
...••••••...
Pukul 09:00 Wib.
Mobil Mazda CX-5 hitam milik David berhenti tepat di samping mobil hitam milik Alvaro.
"Rajin sekali dia, jam sembilan sudah ada di kantor!" katanya saat dia turun, dengan pandangan mata yang terus meneliti mobil sedan hitam itu.
Pria tinggi dengan setelan jas berwana abu-abu itu berjalan cepat kearah pintu masuk. Beberapa orang tampak menyapa, termasuk security dan karyawan lainnya, mereka tersenyum dan menganggukan kepala.
"Pak David." sapa mereka dengan senyum hangat, dan David hanya menjawabnya dengan anggukan.
Kakinya terus melangkah, berjalan menuju pintu lift yang tersedia khusus untuk dirinya.
Sementara itu di meja kerja Alvaro. Pria itu terlihat lebih bersemangat, sudut bibirnya terus melengkung, memperlihatkan senyuman samar dengan raut wajah yang tampak berbinar.
Ya, Alvaro bahagia karena terus-menerus mendapatkan vitamin cinta dari istrinya, bahkan sebelum dia berangkat, Sisil masih sempat meminta hal yang beberapa hari tidak mereka lakukan.
Dia jadi nakal! umpatnya dalam hati.
"Kau gila? beberapa hari aku meninggalkan mu, dan kau sudah mengalami gangguan kejiwaan?!" ucap David, dengan mata yang memincing menatap Asistennya.
Alvaro terkejut, seketika senyuman dan raut wajah berbinar nya berubah menjadi masam.
"Bapak masuk?" dia kembali bertanya.
"Yah ... istriku meminta ku masuk kerja, dan memberi mu cuti bulan madu." jelas David.
"Sungguh? jadi saya bisa libur sekarang?"
David mendelik.
"Hari ini kerja, besok dan satu Minggu kedepan kau boleh liburan. Berterimakasih-lah, karena Sisil meminta ini kepada Anna, dan dia meminta ku untuk mengabulkannya." cecar David.
Alvaro mengangguk dengan perasaan senang, terlihat dari iris hitamnya yang tampak berbinar.
"Hhhhah ... bagaimana perasaan mu setelah menikah?" David duduk di sofa kecil yang berada di samping meja kerja Alvaro.
"Perasaan saya?" Alvaro menatap wajah David.
Pria itu mengangguk, dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada.
"Bagaimana? apa Sisil membawa perubahan besar untuk hidup mu?"
Alvaro diam. Dia mengingat keseharian setelah Sisil masuk kedalam dunianya dan rasa bahagia yang mendominasi, bahkan tidak bisa di pungkiri, hanya tiga malam prempuan itu pergi, dan hatinya terasa kosong melompong.
"Ya, dia merubah semuanya!" jawab Alvaro.
"Sudah tidak menutup hatimu? karena setahuku, kau menutup diri setelah perjalan cinta yang pahit dengan Mika."
Alvaro menggelengkan kepala.
"Sisil sudah menjadi satu-satunya wanita yang selalu saya pikirkan, dan saya rindukan pastinya."
"Dia memang gadis yang baik, Bu Ningsih mendidik dan merawatnya dengan baik, meski dia bukan putri kandungnya."
"Oh ya ... mengenai orang tua kandung Sisil, apa Sisil tidak meminta mu untuk mencari mereka?"
"Tidak, bahkan dia tidak ingin membahas soal itu." kata Al.
"Oh ya? bukankah semua orang pasti ingin mengetahui keberadaan orang tuannya."
"Sepertinya Sisil tidak, pak. Apalagi saat mengetahui dulu dia di temukan di depan pintu rumah."
"Tanyakanlah, jika dia ingin mencari, saya siap membantu." kata David, kemudian dia bangkit. "Saya masuk dulu, selamat bekerja, dan selamat atas kehidupan baru mu Al."
Alvaro tersenyum.
"Terimakasih pak." ucapnya, yang langsung di jawab anggukan oleh David.
Drrtt ..
Ponselnya bergetar.
Alvaro langsung meraih ponselnya, menekan tombol power, dan terlihatlah sebuah pesan yang masuk dari istrinya.
Pria itu tersenyum. Entahlah, semua yang mengenai Sisil membuat dadanya terus berdesir, hingga menghadirkan rasa seperti ribuan kupu-kupu berterbangan didalam sana.
[Abaang!]
"Oh, aku hafal saat dia merengek seperti itu!" Alvaro terkekeh.
—Ya sayang, kenapa?
Alvaro berniat kembali meletakan ponsel miliknya, namun benda itu kembali bergetar saat balasan pesan dari Sisil kembali masuk.
[Kapan pulang?]
—Abang baru sampai, kenapa sudah bertanya seperti itu?
"Astaga tuhan, dia selalu membuat jantung ku bedebar sangat kencang." dia bergumam.
[Nggak tau, rasanya aneh kalo Abang nggak ada. Mana aku di apartemen sendiri, bosen! aku nggak bisa melakukan sesuatu.]
—Jangan membuat pikiran Abang kacau, sayang!
[Aku nggak mau pikiran aku kacau sendiri!]
Tiba-tiba saja Alvaro tergelak. Dia sudah tidak tahan karena tingkah menggemaskan istrinya, sampai dia melakukan panggilan telfon saat jam kerja masih berlangsung.
"Pikiran nakal mu membuat Abang ingin izin pulang sekarang juga." kata Alvaro ketika panggilan sudah tersambung.
—Aku nggak nakal.
"Lalu apa?"
—Hanya ingin terus bersama, dan ... pacaran sedikit saja!
Alvaro memejamkan mata, dia mengigit bibirnya kuat.
"Sungguh aku harus pulang!" suara Alvaro terdengar sangat rendah, dia menahan desiran yang terus menyeruak, hingga membuat sesuatu di bawah sana mulai menegang.
—Tidak-tidak. Kerja saja dulu, aku sudah izin, masa Abang juga, .. nanti malam saja lanjut belajarnya.
"Belajar?"
"Astaga Naisilla, kau benar-benar menguji ku saat ini." suara geramannya memekik.
Sementara prempuan di sebrang sana terdengar tertawa kencang.
—Ish udah ah, aku malu kalo inget tadi pagi.
"Kenapa?"
—Aku tidak pernah memegangnya, tapi tadi ... sampai aku ****! ahh aku malu.
"Ya Tuhan!" Alvaro menepuk jidatnya kencang.
"Tunggu. Abang izin pulang dulu!" katanya lalu mematikan sambungan telfon tanpa persetujuan Sisil.
Alvaro bangkit, dan berjalan kearah pintu ruangan David yang tertutup.
...•••••...
Sedan hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan kota yang terlihat semakin ramai.
Cahaya matahari semakin terik, bahkan terasa panas saat menyapu kulit, namun suhu tubuh Alvaro lebih panas lagi sampai membuat wajahnya bersemu merah.
Sekitar satu jam menempuh perjalanan pulang, akhirnya mobil itu berbelok, memasuki sebuah kawasan apartemen dan memarkirkan mobilnya di basemen seperti biasa.
Setelah melewati lift dan berleri kencang di lorong yang selalu sepi, akhirnya pria itu sampai di depan pintu unit apartemen miliknya.
Plip .. klek!
Alvaro mendorong pintu itu cukup kencang, sampai membuat seseorang yang duduk di sofa tersentak karena terkejut bukan main.
"Abang beneran pulang?" cicit Sisil, bahkan dia berdiri saat melihat pria itu berjalan, dengan dasi dan jas yang berada di lengannya.
Dia tidak menjawab, pria itu hanya terus berjalan dengan tatapan yang terlihat seperti singa kelaparan.
Alvaro meletakan jas dan dasi nya begitu saja.
Alvaro meraup wajah Sisil, dan memangut bibir mungil menggoda itu dengan perasaan menggebu-gebu.
"Kau ini benar-benar yah! hari ini pikiran ku kacau hanya karena mu." Alvaro menggeram.
Sisil diam, dia bingung harus berbuat seperti apa.
"Want to play again?" Alvaro berbisik saat kening keduanya menempel dan saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.
Sisil mengangguk.
Alvaro menyeringai, dia mengangkat tubuh Sisil dengan sangat mudah, dan berjalan kearah pintu kamar lalu menutupnya rapat-rapat.
Tubuh Sisil melayang, lalu terjatuh tepat di atas tempat tidur yang baru saja selesai ia rapihkan. Sementara Alvaro berjalan kearah kaca, dan segera menarik gorden tebal agar menutupi kaca besar itu.
Suasana kamar jadi temaram, juga dingin saat Alvaro menyalakan pendingin ruangan.
Dia kembali berjalan kearah tempat tidur, tatapannya menusuk dengan tangan yang terus bergerak membuka setiap kancing kemeja yang masih ia kenakan.
Begitupun dengan sisa pakaian yang lain, Alvaro menanggalkannya satu-persatu sampai kini dia telan*ang bulat, dengan sesuatu miliknya yang sudah berdiri tegap.
Sisil menahan nafasnya, ketika pemandangan indah itu kembali ia lihat.
"Abang!" Sisil terkesiap saat Al menarik lepas celana pendeknya.
"Untuk saat ini aku hanya mengizinkan mu mende*ah, tidak untuk bicara banyak hal, oke?!" Alvaro berbisik, dengan kedua tangan yang tidak diam, melucuti setiap pakaian yang masih menempel di tubuh istrinya.
"Tidak pemanasan dulu?" Sisil bertanya saat Alvaro langsung menarik pahanya, dan membuat benda itu berada di depan sana.
"Aku sudah kepanasan sejak dari tadi, jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi." katanya lalu mendorong pinggulnya dengan sekali hentakan, sampai membuat Sisil merintih.
"Abang!" Sisil menjerit.
Alvaro sedikit membungkukkan tubuhnya, untuk kembali meraup belahan kenyal yang terlihat merah merona.
Suara erotis kegiatan mereka mulai menggema di dalam kamar milik keduanya, bersahutan dengan suara geraman dan ******* yang keluar dari muluk Sisil dan juga Alvaro.
Mata Sisil terpajang, keningnya menjengit keras dengan kedua tangan yang mulai mencengkram kuat lengan Alvaro.
"Ini hukuman karena sudah membuat ku pulang, dan pak David memakiku habis-habisan!" Alvaro terus berpacu, sambil menatap Sisil dari atas yang membuat prempuan itu terlihat semakin menggoda.
Sisil membuka matanya perlahan, lalu pandangan keduanya bertemu.
"Pelan-pelan sayang!" prempuan itu kembali merintih.
Namun bukannya memelankan hentakannya, justru Alvaro semakin menjadi-jadi.
"Ahhhhh ... Abang ... aku
Alvaro langsung membungkam mulut Sisil, sampai prempuan itu menghentikan ucapannya.
"Argghhh Naisilla!" Alvaro menggeram dengan nafas yang menderu-deru, saat miliknya terasa di cengkram dengan sangat kuat di bawah sana.
Sisil menjerit, saat hasratnya telah sampai di puncak.
"Aku selesai sayang .. aku selesai!" hentakan itu semakin tidak beraturan, dan berhenti setelah beberapa detik dengan lava hangat yang menyembur memenuhi rahim Sisil kembali.
Kening keduanya bersentuhan, dengan mata terpejam dan nafas yang menderu-deru.
Cup!
Alvaro mencium bibir Sisil, dia bangkit dan melepaskan tautan tubuh keduanya.
"Cepatlah hadir, Alvaro junior." Al menguspanperut Sisil.
Pria itu berjalan kearah kamar mandi, meninggalkan Sisil yang sudah berbalut selimut dengan mata yang terus terpejam.
Prempuan itu selalu tertidur setelah pergumulan panas yang sangat memabukkan itu.
...•••••...
Selamat malam Minggu ...
Jangan lupa! like, komen sama hadiah yang banyak ...
Othor lagi malak ini!
~Selamat malam kaum rebahan~