lamat-lamat kedua orang yang sebelumnya tak ada di rumahnya itu.


"Kok pagi-pagi sudah di sini?" tanya Haleth buka suara.


Anak dan Ayah itu reflek hentikan aktivitas, tolehkan kepala secara bersamaan untuk tatap Haleth yang berdiri tak jauh dari keduanya. Tasha serukan tawa, berlari dan berhambur ke pelukan sang Ibu.


"Momy! Ayo kita jalan-jalan!" Tasha memekik antusias.


Adam berjalan mendekati Haleth, lantas usap puncak kepala putrinya. "Cuacanya akan cukup hangat hari ini." katanya.


Tasha anggukkan kepalanya, mendongak tatap Haleth dengan penuh harap.


"Momy, ikut kan? Momy libur hari ini."


Terdiam, Haleth tak ada alasan apapun untuk menolak. Akhir-akhir ini jadwalnya cukup padat, hingga jarang sekali ada waktu bermain dengan Tasha. Beruntung ada Adam, jadi putrinya itu tidak akan merasa bosan.


Berhubung Haleth juga tidak ada yang harus dilakukan, mungkin tidak ada salahnya mengiyakan ajakan Tasha. Daripada harus habiskan waktu di rumah, bisa-bisa Haleth mati bosan.


"Baik kalau begitu. Momy, siap-siap dulu. Okay?"


Senyum Tasha mengembang. Gadis kecil itu anggukkan kepala dengan semangat dan lepaskan pelukannya pada sang Ibu.


Melihat Haleth yang telah pergi ke kamarnya, Tasha pun kemudian melompat ke gendongan Adam.


"Daddy! Momy ikut kita jalan-jalan!" gadis kecil itu memekik namun dengan nada berbisik.


Adam hanya berikan senyuman hangat. Melihat Tasha yang terlihat begitu senang, buat Adam ingin sekali mempercepat rencananya.


Setelah Haleth selesai bersiap-siap, mereka pun bergegas pergi setelah pamit pada Emery. Tentu saja melihat keluarga kecil yang sempat pecah itu kini perlahan menyatu, buat Emery bahagia bukan main. Wanita itu tak akan berhenti berikan dukungan sampai keduanya kembali memulai hubungan.


......***......


Disepanjang perjalanan, Haleth dan Adam hanya dengarkan semua cerita Tasha yang duduk di jok belakang. Gadis kecil itu tak berhenti berceloteh dari awal mobil yang Adam kendarai keluar dari pelataran rumah Haleth, hingga kini mulai dekat dengan tujuan. Karena tak mau rasa senang Tasha luntur, keduanya pun biarkan putri mereka lepaskan semua uneg-unegnya.


Tak lama, mereka pun sampai di sebuah taman yang cukup ramai. Sebelum keluar, Haleth terlebih dahulu beralih pada Tasha.


"Pakai mantelnya. Meskipun Daddy bilang cuacanya sedang hangat, sewaktu-waktu bisa berubah karena musim dingin sudah dekat." pesannya.


Tasha mengangguk-angguk. "Iya Momy." jawabnya lantas dahului orang tuanya keluar dari mobil.


Haleth pun bergegas, hendak susul Tasha. Namun Adam tahan tangan Haleth, yang buat Haleth urungkan niatnya.


"Rapatkan mantelnya. Jangan sampai kedinginan." pesan Adam seperti saat Haleth berpesan pada Tasha.


Haleth sontak saja terkekeh, lantas kancing kan mantelnya yang semula masih terbuka.


"Sudah. Aku harus bergegas menyusul Tasha, atau dia akan hilang dari pandanganku." ujar Haleth kemudian keluar tinggalkan Adam sendirian di mobil.


Tanpa Haleth tau, Adam menggeram gemas tatap perginya wanita tersebut. Usap kasar wajahnya yang memanas, dan berusaha netral kan kembali degup jantungnya yang berpacu.


Sedangkan itu, Haleth tak lepas atensinya dari Tasha yang berlarian di bawah pohon-pohon yang mulai berwarna kemerahan daun-daunnya. Wanita itu hanya duduk di salah satu bangku taman yang kosong, seraya rasakan sinar matahari yang tidak terlalu terik, namun masih terasa hawa dingin dari sekitar.


Bibirnya hanya tarik senyuman saat Adam temani Tasha. Hatelh rasakan dadanya menghangat. Ia bisa lihat tawa lepas Tasha yang jarang Haleth lihat. Apalagi saat di mobil tadi, gadis itu begitu banyak bicara. Tidak seperti saat Haleth mengajak Tasha makan malam berdua diluar, sebelum Adam kembali ke California. Haleth ingat betul, Tasha tidak pernah talkative saat bersamanya. Tetapi begitu bersama Adam, atau saat mereka menghabiskan waktu bertiga seperti ini, Tasha pasti akan berubah menjadi gadis ceria, dengan senyum yang tak pernah hilang, dan juga manja.


Haleth Hela nafasnya. Ia bingung, mengapa putrinya, yang berada di rahimnya selama 9 bulan 10 hari, dan hidup bersamanya hingga gadis itu mulai tumbuh besar, tidak bisa menjadi dirinya sendiri saat bersamanya. Padahal, Haleth sudah berusaha keras untuk jadi Ibu tunggal yang baik untuk Tasha. Mandiri mencari uang untuk hidupi putri satu-satunya. Bahkan Haleth sempatkan diri jemput Tasha sekolah saat jam makan siangnya.


Sebenarnya, apa yang kurang? Apa yang buat Haleth merasa, bahwa dirinya belum cukup baik untuk Tasha?


"Momy?"


Haleth tersadar dari lamunan ketika dengar suara Tasha yang melantun lembut memanggilnya. Haleth dongakkan kepala, lihat Tasha yang terengah di gendongan Adam.


"Ya Sayang?"


"Momy kenapa? Dingin ya?" tanya Tasha.


Haleth gelengkan kepala seraya tersenyum. "Tidak kok Tasha. Mama hanya senang lihat kamu bermain bersama Daddy. Kok sudah selesai?"


"Hng," Tasha gulirkan pandangannya, dan tunjuk sebuah food truck yang cukup ramai di seberang lokasi mereka. "Tasha mau hotdog? Boleh?"


Haleth reflek ikuti arah tunjukan Tasha, dan mengangguk. "Tentu saja boleh. Mau beli dengan Daddy?"


"No. Tasha mau beli sendiri."


"Okay then," Adam turunkan Tasha dari gendongannya, lalu keluarkan dompet dan beri Tasha selembar uang seratus dollar. "Beli beberapa. Atau Tasha ingin beli yang lain, beli saja." titah pria tersebut.


"Of course. Kapan lagi Momy izinkan Tasha?"


Mengangguk antusias, Tasha lantas berlari menuju jejeran food truck di taman tersebut.


Sementara Adam dan Haleth, mereka hanya perhatikan Tasha dari posisi semula. Haleth menggeser posisi duduknya, dan tarik mantel yang Adam kenakkan.


"Duduklah," katanya.


Keduanya kemudian diliputi rasa canggung. Haleth tak alihkan atensi dari Tasha, sedang Adam sesekali pandangi Haleth di sampingnya.


Entah perasaannya saja atau memang benar, Haleth menjadi berbeda setelah peristiwa itu terjadi. Tak bosan untuk membahas, karena Adam seolah mulai diterima kembali di hidup Haleth. Tentu saja itu membuat Adam merasa senang, tak diragukan lagi. Apalagi bisa pergi bertiga seperti ini, seperti kembali menjadi keluarga yang sangat harmonis. Adam, menginginkannya.


Ingin kembali hidup bersama dengan wanita disampingnya ini.


"Haleth?"


"Ya?" wanita itu sontak menoleh pada Adam.


"Jika kau libur lagi, mau pergi bertiga seperti ini lagi?"


"Boleh boleh saja," jawab Haleth seraya angguki tawaran pria disampingnya tersebut.


"Kalau ke Abu Dhabi, mau?"


Kening Haleth mengernyit karena terkejut. Haleth bingung. Apa-apaan tawaran gila itu?


"Beberapa hari yang lalu Tasha bilang padaku, 'Daddy, Tasha ingin ke rumah Daddy yang jauh itu dengan Momy juga'. Tapi aku selalu berpikir, kau pasti akan menolaknya karena sibuk di rumah sakit." terang Adam.


Helath tak bisa menahan untuk tidak terkekeh. Haleth melirik ke arah dimana Tasha berada untuk beberapa detik, sebelum kembali fokus pada Adam.


"Tentu saja aku akan menolaknya. Selain membutuhkan Niel, rumah sakit juga sangat membutuhkanku." ungkap Haleth.


"Maka dari itu aku ingin mengambil alih rumah sakit itu,"


"Aku sudah memperingati mu tentang itu, Adam."


Alih-alih memalingkan pandangan, Haleth justru tantang kilatan netra kecoklatan itu. Namun sedetik kemudian Haleth terkekeh kecil kala pergoki Adam tak menatap netra nya, dan justru turunkan pandangan ke arah bibir Haleth. Haleth tau, karena tak lama setelah itu, tangan Adam terulur untuk usap sebentar permukaan bibir Haleth yang merah tanpa polesan apapun.


"May I kiss you?" izin Adam kembali lekat tatap mata wanita dihadapannya itu.


Sedikit terkejut, Haleth kemudian lirik keadaan di taman.


"Ada banyak anak kecil di tempat ini," katanya.


"C'mon. Just for a sec,"


Haleth rotasi bola matanya. "Okay. Just for a sec?"


Adam sontak tersenyum. Ia tarik dagu Haleth perlahan, saling mendekat satu sama lain sampai jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa senti saja.


"Yeah, just for a second," bisik Adam sebelum mempertemukan bibirnya dengan bibir Haleth.


Kedua pasang netra itu saling terpejam, nikmati perasaan asing yang menyerang Haleth serta Adam. Meski hanya sebatas kecupan dan ******* yang tak lebih dari 10 detik, Haleth sukses dibuat meremang. Haleth gigit bibir dalamnya seraya ubah posisi duduk, guna lihat Tasha yang sudah tak lagi di dekat food truck.


Haleth berdeham, lantas rentangkan tangannya pada Tasha yang mendekat.


"Hei? Sudah beli hotdog nya?" tanya Haleth.


Tasha anggukkan kepala, perlihatkan hotdog dan beberapa makanan cepat saji lainnya di kantung yang Tasha bawa.


"It's okay, Momy?"


"Yeah! No problem, Tasha. Tasha mau makan disini?"


"No," geleng Tasha. "Let's go home Momy, Daddy," pintanya.


"Tidak ingin disini dulu?" tanya Adam.


"Mm, no," jawab Tasha.


"Oh, okay. Let's go then," sahut Haleth lantas berdiri.


Disusul Adam, pria itu kemudian rangkul pinggang Haleth yang sontak buat wanita itu terkejut. Haleth menatap tajam ke arah Adam, peringatkan Adam tentang keberadaan Tasha yang berjalan terlebih dahulu.


Namun Adam abai, tersenyum seduktif pada mantan istrinya tersebut dan mendekat.


"Hei. Mau melanjutkannya di rumah?"