
"Untuk check up selanjutnya, anda bisa kemari 3 hari lagi. Untuk hari ini, mungkin itu saja saran dari saya, Mrs White."
"Baik Mrs Haleth. Kalau begitu, saya pamit."
Haleth berjalan menuju pintu dan membukanya. Pertemuannya dengan Mrs White berakhir untuk hari ini, dan Haleth hanya bisa menatap langkah Mrs White yang perlahan menjauh hingga tak lagi tertangkap oleh matanya.
Usai menutup pintu, Haleth kembali menduduki kursinya dan tanpa sengaja melihat lunch box yang beberapa menit lalu dibawakan oleh Adam. Haleth mengernyit.
"Sepertinya aku memang harus memakan sup nya untuk meminimalisir mabuk ku," gumamnya lantas meraih telepon untuk menghubungi area resepsionis.
"Selamat pagi. Dengan siapa saya berbicara?"
"Hi Sarah! Ini Haleth,"
"Oh! Haleth, ada yang bisa dibantu?"
"Boleh aku tau, apakah ada pasien yang akan ke ruangan ku?"
"Hm, untuk sekarang belum ada. Beberapa pasien yang datang sekarang akan menemui Dokter Niel, Dokter Evan, dan Dokter Mora. Ada lagi yang ingin kau tanyakan Haleth?"
"Ah, tidak itu saja. Jika ada pasien yang harus ke ruangan ku, bisakah kau menghubungi ku terlebih dahulu Sarah?"
"Yeah, of course!"
"Okay, thank you!"
Telepon itu berakhir, kemudian Haleth akhirnya meraih lunch box itu dan membukanya. Wanita itu mendengus pelan saat melihat ke-perfeksionis an Adam di lunch box tersebut. Sup hangat membuat tutup mangkuk bekal yang menjadi tempatnya ditutupi oleh uap. Dan tidak lupa beberapa buah dan vitamin yang tertata rapi di kotak lainnya. Pria itu juga tidak lupa memasukkan botol berisi air dengan potongan lemon.
Senyum Haleth terbit tanpa ia sadari. "Dasar! Sejak kapan dia menjadi se pengertian ini?"
Haleth bergerak membuka tutup mangkuk sup dan mencicipi nya sedikit menggunakan sendok. Alisnya terangkat. Dengan wajah terkejut yang tak begitu nampak, Haleth menatap sup itu. Ia mendengus kembali dan sekali lagi menyuapkan sesendok sup ke mulutnya.
"Masih tetap kurang garam. Dia benar-benar membuatnya sendiri."
Suap demi suap Haleth lakukan hingga sup itu habis, kemudian meminum vitaminnya. Rasa tidak nyaman pada perutnya mulai membaik, bahkan rasa pusing yang menyerangnya kepalanya mulai mereda. Ingatkan Haleth untuk berterima kasih kepada Adam lagi nanti.
...***...
Dengan lelah Haleth memijit pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Ia sendiri juga tidak paham, mengapa matanya terasa begitu berat sekali dari beberapa menit yang lalu. Wanita itu kemudian melihat schedule nya di layar laptopnya. Sebentar lagi seharusnya jam kerjanya untuk hari ini selesai. Dia bisa saja untuk izin pulang sekarang. Tapi entah kenapa ia masih terpikir, apakah Adam masih di rumahnya atau tidak.
Mungkin pagi tadi dia memang sudi membuka pintu untuk mantan suaminya itu. Tetapi kali ini ia cukup ragu untuk bertemu dengan pria itu lagi. Selain malas, Haleth juga khawatir Adam akan semakin kurang ajar setelah peristiwa semalam. Tetapi Haleth harus berterima kasih lagi pada Adam. Jika mengatakannya melalui pesan maupun telepon, itu artinya dia harus berinisiatif terlebih dahulu.
Alisnya tiba-tiba mengernyit saat memikirkan hal tersebut. Haleth bergidik, lalu menggelengkan kepalanya. "Ck! Malas banget! Gengsi lah!"
Alhasil, Haleth memutuskan untuk tetap duduk di sana sambil melihat-lihat berkas yang ada di meja. Sesekali ia juga melihat schedule nya besok dengan wajah datar.
Dan belum ada 5 menit berlalu, perhatian Haleth kembali teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Pemberitahuan alarm dengan catatan 'Menjemput Tasha' tertera jelas di layar ponselnya.
Setelah mematikan alarm itu, Haleth bergegas merapikan diri. Mulai dari membereskan mejanya, mengganti coat, lalu meraih handbag dan juga lunch box yang tersimpan di rak. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat Haleth hendak membuka pintu. Baru ingat, Tasha dari kemarin ada di rumah Adam. Bisa saja pria itu sudah menjemput putrinya. Atau bahkan, Adam secara sengaja mengizinkan Tasha untuk tidak sekolah dulu agar bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya.
Tidak yakin juga, karena Haleth belum menanyakannya pada Adam sendiri. Okay, ini menyangkut Tasha. Jadi, untuk sekarang ia akan mengesampingkan rasa gengsinya untuk menghubungi pria itu terlebih dahulu.
Nada tersambung terdengar, dan tak lama suara Adam menyusul.
"Hei,"
"Dimana?" Haleth bergerak membuka pintu, dan langkahnya terhenti saat itu juga. Dengan tatapan kesal Haleth menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Di sini,"
Haleth mematikan sambungan, lantas kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Kenapa kemari? Kau tidak menjemput Tasha?" interogasinya.
"Huh! Yang benar saja Adam! Jika kau mau jemput, ya kau saja. Jika aku, ya aku saja!"
"Tasha ingin kita berdua," Adam menaikkan sebelah alisnya.
"Kau tidak akan bisa menipu ku lagi, kurang ajar!"
"Bukankah Tasha kemarin bilang ingin makan siang bersama kita? Kau lupa?"
Haleth mematung untuk beberapa detik lamanya, kemudian menghela nafas. "Aku tidak bisa."
"Kenapa. Kau pulang lebih awal."
"Aku malas jika ada kau. Lebih baik aku makan sendiri di rumah."
Adam reflek saja terkekeh dan mengusap dadanya. "Berhenti menyakitiku Haleth. Ayolah, kita turuti kemauan anak kita yang satu ini." bujuknya.
"Tidak mau! Aku sibuk!
"Hari ini saja,"
"Tidak!"
"Temani Tasha untuk beberapa menit setidaknya,"
"Aku bilang tidak ya tidak," Haleth menghentikan ucapannya saat bunyi yang terdengar familiar terdengar hingga ke telinganya maupun telinga Adam.
Pria itu menarik senyum tipisnya. Melihat wajah Haleth yang perlahan memerah akibat perutnya yang berbunyi, kembali membuat Adam terkekeh. Tangannya bersidekap, menatap Haleth dengan tatapan jahil. "Mau alasan apa lagi sekarang, hm?"
Haleth benar-benar mengutuk perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi.
"Jadi, kita berangkat?" ajak Adam tak pantang menyerah.
"Fine!" wanita itu akhirnya menerima ajakan Adam. "I'm in! Itu karena aku lapar, bukan karena kau yang terus memaksaku!" kesalnya lantas mendahului Adam.
Adam tak langsung menyusul Haleth yang berjalan terlebih dahulu, melainkan menoleh ke arah seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Adam menyeringai, mendengus, kemudian berjalan menyusul Haleth.
Saat di basement pun, mereka tak lepas dari hal bernama cekcok. Masalahnya sepele sebenarnya. Tapi Haleth, tak henti mengomel.
Adam hanya memberi usul untuk membawa mobil yang ia kendarai saja, daripada harus membawa mobil sendiri-sendiri. Pria itu berulang kali memberi alasan yang cukup logis untuk di terima. Tapi bukan Haleth namanya jika tidak keras kepala.
"Kau, ribet sekali sih, Adam!"
Adam sontak saja menaikkan sebelah alisnya. "Kau yang mempersulit diri kamu sendiri. Padahal kau tinggal duduk manis dan aku yang menyetir. Kenapa segala ingin menyetir sendiri?" pria itu bersidekap.
"Itu karena aku tidak ingin satu mobil denganmu! Aku menyetir Porche nya. Titik!"
Adam mendesah kesal. Ia kemudian merogoh saku jaketnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Carl. Kemari dan jual saja mobil Porche milikku yang terparkir di basement rumah sakit tempat Haleth bekerja."
"On my way, Boss!"
Pandangan Adam tak lepas dari Haleth yang wajahnya sudah memerah lantaran kesal. Usai menyimpan kembali ponselnya, pria itu kembali bersidekap, dan mengeluarkan senyum meremehkannya.
"Jadi, mobil Porsche mana yang mau kau kendarai Nyonya?"
"Adam. Kau. Sinting!"
Adam terkekeh geli mendengar pintu Rolls-Royce nya ditutup kasar oleh Haleth. Pada akhirnya, wanita itu perlahan mulai bisa Adam taklukkan kembali.