
...•••••••...
Mata Sisil mulai mengerjap, tubuhnya menggeliat, kemudian mengulurkan tangan kearah nakas, dan meraih ponsel yang berada di atas sana.
"Jam sembilan." prempuan itu bergumam, dia bangkit, berusaha mengusir kantuk dengan mengusak kedua bola matanya.
Sisil menyibakan selimut, perlahan dia juga menyingkirkan tangan Alvaro yang terus memeluk pinggangnya sejak semalam.
"Kemana?" suara pria itu terdengar parau.
Sisil yang kini sudah bangkit dan duduk di tepi ranjang pun menoleh, melihat kearah Alvaro yang tampak masih memejamkan matanya.
"Sudah siang, Sisil mau masak sarapan dululah!" ucapnya.
Alvaro membuka matanya sesaat, dia bergeser lebih mendekat lalu memeluk perut istrinya dari belakang dan kembali memejamkan matanya.
"Abang masih ngantuk." Alvaro bergumam.
"Yasudah, Abang tidur saja! biar Sisil yang masak ... nanti Sisil bangunin kalo udah mateng." dia mengusap tangan itu lembut, kemudian memberinya sedikit tepukan kecil.
"Nonono .. nggak boleh kemana-mana, cuma boleh tiduran nemenin Abang bobo!" pria itu merengek manja.
Sisil menggeleng-gelengkan kepala, lalu dia tersenyum, saat sikap suaminya itu terasa lebih manja dari pada biasanya.
"Apa Abang tidak lapar? kalo aku lapar. Bayangkan, kita pacaran dari sore, malam terus sampai tadi pagi."
Kekehan pelan Alvaro terdengar, sampai membuat Sisil memutar tubuh, dan kembali berbaring sampai wajah mereka saling berhadapan.
Alvaro kembali membuka matanya perlahan, menatap Sisil dengan pandangan sayu karena rasa kantuk yang tidak kunjung menghilang.
Keduanya saling memandang, lalu tersenyum.
Alvaro kembali mendekatkan diri sampai kening keduanya saling menempel.
"Ahh .. Abang ingin bertanya, boleh?" kata Al pelan.
"Tanya saja!" Sisil mengangguka kepalanya.
"Satu bulan lebih kita menikah, .. tapi belum ada ungkapan cinta dari mulut mu!"
Prempuan itu menjengit.
"Ah masa!" sergah Sisil.
"Hu'um."
Alvaro merubah posisinya, kini dia duduk dan memandang Sisil yang masih merebahkan tubuhnya.
"Tunggu!" katanya, lalu dia turun dan meraih kaos hitam tanpa lengan dan segera kembali naik keatas tempat tidur.
Alvaro duduk bersila di hadapan Sisil, pria itu terus tersenyum saat menatap wajah pucat tanpa riasan namun terlihat sangat cantik.
"Jadi bagaimana? apa kamu sudah mencintai Abang?" Alvaro bertanya.
Sisil diam.
"Naisilla, apa kamu mencintai ku?" pria itu kembali bertanya.
Namun Sisil tetap diam, menatap netra suaminya lekat dengan tatapan bingung.
Kini Alvaro ikut berbaring, meraih tangan Sisil untuk digenggamnya.
"Hey ...
"Aku ... nggak tau!" Sisil menggelengkan kepalanya.
Alvaro tertegung.
Keadaan hening untuk beberapa saat.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu? dan kita melakukan banyak hal karena kamu merasa ini adalah kewajiban kamu kepada aku, suami mu?!"
"Ish Abang ini!" Sisil menepuk bahu suaminya kencang. "Aku nggak pernah pacaran, jadi nggak tau cinta itu gimana? apaa .. cinta sama suka itu sama kah?"
Alvaro tampak berpikir, dia juga terlihat sedikit bingung atas apa yang Sisil tanyakan.
"Biasanya kalau cinta itu pasti suka, tapi kalau suka itu belum tentu cinta." katanya ragu-ragu.
Sisil mengangguk pelan.
"Kaya aku ke bang Syaif yah, eh ..!" prempuan itu langsung menutup mulutnya.
Mendengar pernyataan Sisil membuat Alvaro membulatkan mata.
"Emmm .. maksud aku!"
"Hhhah!" Alvaro menghembusakan nafasnya kasar.
Dia melepaskan pautan tangannya di tangan Sisil, lalu bangkit, turun dari atas tempat tidur dan meninggalkan Sisil yang masih berbaring.
"Abang!" dia memanggil, namun pria itu tetap pergi tanpa menjawab panggilan istrinya.
Aih keceplosan deh .. nggak niat padahal!
Ucap Sisil dalam hati, lalu dia bangkit dan segera turun dari atas tempat tidur untuk menyusul Alvaro yang terlihat sedikit merajuk.
Sisil berlari kearah ruang tengah, namun Alvaro tidak ada disana, sampai ia kembali melangkahkan kaki ke arah dapur.
Dan di sanalah pria tinggi dengan tubuh yang terlihat sedikit berotot, berdiri di depan lemari pendingin, lalu menutupnya setelah dia mengeluarkan kotak sereal dan susu.
Sekilas dia melirik saat merasakan keberadaan Sisil, lalu kembali pada kotak serealnya.
"Biar Sisil ambilin mangkuknya." dengan cepat Sisil mendekat kearah laci, menariknya lalu membawa mangkuk berukuran sedang.
Alvaro mengangguk dan menerima mangkuk yang Sisil berikan.
"Kalo kamu mau sarapan masaklah, saya tidak akan lama, habis ini mau nge-gym." katanya tanpa menoleh kearah Sisil sedikitpun.
Saya? wah kalo Abang bilang kaya gitu udah siaga satu! batin Sisil berbicara.
"Nggak ngajak aku?" Sisil mendekat.
Alvaro tidak menjawab, dia duduk lalu mulai menyantap serealnya tanpa menawari Sisil terlebih dulu.
"Ih Abang!" Sisil meregak.
"Kenapa?" Alvaro menoleh.
"Abang ngeselin!" Sisil cemberut. "Aku kan nggak sengaja, kok marah sih? nggak seru ah, dikit-dikit marah .. nggak jauh beda sama pak David, malah Abang lebih parah!"
Sisil beranjak pergi, dia memutuskan untuk kembali kedalam kamar, menutupnya rapat lalu menguncinya dari dalam.
Sisil menjatuhkan dirinya kembali keatas tempat tidur, tiba-tiba saja dia menangis. Entah kenapa, namun jelas dia merasa kesal saat Alvaro berbicara ingin pergi ke tempat gym.
"Abang jahat!" dia berbisik.
Ceklek!
"Sisil buka pintunya!" Alvaro berteriak.
"Nggak mau, sana aja pergi. Liatin cewe-cewe seksi!" Sisil berteriak.
"Iya buka dulu!"
"Nggak mau, sana aja pergi nge-gym!"
"Iya tapi Abang harus ganti baju!"
"Aih."
Bug!
Sisil memukul bantal, lalu dia bangkit dan berjalan kearah pintu.
Trek .. klek
Sisil kembali berjalan kearah tempat tidur, dan menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
Sementara Alvaro mematung diambang pintu, menatap Sisil dengan tatapan bingung sampai kedua alisnya menjengit keras.
"Kamu tidak mau Abang pergi?" Alvaro mendekat.
Sisil tidak menjawab.
"Sayang, Abang tidak akan pergi kalau kamu tidak mengizinkan!"
Namun Sisil tetap diam, kemudian terdengarlah suara rintihan pelan.
Dia menangis?
"Pergilah, tapi nanti Abang pulang aku nggak ada lagi disini. Aku mau pulang ke rumah ibu!" suaranya mendengung.
Sisil terus menyembunyikan wajahnya di balik selimut, namun beberapa detik kemudian tempat tidur itu terasa bergerak, dan sesuatu terasa mendekap tubuhnya.
"Ancaman mu sangat menyeramkan!" Alvaro berbisik.
"Aku nggak ngancam, aku izin!" suara Sisil bergetar saat menahan suara rintihannya.
Tangan Alvaro menarik selimut yang kini menutupi seluruh tubuh istrinya, tampaklah wajah memerah dengan air mata yang bercucuran.
"Kamu menangis?" katanya sambil tertawa kencang.
Tangan Sisil langsung mendongor pipi suaminya.
"Sana pergi!" cicit Sisil.
Namun perkataan itu semakin membuat Alvaro tergelak, sampai pria itu mendongakan kepala.
"Seneng banget liat aku nangis." Sisil menyusut ingus dengan selimut.
"Kamu ini jorok sekali!"
"Biarin, .. mau pake baju Abang juga susah!" katanya.
"Kau sangat menggemaskan!" Alvaro berujar, kemudian dia mencium pipi Sisil beberapa kali.
"Ish .. pergi sana, ngapain cium-cium!" Sisil berusaha menjauhkan wajah Alvaro dari dirinya.
"Ayok pergi bersama."
"Nggak mau, aku nggak biasa nge-gym!"
"Bukan, kita pergi kerumah Papa sama Mama saja .. Nova sudah sering menanyakan dirimu."
Sisil beralih menatap Al.
"Nova?"
Alvaro mengangguk.
"Belum apa-apa dia sudah terlihat sangat menyukai mu .. aneh! seharusnya dia bersikap jutek dulu bukan?"
"Kamu ngaco!"
"Tidak, ... aku tampan."
"Dih narsis!"
Dan Alvaro diam, d tersenyum samar kemudian ..
Cup!
"Bisa diam? semakin banyak bicara, maka semakin gemas aku padamu!"
"Oke .. oke, kita harus bersiap agar bisa berangkat lebih cepat."
Dengan cepat Sisil bangkit, meninggalkan Alvaro.
Aku tau akan terjadi apa jika aku tidak menghindar.
"Sayang mau kemana?"
"Mau beresin ruang tengah, mandilah atau bantu aku merapihkan tempat tidur!"
"Tidak mau melakukan sesuatu?" Alvaro terus berteriak.
"Tidak Ayank, terimakasih."
"Hhhhas astaga, otaku isinya tentang itu semua." Alvaro bergumam.
Dia bangkit, dan segera merapihkan tempat tidurnya sesuai permintaan Sisil.
...•••••...
Jangan lupa!
Like, komen, hadiah, dan vote juga yah : )
Klik favorite jangan lupa!
Btw othor masih demam, nulis cuma buat kalian, sesayang itu othor sama kalian.
~Cuyung kalian~