
1 minggu kemudian, Adam memutuskan kembali ke California setelah menghabiskan waktu di Roma tanpa hasil. Sebenarnya bukan tanpa hasil. Bawahan Adam sebenarnya sudah menemukan tempat persembunyian orang yang di cari. Namun lagi-lagi yang bisa didapatkan hanyalah para suruhan yang begitu loyal pada Lowell. Sedikit menjengkelkan, karena lebih baik Adam bertemu langsung dengan Lowell daripada harus meladeni orang-orang yang tak setara dengannya.
Maka kini tibalah private jet yang membawa Adam di lapangan terbang Los Angeles. Lelaki itu mendahului keluar dari pesawat, disusul Carl yang terus berada di belakang sang atasan.
“Nyonya Haleth sudah menunggu anda, Bos.”
Adam menganggukkan kepalanya seraya menginstruksikan agar Carl langsung membawa barang-barangnya ke penthouse. “Kau juga langsung pulang. Aku akan satu mobil dengan Haleth.”
Tanpa diperintah dua kali, Carl pergi meninggalkan Adam. Pria itu kini berjalan sendiri menuju tempat dimana Haleth menunggu. Keluar dari terminal kedatangan, Adam dapat melihat figur Haleth berdiri diantara orang-orang. Wanita itu melambai pada Adam, dan berjalan mendekati lelaki tersebut.
“Hei,” Adam rengkuh pinggang Haleth, dan menariknya ke dalam sebuah ciuman. Mereka salurkan rindu dalam ciuman itu untuk beberapa detik sebelum saling memeluk satu sama lain. “I miss you.”
”Baru tidak bertemu satu minggu,” cibir Haleth seraya lepas pelukan sang pria.
Adam mendengus, lantas ajak Haleth untuk keluar dari bandara.
“Kamu libur?” tanya Adam.
“Iya. Hanya satu hari.” jawab Haleth seraya membuka kunci mobilnya. Adam mengambil alih kemudi, dan membiarkan Haleth duduk di sampingnya.
“Tidak mau menginap di tempatku dulu? Tidak lelah menyetir berjam-jam dari California ke LA?” Haleth refleks naikkan sebelah alisnya begitu mendengar tawaran Adam. Meski sedikit terbesit pikiran negatif, tapi tidak mungkin juga Adam nekat melakukannya. Mereka sedang sama-sama lelah. Mengerti satu sama lain lebih dibutuhkan dalam hubungan mereka sekarang.
”Ya sudah. Lagipula Tasha sedang di bersama Mama kamu juga.” ujarnya menyetujui.
Dikecup dengan hati-hati punggung tangan Haleth oleh Adam. Keduanya saling memberi senyum sebelum Adam fokus menyetir.
Suhu di Los Angeles mulai turun seiring dengan berubahnya musim. Musim dingin mulai tiba. Daun-daun yang gugur kini telah digantikan oleh putihnya salju. Namun lalu-lalang kendaraan masih padat memenuhi jalan raya. Hari ini adalah weekend. Kemungkinan besar jalan raya tersebut ramai oleh kendaraan yang diisi anggota keluarga yang sedang menghabiskan waktu akhir pekan. Terlebih sudah dekat dengan hari Natal. Pasti banyak keluarga yang berbondong-bondong membeli pernak-pernik Natal, hadiah, atau hal-hal yang ada di perayaan Natal.
Berbicara tentang Natal, mendadak Haleth teringat. Selama ini, Haleth merayakan Natal hanya bersama Emery dan juga Tasha. Sudah beberapa kali Natal juga, Tasha tidak merayakannya bersama Adam. Tasha sedari dulu ingin sekali, bisa merayakan Natal bersama sang Ayah. Namun Haleth dulu selalu menentangnya. Lagipula saat itu, Adam juga jarang bisa merayakan hari besar bersama sang anak. Melihat membaiknya hubungan Haleth dengan Adam, tak ada salahnya kan, Haleth membicarakannya pada sang mantan suami?
Tetapi sebelum Haleth memulai topik pembicaraannya, Adam telah menghentikan mobilnya di basement. Yang mana artinya, mereka telah sampai di gedung penthouse Adam.
“Penthouse ini jarang ditempati. Jika kamu ingin tinggal di sini, aku tidak keberatan.” celetuk Adam setelah lift bergerak.
“Lalu pekerjaanku bagaimana? Dasar aneh,” sahut Haleth mendecak. Adam pikir, Haleth sama seperti dirinya. Yang bisa bekerja di rumah, bersantai saat asisten sibuk kerepotan, lalu memutuskan suatu hal tanpa pikir panjang.
“Ya, pindah?”
“Sekolah Tasha?”
“Pindah juga.”
Haleth menggelengkan kepalanya. Ia lantas mendahului Adam keluar dari lift begitu mereka sampai di lantai 19. Adam gunakan kartu akses untuk membuka pintu, dan mempersilahkan Haleth masuk terlebih dahulu. Lampu menyala dengan otomatis begitu mereka masuk. Dengan cekatan Adam membantu Haleth untuk menyimpan mantel yang wanita itu pakai, dan mengganti stilettonya dengan slipper.
”Kasihan jika Tasha harus pindah sekolah. Aku takut dia sulit mendapat teman.” katanya setelah Adam menggantung mantelnya.
”Anakku kan anak baik. Tidak mungkin dia sulit mendapatkan teman baru,”
“Adam.”
Adam terdiam, lantas mengangguk atas interupsi Haleth. “Okay. Aku tidak akan memaksa lagi,”
“Setidaknya biarkan Tasha memilih.”
“Okay, I know Honey. I’m Sorry.”
“Good. Mau kopi?”
“Okay.”
“Thank you, Hun.” Adam tersenyum, lantas gulirkan pandangannya ikuti Haleth yang berjalan menuju dapur setelah membalas senyumannya. Pria itu duduk di salah satu kursi bar, seraya amati kegiatan sang wanita.
“Bagaimana kalau kita belanja perlengkapan Natal saat aku mulai cuti nanti?”
“Kamu jadi cuti bulan ini? Berapa hari?”
Haleth menganggukkan kepalanya. “Iya. Aku hanya dapat jatah cuti dua hari bulan ini.” jawabnya seraya menuangkan kopi ke dalam mug.
“Hanya dua hari?”
“Memang maunya berapa hari? Satu bulan? Itu resign namanya.” wanita itu mengomel. Dua mug kopi yang masih mengepulkan asap diletakkan di atas meja bar, kemudian Haleth menyusul duduk di samping Adam.
“Ya memangnya dua hari kamu bisa ngapain aja?”
Selagi menyesap kopinya, Haleth mengendikkan bahu. Setelahnya ia menatap Adam, mengerutkan kening seolah memikirkan perkataan Adam. “Belanja? Hm, ide bagus kan?”
“Hanya belanja? Dengan aku dan Tasha?”
“Mhm,” Haleth menyangga dagu. Diamatinya Adam yang tampak sedikit kurang terima atas keputusan cuti Haleth. Pasalnya, hanya dua hari. Padahal, Adam sudah memikirkan rencana sedemikian rupa untuk mengisi waktu cuti Haleth.
“Kenapa memangnya? Lagipula aku Dokter. Tidak bisa lama-lama mengambil cuti.”
“Aku sudah ada rencana mengajakmu jalan-jalan ke Swiss.” beritahu Adam dengan kecewa. “Bukankah kamu ingin sekali pergi ke sana?”
Ah, Swiss. Tentu saja Haleth sangat menginginkannya. Pergi ke Negara layaknya Surga itu, adalah impian Haleth sejak Haleth masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Hanya saja hingga saat ini, impian Haleth yang satu itu belum dapat terwujud. Waktunya selalu habis untuk pendidikan, karir, dan juga untuk keluarganya. Mendapat libur satu hari pun bagi Haleth itu lebih dari cukup untuk menghabiskan waktu bersama Tasha dan Emery.
“Tidak bisa lebih lama?” jangankan Adam. Haleth sendiri pun tidak bisa menegosiasinya. Peraturan itu sudah ditetapkan oleh pihak rumah sakit, dan Haleth tidak mungkin menentangnya.
Haleth hela nafasnya, kala melihat tatapan penuh harap pria dihadapannya itu. “Aku ingin,” lirihnya. “Tapi aku tidak bisa.”
Adam refleks tangkup kedua pipi Haleth. Jemarinya usap dengan perlahan permukaan kulit yang lembut itu. Saat Adam menatap lekat kedua netra Haleth, pria itu tak menemukan sorot letih yang ia cari. Jantungnya sontak berdenyut nyeri. Teringat perilaku buruk yang mengharuskan Haleth pergi. Bagaimana bisa, Adam menyia-nyiakan wanita tangguh ini. Kuat melawan terjangan ombak yang teramat tinggi. Memutuskan untuk bercerai saat hamil, itu bukanlah hal sepele yang semua perempuan bisa lakukan.
Adam benar-benar merasa bersalah. Masa lalu yang kelam itu, memang murni salahnya. Dengan hati yang masih labil dan gampang diguncang, Adam dengan begitu mudahnya berpaling. Sesak, saat mengetahui selama beberapa tahun ini Haleth menjalani kehidupannya tanpa kesulitan, meskipun tanpa dirinya. Wanita itu benar-benar memfokuskan diri dengan bekerja dan membahagiakan putrinya.
Diteliti satu per satu bagian wajah Haleth dengan sendu. Terlihat samar kerutan di kening Adam. Darahnya berdesir seketika. Dibalasnya tatapan Haleth yang teramat dalam. Tatapan yang amat berbeda dari terakhir kali mereka bertengkar.
Adam tahu, dan sangat mengerti. Wanita yang kini ia rengkuh wajahnya, yang sangat Adam rindukan, yang Adam inginkan kembali sosoknya untuk kembali, tengah mencoba untuk memberi Adam kepercayaan sekali lagi. Mana mungkin kini Adam berani melakukan hal bodoh seperti di masa lalu lagi?
Tubuh Haleth lantas ditarik ke dalam sebuah pelukan yang sarat akan arti. Kedua mata Adam terpejam, rasakan dekap nyaman yang sudah lama ia rindukan. Aroma khas Haleth langsung saja menyapa indera penciuman sang pria. Menenangkan. Adam seperti, kembali ke ‘rumah’.
“Selama ini, kamu pasti kesulitan.” lirih Adam di perpotongan leher Haleth. Wanita itu menarik senyum tipis yang tak dapat Adam lihat, kemudian mengusap lembut punggung kokoh sang pria.
“Maafkan aku Haleth. Itu semua salahku. Jika aku diberi kesempatan, aku akan memperbaiki semuanya. Memperlakukanmu dengan hati-hati dan lebih baik dari yang aku bisa.” senyum Haleth kian melebar. Ia sesekali menganggukkan kepala, merespons segala kata yang terucap dari bibir Adam.
“Haleth, ayo melangkah bersamaku lagi. Memulainya dari awal tanpa ada yang bisa mengusik hubungan kita lagi. Ayo kita ulang masa kecil putri kita yang selalu tanpa ada kita di sana.” Adam perlahan melepas pelukannya, kembali menatap Haleth penuh dengan sorot harap di sana.
“Perlahan saja ya, Adam. Ini, tidak akan mudah untukku.” Adam tersenyum. Ia mengangguk setuju atas jawaban Haleth. Ia menghargai keputusan wanita itu. Adam juga tidak akan memburu Haleth untuk segera memberinya kepastian. Adam yakin, perlahan namun pasti itu, pasti akan lebih memenuhi ekspektasi hasilnya.
“Iya. Jangan terlalu terbebani. Aku tidak akan menekanmu untuk segera memutuskannya.” ucap Adam kemudian daratkan kecupan yang cukup lama di kening Haleth.
“Thank you, Adam. Percayalah, kini aku tengah mencoba. Tolong, bantu aku untuk mempercayaimu lagi.”
...***...