
...•••••...
Tok .. tok ..
Suara pintu kamar kembali di ketuk, David yang baru saja selesai memakai jogers pants nya langsung menoleh ke arah suara terdengar.
Dia berjalan kesana, membuka kunci dan menekan handle pintu.
Klek!
Pintu itu terbuka lebar, sampai memperlihatkan David yang kini tengah bertela*jang dada.
Sisil yang tengah berdiri dihadapannya terkesiap, seketika membulatkan mata dengan perasaan yang terasa bergemuruh.
Om-om bukan sembarang om-om! umpat Sisil dalam hati.
"Kenapa sayang?" David berjongkok di hadapan gadis yang terlihat menangis pelan, namun nafasnya sudah tersenggal-senggal.
Tanpa menjawab Balqis menerobos masuk.
"Maama?" suara teriakannya menggema didalam ruangan.
David menjengit, dia menatap Balqis yang sedang mencari keberadaan Anna.
"Kalau begitu saya pamit kebawah lagi pak!" pamit Sisil, dia tersenyum canggung kemudian beranjak pergi begitu saja setelah David menganggukan kepala.
Perlahan David menutup pintu kamar yang masih sangat gelap, meraih saklar lampu dan menyalakannya.
"Aqis kenapa sayang?" David berjalan menghampiri gadis kecil itu yang sudah duduk di tepi ranjang.
Dia tidak menjawab, raut wajahnya masam dengan mata yang juga sudah sangat memerah.
Apa aku keterlaluan? batin David berbicara.
Tidak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka, munculah Anna yang sudah kembali berpakaian lengkap.
"Maamaa!" dia bangkit, kemudian berlari kearah Anna.
"Lho! kenapa nangis?" Anna berjongkok, menatap wajah putrinya.
Balqis belum menjawab, dia malah memeluk tubuh Anna erat, hingga rintihan samar itu kembali terdengar.
"Paapa jahat!" katanya lantang.
Sementara pria itu mematung, dengan kening yang mengkerut.
"Kenapa jadi Paapa?" David menunjuk dirinya sendiri.
"Papa mau ambil Mama, aku nggak suka!" katanya sambil terus menangis.
David berjalan mendekat, dia ikut berjongkok. Namun saat ingin berbicara Anna mengacungkan satu jemari dan meletakkannya di bibir.
David mengangguk.
"Ini masih malam, ayok tidur lagi!" tukas Anna kepada Balqis, kemudian memangku Gadi kecil itu sampai ke atas tempat tidur.
Anna membaringkan Balqis, menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.
"Kenapa? kata Aqis mau nginep di kamarnya teteh Sisil? kok malah nangis sama marahin Papa." Anna mengusap kepala putrinya perlahan.
"Iya aku tau!" nafasnya masih tersenggal-senggal, bukti balita itu menangis histeris beberapa saat lalu. "Tapi kenapa pas aku mau pindah, pintunya di kunci .. aku ketuk nggak di buka." suara Balqis kembali bergetar, dia tampak cukup kesal dengan kejadian malam ini.
David hanya diam, dia terus berdiri dan memperhatikan kedua wanita yang sangat dicintainya.
"Kenapa pintunya nggak di buka .. Aqis kangen Mama tadi!" cicit Balqis lagi.
"Maaf, mungkin Mama lagi di kamar mandi. Papanya tidur!" ucap Anna.
Sesaat Balqis diam, di memeluk tubuh Anna erat sambil memejamkan mata.
Perlahan David mulai mendekat, naik keatas tempat tidur lalu mencium pipi putrinya.
"Maafin Papa yah? janji nanti kalo Aqis ketuk pintu Papa langsung bangun!" David berbisik, lalu menatap wajah Anna.
Prempuan yang kini tengah berusaha menenangkan kekesalan putrinya.
"Aku bilang apa?" cicit Anna pelan.
"Aku nggak tau kalo Balqis akan se-marah ini!" David menjawab.
Anna menghela nafas, lalu memutar bola matanya.
"Aqis .. sayang? maafin Papa yah?" David langsung mencium pipi putrinya kembali.
Balqis diam.
"Jangan marah, besok kita jalan-jalan lagi!" David kembali berbisik.
Namun Balqis masih diam, dengan hembusan nafas yang mulai teratur.
David kembali menatap Anna, prempuan yang terus mengusap punggung Balqis.
"Dia tidur?" David menatap istrinya penuh tanya.
Pandangan Anna menunduk, menatap wajah Balqis yang sedang memeluknya beberapa detik.
"Iya!" prempuan itu mengangguk.
David mengehal nafas kasar, menghempaskan tubuhnya hingga kini ia berbaring terlentang, memandang lurus langit-langit kamar.
"Aku keterlaluan yah?" katanya tanpa mengalikan pandangan.
Anna bangkit, sambil melepaskan tangan Balqis yang masih memeluk pinggangnya.
David membenarkan posisi, tubuhnya sedikit bergeser, hingga kini Anna berbaring diatas lengannya dengan nyaman.
"Tapi aku tidak bisa berhenti sayang!" David berbisik, lalu mencium pipi Anna.
"Hem .. padahal kita bisa berhenti dulu. Dan melanjutkannya ketika dia kembali tidur." Anna berujar, jemari tangan Anna mulai bermain di dada polos suaminya.
David meraih tangan itu, hingga Anna berhenti dan kedua matanya saling menatap.
"Aku sedang kejar tayang." suara David terdengar lirih.
Anna menjengit.
"Apa itu maksudnya?"
David terkekeh, lalu menggerakkan rangkulan di tubuh Anna saat pria itu merasa gemas.
"Aku ingin rahim mu kembali terisi bayi." David tersenyum.
"Apa harus secepatnya?" Anna bertanya.
David menganggukan kepala.
"Aku sudah empat puluh satu tahun, sayang. Kalo nggak kejar tayang gimana? aku udah keburu tua."
Anna tersenyum, mengulurkan tangan lalu mengusap rahang David yang di tumbuhi bulu brewok.
"Kita lihat beberapa bulan kedepan, apa usaha mu berhasil!" Anna tersenyum.
David menundukan pandangan, mencoba mengikis jarak diantara dirinya dengan Anna.
Cup!
David meraih bibir Anna, memangut ya untuk beberapa saat, dan berhenti saat Anna mendorong bahu kokohnya.
"Nanti Balqis bangun!" suara Anna rendah.
"Iya .. ayok tidur! aku tidak mau dia semakin marah .. karena merasa aku akan mengambil Mama Anna, padahal itu ada benarnya sedikit." David terkekeh.
"Kadang aku cemburu saat Balqis terlalu menguasai mu, tapi kini dia juga merasakan hal yang sama seperti ku. Dia cemburu karena aku tidur bersama mu, sementara dia tidak!" sambungnya kembali.
"Kalian ini kenapa? kemarin-kemarin kompak .. sekarang kok malah kaya saingan!" sergah Anna.
"Dia ingin selalu bersama mu, begitupun aku yang selalu membutuhkan mu! jadi seperinya kita harus bersaing, siapa yang akan mendapatkan perhatian lebih dari kamu." David tertawa pelan.
"Ck! aneh sekali!" Anna berdecak, seraya memukul lengan David cukup kencang.
"Baiklah, mari tidur! atau sesuatu akan kembali terbangun karena kamu sangat cantik malam ini."
"Dih, ... gombal!" Anna mendelik.
David tersenyum, dia menarik pinggang Anna sampai tubuhnya saling menempel tidak ada jarak sedikit pun.
"Lalu apa ini!?" David menarik tali kecil yang mengait di bahu Anna. "Terus ini!?" beralih menyentuh bahu Anna.
"Memang modelnya seperti ini!" Anna menjawab.
"Ini daerah dingin, kenapa tidak membawa gaun tidur lengan panjang? atau kau sengaja ingin menggoda ku ... heuh!?" David berisik, namun terdengar nakal.
Mendengar perkataan David Anna hanya diam, dia membisu dan merasa malu, saat David mengetahui niatnya.
"Benar bukan? kau ingin menggoda ku! membuat aku lepas kendali seperti biasanya." David menyeringai.
"Apa mas tergoda hemm?" Anna menggigit bibi bawahnya.
"Apa kau tidak menyadarinya, Kyara Anna. Gadis polos yang berubah menjadi seorang wanita dewasa yang nakal!"
Keadaan kembali memanas, hembusan nafas keduanya saling menyapu satu sama lain.
"Kau tau? tubuh mu sekarang lebih seksi." David mulai menggerayangi tubuh bagian dalam Anna yang sama sekali tidak memakai apapun.
"Setelah melahirkan Balqis, aku tidak bisa membuat tubuhku ramping seperti dulu, David!"
"Kau mulai lagi!" David menghembuskan nafasnya kasar.
"Tentu, keadaan seperti ini yang membuat ku berani menyebut namamu!"
"Berhentilah!" David mencoba menahan sesuatu.
Anna menyeriangan.
"David Julian!"
"Anna stop!"
"I can't stop David.. but, I wanna play again!"
Pria itu mengeratkan rahangnya, hingga gemeletuk gigi pria itu berbunyi.
Dia bangkit, meraup tubuh itu lalu membawanya kearah kamar mandi, meninggalkan Balqis yang terlelap dengan keadaan lampu kamar menyala.
"Aku tidak akan berhenti, meski kau merintih dan memohon ampun!"
Sementara Anna hanya terus tersenyum, menatap wajah tampan yang kini tengah memangku tubuhnya.
...•••••...
Ngejar setoran gini mamat dah! baru aja di ambekin anaknya, eh mulai lagi! 😌
Btw, jangan lupa like, komen dan hadiah seperti biasa. Buat kaka-kaka yang kurang sreg dengan ceritanya boleh skip, dari pada tiba-tiba muncul dengan komen yang membuat mood othor berantakan.
Selama tulisannya nggak menjiplak karya orang, bagaimanapun alurnya tolong hargai saja. Tidak mudah menuangkan sebuah ide kedalam kata-kata, jadi mohon bijak .. terimakasih!