
...•••••...
Sesampainya Sisil di sebuah parkiran mobil, gedung apartemen tersebut. Sisil keluar, lalu mengulurkan tangan kepada gadis kecil yang sudah berusaha keluar mengikuti Sisil.
"Awas ke jedot!" kata Sisil.
"Nggaklah ... aku udah gede, jadi tau!" Balqis menjawab.
"Dih, ke jedot sama sudah gede urusannya apa?" Sisil mencebikan satu sudut bibirnya.
"Pak, tunggu sebentar yah!" Sisil membungkuk, menatap seseorang di kursi kemudi.
"Siap!" katanya sembari mengacungkan satu jempol tanganya.
Sisil menekan tombol di handel pintu mobil tersebut, lalu berjalan kearah sebuah pintu Lobby.
Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka berjalan pelan, menyusuri lorong mencari pintu lift berada.
"Kok disini sepi yah?!" Balqis menatap Sisil.
"Nggak tau!" Sisil menekan tombol, lalu mundur beberapa langkah, untuk menunggu pintu itu terbuka.
"Untung aku ikut, kalo nggak teteh pasti takut!"
Ting!
"Baiklah, ayok biar cepet pulang lagi!" Sisil hampir berbisik.
Balqis tidak banyak berbicara, gadis kecil itu hanya menurut saat Sisil menarik tangan kecilnya kemanapun dia melangkahkan kaki.
Perlahan kotak itu terasa bergerak, sampai membuat Balqis mengeratkan genggaman tangannya.
"Jangan begini, teteh malah lebih takut. Mana apartemennya sepi banget lagi!" Sisil mengusap kepala Balqis.
Beberapa detik di dalam sana, akhinya pintu lift kembali terbuka setelah suara dentingan berbunyi.
Sisil menatap sekitar, mencari alamat yang Anna berikan sebelum mereka berangkat tadi, dengan satu tangan yang terus menggenggam tangan Balqis.
"Teh ayok ah pulang lagi!" Balqis menghentikan langkahnya.
"Kita sampai, sepertinya punya om Al di ujung sana!" Sisil menunjuk pintu unit yang berada paling ujung.
Balqis mengangguk, namun raut wajahnya menjadi muram saat rasa takut mulai menguasai dirinya.
Ting ... tung!
Sisil berdiri di hadapan pintu untuk beberapa saat, namun belum juga ada jawaban dari sang pemilik unit.
Ting ... tung!
Suara bell apartemennya terus berbunyi, Alvaro yang baru saja selesai mandi segera beranjak, sambil mengusak rambutnya yang masih sangat basah.
Tok ... tok .. tok .
"Permisi!" suara seseorang berteriak.
"Iya iya, tunggu!" Alvaro menjawab.
Klek!
Alvaro membuka pintu apartemennya sangat lebar, lalu pandangannya beradu dengan sosok yang pernah beberapa kali ia temui.
"Aaaaa!" Sisil berteriak, saat melihat Alvaro yang hanya mengenakan jogers pants hitam panjang, dan membiarkan bagian atasnya terbuka.
"Mataku!" kata Sisil dia menutup matanya.
Balqis terlihat bingung, dia mendongak, lalu menutup wajahnya dengan tangan mengikuti Sisil!
"Mata Aqis!" gadis kecil itu ikut menjerit.
Sementara Alvaro menjengit, menatap keduanya bergantian.
"Masuklah, saya pakai kaos dulu!"
Alvaro berlari kearah dalam, dengan pintu apartemen yang dibiarkan terbuka lebar.
"Udah teh, om Al nya nggak ada!" Balqis merik kemeja Sisil.
Perlahan Sisil menurunkan telapak tangannya, lalu melihat kearah dalam saat Alvaro juga tampak kembali berjalan kearahnya, hingga pandangan keduanya kembali bertemu.
"Aqis, ayok masuk!" pria itu berjongkok, lalu tersenyum kepada putri dari bosnya itu.
"Kami hanya sebentar," Sisil memberikan kartu undangan itu.
Alvaro mendongak, meraihnya lalu berdiri.
"Kamu mau nikah? pantas setelah liburan pak David kamu tidak pernah muncul lagi!" katanya tanpa membaca terlebih dulu.
"Di baca dulu pak, itu bukan milik saya!"
Alvaro menjengit, lalu menatap kartu undangan tersebut.
"Astaga, aku kira kamu yang mau menikah. Sorry yah!"
Sisil mengangguk.
"Kalau begitu saya pamit, maaf sudah mengganggu anda pak, mari."
Sisil menganggukan kepala, lalu menarik tangan Balqis untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
"Hey, kalian terlalu terburu-buru. Masuklah, Om punya eskrim lho!" Alvaro berteriak.
Balqis yang mendengar penawaran Alvaro pun seketika menarik tangannya, sampai langkah Sisil terhenti.
"Ayok, Mama sudah menunggu! Kita harus bersiap-siap." kata Sisil.
"Hanya sebentar, aku mau eskrim di rumah om Alvaro!"
Sisil menghela nafasnya kasar.
"Semua ekris sama saja, jadi ayok pulang!" Sisil kembali bangkit, lalu menarik tangan Balqis.
Gadis kecil itu menekuk wajahnya, mengerucutkan bibir saat merasa kesal kepada Sisil.
"Sisil! masuklah sebentar." Alvaro kembali berteriak.
Seketika gadis itu menoleh, lalu tersenyum.
"Terimakasih Pak, tapi saya harus cepat-cepat, Bu Anna dan Balqis mau ke salaon!"
Alvaro diam, seraya menatap punggung kedua gadis yang berjalan semakin menjauh, dan menghilang saat keduanya memasuki pintu lift yang langsung tertutup.
...••••••...
Di salah satu restauran mewah yang berada di tepi kota.
Anna, David, Balqis dan juga Sisil terlihat baru saja menepikan mobilnya, memasuki area tersebut lalu memarkirkannya dengan rapih.
"Sayang, ayoklah!" Anna meraih tangan suaminya, dia tersenyum saat melihat raut wajah David yang terlihat sedikit masam.
"Sungguh aku tidak rela! lihatlah pakaian mu!" David menatap Anna dari atas kepala hingga ujung kaki.
Gaun panjang tanpa lengan berwarna maroon, rambut coklat bergelombang yang ia biarkan terurai, dengan beberapa aksesoris yang Anna pakai, membuat prempuan itu terlihat lebih seksi malam hari ini.
"Ini Balqis yang pilih, tanya saja Sisil!" Anna menoleh kebelakang, dimana dua pasang mata tengah memperhatikan keduanya.
"Biar samaan kaya Aqis kan Pah!" Balqis berbicara.
David menghela nafasnya kasar, dia melemparkan punggung kearah sandaran mobil lalu memejamkan mata.
"Mas ... ayoklah!"
David menegakan kembali tubuhnya, lalu menatap Anna.
"Pakai jas ku yah?" katanya lalu membuka jas miliknya tanpa menunggu persetujuan Anna terlebih dulu.
"Mana bisa begitu!" Anna memekik.
"Bisa, apanya yang tidak bisa?!" sergah David kemudian memberikan kepada Anna.
"Mas!"
"Pakai atau kita pulang lagi!" David berbisik, berusaha menaha suaranya agar Balqis tidak mendengar.
Anna mencebik, lalu mendelikan mata namun tak urung juga ia memakai jas berwarna hitam milik suaminya.
"Baiklah sayang, ayok turun!" David melihat Balqis yang duduk bersama Sisil di kursi belakang, lalu membuka pintu mobil di sebelahnya.
"Bukain dong teh, princess mau keluar!" katanya kepada Sisil.
"Aih centil nya!" Sisil mencubit pipi Balqis lalu di membuka pintu mobil itu dan segera keluar.
Anna berjalan kearah suaminya berdiri, lalu meraih lengan berotot itu untuk ia peluk.
Suasana sudah terlihat sangat ramai, apalagi dekorasi taman yang terlihat memukau dengan hiasan lampu-lampu kecil berwarna kuning yang menyala.
Anna berjalan berdampingan dengan suaminya, lalu di susul seorang gadis cantik yang berjalan di belakang bersama sang pengasuh.
"Hai, kalian datang?" Rika berjalan menghampiri.
Anna tersenyum kepada prempuan yang kini memakai gaun serba putih, di ikutin suaminya yang memakain setelah jas berwarna senada.
"Selemat atas pernikahan kalian." Anna memeluk tubuh sahabatnya.
"Terimakasih sudah bersedia untuk datang!" Edgar mengulurkan tangan kearah David.
Pria itu hanya mengangguk, kemudian meraih tangan Edgar dan tersenyum tipis.
"Mas!" Anna menepuk lengan suaminya, saat melihat David tidak melepaskan cengkraman di tangan Edgar.
"Semua hidangan ada di sebelah sana, ambilah lalu cari meja VVIP untuk kalian." kata Rika kepada sahabatnya.
"Hey .. Onti ada banyak desert untuk mu, ambilah!" Rika membungkuk, lalu mengusap pipi Balqis.
Gadis kecil itu tersenyum, dan segera menarik tangan Sisil untuk membawanya kearah meja panjang berisi berbagai macam hidangan.
"Tunggulah disana, pilih meja dan duduklah. Aku akan membawakan beberapa makanan untuk mu." kata Anna kepada suaminya.
David mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Anna yang sudah terlihat asik memilah makanan.
Begitupun dengan Balqis, gadis kecil itu sibuk dengan berbagai hidangan manis yang sangat disukainya.
"Kau hadir?" David bertanya saat melihat Alvaro duduk sendiri.
Pria itu menoleh, lalu menatap David dan segera berdiri.
"Iya pak." Alvaro mengangguk.
"Bagaimana? suasana hatimu?!"
"Sudah lebih baik." Alvaro tersenyum samar.
"Tidak ambil makanan?"
Alvaro menggelengkan kepala.
"Zuppa sup untuk mu sayang!" Anna langsung meletakan nya di atas meja.
David menoleh, lalu kembali memandanga Alvaro.
"Ah .. akhirnya kau datang." kata Anna.
"Mama ... lihat! aku membawa banyak desert." Balqis beteriak.
"Duduklah, emm ... Sil? kamu duduk sama Alvaro tidak apa? dimeja ini hanya tersedia tiga kursi." Anna menatap Sisil.
Gadis itu mengangguk, tanpa menunggu lebih lama lagi dia duduk tepat di samping Alvaro.
"Tidak."
"Mau saya ambilkan?"
"Tidak usah, kau saja!"
"Jika Bapak mau saya ambilkan, tidak apa sungguh!"
Pria itu diam, dia menatap gadis itu lekat.
Ikatan rambut yang terlihat sangat rapih, gaun pesta berwarna maroon lengan panjang, dengan make up dan bulu mata yang membuat Sisil terlihat lebih cantik dari pada biasanya.
Dia sangat berbeda!
"Hallow, bapak baik-baik saja?" Sisil terlihat bingung.
"Hah! i-iya Sil, saya baik-baik saja. Tolong ambilkan Zuppa sup saja satu yah!"
"Baiklah."
Sisil bangkit, dia kembali berjalan kearah dimana banyak orang berkerumun, untuk membawakan Zuppa sup yang Alvaro minta.
...••••••...
Setelah menikmati berbagai hidangan dan berpamitan kepada Rika Dan Edgar, mereka mulai berjalan menjauh dari keramaian itu, dengan Balqis yang sudah terlelap di atas pangkuan David.
"Yang benar saja, apa kita meninggalkan Sisil? bagaimana kalau dia mencari kita mas?" Anna menoleh kebelakang, merasa tidak rela meninggalkan Sisil yang masih sibuk berbincang dengan asisten suaminya.
"Biarkan saja!" David berbicara, lalu membuka pintu mobil dan membuat tubuh Balqis berbaring senyaman mungkin.
"Sudahlah, Alvaro akan mengantar Sisil pulang." David berujar.
"Tapi aku khawatir mas!"
"Masuk, Alvaro tidak akan memakan Sisil. Percayalah!"
Anna mengehela nafas, lalu masuk kedalam mobil dengan perasaan sedikit tidak rela.
Sementara itu Sisil masih asik berbicara banyak hal, sampai tidak menyadari bahwa Anna sudah tidak ada bersamanya.
"Mau coba?" Alvaro mengangkat gelas di genggamannya.
"Apa rasanya enak? maksud ku ... apa rasanya seperti minuman pada umumnya!?"
"Lebih hangat!" kata Alvaro.
Sesaat Sisil berpikir, lalu mengangguk setelah beberapa saat.
"Nah, cobalah sedikit!" Alvaro menggeser gelas tersebut, yang sudah ia isi sedikit minuman berwarna merah itu.
Tanpa ragu Sisil langsung menenguk minuman yang Alvaro berikan, hingga dibeberapa detik gadis itu terbatuk-batuk.
"Tidak enak!" Sisil menjegit keras, sampai terlihat ia akan memuntahkannya kembali.
Namun Alvaro hanya tergelak, saat melihat reaksi gadis yang ia kenal sejak David membawanya untuk menjadi pengasuh dari Balqis dulu.
"Baiklah, kita pulang cepat!" Alvaro bangkit.
"Bapak saja duluan, saya pulang bersama Bu Anna." katanya tanpa menyadari sesuatu.
"Mereka sudah lebih dulu pulang, apa kau tidak menyadari itu?" lagi-lagi Alvaro tergelak.
Pandangan Sisil mencari keberadaan Anna dan David. Benar saja, dia tidak menemukan mereka.
"Astaga! bagaimana aku pulang?!" Sisil terlihat panik. "Aku keasikan curhat yah!" kata Sisil, pandangannya sendu.
"Maka dari itu ayok kita pulang!" Alvaro meraih tangan Sisil, lalu menariknya untuk pergi dari sana.
...••••••...
"Kenapa kita kesini pak? rumah saya masih jauh!" Sisil bertanya, saat Alvaro malah berbelok memasuki parkiran mobil apartemen yang Sisil datangi tadi siang.
"Justru itu, karena jauh aku harus membasuh wajahku dulu. Kau tau aku sedikit pusing karena banyak minum wine tadi."
Sisil diam.
"Hanya mandi sebentar, tunggulah di atas." pinta Alvaro.
"Ayoklah, hanya sebentar!" ucapnya lagi saat Alvaro melihat Sisil terus terdiam.
"Berjanjilah tidak akan lama, sudah jam sebelah lebih."
Alvaro mengangguk, kemudian keluar lebih dulu.
Dengan langkah gontai Sisil mengikuti Alvaro, perasaannya terasa cemas, ia khawatir orang tuanya akan marah jika Sisil pulang terlalu malam, apalagi bersama seorang pria.
Klik!
"Masuklah!" Alvaro membukakan pintu agar Sisil masuk terlebih dulu.
Sisil mengangguk, kemudian dia berjalan masuk kedalam apartemen yang berukuran tidak terlalu besar itu.
Alvaro menutup pintu apartemennya, lalu masuk kedalam kamar dengan segera.
Sisil duduk di sofa depan tv dengan perasaan gelisah, bahkan hampir setiap detik pandangannya menatap jam dinding.
"Astaga, mana hp ku lowbat lagi!" cicit Sisil pelan.
Lama Sisil menunggu, namun Alvaro tak kunjung keluar dari kamarnya. Gadis itu memberanikan diri, lalu berjalan kearah pintu kamar yang tertutup.
Tok .. tok ..
"Pak, apa sudah selesai? ini sudah hampir jam dua belas malam!" ujar Sisil.
Hening, tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Pak?"
Tok ... tok .. tok ...
Namun masih hening tidak ada jawaban sedikitpun.
Klek!
Sisil menekan handle pintu kamar itu.
"Nggak di kunci?" Sisil bermonolog.
Sisil mendorong pintu itu agar lebih terbuka.
Dan betapa terkejutnya saat Sisil melihat Alvaro berbaring terlentang dengan pakaian yang sama.
Sisil masuk, dan berjalan mendekat.
"Pak, bangun ayok antar aku pulang!" Sisil menepuk-nepuk Alvaro.
"Pak? bangun!"
"Bapakk!" Sisil berteriak, sampai membuat Alvaro terkejut, hingga membuat tubuhnya duduk seketika.
Alvaro menatap Sisil dengan tatapan sendu.
"Pak!?" Sisil kembali memanggil.
Namun tanpa Sisil duga Alvaro bangkit dan langsung memeluk tubuh Sisil.
"Aku sangat merindukan mu sayang, aku merindukan mu!" dia merancau.
Deg!
Sisil langsung mendorong tubuh Alvaro.
"Bapak kenapa?"
Alvaro diam, dia berusaha mengendalikan kesadarannya, sampai mata Alvaro mengerjap beberapa kali.
"Mikaila Adira, kemarilah sayang!" Alvaro kembali memeluk tubuh Sisil.
Sisil tertegung saat mendengar pernyataan Alvaro.
"Kenapa kau pergi? kenapa kau jahat sekali? dulu kau pergi bersama David dan sekarang kau malah pergi lebih jauh lagi!" pria itu merancau.
Sisil tersadar, dia kembali mendorong tubuh Alvaro. Namun dekapannya sangat kencang sampai posisi pria itu tidak berubah sedikitpun.
Tanpa Sisil sangka, Alvaro menunduk dan langsung menyambar bibirnya.
"Hhhmmm!" Sisil mendorong Alvaro.
Plak!
Sisil menampar Alvaro sangat kencang.
"Sadarlah, bapak mabuk!" nafas Sisil memburu, matanya berkaca-kaca saat rasa takut mulai menghantui.
"Beraninya kau!" Alvaro meradang, lalu kembali mendekat dan meraih bibir ranum Sisil.
Sisil mencoba melepaskan diri, tangan kecilnya bahkan terlihat terus memukul dada Alvaro.
"Kau pikir bisa pergi lagi? tentu tidak!" Alvaro menjeda cumbuatnya.
Sisil menjerit, dia berusaha melepaskan diri dari Alvaro yang sedang menggila saat mengira Sisil adalah Mika.
Alvaro mengangkat tubuh Sisil, lalu melemparkan tubuh Sisil ke atas tempat tidur.
"Kumohon jangan!" Sisil menangis, saat melihat Alvaro mulai menanggalkan pakaiannya.
"Aku tidak akan melepaskan mu Mika!"
"Aku Sisil pak, bukan Bu Mika!"
Namun Alvaro seolah tuli, sampai ia tidak menghiraukan tangisan Sisil.
Pria itu kembali mengungkung tubuh Sisil, menyentuh tubuh itu dengan sedemikian rupa, walau Sisil terus memberontak di bawah tubuhnya.
"Diamlah Mika!"
"Aku bukan Mika, aku Sisil!"
"Kau Mika, diam atau aku akan lebih menggila!" Alvaro berteriak.
"Aku bukan Mika, aku Sisil pak!" katanya lalu menggigit lengan Alvaro.
"Aahhhh!"
Alvaro lengah, lalu Sisil berlari kearah pintu kamar untuk melepaskan diri. Nahas, Alvaro sudah terlebih dulu meraih tubuh itu sebelum Sisil benar-benar keluar.
Plak!
Alvaro menampar Sisil kencang, sampai sudut bibirnya mengalirkan darah.
Gadis itu menangis.
"Kumohon jangan!" Sisil merintih saat Alvaro kembali menindih tubuhnya, menyentuh dengan sedemikian rupa lalu menarik celana pendek yang Sisil kenakan.
"Tolong!"
Keadaannya sudah sangat memprihatinkan, rambut berantakan, bibir yang berdarah, bahkan gaunnya sudah terlihat robek.
Rintihan, jeritan, tangisan kencang kini memenuhi apartemen Alvaro saat pria itu benar-benar sudah merenggut sesuatu yang selama ini Sisil jaga.
Aku kotor! batin Sisil menjerit.
...•••••...
Bersambung!