My Ex Husband

My Ex Husband
Rival



"Good morning, Haleth."


"Hi! Good morning,"


Haleth bergegas memasuki ruangannya usai bertegur sama dengan Niel yang secara tidak sengaja berpapasan dengannya di koridor. Sepertinya pria itu sedang ada pemeriksaan rutin, makanya langsung pergi setelah Haleth membalas sapaannya. Jika tidak, mungkin pria bernama lengkap Niel Hideki itu akan mengikuti Haleth masuk hingga ke kantornya.


Niel menghentikan langkahnya untuk menoleh sebentar dan menatap pintu ruangan Haleth. Hanya bisa menghela nafas, saat harus menerima kenyataan bahwa Haleth masih belum bisa membuka hati untuknya. Pria itu lantas kembali berjalan dan kembali berhenti di meja resepsionis. Pria keturunan Jepang itu menghabiskan waktu untuk beberapa menit membicarakan sesuatu dengan salah seorang perawat. Dan saat hendak pergi, netra nya menangkap sosok yang bisa dikatakan sebagai rivalnya memasuki rumah sakit tersebut.


Benar. Adam.


Ia memandang arah langkah pria tegap yang sukses menjadi sorotan itu. Beruntung posisinya tidak terlalu terlihat olehnya. Jujur saja, semenjak peristiwa di bar malam itu, Niel tak ingin lagi berurusan dengan Adam. Biarlah dirinya diam-diam berjuang dan menjadi pemenang suatu hari nanti. Asal tidak ada tikus yang menganggu usahanya, pasti tidak akan sia-sia.


Namun dalam hati, sumpah serapah Niel beruntun terucap. Melihat Adam yang memasuki ruangan Haleth, membuatnya ingin menggigit jarinya. Sebenarnya, apa yang sudah Niel lewatkan? Bukankah hubungan mereka tidak baik? Tapi melihat apa yang mereka lakukan di ruangan Haleth kemarin membuat Niel ragu. Dan sekarang, Haleth juga menerima kedatangan Adam yang pastinya tidak ada yang penting untuk dilakukan.


Astaga. Bimbang hati Niel. Saingannya orang kaya bukan main. Popularitas bagus. Dollar mengalir tiap detik dalam rekeningnya. Dalam sekali jentik jari, apa saja yang Haleth inginkan pun langsung tercapai.


Sedangkan dirinya? Hanya seorang Dokter yang beruntungnya diangkat menjadi seorang Direktur. Jika dibandingkan pun, hasil kerjanya 1 tahun bisa-bisa sama jumlahnya dengan pemasukan Adam tiap minggu. Meski kini dirinya sudah mempunyai rumah sendiri, mobil pribadi, dan itu hasil dari jerih payahnya sendiri, tetapi sepertinya itu tidak cukup menandingi apa yang seorang Adam Legrand miliki.


"Dokter? Maaf, keluarga pasien bernama Jonathan Miller ingin bertemu dengan anda."


Niel mengalihkan pandangannya pada seorang perawat yang berdiri di sampingnya.


"Baiklah. Mereka bisa ke ruangan saya. Untuk pengecekan rutin, sisanya aku serahkan padamu, Giselle."


"Baik,"


......***......


Tak terhitung sudah berapa kali Haleth memutar bola matanya. Kedatangan Adam yang tiba-tiba membuatnya tak fokus bekerja, meski ia belum kedatangan pasien sama sekali. Dan lihat apa yang pria itu lakukan di sini. Hanya duduk bersantai, memandang Haleth yang memfokuskan diri pada monitor laptop.


"Bukankah tujuan mu datang kemari hanya mengantar sepatuku?" wanita itu bersuara tanpa menatap lawan bicaranya.


"Hm, ya. Tapi aku akan pergi setelah pasien pertamamu datang." jawab Adam.


Lagi, Haleth merotasi bola matanya.


"Istirahat nanti, mau makan bersamaku?"


Wanita itu mengangkat alis kirinya usai mendengar tawaran Adam. Sangat tau, pria itu tidak akan gampang menyerah. Sebelum tragedi itu terjadi, Adam saja tidak pernah bosan mengambil perhatian Haleth. Apalagi jika sudah terjadi suatu hal yang tak gampang dilupakan oleh dua orang yang dulu pernah saling mencinta? Adam pasti terus gaspol tanpa rem.


"Mau makan di mana?" tanya Haleth.


Adam tercengang. Tiba-tiba saja detak jantungnya tak beraturan. Pertanyaan itu, apakah berarti bahwa Haleth menerima tawarannya?


"Hm, jangan katakan," Haleth menyela saat Adam hendak membuka suara.


"Jemput saja aku nanti. Tapi sebelum itu, bisakah kau pulang? Aku harus konsentrasi saat bekerja."


Senyum Adam melebar. Kepala pria itu mengangguk lantas berdiri dari duduknya.


"Okay. Aku akan menjemputmu. Sampai nanti, Haleth!"


"Okay, see you later,"


......***......


Lelah. Haleth meregangkan tubuhnya setelah cukup lama duduk menghadap laptop hingga jam makan siang. Ia segera merapikan barang-barangnya sebelum mengganti coat putihnya yang biasa ia kenakkan saat kerja. Hari ini dia akan makan siang bersama Adam.


Tapi ngomong-ngomong, tumben pria itu belum datang. Biasanya, dia akan bersemangat sekali sampai-sampai menjemputnya 1 jam sebelum jam makan siang.


"Aku mengetuk pintu beberapa kali, tapi kau tidak menjawab apapun." kata pria itu dengan kening mengernyit.


"Oh, maaf. Aku sedang beres-beres untuk makan siang tadi,"


"Kau lupa hari ini kita meeting dengan Profesor Adlers?" potong Niel yang sontak membuat Haleth membatu.


"Astaga," wanita itu berbisik. "Bagaimana bisa aku melupakan sesuatu yang penting seperti itu?!"


Niel terkekeh-kekeh melihat Haleth yang kalang kabut kembali menyimpan tas dan mengganti coat nya. Ia kembali rapi dengan pakaian kerjanya, dan saat ia akan keluar, sosok Adam datang menginterupsi interaksi antara Haleth dan Niel.


"Haleth? Ada apa?"


"Adam,"


Haleth melangkah mendekati pria itu, menariknya untuk mengambil jarak lebih jauh dari Niel.


"I'm so sorry. Aku benar-benar lupa hari ini ada meeting dengan Profesor Adlers. Sepertinya, kita tidak bisa makan siang bersama hari ini." ungkap wanita itu dengan tergesa.


"Mendadak sekali?" Adam melayangkan tatapan curiga pada Niel.


"Tidak. Ini tidak mendadak sama sekali. Meeting ini sudah dijadwalkan dari 1 Minggu yang lalu. Mungkin aku saja yang benar-benar lupa,"


"Hm, okay. Jadi, tidak makan siang bersama?"


Haleth menganggukkan. "I'm really sorry."


"Nah, it's okay," Haleth mematung untuk beberapa detik saat Adam terang-terangan membelai rahangnya dengan halus.


"Jam berapa nanti pekerjaan mu selesai?" lanjut pria itu bertanya.


"Sekitar, p-pukul 6 sore nanti, sepertinya."


"Bagaimana dengan makan malam?"


"Apa?"


"Mau makan malam denganku nanti?"


Wanita itu mengangguk. Ia membatalkan janji makan siangnya dengan Adam, maka ia akan membayarnya dengan makan malam. Tidak masalah. Itu sepertinya cukup membantu agar Adam tidak banyak berulah.


"Haleth! Bisakah kita pergi? Profesor dan yang yang lainnya sudah menunggu kita,"


Haleth menoleh sebentar ke arah Niel yang posisinya tak jauh darinya. Entah sejak kapan pria itu berpindah posisi.


Melepaskan tangannya dari tangan Adam, Haleth kemudian melambai pada mantan suaminya itu.


"Aku akan mengabarimu jika aku sudah selesai."


"Aku tunggu. Aku pergi kalau begitu,"


"Hati-hati."


Setelahnya Adam berlalu meninggalkan tempat tersebut. Pria itu tidak menoleh kembali ke belakang. Muak. Ia melihat Niel di sana. Baginya, Niel adalah rival terbesarnya. Mungkin banyak yang tertarik pada Haleth, menginginkan janda anak satu itu untuk menjadi istri mereka. Tapi entah mengapa, perasaannya kacau balau jika Haleth hanya bersama Niel. Meski itu karena tuntutan pekerjaan sekalipun.


Rasanya, Adam benar-benar ingin membeli rumah sakit yang tak seberapa harganya ini agar bisa memantau apa saja yang mereka lakukan.