
...•••••...
Keesokan harinya tepat pukul 06:30.
Rumah Anna sudah terlihat ramai karena kedatangan lima pekerjanya yang sudah beberapa hari ini sengaja Anna liburkan.
"Majikan kamu belum bangun?" Bu Ningsih bertanya kepada putrinya.
Sisil hanya mengangguk, ia terlihat sedikit ketakutan jika wanita itu mengetahui kesalahan nya semalam.
"Yaudah, bawa Teh manis hangatnya kedepan!" titah Bu Ningsih kepada Sisil.
(Auto di ejekin ka Ririn lagi ini mah! batin Sisil berbicara. Teh Sisil, Teh Sosro dan sekarang Teh manis.)
Deg!
Gadis itu tersentak, ia yang sedang dudukpun mendongak, menatap ibunya dengan tatapan terkejut.
"Kamu disuruh antar Teh aja kaya mau diapain aja! sana cepet ... kasian Faiqa, Anis sama Syaif kalo nunggunya sambil ngelamun." seru Bu Ningsih lagi.
"Nggak mau ah .. a-aku, aku malu!" sergah Sisil dengan bibir yang cemberut.
Bu Ningsih mengerenyitkan dahi, ia bingung dengan sikap Sisil.
Tak!
Wanita itu menoyor kepala Sisil.
"Malu ku saha Ari kamu!" raut wajahnya kesal. "Buru anterin dulu, mula malu mula malu .. cepet!" tegas Bu Ningsih, dengan mata yang terlihat melotot.
Seseorang yang sedari tadi duduk memperhatikan keduanya mulai bangkit, kemudian berjalan menghampiri Bu Ningsih.
"Yowes biar saya saja, sekalian mau ketemu om Aip." ucapnya kemudian terkikik pelan.
Mendengar perkataan Ratmi seketika Sisil bangkit, lalu menggeser tubuh prempuan itu cukup kencang.
Tidak semudah itu perguso! ucap Sisil dalam hati, dengan mata yang juga ikut mendelik.
"Lho!" Bu Ningsih melongo.
"Sekalian mau bangunin Aqis." katanya kemudian berlalu pergi.
Sementara dua wanita yang sedang berdampingan itu diam, lalu saling memandang satu sama lain.
"Anaknya Bu Ningsih lagi jatuh cinta itu!" Ratmi terkekeh.
Wanita itu menjengit.
"Sama siapa? Sisil nggak pernah cerita!" tukasnya.
"Sama siapa lagi, bu! laki-laki disini cuma Syaif, ya kali, masa Sisil suka sama Faiqa atau Anis .. nggak mungkin." Ratmi terus tertawa, namun Bu Ningsih hanya diam.
Dia tampak berpikir.
"Masasih? Sisil nggak pernah cerita lho, beneran." Bu Ningsih bingung.
"Sisil nggak bakalan berani dong Ibu!" Sergah Ratmi.
Sementara di sudut lain rumah Anna. Sisil terus berjalan kearah sofa dimana tiga orang sedang berbincang diselingi canda gurau. Terlihat dari ekspresi wajah mereka yang ceria dan kekehan pelan yang terdengar jelas.
"Minumnya mbak .. mas." Sisil meletakan nampan berisi beberapa cangkir Teh manis hangat.
"Oh iya, makasih ya Sisil." suara Syaif terdengar lembut, bahkan ia tersenyum manis hingga membuat jantung Sisil berdebaran lebih kencang lagi.
"I-iya om Aip .. eh maksud saya mas .. eh ka!" Sisil gelagapan.
"Boleh bangunin Bu Anna nggak? lama-lama diem disini juga nggak enak, canggung." Faiqa bertanya.
Sisil menoleh, ia tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
"Kalo begitu saya tinggal lagi." Sisil menatap mereka bergantian, lalu beranjak pergi menaiki tangga setelah Sisil meletakan nampan itu di atas meja makan.
Sisil menghela nafas beberapakali, dadanya naik turun saat nafasnya terus memburu.
"Santai Sil .. slow kendaliin diri kamu!" gumam Sisil seraya mengusap dadanya.
"Eheum .. Huh!" Sisil mencoba menenangkan dirinya lagi.
"Bu .. ada anak-anak di bawah." kata Sisil.
Tok .. tok ..
"Ibu ..
Klek!
Anna membuka pintu kamarnya.
Tampaklah Anna yang terlihat baru saja selesai mandi. Wajah segar dengan lilitan handuk dikepalanya.
"Sudah datang semua?" Anna berjalan keluar.
Gadis itu mengangguk.
"Sudah." jawabnya.
"Kalau begitu tolong tungguin Balqis dulu, takutnya dia nyariin saya." ujar Anna yang langsung di jawab anggukan oleh pengasuh putri kecilnya itu.
Dengan keadaan segar Anna berjalan menuruni tangga, menuju ruang tengah dimana para pekerjanya berkumpul.
Tap .. tap .. tap ..
Suara seseorang menuruni tangga mampu membuat perhatian Syaif mengarah kesana.
Deg!!
Wajah polos tanpa risan, dengan hanya menggunakan dress rumahan namun mampu membuat Syaif terkagum-kagum.
"Bu Ningsih? Ratmi?" Anna memanggil. "Sini kumpul dulu!" sambung Anna.
"Baik Bu Anna .."
Sahut Faiqa dan Anis secara bersamaan, sementara Syaif diam tanpa mengalihkan pandangannya dari Anna dengan mulut sedikit terbuka.
"Aip kenapa sih?" Anna menjengit, namun dia tersenyum.
"Woi! lu kenapa dah?" Faiqa melempar gumpalan tissue tepat ke wajah pria itu.
"Oh .. itu .. apa?" Syaif gugup ketika kini kedarannya sudah kembali sepenuhnya.
Anna mengendikan bahu dibarengi gelengan kepala.
"Jadi gimana? mau jalan-jalan kemana?" Anna duduk di salah satu sofa kosong yang terletak di sudut tidak jauh dari Anis dan Faiqa.
"Kami bertiga, mau minta mentahannya aja Bu, nggak tau deh kalo Bu Ningsih sama mbak Ratmi." kata Anis seraya menoleh kepada dua orang yang sudah duduk di atas karpet.
Bu Ningsih menoleh, kemudian menyenggol lengan gadis disampingnya.
"Kalo kita mau liburan aja Bu, tapi masa berdua aja." ujar Ratmi.
"Kalo saya ngikut aja!" Bu Ningsih menimpali.
Sesaat Anna diam, membuka lilitan handuk dan mengusap rambut yang masih terlihat basah dan berantakan.
"Yaudah, Bu Ningsih sama Ratmi kita jalan-jalan. Sekalian liburan akhir tahun Balqis, lumayan agak lama liburnya." jelas Anna.
"Tinggal pilih, mau ke puncak atau mantai!" sambung Anna lagi.
"Ke puncak aja yuk! liburan ke tempat dingin tuh seru, ketimbang panas-panasan .. sambil makan mie tapi pemandangannya kebun Teh." Ratmi mengusulkan.
Anna mengangguk.
"Kalian bertiga serius nggak ikut?" Anna menatap Anis, Faiqa dan Syaif bergantian.
"Saya nggak Bu, lagu butuh uang soalnya." ujar Syaif.
"Kalo saya uangnya mau beli laptop Bu, kesibukan saya sekarang jadi author juga soalnya." kata Faiqa.
"Kalo saya mau dirumah aja, makan-makan sama orang tua." kata Anis.
Anna mengangguk, kemudian bangkit.
"Sebentar, saya ambil uangnya dulu." ucapnya lalu berjalan kearah pintu ruang kerjanya yang tertutup.
Beberapa detik Anna didalam ruangannya, kemudian ia keluar dengan tas kecil yang Anna bawa di tangan kiri.
"Penjualan kemarin sangat luar biasa, terimakasih untuk kerja samanya. Ini ada sedikit bonus dari saya, sekalian uang gajian juga."
Anna memberikan amplop kepada masing-masing pekerjanya.
"Sama kalo ada kontrakan rumah satu, kasih tau yah! jadi nanti produksi nggak disini." seru Anna.
"Sewa Neng?" Bu Ningsih bertanya.
Anna mengangguk. "Iya, bulanan atau tahunan juga boleh, yang penting jangan desak-desakan disini." jelas Anna.
"Boleh dirumah saya kalau Neng Anna mau!" kata Bu Ningsih.
"Serius?" Anna menatap wanita itu lekat.
"Serius Neng."
"Bener yah? jadi Minggu depan produksi di rumah ibu aja!" ucap Anna yang langsung mendapat anggukan darinya.
"Kalau sudah kami pamit pulang Bu!" Faiqa dan Anis berpamitan.
"Oke, ketemu Minggu depan yah?" Anna tersenyum.
"Saya juga pamit Neng."
"Saya juga Bu."
Bu Ningsih dan Ratmi pamit.
Anna mengangguk.
"Syaif, saya minta tolong yah! anterin surat izin ke sekolahan Balqis." Anna menatap pria itu.
"Iya Bu, saya tunggu di luar yah." kata Syaif.
Dengan cepat Anna naik keatas, masuk kedalam kamar lalu membawa surat dari Dokter semalam.
"Belum bangun Sil!?" tanya Anna.
"Belum, obat tidurnya kuat kayanya Bu," sahut Sisil.
Anna tidak menjawab, prempuan itu melesat kebawah untuk memberikan sebuah amplop berisi surat izin sakit.
"Ini, tolong kasih ke kantor sekolahannya saja!" Anna menghampiri Syaif yang sudah duduk di atas motor N-max hitam miliknya.
"Oh iya." Syaif menerima amplop itu.
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan!" Anna tersenyum manis.
"Saya pamit Bu." ucapnya kemudian melajukan motor itu kelaur dari halaman rumah Anna.
Sementara di sisilain dua pasang mata memperhatikan dalam mobil, matanya memincing, dengan perasaan yang bergemuruh, sampai tangannya mengepal.
"Sudah berani terang-terangan!" katanya dengan nada tidak suka.
...••••...
Jangan lupa likenyaaaaa epribadih : )
~Selamat malam Minggu, selamat beristirahat bagi yang jomblo~