
Kendaraan beroda empat itu terparkir rapi di luasnya halaman. Haleth pandangi langit malam yang tampak kelabu. Diiringi turunnya rintik salju, coat tebal yang membalut tubuh Haleth refleks dirapatkan. Wanita itu tak ingin dingin yang mampu menusuk hingga ke tulang itu menyerangnya.
Musim gugur tahun ini telah usai. Sebenarnya sudah dari satu minggu yang lalu, namun salju baru terlihat hari ini. Jalanan pun kini sudah tertutupi oleh kristal putih itu sehingga suhu pun ikut turun. Haleth pun lantas bergegas masuk. Ia disambut oleh Emery serta tasha yang sedang duduk di dekat perapian. Kepulan uap yang berasal dari cangkir berisi teh beraroma kamomil itu turut andil.
Haleth juga tidak berlama-lama, dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Begitu terkejutnya Haleth saat ia masuk. Seseorang sedang tidur di ranjangnya. Tenang, dan begitu nyenyak. Lantas berbagai pertanyaan pun muncul.
Kapan, Adam kembali?
Sadar dengan kehadiran seseorang, Adam membuka matanya. Posisi tidurnya yang semula tengkurap kini berbalik guna melihat sosok Haleth yang masih berdiri cukup jauh dari posisinya.
“Kapan pulangnya?” Seraya menutup pintu, pertanyaan itu terlontar dari bibir Haleth.
Adam duduk, menyandar di ranjang serta amati Haleth tengah menyimpan tas nya. “Satu jam sebelum kamu pulang. Maaf tidak menjemput.”
“That’s not a big deal. Kau juga pasti lelah, tidurlah lagi.” Sahut Haleth usai menyimpan coat nya.
Tak menurut apa yang Haleth ucapkan, Adam justru berdiri sebabkan suara gesekan selimut yang mendominasi ruangan tersebut. Ia melangkah mendekati Haleth yang tengah duduk di depan meja riasnya, kemudian duduk di meja itu.
“Bagaimana di rumah sakit hari ini? Mau bercerita?”
Gerakan tangan Haleth berhenti untuk sesaat. Pandangannya sekilas beralih pada Adam sebelum kembali fokus pada pantulan dirinya di cermin dan membuang kapas bekas Haleth menghapus make up.
“Aku tidak diizinkan cuti oleh atasanku. Harus menunggu bulan depan untuk bisa liburan dengan Tasha.”
“Tumben sekali mau ambil cuti?”
“Beberapa bulan ini aku tidak mengambil waktu libur. Jadi tidak masalah jika aku memutuskan untuk cuti beberapa hari bulan ini,” Haleth meraih sisir yang tergeletak tepat di samping Adam dan menyisir helaian rambut panjangnya. “Tapi ternyata bulan ini rumah sakit benar-benar membutuhkanku. Jadi kemungkinan aku bisa cuti ya bulan depan.” Lanjutnya.
“Kan sudah aku bilang, rumah sakitnya aku beli saja?”
“Ck, jangan,” Haleth beralih mencepol rambutnya dan fokuskan tatapan ke arah Adam. “Kau sudah berjanji untuk tidak mengusik karir ku. Lagipula aku bisa menunggu izin cuti ku.”
Adam hela nafasnya, tak membantah ucapan Haleth yang memang tidak akan bisa ia bantah. Daripada harus beradu argumen lagi karena masalah pekerjaan, lebih baik Adam mengalah dan membiarkan Haleth melakukan apa saja yang wanita itu mau. Melawan sifat keras kepala Haleth tidak akan ada gunanya. Justru mungkin datang masalah yang tidak ada habisnya. Maka daripada Adam kehilangan kesempatan keduanya, ia memilih setuju dengan apa yang mantan istrinya itu katakan.
“Oh iya, Aku bertemu Iris tadi.” Adam yang semula tenang mendadak terkejut.
“Hah, dimana?”
“Rumah sakit.”
Seketika teringat saat Adam juga tidak sengaja bertemu dengan Iris di sebuah coffee shop beberapa minggu yang lalu. Bahkan sampai sekarang pun, Adam belum memberitahu Haleth, dirinya juga bertemu dengan Iris. Tak disangka, saat Adam memperingati Iris agar tak lagi bertingkah, dan mencoba mencegah pertemuan kedua wanita itu, Haleth justru bertemu dengan Iris di tempat kerja.
“Hospital? Mau apa dia kesana?” Sebelah alis Haleth terangkat memerhatikan raut wajah Adam yang tampak penasaran dan, khawatir, mungkin.
“Iris bilang asam lambungnya naik. Punya sakit asam lambung, malah mengajakku minum kopi. Aku rasa dia ingin membunuh dirinya sendiri.” Dengus Haleth disusul kekehan Adam.
“Lalu, kalian bertengkar?”
“Untuk apa?” Lagi-lagi Haleth angkat sebelah alisnya. “Kami mengobrol dengan cukup baik. Bahkan Iris mengajakku bertemu lagi.”
“Oh ya?”
Haleth menganggukkan kepalanya. “Iya. Tapi ngomong-ngomong, kalian berdua masih dekat?”
Sudah Adam duga Haleth akan bertanya seperti itu, lagi. Maka Adam pun juga tak akan bosan untuk menjawab. Tangannya terulur mengusap kepala Haleth dan memberikan senyumnya yang paling tulus.
“Untuk sekedar rekan kerja, iya. Selebihnya aku dan Iris tidak sedekat itu.” Jelas Adam.
“Iris bilang kau selalu berbicara tentangku padanya.”
“She did?”
“Yeah. Jadi aku pikir kau dan Iris masih seperti dulu. Apa aku harus waspada lagi terhadapnya?”
“Should I trust you?”
“Yes you do. Saling percaya itu adalah kunci sebuah hubungan.”
“Then don’t dare you to disappoint me. I’m trying to trust you again. Understand?”
Sudut bibir Adam terangkat, membentuk senyuman tipis yang seduktif. Lantas kian mengikis jarak antara dirinya dengan Haleth dan berbisik, “Yes Ma’am.”
Haleth terkekeh kecil seraya mendorong daksa sang pria agar menjauh. Setelah itu berdiri, guna pamit dan melangkah menuju kamar mandi. Adam ditinggalkan sendiri, hanya diperbolehkan menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan senyum tipis mengukir di bibir. Bisa saja sekarang Adam menyusul. Tapi mengingat wanitanya tengah lelah, pun dengan dirinya sendiri, Adam pun memilih untuk kembali membaringkan diri di ranjang seraya menunggu Haleth selesai.
...***...
Dering ponsel mengagetkan Adam yang terlelap. Pria itu mendecak dan mengusap wajahnya sedikit kasar. Dengan malas tangannya meraih ponselnya yang masih senantiasa berdering, tunjukkan nama asistennya di layar ponsel itu.
“Anak ini, tidak tahu ya sekarang jam berapa.” Meskipun menggerutu, Adam tetap menerima panggilan itu.
“Tidak bisa menunggu pagi ya, Carl?”
“Maaf Bos. Saya juga baru saja dikabari oleh Noah perihal Mr Lowell,”
“Kenapa dengan si tua bangka itu?” Spontan saja Adam turunkan kaki dan beranjak dari ranjang. Kakinya melangkah mendekati dan membuka pintu balkon lantas keluar dari kamar Haleth.
“Bos, si Lowell itu benar-benar keparat kurang ajar. Selain membuat Mr Warren mengkhianati kita, orang brengsek itu juga menyetir prostitusi anak dibawah umur.”
“Noah tahu dimana lokasi Lowell sekarang?"
"Lokasi Lowell sekarang berada di Honduras, Bos. Apa Bos akan ke Honduras hari ini?"
Adam terdiam seraya jari yang mengetuk pembatas balkon. Matanya tampak nyalang memperhatikan gedung-gedung tinggi. Bahkan pria itu abaikan suhu rendah yang menusuk kulit.
Beralih menyandar pada pembatas besi itu, Adam lamat-lamat perhatikan siluet yang tengah terbangun dari tidurnya. Tak lama siluet itu melangkah, berjalan mendekat ke arah pintu balkon. Sadar siluet itu tengah menghampirinya, Adam pun lantas bergegas sudah teleponnya.
"Keep watching him." setelah kata itu terucap, Adam menyimpan ponselnya di saku celana. Ia langkahkan kakinya dekati figur Haleth yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Ada apa?" wanita itu bertanya.
"Carl."
"Di jam segini?"
"Ada pekerjaan yang harus ku tangani. Tapi aku masih ingin bersamamu." dengan letih Adam menjatuhkan kepalanya di bahu Haleth. Aroma mawar yang tenang langsung menyeruak memanja indera penciumannya. Lantas diberi kecupan-kecupan kecil pada bahu hingga leher jenjang Haleth.
"Selesaikan dulu pekerjaanmu," pungkas Haleth menghentikan aktivitas Adam. "Siapa tahu penting?"
Terdengar jelas Adam menghela nafas di perpotongan leher Haleth.
"Aku akan pergi besok saja." Adam kembali angkat pandangannya lantas menggiring Haleth kembali ke tempat tidur.
"Okay, besok ya, benar?"
"Iya, besok aku selesaikan pekerjaan itu."
"Okay. let's back to sleep then."
...****************...
**Note
Halo, selamat malam para pembaca My Ex Husband. Nggak terasa ya, saya sudah lama sekali meninggalkan karya saya ini. Saya harap masih ada yang menunggu kelanjutan karya saya. Jika bertanya apa alasan saya Hiatus tiba-tiba, karena saya hamil dan melahirkan. I got a baby girl guys, hore 😭💖. Jadi selama itu saya tidak bisa melanjutkan dan terpaksa Hiatus. Tapi sekarang saya akan melanjutkan karya saya ini. Semoga saja masih ada yang menunggu ya. Maaf juga saya hiatus tanpa ada pengumuman apa-apa.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca My Ex Husband, yang selalu support saya, memberikan komentar dan suka, itu sangat berarti dan menjadi semangat saya. Saya akan menuntaskan karya ini, dan mungkin akan membuat karya-karya yang lain, doakan saja. Jangan bosan memberi saya komentar ya. Terus tunggu kelanjutan My Ex Husband dan karya-karya saya lainnya. Terima kasih banyak sekali lagi ☺️🤍**