
...•••••...
Beberapa jam sebelumnya.
Sedan hitam milik Alvaro terlihat menepi, kemudian berbelok dan berhenti tepat dihalaman rumah yang tidak lain adalah rumah kedua orang tuanya Sisil, prempuan yang sudah masuk kedalam hidupnya beberapa hari belakangan ini.
Wajahnya berbinar, begitupun dengan dada pria itu yang terus berdebar lebih kencang, dia merasa bahagia, namun entah apa penyebabnya.
Mungkin karena hari ini langit terlihat cerah, pikir Alvaro.
"Bu, Sisil ada?" Alvaro berdiri di ambang pintu.
Ningsih berbarlik arah, begitupun dengan Anis, Ratmi dan juga Faiqa yang langsung menoleh kearah Alvaro berdiri.
Kemeja putih berlengan panjang yang sengaja ia lipat hingga sikut lengannya, dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, membuat Alavro berbeda dari sebelumnya, dimana ia menikahi Sisil dengan kaos dan celana pendek.
Uwidih, cakepan ini depan belakang atas bawah sih ... dari pada Syaif. Kata Ratmi dalam hati.
"Masuk Al, ibu bikinkan kopi!" sambut ibu mertuanya ramah.
"Al cari Sisil Bu, ada? tadi sempet ke rumah pak David, tapi kata Bu Anna. Sisil disini." ungkap David kepada Ningsih.
"Oh begitu, tapi Sisil sekarang di rumahnya neng Anna. Lagi list orderan hari ini, buat di kirim besok." jelas Ningsih kepada menantunya.
Alvaro diam sesaat, dia tampak bingung sampai menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Ayok masuk dulu, nanti sore Sisil kembali. Apalagi kalau kerjaannya lebih cepat selesai, dia pasti pulang lebih awal." kata Ningsih lagi.
"Iya mas, sini masuk dulu!" kata Ratmi.
Alvaro tersenyum samar.
"Kalau begitu, Al nyusulin Sisil aja ya Bu."
"Nggak masuk dulu?"
"Kayanya nggak, Al cuma mau ngajak makan siang bareng, udah itu kembali ke kantor." kata pria itu kepada ibu dari istrinya.
"Yasudah, hati-hati! nanti kapan-kapan menginaplah disini Al."
"Iya Bu." sahutnya sebelu Alvaro memasuki mobil.
Ningsih mengangguk, dia berdiri terus diambang pintu, melihat mobil menatunnya yang mulai berjalan mundur, dan melesat setelah berada di jalan raya.
"Romantis banget nggak sih? bela-belain dari kantor mau ketemu mbak Sisil, terus ngajakin makan siang bareng. Unch .. jadi pengen akutuh!" ujar Faiqa.
"Heh .. istigfar ukhty!" Anis menepuk kepala temannya cukup kencang.
"Iya iya, astaghfirullah!" katanya yang langsung membuat semua orang tertawa.
...••••...
Sebelum menyusul Sisil yang kini sedang bekerja, Alvaro memutuskan untuk singgah di suatu kedai makanan yang sering ia datangi dulu, bahkan menjadi salah satu restoran favorit pria itu.
"Mas paket nasi ayam menteganya dua yah? take away." Alvaro memesan.
Seorang pelayan pria yang tengah berdiri dihadapan Alvaro pun mengangguk.
Sekitar 25 menit menunggu, akhirnya Alvaro kembali, berjalan kearah mobilnya dengan plastik yang berisi dua kota nasi ayam mentega yang Alvaro pesankan untuk istrinya.
Dia masuk kedalam mobil, menyimpan makanan di kursi sampingnya, dan segera beranjak.
Wajah pria itu terus tampak berbinar, dengan kedua sudut bibir yang terus memperlihatkan senyuman hangat. Entah kenapa, namun hatinya terus berdesir dan rasa aneh itu terus memenuhi relung hatinya.
Namun raut wajahnya seketika muram, senyumannya pudar, saat ia melihat seorang prempuan berjalan menyebrangi jalan bersama seorang pria.
Mereka terlihat cukup akrab, sampai Sisil yang sesalalu terlilah kaku dan cuek kepadanya menampilkan sisi lain.
Dia terus berbicara, bahkan mereka tampak tertawa bersama.
Rahangnya mengeras, nafasnya pun memburu, saat melihat Sisil bersikap lebih bersahabat dengan pria lain, dibandingkan dirinya.
"Jadi ini alasan mu ingin bercerai saat kau tidak hamil!" Alvaro tersenyum kecut.
"Padahal jelaskan saja, kalau ada sosok pria idaman yang kau harapkan, dan tentunya dia jauh lebih muda dari ku!" Alvaro menggeram.
Hhhh!
Pria itu menghela nafasnya pelan, saat punggungnya bersandar di sandaran kursi, dengan mata yang juga Al pejamkan.
Tiba-tiba saja!
Tok .. tok ..
Prempuan itu tampak sedikit membungkuk.
Alvaro membuka kaca mobilnya.
"Bapak kesini?" dia bertanya.
Sisil mematung, dia menatap bungkusan itu lalu kembali menatap wajah Alvaro yang sedikit tidak enak di pandang.
"Di bela-belain jauh dari kantor ke rumah ibu, eh malah berduaan disini!" Alvaro ketus.
"Dih ... bapak aneh hari ini!" Sisil menjengit .
"Ambilah makan siang mu, saya akan kembali ke kantor."
"Kok dua?" ucapnya penuh tanya saat Sisil meraih kantong plastik bening berisi dua kotak makanan.
"Tadinya saya mau makan bareng kamu, kasian tadi pagi cuma makan telur dadar. Eh malah asik ketawa-ketiwi sama orang lain! awas ... saya berangkat lagi!"
Dengan perasaan gundah gulana Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya beberapa kali menatap spion, melihat Sisil yang masih berdiri mematung disana, namun seorang pria datang menghampiri setelah beberapa saat.
"Hah ... perkiraan cuaca hatiku ini tidak menentu, tadi cerah berpelangi. Tiba-tiba hujan lebat ada petirnya pulak." Alvaro menggerutu.
...•••••...
klek!
Sisil tiba di apartemen Alvaro pada hampir jam delapan malam. Matanya meneliti sekitar, saat suasana sunyi memenuhi ruangan itu.
"Ck! istri macam apa baru pulang selarut ini? nggak mikirin apa, suaminya laper apa nggak!" Alvaro berdiri di ambang pintu kamar, dengan kedua tangan yang ia lipat di atas dada.
Sisil tersentak, dia menatap Alvaro penuh tanya.
"Bapak sudah makan?" dia gugup.
"Menurut mu? apa aku sudah makan?"
Aku? tumben aku akuan! ucap Sisil dalam hati.
"Kalau begitu saya mandi dulu! habis itu baru masak!" kata Sisil yang hendak masuk kedalam kamar, namun pria itu halangi.
"Kau dilarang masuk, sebelum membersihkan diri dari najis yang teman pria mu tularkan!"
Sisil diam, seraya menatap netra berwarna hitam lekat pria dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat.
"Ayoklah pak, aku cape habis kirim pesanan ke jasa pengiriman. Jadi biarkan aku mandi, masak lalu beristirahat." Sisil sedikit merengek.
"Mandilah di kamar mandi bekalang, katakan baju mana yang mau kau pakai, nanti aku simpan di sofa .. kau tidak di bolehkan masuk kamar malam ini!"
Deg!
"Lah, kok begitu? salah aku apa sampe bapak hukum aku kaya gini?!"
"Tidak ada, kau hanya tidak bisa menjadi istri yang berbakti kepada suamimu!"
Sisil menghembuskan nafasnya kasar.
"Ini tuh apa sih? tiba-tiba bahasannya tentang suami istri. Padahal kita bisanya juga cuek, nggak pernah mempermasalahkan kewajiban istri itu apa! dan begitupun sebaliknya!" cecar gadis itu.
Alvaro mendekat satu langkah, sampai keduanya kini hanya berjarak beberapa senti saja.
"Karena aku suami mu, dan kau istri sah ku!" katanya pelan namun penuh penekanan.
"Haduh, kita nikah juga karena musibah!" ujar Sisil, prempuan itu bicara penuh ejekan sampai membuat Alvaro terlihat semakin naik pitam.
"Bapak ingat? tidak ada hiasan, tidak ada perhiasan, apalagi cincin dan kue pengantin. Kita hanya sedang menjalani drama bukan? bahkan kita menulis sebuah perjanjian, ... tidak beda jauh dengan pernikahan yang suka tertulis didalam sebuah novel." Sisil tersenyum miris.
Pria itu mendengus, lalu berjalan kearah kamar, membuka nakas dan kembali kepada Sisil yang masih berdiri di posisi yang sama.
"Perjanjian ini maksud mu?!" Alvaro berteriak.
Srrrtttt!!
Alvaro merobek kertas itu di hadapan muka istrinya sendiri.
"Ini permintaan mu, ini keinginan mu dan aku akan memusnahkannya. Tidak ada perjanjanjian, dan tidak akan pernah ada perceraian ... ada ataupun tida anak ku dalam rahim mu!" pria itu benar-benar terlihat marah, matanya memerah dengan dada yang terlihat naik turun saat nafasnya terdengar memburu.
Sisil mematung, dia terkejut dengan sikap Alvaro malam ini.
"Masuk dan mandilah, aku yang akan menyiapkan makan malam!" katanya dingin.
Dengan cepat dia beranjak, berjalan kearah dapur tanpa menoleh kearah Sisil sedikit pun.
"Gara-gara Nutri Sari sama Makaroni basah ini mah fiks, banteng jadi ngamuk!" umpat Sisil sambil berjalan masuk, dan mengusak rambutnya frustasi.
"Aku tidak tuli Sisil!" suara teriakan itu menggema.
Sisil segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu berlari kearah kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat.
...••••••...
Banteng ngamuk ya guys!
Jangan lupa like, komen, sama kasih hadiah lah yang banyak : )