
...•••••...
"Astaga, ini sangat membosankan!" keluh Sisil.
Wanita itu terus bergerak-gerak, mengubah posisi terus menerus. Dari duduk tegap, bersandar, lalu merebahkan tubuh di atas sofa, dengan tivi yang terlihat menyala.
Dengan segera Sisil meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja di hadapannya.
Sisil terlihat menekan layar ponselnya beberapakali lalu mendekatkan benda itu kearah daun telinganya.
Tuutt ...
—Ya sayang, kenapa?
Suara Alvaro terdengar lebih dulu menyapa.
"Abang, aku mau ke rumah ibu, boleh?" dia membuat suaranya selembut mungkin.
—Kerumah ibu! mau apa?
Pria itu balik bertanya.
"Aku bosan berdiam diri terus di apartemen, jadi ... boleh yah aku ke rumah ibu, nanti malem Abang jemput aku pulang!" kata Sisil lagi.
—Lebih baik kamu kesini menyusul ku, kalau kerumah ibu, nanti kamu bertemu dengan bocah tengil itu, dan .. Abang tidak suka, sayang."
"Aku hanya diam di kamar kalau dia datang. Boleh ya?" rengekan manja prempuan itu keluar, bak senjata ampuh yang selalu dia gunakan.
Hening.
"Sayang?"
Pria itu masih diam.
"Abaang sayang ... boleh yah? bayinya bosan, mau jalan-jalan."
—Hhhhh (Alvaro menghela nafas). Baiklah, jangan macam-macam, nanti aku jemput ke rumah ibu.
Senyuman di bibir Sisi terbit.
"Aih sayangnya ..."
—Jika kau macam-macam, nakal dan berbicara dengan bocah itu. Lihat saja! hukuman apa yang akan ku berikan, dan itu akan membuatmu menyesalinya.
"Ancaman mu menyeramkan."
—Aku tidak mengancam, hanya memperingati saja!
"Apa bedanya?" Sisil bedecak sebal.
—Pergilah, hati-hatilah. Jaga diri dan bayi kita, oke?
"Iya, Papa bawel!"
—Hmmm ... aku tutup yah? kerjaan ku masih banyak, ada beberapa desain yang harus aku selesaikan hari ini.
"I love you."
—I love love love .. you too.
"Papayo!"
—Ya ...
Suara Alvaro terdengar sangat rendah, lalu sambungan telfon itu terputus. Dengan raut wajah berbinar, Sisil meletakan kembali ponselnya diatas meja, lalu beranjak kearah pintu kamar untuk segera berganti pakaian dan pergi kerumah orang tuanya.
...••••...
"Hey, udah lama?" tanya Anna kepada sahabatnya yang kini sudah duduk menunggu, seraya menyesap jus strawberry yang berada di hadapannya.
Rika tersenyum, dia menggerakan tangan. Mengisyaratkan Anna agar segera mendekat.
"Udah gede aja tu perut!" ujar Rika.
"Udah lima belas Minggu, wajar kalo perut gue udah mulai membulat." balas Anna sembari menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu berlapis busa.
Rika mengangguk, dia menggeser kursinya agar lebih mendekat.
"Hey ponakan Onti." Rika mengusap perut Anna.
"Gue udah di pesenin minum?" Anna bertanya.
"Udah, setelah jus gue dateng gue baru pesen ... abisnya lu lama, di tanya mau minum apa aja kagak jawab-jawab!" cicit Rika.
"Kan di bales."
"Iya ... tapi itu barusan, pas elu turun dari mobil."
"Nyetir nggak boleh pegang hape tau!"
"Dih, ngeles aja terus." Rika mendelik.
"Jadi ngajak ketemu cuma buat berantem nih?!" todong Anna, dia memincingkan mata.
Rika menggelengkan kepala dengan cepat.
"Eh, tapi kangen juga bikin elu kesel." katanya jujur.
Rika tergelak kencang, sampai membuat beberapa orang di sampingnya menoleh, menatap heran kearah mereka berdua.
"Berisik lu, anjir!" Anna menepuk paha sahabatnya kencang.
"Maaf!" dia ikut berbisik.
Tidak lama setelah itu seorang pelayan datang, membawa sebuah nampan dengan segelas jus jambu di atasnya.
"Sama-sama ka, ada pesanan lain?"
"Tidak terimakasih." kini Anna yang menjawab.
Pria itu mengangguk, kemudian pergi.
"Serius lu nggak mau makan sesuatu?" Rika menatap Anna.
"Nggak usah, minum aja."
Rika kembali menganggukan kepalanya pelan.
Anna meraih gelas minuman miliknya, lalu menyesapnya perlahan.
"Ann, waktu om David hamil .. eh maksud gue saat Lo hamil, om David gimana?"
"Gimana, apanya?" Anna kembali bertanya, lalu menggeser gelasnya minuman itu agar sedikit lebih menjauh.
"Itu! Emmm ... dia mual muntah nggak?"
Anna tampak berpikir, kemudian menggelengkan kepala setelah beberapa saat.
"Nggak ada, hanya tidak suka makanan tertentu saja. Contohnya sup daging, aneh bukan! padahal itu salah satu makanan yang tidak pernah dia tolak ... tapi sekarang dia tidak mau memakannya! katanya sih, enek gitu." jelas Anna panjang lebar.
Rika yang mendengar penuturan Anna hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Kenapa memangnya? ada sesuatu? atau Edgar mengalami gejala seperti prempuan hamil?" cecar Anna.
Wanita itu tersenyum, wajahnya berbinar dengan mata membulat yang terus menatap Rika lekat.
"Ish, aku nggak mau berharap lebih!" Rika menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
"Perikasain aja dulu." kata Anna.
"Nggak mau, ogah!" sergah Rika.
Sahabat itu melipat kedua tangannya di atas dada.
"Dih masa begitu! periksalah. Setidaknya kamu bisa menjaganya jika dia sudah ada di rahim kita, kau tau? Sisil juga sudah hamil sekarang!" ujar Anna, dia terlihat sangat bahagia.
Deg!
Rika tertegung, sampai membuat kedua bola matanya membulat.
"Sisil, hamil!?" Rika berteriak.
Prempuan itu terkejut.
"Pelankan suaramu, besti!" cicit Anna.
"Siapa yang menghamili dia, Ann? kau harus mencari dan menghajarnya, dia gadis lugu ... astaga pria mana yang berani berbuat sekeji itu!" ucap Rika tidak percaya.
Anna menepuk keningnya kencang.
"Aku lupa jika pernikahan Sisil, hanya kita dan keluarganya yang tau."
"Menikah? astaga syukurlah, aku tidak tega jika dia di hamili pria hidung belang."
"Hidung Alvaro nggak belang sih! kalo mancung, iya." ucap Anna, kemudian dia terkekeh.
"Kepala garong nya tokcer, bisa langsung membuahi telur Sisil." Rika ikut terkekeh.
"Yang rajinlah bikinnya, nanti juga ke cetak sendiri!"
"Edgar sibuk di toko terus, ... dia pergi pagi pulang malam." Rika mengaduk-aduk minumannya.
Raut wajah prempuan itu terlihat muram, dan guratan kesedihan jelas terlihat.
"Para pria memang seperti itu Rik. Suami gue juga sama, kadang tengah malam dia baru balik."
"Hemmm ... Edgar cuek setelah menikah, tapi akhir-akhir ini agak nempel terus sih." wajah Rika sendu.
"Kan emang cuek dia itu!"
"Iya, tapi setelah menikah malah semakin cuek. Dia kalo pulang kerja, ya pulang aja .. walau gue kebangun, nggak taulah! aku sedih kalo inget sikapnya."
"Tapi nggak sampe berantem kan?" Anna bertanya.
"Sekarang nggak, tapi awal-awal berantem. Gue mau perhatian dari dia, sementara dianya nggak bisa ... yaudah sekarang gue mulai membiasakan diri!" jelas Rika.
Anna tersenyum, dia menggerakan tanganya, lalu menepu bahu Rika pelan.
"Maka buatlah dia tidak bisa jauh dan mengabaikan elu Rik. Cari apa kelemahannya, mungkin dia gitu karena terlalu percaya sama elu, coba sesekali dibikin cemburu!" Anna menggerakan kedua alisnya.
"Apa gue harus jadiin Fajar kambing hitam lagi yah?"
"Dih kasian banget dia."
"Ya tapi Edgar pernah cemburu sama Fajar, kayanya seru kalo dia cemburu lagi .. bikin masalah sesekali nggak apa-apa kayanya."
Anna memutar bola matanya, lalu menghembusakan nafas pelan seraya menggelengkan kepala.
"Demen banget lu nyari gara-gara."
"Btw ini usulan dari lu, Ann!" Rika membela diri.
"Iyaa deh iya! semoga Edgar kebakaran jenggot dah." Anna mengamini.
...••••••...
Jangan lupa like, komen ....