
Mobil yang Haleth kendarai berhenti di halaman luas kediaman Adam. Jessica yang duduk di samping Haleth mendahului turun dari mobil tersebut, lantas disusul oleh Emery dan Tasha. Untuk sejenak Haleth tampak ragu untuk mengikuti ketiga orang itu. Meskipun Jessica sudah memberitahunya, bahwa Adam sedang tidak ada di rumah sekalipun. Entahlah. Semenjak insiden di malam itu, Haleth selalu merasa begitu gelisah. Apapun itu yang berhubungan dengan Adam, selalu membuatnya tak nyaman. Namun Tasha adalah pengecualian.
Sosok Jessica tampak setengah berlari, menghampiri mobil kembali. Haleth meremas stir di hadapannya, dan memutuskan untuk membuka pintu begitu Jessica sampai di depan pintu kemudi.
"Maaf, aku melamun." ucap Haleth lirih.
Jessica mengembangkan senyumnya, mengusap bahu wanita itu lembut. "Tenang saja. Tidak perlu khawatir begitu, Haleth. Adam benar-benar sedang ke Texas bersama Carl."
"Ah, iya,"
"Kalau begitu, ayo masuk! Aku akan membuatkan makan malam yang enak untukmu!"
Haleth tersenyum teduh. Kakinya melangkah mengikuti Jessica di depannya, memasuki rumah megah dengan penerangan yang bisa memperlihatkan tiap sudut ruangan. Bingkai-bingkai foto besar terpajang di dinding yang terlihat elegan itu. Guci guci yang menjulang tinggi juga turut serta mengisi kekosongan sudut di setiap ruangan tersebut. Tampilan yang tidak pernah berubah, dari pertama kali Haleth menginjakkan kaki di rumah itu. Tidak pernah terlupakan olehnya, Haleth dan Jessica mempunyai ketertarikan yang sama terhadap hal yang berbau klasik.
"Haleth, kau bisa simpan barang bawaan mu di kamar Adam. Tasha tidur di sana, dan dia ingin kau menemaninya."
"Di kamar Adam?" Haleth membeo. Matanya bergulir menatap Jessica yang melangkah menuju dapur, dan Haleth pun menyusulnya. "Bukankah lebih baik aku tidur di kamar tamu? Maksudku, tidak sopan aku masuk ke kamar mantan suamiku, apalagi sampai tidur di sana."
Jessica kontan saja terkejut. "Apa-apaan itu, Haleth? Jangan pernah menganggap dirimu itu asing di sini. Bagiku, kau itu tetap Haleth yang dulu selalu memanggilku Mama. Menantuku yang luar biasa. Jadi, jangan pernah sungkan di sini. Mengerti?!"
Haleth hanya tersenyum tipis, tak menyahut apapun.
"Ayo, cepat. Sebentar lagi makan malam."
"Baiklah,"
...^^^***^^^...
Sebuah helikopter berwarna hitam itu mendarat sempurna di sebuah helipad yang berletak di puncak gedung pencakar langit milik Legrand di Texas. Sosok Adam turun dari helikopter itu, mengibarkan rambut dan juga jas yang ia kenakkan.
"Mari Bos!" dengan setengah berteriak, Carl menunjuk jalan untuk Adam.
Pria itu berjalan meninggalkan rooftop, memasuki lift yang kemudian membawanya hingga ke basement. Sebuah mobil sudah menunggunya di sana. Setelah Carl membukakan pintu, Adam lantas masuk dan menunggu Carl menyusul.
"Kita pergi ke markas Warren." Carl memerintah.
Sementara Noah, bawahan Adam yang bertugas mengemudikan mobil itu mengangguk, dan melajukan mobil tersebut.
"Ini Bos. Mr Lowell membatalkan sepihak serah terima konstruksi museum di San Francisco. Saat Andrew hendak menemui Mr Lowell, dia melihat Mr Warren bersama beberapa bawahannya memasuki kantor Lowell. Pembatalan itu diputuskan oleh Mr Lowell setelah beliau bertemu dengan Mr Warren." Carl menjelaskan seraya memberikan sebuah berkas kepada Bos nya itu.
"Si tua itu, kurang ajar!" Adam mendesis. Ia lemparkan berkas itu kembali pada Carl dan terjatuh di paha pria itu. "Dia sudah menandatangani surat perjanjian kerjasama dengan Legrand. Berani-beraninya dia berkhianat!"
"Saat ini, status Mr Lowell menghilang Bos. Para mata-mata kami kehilangan jejaknya." Noah menambahi.
"Tetap dalam pencarian. Dan segera kabari aku jika kalian sudah menemukannya. Sekarang bawa aku menemui Warren."
"Baik Bos."
...***...
Makan malam telah usai. Dapur sudah rapi dan bersih karena tangan cekatan Haleth. Setelahnya, ia menyusul Tasha yang mendahului pergi dari ruang makan.
Penglihatannya menangkap sosok putrinya yang duduk manis dengan Emery dan Jessica di ruang tengah. Sebuah album foto dipangku oleh gadis kecil itu. Terlihat jelas senyum lebarnya mengembang, seraya menunjuk foto yang Tasha lihat.
Ekspresi Haleth mendadak berubah. Foto pernikahan?
"Iya Haleth. Ayo bergabunglah." Jessica menepuk bagian sofa yang masih kosong di sampingnya.
Ingin menolak, tapi tidak enak rasanya. Meski Jessica bilang padanya agar tidak sungkan saat di rumah itu, tapi tetap saja Haleth merasa dirinya hanyalah seorang tamu.
Alhasil, Haleth menghampiri ketiga orang tersebut, dan duduk di samping Jessica.
"Momy! Momy cantik sekali memakai gaun pengantin! Tasha mau melihatnya!" Tasha memperlihatkan album itu pada Haleth, disertai dengan tatapan memohon.
Tercubit hati Haleth dibuatnya.
"Kamu sudah melihatnya, Tasha." jawab wanita itu.
"Tidak! Bukan di foto, tapi secara langsung!"
"Ah, Momy masih menyimpan gaun itu. Momy akan memperlihatkannya padamu saat kita pulang. Setuju?"
Tasha terdiam, kembali menarik album yang ia bawa ke pangkuannya dan menunduk. "Ingin melihat Momy dan Daddy berdiri di altar seperti ini,"
Haleth mematung, dan mengabaikan Emery serta Jessica yang saling menatap lantas menatap dirinya. Jantungnya berdegup kencang. Ucapan Tasha memberikan getaran aneh yang membuatnya, sedikit tidak nyaman.
Dengan senyum yang masih mengembang, Tasha kembali membolak-balik album itu, mengamati satu per satu foto yang ada.
"Wah, Daddy tampan sekali. Momy juga cantik. Tasha ingin juga melihat Momy dan Daddy berciuman seperti ini,"
"Ah, sepertinya aku harus tidur. Kepalaku terasa pusing." dengan cepat Haleth memotong ucapan Tasha dan bangkit dari duduknya.
"Apa kau baik-baik saja Haleth?" tanya Emery.
"Yeah, aku tidak apa-apa. Mungkin hanya sedikit kelelahan. Jadi aku istirahat saja." tentu saja Haleth tidak apa-apa. Dia ingin ke kamar, karena merasa tidak nyaman saja.
"Okay, baiklah. Bilang pada kami jika kau butuh apa-apa Haleth." ujar Jessica.
Haleth menganggukkan kepala kemudian berlalu setelah mengusap puncak kepala Tasha. Pintu kamar Adam ia tutup usai ia masuk. Haleth membaringkan tubuhnya di ranjang besar itu, dan langsung saja aroma khas Adam tercium olehnya. Matanya terpejam seraya menghirup dalam-dalam aroma itu. Menenangkan, seksi, dan tak ada duanya.
Bahkan kini Haleth menjadi berdebar hanya dengan mencium aroma Pria itu. Sudah tidak waras!
Tak disadari, Haleth mencoba mengingat-ingat insiden mabuk malam itu. Dia sama sekali tidak sadar saat Adam menyentuh tiap inci kulitnya. Mengecupnya dengan posesif hingga meninggalkan bekas yang kini bahkan masih terlihat dengan jelas. Apa saat Pria itu menggagahinya, dia beraroma memabukkan seperti ini?
"Astaga, apa yang aku pikirkan?" Haleth berbisik pada dirinya sendiri. Menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal berwarna biru gelap itu lantas menghela nafasnya dengan berat.
Sial! Insiden itu selalu teringat di pikirannya. Haleth terlalu memikirkannya, lantaran tak bisa mengingat bagaimana rasanya. Maklum saja. Setelah memutuskan berpisah dengan Adam, Haleth tak lagi mendapatkan nafkah batin. Itu sebabnya Haleth sampai lupa bagaimana rasanya berhubungan badan, terlebih lagi dalam keadaan mabuk.
Tiba-tiba saja wajah Haleth merona dan terasa hangat. Wanita itu mendecak, lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri yang berpikiran tidak senonoh.
"Bodoh! Bodoh! Jangan lengah! Bisa-bisa, Adam kembali melukaimu Haleth!"
Lantas dirinya pun memaksakan diri untuk terlelap seraya menunggu Tasha menyusulnya.