
...•••••...
Klek!
Sisil menutup pintu kamarnya saat mereka sudah berada didalam.
Alvaro sudah terlihat melepaskan jas hitam yang tadi ia kenakan, meletakkannya diatas kursi meja rias Sisil, kemudian menggulung lengan kemejanya sampai sikut.
Sisil mematung.
"Aku mau cuci muka." Alvaro menatap Sisil yang juga sedang menatapnya.
Prempuan itu masih diam.
"Sil, kamu kenapa?" pria itu mendekat, agar bisa melihat wajah istrinya lebih dekat.
"Naisilla!"
"Hah .. iya iya pak? kenapa?" prempuan itu terlihat kaget.
Melihat Sisil gugup karena tertangkap basah sedang memperhatikannya Alvaro tersenyum.
Dia mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik.
"Ikut ke kamar mandinya boleh?" Alvaro menyeringai.
Sisil mengangguk.
"I-iya .. iya boleh kok pak, masuk aja. Mau mandi? baju bapak ada disini, tapi dalembanya nggak ada .. mau pake punya ku? eh!" prempuan itu mengatupkan mulutnya.
Alvaro tergelak.
"Aku hanya cuci muka, mandi nanti di apartemen saja." katanya kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Sisil duduk di tepi ranjang, dia terlihat memegangi dadanya yang berdebar, hanya karena melihat Alvaro bersikap sedikit manis dan mulai tertawa.
"Kok aku baru tau, kalo aku punya suami yang nggak kalah ganteng dari bang Syaif!" Sisil bergumam.
Eh tapi jangan ah, nanti aku sakit hati lagi! di tolak bang Syaif aja masih ada sakitnya, nanti kalo aku suka sama pak Alvaro, pasti sakit lagi, orang Bu Mika masih jadi penghuni relung hatinya!
Sisil membatin.
"Sil, boleh pinjem handuk kecil. Tapi kalau tidak ada handuk punya mu juga tidak apa-apa." Alvaro berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Ada pak, tunggu sebentar!" tukas Sisil, lalu bangkit dan berjalan kearah laci plastik tempat pakaiannya disimpan.
Sisil menarik salah satu laci pakaiannya, lalu membawa satu handuk kecil untuk Alvaro.
"Terimakasih!" lagi-lagi dia tersenyum, hal yang bahkan jarang atau mungkin hampir tidak pernah Sisil lihat.
Rambutnya tampak sedikit kelimis, dengan wajah yang terlihat segar, di tambah bibir yang juga selalu tersenyum, membuat pesona Alvaro memancar malam ini, sampai membuat Sisil terpukau dengan perubahan sikap pria itu.
"Hey, are you okay?!"
"Hemmm!" Sisil terkejut.
"Kamu baik-baik saja? kenapa selalu melihatku dengan tatapan seperti itu?" Alvaro menatap Sisil lekat.
"Iya, aku nggak apa-apa." Sisil berbalik arah kemudian duduk di tepi ranjang.
Alvaro tersenyum.
"Bapak lapar? biar saya siapkan kalau mau makan!"
Pria itu menggelengkan kepala, mengaitkan handuk di hanger baju yang terlihat kosong, dan mendekat kearah Sisil.
"Aku lelah, boleh kita istirahat disini sebentar? setelah itu baru kita pulang." Alvaro duduk di samping istrinya.
Entah sadar atau tidak, Sisil mengangguk tanpa mengatakan satu patah katapun.
"Baiklah, ayok kita istirahat disini sebentar." ujar Alvaro.
Perlahan dia naik, lalu merebahkan tubuh besarnya di atas tempat tidur Sisil yang berukuran sedang.
"Tempat tidur yang nyaman!" pria itu berucap.
Sisil mengangguk.
"Awalnya tidak begini, ibu dan bapak mengubah ukuran tempat tidurnya." Sisil menjawab.
"Oh ya?"
"Hu'um." Sisil mengangguk.
Alvaro menatap Sisil, lalu menepuk sisi kosong disampingnya.
"Kalau begitu ayok, kita hargai permberian bapak dan ibu!" katanya sambil tersenyum.
Pernyataan Alvaro sontak membuat tubuh Sisil semakin membeku.
"Sisil, ... ayok kita mulai dari hal terkecil. Apa kamu tidak lelah, harus tidur di kamar bergantian dengan ku? satu malam di sofa ruang tengah, satu malam di kamar. Begitu terus sampai kapan?"
Sisil diam.
"Kemarilah, aku tidak akan macam-macam!" Alvaro kembali menepuk sisi kosong di sampingnya.
"Tapi aku ...
"Jika kamu mengira aku menihakimu karena takut kamu hamil, kamu salah. Walau belum ada cinta diantara kita, setidaknya aku tidak akan main-main dengan janjiku kepada bapak dan ibu."
"Untuk menjaga mu semampu ku."
Mereka saling menatap.
"Come!" dia sedikit bangkit, meraih tangan Sisil dan menariknya perlahan sampai prempuan itu naik keatas tempat tidur, dan berbaring di sampingnya.
Pandangan keduanya saling bertemu, dengan debaran jantung keduanya yang terdengar jelas saat Sisil dan Alvaro terdiam.
"Kau takut?" Alvaro bertanya saat nafas prempuan dihadapannya semakin memburu.
"Entahlah, kejadian itu terus berputar. Dan selalu membuat ku resah!"
Alvaro memandang Sisil sendu, ketika ia juga kembali mengingat suara jeritan dan rintihan Sisil.
"Maaf, tapi sungguh. Aku tidak mempunyai niat sedikit pun untuk merusak atau merendahkan mu."
Sisil menghembuskan nafasnya kasar, dia tampak memejamkan mata.
"Sudah aku maafkan, hanya saja. Aku menyesali karena aku melakukan itu bukan dengan pria yang benar-benar mencintai aku!" ucap Sisil lirih.
Mendengar penjelasan Sisil, Alvaro meraih pinggang Sisil dan menariknya agar tidak ada jarak diantar keduanya.
Deg!
Seketika Sisil membuka mata.
"Kalau begitu ayok saling mencintai." Alvaro menempelkan kening keduanya.
"Tapi .. aku ...
"Hanya biarkan semuanya mengalir seperti semestinya." Alvaro memotong perkataan Sisil.
Untuk beberapa saat mereka diam, namun mata Sisil tiba-tiba terpejam saat merasa wajah Alvaro semakin mendekat, dan bibir mereka pun bertemu secara singkat.
Cup!
"Ayok pacaran." kata Alvaro kepada Sisil.
"Pacaran? bukanya kita sudah menikah! apa tidak terbalik."
Alvaro tersenyum.
"Pacaran setelah menikah itu bahkan lebih indah!" pria itu berbisik.
"Oh ya?" cicit Sisil yang langsung dijawab anggukan oleh Al.
"Iya, .. Pak David dan Bu Anna pun sama, mungkin bisa dibilang kita mengikuti jejak mereka, hanya saja cara kita bersatu yang sedikit membuat terlihat berbeda."
"Bapak juga akan meninggal saya? seperti Pak David meninggalkan Bu Anna dulu?"
Alvaro tersenyum.
"Aku harap tidak, tapi itu kembali lagi kepadamu. Karena yang masih memiliki pria idaman itu kamu, aku pria bebas yang tidak sedang memiliki hubungan dengan siapapun."
Sisil diam, dia menyelami manik hitam lekat milik suaminya.
"Aku tidak mau berdusta Naisilla, jujur saja sekarang aku mulai memikirkan mu."
Sisil tidak menjawab.
"Hhhhh ... baiklah, ayok tidur sebentar. Aku lelah!" katanya lalu meletakan kepalanya di ceruk leher Sisil.
"Apa harus seperti ini? jujur aku gugup Pak!"
"Berhentilah memanggil ku dengan sebutan itu! rasanya seperti kau sedang memanggil ayah mu, namun itu terjadi kepada ku." Alvaro terkekeh.
"Dari dulu juga manggilnya bapak, kenapa sekarang protes?"
"Sekarang kamu istriku Sil, dulu lain lagi!"
Sisil bingung harus menjawab apa.
"Yasudah tidurlah, nanti aku bangunkan jam sembilan." Sisil menepuk pundak Alvaro.
"Baiklah." Alvaro semakin mengeratkan pelukannya.
Apa aku kepedean kalau mengira bahwa bapak cemburu? tapi rasanya menyenangkan saat seseorang cemburu kepada kita, itu artinya cinta bukan? dan aku senang jika bapak memang mencintai saya, bagaimana tidak. Kau tampan, itu nilai plus untuk prempuan seperti ku.
Sisil berbicara dalam hati, seraya menepuk bahu suaminya.
"Apa seperti itu orang dewasa mengajak pacaran? rasanya aneh sekali di tembak di atas tempat tidur." Sisil terkekeh.
"Aku belum tidur!" suara bariton itu terdengar malas.
"Bapak denger yah!"
"Hemm ... sangat jelas."
Sisil terkekeh pelan.
"Maaf." kata Sisil sambil menahan tawa.
...•••••...
Maaf telat, jangan lupa like dan komen pokoknya!!