My Ex Husband

My Ex Husband
Kurang enak badan.



...•••••...


Cup!


Pria itu mencium kening istrinya.


"Aku berangkat yah!" pamitnya kepada Sisil yang masih berbaring di bawah gulungan selimut.


"Ck! masa aku nggak masuk kerja hari ini? malu dong sama Bu Anna." Sisil sedikit merajuk, dia kesal karena pagi ini tidak bisa menghindari keinginan suaminya.


"Apa aku harus menghubungi beliau, dan mengatakan bahwa kamu tidak bisa masuk kerja karena sudah ku hajar habis-habisan?" Alvaro tersenyum gemas.


Duk!


Sisil memukul dada Alvaro cukup kencang.


"Mana bisa begitu!" Sisil memekik.


"Ya terus mau bagaimana?" tanya Alvaro dengan suara pelan dan lembut, bahkan pria itu terus berjongkok di sisi ranjang berhadapan dengan Sisil.


"Bapak kalo mau berangkat, berangkat saja. Aku juga mau kerja .. nanti bilang saja kurang enak badan makanya kesiangan!" Sisil cemberut.


Sisil merapatkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya, kemudian dia bangkit.


"Bapak!" Alvaro memincingkan mata kearah istrinya. "Udah bagus banget manggil abang, kok manggil bapak lagi!" pria itu protes.


Sisil diam, saat dia menyadari telah salah memanggil suaminya lagi.


"Iya iya ... abang!" kata Sisil kemudian dia beranjak kearah kamar mandi.


Sisil menutupnya rapat, tak lupa juga untuk mengunci pintu itu dari dalam. Suara kucuran air mulai terdengar, bersahutan dengan suara Sisil yang tengah bernyanyi.


Sekitar lima belas menit Sisil berada di dalam sana, akhinya dia keluar dengan bathrobe milinya dan lilitan handuk di kepala.


"Lho! kenapa belum berangkat?" Sisil langsung menatap jam dinding. "Sudah hampir jam sepuluh itu!" sambung Sisil lagi, lalu mengalihkan pandangannya kepada Alvaro yang sedang duduk di sofa kamar.


Pandangan yang sedari tadi tertuju kepada layar ponsel pun kini beralih menatap Sisil. Prempuan yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan keadaan segar.


"Cepatlah, kita berangkat bersama!" jelas Alvaro.


"Bersama?" Sisil menjengit, kemudian dia berjalan kearah lemari pakaian. "Tujuan kita beda jalan lho pak .. eh Abang maksud aku. Aku kemana, Abang kemana!" tukas Sisil.


"Aku sudah izin, jadi tidak ada masalah."


"Oh, baiklah. Kalau begitu boleh tunggu di luar, aku mau pakai baju dulu!" pinta Sisil kepada suaminya.


Pria itu tertawa, lalu bangkit dan berjalan menghampiri istrinya.


"Memangnya kenapa, malu yah? padahal tadi aku bisa dengan sangat jelas melihat setiap lekuk tubuhnya, sampai bagian tertutup sekali pun!" Alvaro menyeringai seperti biasa.


"Bukan itu, nanti Abang nggak bisa nahan diri lagi ... bablas kita sampai siang, atau bahkan sore." katanya.


Lagi-lagi Alvaro tergelak, bahkan kali ini sangat kencang, sampai dia mendongakan kepalanya.


Sementara Sisil, menatap wajah itu dengan seksama. Wajah kaku yang akhir-akhir ini justru lebih banyak tersenyum dan tertawa.


Lalu keduanya diam, dengan mata saling memandang.


"Ah ... benar juga apa yang kamu katakan, baru di tatap seperti itu saja .. aku sudah ingin kembali menghajar mu!" Alvaro berbisik.


Sisil tertegung, mundur untuk beberapa langkah, ketika Alvaro terus berusaha mengikis jarak diantaranya.


Langkah yang lebar, lengan yang juga tampak sedikit panjang. Membuatnya dengan mudah kembali meraih pinggang Sisil.


Cup ... cup ... cup


Alvaro mencium bibir Sisil beberapa kali.


"Pakailah bajunya cepat, .. atau aku berubah pikiran, dan segera mengajukan cuti saja!" pria itu berbisik.


"Ehem .. ba-baiklah, Abang tunggu di luar yah. Janji nggak akan lama!" Sisil gelagapan.


Alvaro mengangguk, dia tersenyum dan segera melepaskan pinggang Sisil dari cengkraman nya.


"But..kiss me first!" Alvaro menepuk-nepuk pipinya.


Sisil tersenyum samar, dia menganggukan kepala kemudian berjinjit untuk meraih pipi suaminya.


Cup!


"Cepatlah!" Alvaro berujar.


Sisil mengangguk lagi.


Pria itu mulai beranjak, meninggalkan Sisil dan menutup pintu kamarnya.


"Apa ini tanda-tanda aku mau kena penyakit jantung? kok berdebar terus, bikin ngos-ngosan lagi!" Sisil bermonolog.


...••••••...


"Mama sakit yah?" Balqis meletakan punggung tangan di kening ibunya.


Anna yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya tersenyum.


"Mama baik-baik saja Ka!" Anna mengulurkan tangan, kemudian mengusap pipi Balqis.


Gadis kecil yang baru saja selesai mandi bersama sang Nenek itu langsung memeluk tubuh Anna yang kini sedang bersandar di atas tempat tidur dengan beberapa bantal yang ia susun untuk menyangga punggungnya.


"Aku sayang Mama, jangan sakit yah!" katanya lalu mencium pipi Anna.


"Mama baik-baik saja sayang, sana gih! main lagi sama Nenek."


"Tapi Papa nyuruh aku nungguin Mama, sampai Papa pulang lagi."


"Nanti Mama yang bilang ke Papa yah, gih main lagi!" Anna menepuk-nepuk punggung Balqis.


Namun gadis kecil itu menggelengkan kepala, dan berbaring tepat di samping ibunya.


"Adek, jangan bikin Mama sakit!" Balqis mengusap perut ibunya.


"Kaka Aqis senang mau punya dede?" Anna bertanya.


Dia menganggukan kepala.


"Tapi aku nggak suka kalo Adek bikin Mama muntah-muntah." Balqis cemberut.


"Nanti juga tidak, sekarang Mama cuma mau makan, makanya mual sama muntah." Anna berusaha menjelaskan.


Klek!


David membuka pintu kamar, kemudian dia masuk dengan sebuah kantung plastik ditangan kanannya.


"Ka, bagaimana Mama mu?" David menyimpan bungkusan itu di atas meja samping sofa.


"Mama muntah lagi, banyak .. hampir jatuh."


Seketika David menatap Anna.


Rambut Anna di cepol tinggi, dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Kita harus ke rumah sakit sayang, keadaan mu mengkhawatirkan." David duduk di tepi ranjang samping Anna.


"Tidak usah, prosesnya memang seperti ini Pah!" sergah Anna.


"Tapi Mama sakit, Pah! Aqis nggak suka!" gadis kecil itu merengek.


Tok .. tok ...


"Nenek masuk yah!" suara Rosa berteriak di luar sana.


"Masuk saja Bu." sahut David.


Klek!


Pintu kamar itu kembali terbuka. Masuklah Rosa dengan sebuah nampan di tangannya.


"Ibu bikin susu jahe merah Ann, minumlah. Siapa tau bisa meredakan mual dan muntah mu." katanya lalu meletakan nampan itu di atas nakas.


"Terimakasih Bu, maaf merepotkan lagi!" ucap Anna.


"Sama sekali tidak, kehamilan mu yang ini malah lebih parah yah?" Rosa memutari ranjang, kemudian ikut duduk.


"Sebelum tau Anna hamil, rasanya biasa aja Bu! tapi setelah tau ... malah semakin parah." Anna berusaha tetap tersenyum, walau rasa pusing kembali datang dan membuatnya sedikit mual.


Rosa mengangguk.


"Baiklah Kaka, ayok ikut Nenek. Biar Mama istirahat saja!" Rosa meraih tangan cucunya.


Balqis tidak langsung bangkit, dia tetap memeluk tubuh Anna.


"Mama tidak apa-apa, gih temenin Kakek sama Nenek!" titah Anna.


"Cepat, kita makan tiramisu cake sambil nonton cartoon."


Balqis pun mengangguk, dia beranjak dan berjalan kearah luar bersama Rosa.


"Mau makan buburnya sekarang?" David menatap lekat wajah istrinya.


"Boleh." Anna tersenyum.


Dengan cepat David membawa bungkusan plastik bening tadi, lalu membukanya.


"Wah, .. enak banget kayanya!" Anna berbinar.


"Aku tidak tau kalau hamil seperti ini. Wajah mu pucat, selera makan mu semakin memburuk ... dan satu lagi, kelakuan usilmu tidak pernah terlihat lagi sayang!"


Pria itu mengeluh, seraya memberika satu suapan pertamanya untuk Anna.


"Hanya sampai empat bulan, mas."


Deg!


"Empat bulan?"


Anna menjawab pertanyaan suaminya dengan anggukan.


"Astaga itu lama sekali!" suara David lirih.


"Cukup do'akan kami Pah, agar sehat sampai nanti lahiran."


David tersenyum samar, dia mengusap kepala istrinya perlahan.


"Sehat-sehat ya sayang-sayang nya Papah, jangan begini terus .. Papa jadi nggak bisa tenang kalau sedang di kantor.


"Iya Papah!" Anna meletakan telapak tangannya di atas tangan David yang kini terletak di atas perutnya.


"Baiklah, kita makan lagi!"


David kembali menyodorkan sendok berisi bubur kerah mulut Anna, yang langsung Anna lahap dan mengunyah nya perlahan.


...•••••...


Selamat hari Sabtu ges ...


Jangan lupa like sama komennya yah!


Klik favorite nya juga, agar tidak tertinggal di setiap update-an eps terbarunya.


~Cuyung kalian~



Yang lagi suka pacaran.