My Ex Husband

My Ex Husband
(Mie rebus)



...••••••...


Plip ... klek!


Pintu apartemen itu tampak terbuka. Dan munculah sosok cantik, berjalan gontai memasuki apartemen yang sudah tiga hari lamanya ia tinggalkan.


Sisil meletakan Tote bag yang Anna berikan untuk dirinya, sebagai hadiah karena sudah bersedia menemani Balqis dan meninggalkan Alvaro suaminya untuk beberapa hari.


Prempuan itu merebahkan tubuh di sofa ruang tengah, merentangkan otot-otot yang terasa pegal dengan mata yang memandang lurus ke arah kaca luar.


Hamparan langit yang sangat luas, dihiasi awan berwarna kuning keemasan membuat suasana sore hari ini terasa lebih syahdu.


Sisil meraih tas kecil miliknya, merogoh sesuatu dan membawanya keluar.


Dia menatap sebuah layar ponsel yang menyala, mencari kontak milik suaminya dan segera menghubungi pria itu.


Tuutt ...


Tuutt ...


Tuutt ...


Ia menjauhkan ponselnya dari telinga, menatap layar itu sendu saat panggilannya tidak di jawab oleh Alvaro.


"Ck! ish ... kenapa nggak di angkat? masa masih kesel aja, udah lewat tiga hari lho ini!" Sisil bergumam.


Prempuan itu tidak mau menyerah, dia kembali menekan tombol hijau, lalu mendekatkannya kembali kearah daun telinga.


Nihil, pria itu masih tidak menjawab panggilan suara dari Sisil, meski prempuan itu sudah mencoba beberapa kali.


Sisil menghela nafasnya kasar, kemudian meletakan ponselnya kembali. Dia beralih menatap sebuah bingkisan yang Anna berikan.


Ini untuk mu, semoga Al tidak akan kesal lagi karena kamu meninggalkannya beberapa hari ini, pakailah untuk menyenangkan hati suamimu!


Sisil mengingat pesan Anna.


Dia membawa keluar sebuah kotak berukuran sedikit besar, dengan pita yang melilit menghiasi kota tersebut.


"Apa ini?" Sisil meneliti, seraya membaca sebuah tulisan.


Happy wedding Naisilla & Alvaro.


Dengan tidak sabar Sisil membuka pita, beralih kearah tutup kotak. Tampaklah sepasang jubah mandi berwarna hitam, juga handuk kecil yang berwarna senada.


"Tau aja bu Anna kita lagi sering mandi!" ucapnya pelan lalu terkikit geli.


"Eh .. masih ada!" Sisil cukup terkejut saat melihat gulungan sebuah kain yang juga di lilit dengan pita.


Sisil meletakan jubah mandinya terlebih dulu, kemudian segera membuka gulungan kain berwarna hitam tersebut.


Sisil menjengit, dia menatap bingung saat kain itu ia rentangkan.


"Apa ini!" Sisil menjengit.


"Hih ... apa ini? masker atau apa?" dia metap sehelai G-string berwana hitam, lalu meraih gulungan kain satunya lagi.


"Owh, lingerie toh! jadi bukan masker dong yah! Ahahahaha." Sisil tertawa terbahak-bahak.


"Ah, memangnya aku pantas memakai baju se-seksi ini? ku rasa tubuh ku tidak sebagus itu." Sisil kembali bergumam, sambil terus menatap kain berbahan tipis tersebut.


"Di kasih tiga warna dengan model berbeda pulak, aku nggak yakin bisa pakai lingerie ini." Sisil bermonolog.


Dengan cepat dia memasukan semua kembali kedalam Tote bag, dan membawanya kearah kamar.


"Serius? Abang benar-benar sibuk! sampai kamar bekas tidurnya tidak di rapihkan!" Sisil menatap tidak percaya, ruangan yang selalu terlihat rapih kini terlihat seperti kapal pecah.


Bantal dan guling terletak di sembarang arah, begitupun dengan beberapa pakaian kotor milik Alvaro.


Sisil memejamkan mata sesaat.


"Semangat Sisil, ini rumah kamu juga sekarang, dan buatlah kembali senyaman kemarin-kemarin, oke!" dia menyemangati dirinya sendirim


Dengan tenaga yang sedikit tersisa, Sisil langsung merapikan ruangan itu. Mengganti seprai dan sarung bantal maupun guling, memunguti setiap pakaian kotor yang tergeletak begitu saja, lalu menyapu dan mengepel nya sampai ruangan itu kembali terlihat rapih dan wangi tentunya.


Hal yang sama Sisil lakukan di bagian apartemen lainnya, seperti ruang tengah dan dapur. Bahkan prempuan itu memasak nasi dan beberapa lauk, sebelum ia benar-benar membersihkan diri.


"Huh .. akhirnya selesai!" wajah Sisil tampak memerah, begitupun dengan peluh yang terlihat bercucuran dari atas kepala membasahi kening.


"Tinggal mandilah!" katanya seraya menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul tujuh malam.


"Jangan pulang dulu ya Abang, Sisil mau luluran dulu. Oh iya Sisil .. Abang nggak bakalan pulang cepet!" cicit Sisil kemudian di tertawa pelan dan segera menutup pintu kamar mandinya.


...•••••...


Malam merangkak semakin larut, bahkan suasana kantor sudah terasa sangat sepi, namun sosok pria tinggi itu masih betah duduk di kursi kerjanya dengan layar laptop yang terus menyala.


Alvaro meraih ponselnya yang sedang ia charger, kemudian menekan tombol power sampai layar ponselnya menyala.


Dia menatap ada beberapa panggilan masuk dari Sisil, menatapnya sesaat kemudian menyimpannya ke atas meja kembali.


"Tidak ada gunanya jika itu hanya untuk mengabari ku kalau kamu tidak akan pulang lagi! tetaplah disana, sampai kau merasa bosan dan merindukan sosok suami mu ini!" pria itu menggerutu.


Alvaro menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, lalu menggeliat saat tubuhnya mulai terasa kaku.


Kepalanya terasa pusing, perutnya lapar, begitupun dengan stamina tubuh yang mulai menurun.


Alvaro kembali menegakan duduknya, lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan.


"Lebih baik aku pulang, dan mengerjakan desainnya di rumah saja!" pria itu bergumam.


Dia bangkit, merapihkan semua barang bawaannya, kemudian meraih jas yang sudah terletak di atas sandaran kursi sejak tadi.


Langkah kaki Alvaro mulai beranjak, mematikan lampu, dan meninggalkan meja kerja miliknya untuk segera pulang.


...•••••...


Sekitar satu jam Alvaro melaju di jalanan kota, menatap keramaian dunia malam dari dalam mobil, akhirnya dia sampai lalu memarkirkan mobilnya di basemen seperti biasa.


Pria itu keluar, membawa jas di lengannya lalu berjalan kearah pintu lift.


Beberapa kali Alvaro terlihat mendongak, memejamkan mata saat rasa kantuk terus menyeruak hampir tidak bisa ia tahan.


Ting!


Dentingan suara lift membuat matanya kembali terbuka. Dengan cepat Alvaro beranjak keluar, dan berjalan gontai kearah pintu unit apartemennya.


Astaga aku sangat lelah.


Tidak ada yang spesial seperti biasa, kini seseorang yang selalu menunggu kedatangannya juga sedang sibuk mengurus putri asuhnya kembali.


Hhh.


Alvaro mengelah nafas lagi saat dia berdiri tepat di hadapan pintu apartemen itu, menekan beberapa tombol sampai pintu itu terbuka.


Pria itu tertegung saat menangkap sosok prempuan yang berdiri di ambang pintu, menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Kenapa baru pulang? ini hampir jam sebelas malam tau!" Sisil meraih tas kerja suaminya, juga jas yang langsung ia bawa kedalam kamar, sementara Alvaro berjalan pelan mengekor di belakang istrinya.


"Kamu baru pulang juga?" Al bertanya, menatap istrinya lekat.


"Tidak, aku sudah mengerjakan banyak hal. Merapikan kamar, ruang tengah, dapur dan juga memasak." jelas Sisil, dia kembali berjalan kearah suaminya berdiri.


"Ish ... mukanya di tekuk, nggak seneng yah kalau aku pulang?!" Sisil memeluk tubuh kekar itu.


Alvaro hanya diam, dia mencari rasa lelah dan kantuk yang tiba-tiba menghilang entah kemana.


"Awas aku mau mandi, aku lelah .. lapar dan sudah itu mau tidur!"


Pria itu mendorong tubuh Sisil, kemudian masuk kedalam kamar mandi begitu saja dengan raut wajah yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata.


Sisil diam saat melihat Alvaro yang masih terlihat kesal kepada dirinya, namun di beberapa saat kemudian dia menyeringai.


"Yakin bisa tidur!" cicitnya seraya memincingkan mata, kemudian tertawa.


Sekitar tiga puluh menit Sisil menunggu suaminya di ruang tengah, namun pria itu tak kunjung menampakan batang hidungnya, hingga Sisil memnutusakan untuk menyusul kedalam kamar.


Dan disanalah Alvaro, duduk di sofa kamar, dengan laptop yang berada di atas pangkuannya.


"Aku tungguin lho! kok nggak nyamperin?" ucap Sisil sambil terus berjalan mendekat.


Kemudian ia duduk, tepat disamping suaminya.


"Tidurlah, aku masih ada pekerjaan." Alvaro terlihat cuek.


Sisil diam.


Alvaro menoleh, memandang Sisil sesaat lalu kembali menatap layar laptop, yang memperlihatkan hasil desainnya.


"Pakailah baju mu, untuk apa masih memakai bathrobe! padahal rambut kamu sudah terlihat kering."


Ah, kesalnya susah di sembuhkan yah.


Batin Sisil.


"Mau kopi?" tanya Sisil pelan, bahkan terdengar lembut.


"Tidak!"


"Air putih hangat?


"Tidak!"


"Diamlah Sisil, kau membuat konsentrasi ku buyar!" dia memekik.


Seketika Sisil diam, mengulum bibirnya kuat dengan pandangan yang saling beradu.


"Tidurlah, aku sedang berusaha menyelesaikannya dengan cepat agar ...


Suara Alvaro terhenti saat Sisil tiba-tiba saja merebut laptop dan menyimpannya di atas meja yang berada tidak jauh dari sofa.


"Naisill ...


Dia tertegung saat prepuan itu duduk mengangkang diatas pangkuannya.


"Apa? diamlah, aku sedang berusaha meredam kemarahan suamiku ku!" Sisil terlihat menantang.


Alvaro diam.


"Aku hanya ingin menunjukan sesuatu. Sesudah ini Abang mau kerja atau mau apapun boleh!" Sisil berbisik.


Dia meraih tangan Alvaro, menuntunya sampai menyentuh tali bathrobe dan menariknya perlahan hingga memperlihatkan sebuah baju tidur berenda tipis berwarna hitam.


Alvaro menatap wajah Sisil dan belahan dada perempuan itu bergantian.


Kulit putih mulus, bibir merah alami dengan rambut yang dibiarkan terurai begitu saja.


Dia sedang menggoda ku? sungguh?


Batin Alvaro penuh tanya.


Cup!


Cup!


Cup!


Sisil memberikan beberapa kali ciuman basah dibibir Alvaro.


"Jangan marah-marah terus .. sudah bagus di wajah Abang itu nggak ada kerutannya!" Sisil mengukir wajah tampan dihadapannya.


Alvaro masih diam.


"Yasudah, Abang boleh lanjut kerja." Sisil mulai bergerak bangkit, namun tangan Alvaro menahan pinggangnya.


"Sa-sayang aku .. aku lapar mau makan." Al gelagapan, pria itu berusaha menarik kesadarannya yang pergi entah kemana hanya karena melihat balutan pakaian minim yang membungkus tubuh istrinya.


Sisil berhenti bergerak, dia menatap nertra hitam kelam milik suaminya, kemudian tersenyum menggoda.


Tangan Sisil meraih bahu Alvaro, melilitnya erat sampai tidak ada jarak diantara keduanya.


"Mau makan?" Sisil berbisik.


Alvaro mengangguk.


"Makan malam atau makan aku!?"


Sisil berbisik tepat di daun telinganya.


"Ahh ... kau nakal!" Alvaro menggeram dengan kedua mata yang tampak tertutup.


Sisil menjauhkan wajahnya, dia kembali tersenyum saat melihat Al mulai tersulut gairah yang Sisil berikan.


Mata pria itu pelahan terbuka, dan dengan tidak sabarnya Alvaro menarik tengkuk Sisil, hingga bibir keduanya bertemu.


Mereka saling memangut dengan perlahan, menyalurkan rasa rindu yang tertahan sampai beberapa malam.


"Aku merindukan mu, Naisilla!" ucap Al saat menjeda cumbuannya.


"Tapi Abang malah marah-marah!" Sisil menatap mata itu sendu.


Alvaro tersenyum.


"Maaf, aku tidak kesal padamu, tapi kesal pada pekerjaan ku." Al melukis wajah prempuan yang duduk di pangkuannya.


"Hmmmm .. Abang sudah aku maafkan."


Alvaro gemas, dia menarik bathrobe yang masih menempel di tubuh Sisil sampai terlepas, lalu dia memangku tubuh itu, membawanya keatas tempat tidur.


Dengan tidak sabar Alvaro menarik kaos polos miliknya, kemudian beralih kepada celana panjang, dan pakaian lainnya sampai dia polos tanpa sehelai benang pun.


Sisil menatap pria itu penuh kagum.


Alvaro mulai naik, membungkukkan tubuhnya dan segera meraih bibir Sisil kembali, menyesapnya perlahan dan mulai menggila di beberapa detik berikutnya.


Suara decapan mulai terdengar, bersahutan dengan deru nafas keduanya yang sudah sama-sama memburu.


Sisil merintih, lalu men*esah saat ciuman Al turun ke leher, dan berakhir di atas puncak buah dadanya ketika gaun tidur itu menyingkap lebih keatas.


Alvaro menariknya kasar, melemparnya kesegala arah, sampai membuat tubuh bagian atas Sisil polos tanpa sehelai benang pun seperti dirinya.


"Dari mana kau mendapatkan baju ini? bahkan kau berani sekali memakai G-string ini!" pria itu memegangi talinya, sampai kembali membuat Sisil memejamkan mata.


"Kau nakal malam ini, kau menantang ku bukan?"


Suara itu rendah dan penuh penekanan.


Sisil mengangguk.


"Aku hanya ingin membuat Abang senang." kata Sisil.


"Yah .. dan aku akan menghajar mu malam ini!"


"Kalau begitu, ayok kita mulai." Sisil merengek manja.


Alvaro tersenyum, lalu menarik kain terakhir yang masih menutupi gerbang surga dunia miliknya.


Alvaro menarik paha mulus istrinya, menatanya sedemikian rupa, juga membukanya cukup lebar kemudian menekan dengan kedua tangan, saat milinya mulai terbenam.


Sisil menjengit, matanya terpejam dengan mulut yang terbuka.


Oh dia sangat menggoda!


Perlahan pria itu mulai memaju-mundurkan pinggulnya perlahan, dan samar suara desa*an Sisil pun mulai terdengar.


Satu tangannya bertumbu di atas tempat tidur, sementara tangan yang lain menggerayang nakal, mengusap dan menyentuh setiap inci tubuh milik istrinya.


"Ahhh ... Abang ... pelan-pelan!"


Sisil berteriak, saat Alvaro mempercepat temponya.


Alvaro tersenyum, dia menggelangkan kepala.


"Nggghhh aku ...


"Ya .. lepaskan saja, agar kau segera mendapatkan kenikmatan itu." nafasnya mulai tersengal-senggal.


"Ohh .. faster please!" Sisil merintih, dia menatap suaminya penuh permohonan.


Namun Alvaro tidak menuruti keinginan istrinya. Dia justru berhenti sampai membuat Sisil men*esah frustasi.


"Abang!"


Alvaro tersenyum, dia mengubah posisi. Membuat Sisil memunggunginya, dan kembali menerjangnya dengan sangat kencang dari arah belakang.


Sisil menjerit, lalu menggigit bantal dan mencengkram kuat kain di bawahnya.


"Abaang please stop!!" dia merintih.


"Ahhhhh ...


Alvaro menggeram, memukul beberapa kali bagian tubuh yang terlihat sangat menggoda di hadapannya, sampai meninggalkan bekas kemeraha.


"Abang ... nghhhh ..


"Aku selesai sayang!" Alvaro menggeram kuat, bahkan matanya terpejam saat miliknya menghujam kuat dengan sesuatu yang ikut keluar dari tubuhnya, memenuhi rahim Sisil.


Cengkaraman itu mulai terlepas, nafasnya tersenggal-senggal, dengan peluh yang bercucuran sampai membasahi kelopak mata yang tertutup.


"You lost dear!" Alvaro tersenyum puas.


Sementara prempuan itu diam, tenaganya benar-benar habis saat menghadapi permainan suaminya malam ini.


"Abang, lutut ku!" Sisil merintih pelan.


"Tidak apa, kamu hanya belum terbiasa!" sahut Alvaro dengan kekehan pelannya.


"Aku lelah, aku lemas dan aku lapar!" keluh Sisil.


"Ayok bersihkan diri, nanti aku buatkan mie rebus." tukas Alvaro, dia bangkit dan meninggalkan Sisil setelah menyelimuti tubuh polos istrinya terlebih dulu.


Hah .. ini luar biasa! gumam Sisil, dia tersenyum.


...••••••...


Nah loh!


Jangan lupa yah! mata othor perih ini. Like sama komen, yang ada mawar atau kopi boleh lempar yah : )


Jangan lupa klik favorite untuk notifikasi eps terbaru.


~Papayo, semoga mimpi pedes ngahaha~