My Ex Husband

My Ex Husband
Tidak menyangka.



...•••••...


Berberapa Minggu kemudian.


Suasana pagi hari di kediaman Bu Ningsih sudah terlihat cukup ramai, dengan kedatangan Faiqa, Anis dan juga Ratmi.


Mereka terlihat sudah disibukan dengan tugas masing-masing yang Bu Ningsih berikan.


Ada Faiqa yang sedang mengupas bawang merah, Anis yang mengupas bawang putih, Ratmi yang memisahkan cabai dari tangkainya. Sementara Bu Ningsih, dia sibuk membersihkan dan memotong cumi sotong menjadi beberapa bagian.


"Selamat pagi!" Sisil datang menghampiri.


Sontak semua mata tertuju kepada gadis itu.


"Lho, mbak Sisil nggak jagain Balqis?" Anis bertanya.


Sisil tersenyum, lalu ikut bergabung bersama mereka.


"Pak David nyuruh saya ngerjain ini dulu, tapi entah apa tugas saya. Bu Anna belum bilang!" jelas Sisil.


Anis dan Faiqa hanya mengangguk.


Dengan cepat Sisil membawa pisau, lalu membantu Faiqa mengupas bawang merah.


"Kenapa nggak di suruh jagain Balqis lagi mbak? di berhentiin pak David atau bagaimana?" Faiqa menolah, menatap Sisil yang sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Katanya nanti saya kembali, tapi kalo Aqis udah mau punya adek!" jelas Sisil santai.


Namun berbeda dengan dua prempuan disampingnya, mereka terlihat membulatkan mata.


"Adek? emangnya Bu Anna udah nikah lagi? sama siapa?" cecar Anis, prempuan itu terlihat sangat penasaran.


"Ohh, ... kalian nggak tau yah? kalo Bu Anna rujuk sama Pak David, kurang lebih dua Minggu mereka kembali bersama." Ratmi menjawab.


Anis dan Faiqa diam, dengan tatapan terus tertuju kepada Sisil.


"Serius!?" ucap mereka bersamaan.


"Mbak-mbak ini kenapa sih? biasa aja kali, wajar kalo mereka milih rujuk, karena ada Balqis." Ratmi menimpali.


"Nggak bukan gitu mbak Ratmi, kita cuma kaget ... setelah lima tahun mereka pisah, akhirnya bersatu lagi!" sahut Anis.


"Yah, kasian dong Syaif! padahal dia berharap sama Bu ....


Ucapan Faiqa tertahan saat suara motor datang, dan berhenti tepat di depan pintu, hingga semua menoleh, dan menatap kearah luar.


Deg!


Sisil menatap sosok pria tampan yang sedang berdiri dan mengaitkan helm yang sudah di lepaskan nya.


"Eh .. kok langsung kesini? bukannya kerumah ibu dulu ambil toplesnya!" Anis berdiri, kemudian berjalan mendekat kearah pria itu.


"Katanya kesini dulu, toplesnya nanti Bu Anna yang antar kesini."


Anis mengangguk, lalu dia kembali ke dalam bersama Syaif yang berjalan di belakangnya.


"Selamat pagi?"


Pria itu berdiri di ambang pintu, menyapa setiap orang yang ada di sana dengan senyum hangatnya seperti biasa.


Sementara Sisil hanya diam, tubuhnya membeku dengan pandangan mata yang terkunci pada pria tinggi yang baru saja tiba di kediamannya.


"Mbak Sisil selamat pagi!" Syaif menatapnya.


"Hemm ... awh!" Sisil langsung menjatuhkan pisaunya begitu saja, kemudian berlari kearah washtafel.


Syaif menjengit.


"Lah kenapa?" pria itu bingung.


"Kamu hati-hati, piasau itu masih tajem-tajem! baru ibu beli soalnya," kata Bu Ningsih yang berusaha membantu darah yang mengalir di jemari Sisil berhenti.


"Haduh! tunggu sebentar, ibu bawain Betadine sama plaster dulu!" cicit Bu Ningsih.


Sisil terus berdiri di hadapan wastafel, menyimpan tangannya disana, karena darah di jemari Sisil tak berhenti menetes.


Begitupun dengan Syaif yang merasa bingung, dia hanya terus berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang terus tertuju kepada Sisil.


"Aip, sini!" Faiqa menepuk sisi kosong disampingnya.


"Oh ... iya!" katanya, lalu masuk dan duduk di tempat Sisil duduk tadi.


"Nanti Bu Anna kesini?" Faiqa bertanya.


"Iya, tadinya mau pagi-pagi. Tapi mau hadirin pemakaman ... siapa yah? sodara atau apa tadi lupa!" kata Syaif.


"Sodara Bu Anna ada yang meninggal? bukannya Bu Anna udah ngga ada keluarga yah?" sambung Anis.


"Nggak tau, nggak banyak nanya gue!"


Mending kerja jagain Balqis, kerja bareng om Aip agak susah!


Sisil membatin.


"Ini plasternya, cepat di pakai atau darah kamu habis!" Bu Ningsih terlihat sedikit panik.


"Ibu lebay ... cuma luka kecil!" Sisil menatap ibunya.


"Luka kecil bagaimana? itu darah sampe nggak berhenti netes lho. Lain kali kalo kerja jangan sambil ngelamun! sini jarinya, pakein Betadine dulu!" Bu Ningsih mengomel, lalu meraih tangan Sisil.


"Ish .. perih ya Bu!" Sisil meringis.


"Lain kali harus lebih hati-hati,"


Bu Ningsih mengangguk. " Yasudah, nanti kalo majikan kamu datang ibu kasih tau yah," wanita itu tersenyum, lalu mengusap punggung Sisil.


...••••...


"Langsung ke rumah Bu Ningsih?" tanya Anna saat ia memasuki mobil.


David yang sudah duduk di kursi kemudi pun mengangguk, lalu membuka kaca mata hitam dan meletakkannya.


"Hhh ... aku tidak menyangka dia akan pulang secepat ini!" David menghela nafasnya, dengan mata memandang lurus kedepan.


Dimana banyaknya orang berlalu lalang, ketika acara pemakaman sudah selesai.


"Umur seseorang memang misteri, itu rahasia Tuhan mas. Kita doakan saja, semoga mbak Dira di tempatkan di tempat yang paling indah." kata Anna.


"Baiklah ... kita harus cepat, habis mengantar mu aku harus segera kekantor, Alvaro tidak akan masuk sampai beberapa hari kedepan!" katanya lalu menghidupkan mesin mobil, dan mulai melaju perlahan.


"Apa mereka masih saudara mas? kok aku nggak tau yah? kalo kedekatan mereka aku tau sih, bahkan pas Alvaro nyebunyiin pernikahan kalian saja ... aku sempat berpikir mungkin mbak Dira dan Alvaro ada sesuatu yang aku nggak tau!"


David diam, pandangannya terus fokus kedepan.


"Papa? Mama nanya lho?"


Seketika David menoleh.


"Kau tau, mereka ternyata mantan kekasih. Bahkan hubungannya masih terjalin sampai Dira menjadi kekasih ku!" jelas David dengan suara pelan.


"Jadi ... kalian!? astaga ini rumit."


"Aku juga baru tau ... sekarang aku jadi merasa bersalah kepada Alvaro!"


Anna diam.


"Mungkin Al sakit hati, kita nggak tau kan?" David menoleh, menatap Anna.


"Mas sudah minta maaf?"


"Belum!"


"Nanti katakanlah maaf, dimaafkan atau tidak itu urusan dia nanti. Yang penting mas ada itikad baik."


Pria itu mengangguk.


"Jika kamu merasa sakit hati karena kejadian dulu, tolong di maafkan yah. Kasian dia Ann!"


"Sudah aku maafkan."


Anna tersenyum, lalu menepuk bahu David.


"Jangan melow ah, wajah kamu jelek kalo cemberut!"


"Kau belajar dari Balqis, atau Balqis yang belajar dari mu?" David mendengus sebal.


Sementara Anna tertawa sangat kencang, saat melihat suaminya kesal.


"Sayang, besok kamu pulang jam berapa?" Anna bertanya.


"Nggak tau, kenapa memangnya?"


"Kita ada undangan makan malam dari Rika, katanya syukuran pernikahan Rika beberapa Minggu lalu."


"Kalo nggak sibuk aku pulang sore seperti biasa, kalo sibuk ya .. pulang terlambat!"


"Yasudah, aku berangkat sama Balqis saja." Anna ketus.


"Aku bilang nggak tau, siapa tau besok senggang."


"Ya kalo kamu nggak bisa pun, aku pasti berangkatlah!"


"Nggak ada! pernikahan kita itu tidak ada yang tau, bagaimana kalau beberapa dari mereka mengira kamu masih single!?"


"Aku dateng pokonya!"


"Tanpa aku tidak boleh?"


"Boleh!"


"No!"


"Boleh Papa, dia sahabat aku. Bahkan dia bantuin aku pas lagi hamil sampai melahirkan!"


David menoleh, saat Anna berkata seperti itu.


"Rika tau?"


Anna mengangguk.


"Kenapa pas aku mencari mu, dia malah bilang tidak tau!?" David menjengit.


"Nanti aku jelaskan, sekarang ayok kerumah Bu Ningsih dulu!"


Tidak ada jawaban lagi dari David, pria itu terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan raut wajah yang tampak sedikit masam.


...•••••...


Jangan lupa like, kome, dan hadiahnya cuyung ... Klik favorite juga jangan lupa, agar notifikasinya berbunyi saat othor update eps terbaru.


Boleh bantu share? readers othor merosot : )


Ig. @_anggika15