My Ex Husband

My Ex Husband
Keduluan janda.



...•••••...


Tubuh Balqis mulai menggeliat, matanya terbuka lalu dia menoleh, saat dekapan hangat masih terasa melingkar di tubuhnya.


Seketika mata Balqis menatap kearah gorden, saat cahaya matahari tampak jelas menyorot.


"Maama?" Balqis menggoyangkan tubuh Anna.


Anna tidak merespon, prempuan itu tidur dengan sangat nyenyak.


Cup!


Balqis mencium pipi Anna, prempuan yang sedang berbaring miring menghadap kearahnya.


"Aqis turun ya Mam!" dia berbisik, kemudian beranjak dari sana.


Dengan langkah cepat Balqis meraih handle pintu kamar yang semalam ia tempati, lalu berjalan menuruni tangga dengan perlahan.


"Hey! kenapa turun sendiri?" tanya David yang baru saja hendak menaiki tangga.


"Mamanya nggak bangun, aku bosen kalo harus nungguin di kamar." Balqis kembali bawel, tidak seperti tadi malam yang hanya diam dan mengacuhkannya.


Dia sudah tidak marah? syukurlah! pikir David.


"Papa dari mana?" dia bertanya, dengan pandangan mendongak menatap tubuh tinggi sang ayah.


David tersenyum.


"Baru selesai lari pagi, Aqis mau kemana? ini baru jam setengah sembilan?


"Mau ke Teteh!" jelasnya kepada David.


"Baiklah, sarapan duluan gih! biar Papa bangunin Mama dulu."


Balqis mengangguk, kemudian berlari kearah belakang, dimana suara Sisil dan Ratmi saling berbalas candaan terdengar jelas.


Sementara David, pria itu kembali menaiki tangga, saat memastikan putrinya aman ketika ia menuruni tangga.


David memasuki kamar yang masih tampak temaram, lalu berjalan kearah gorden dan menggesernya kearah sudut agar cahaya matahari masuk kedalam ruangan itu.


"Sayang, bangunlah sudah mau siang ini!" David berjalan menghampiri.


Lalu duduk di tepi ranjang.


"Sayanga?" David menepuk bahu Anna, tapi prempuan itu tetap terlelap.


David terlihat sedikit bingung dan bertanya-tanya, karena tidak biasanya Anna seperti ini.


"Anna, bangun sayang ini sudah hampir siang!" David kembali memanggil, mencoba menepuk pipi Anna.


Deg!


"Saya kau sakit?" pria itu panik saat merasa tubuh Anna sedikit panas.


"Ann bicaralah!" David menggenggam tangan Anna.


Perlahan tubuhnya bergerak, lalu mengerjapkan matanya perlahan.


"Pusing!" Anna meringis.


"Sejak kapan kamu demam?" David semakin mendekat.


"Mas, jangan ngomong terus. Kamu berisik ... kepala ku semakin pusing!" tukas Anna sedikit ketus.


David langsung mengatupkan kedua bibirnya, mengulumnya rapat-rapat saat Anna mengomel beberapa detik lalu.


"Baiklah, aku mandi dulu!" kata David kepada istrinya.


"Hemm." Anna hanya bergumam dengan mata yang terus tertutup.


...••••••...


"Mau sarapan apa Non cantik?" Bu Ningsih bertanya.


"Roti selai coklat ... pake keju slice ya Bu!" kata Balqis.


Bu Ningsih mengangguk, lalu membawa satu roti tawar, mengoleskan selai coklat, memberikan keju slice diatasnya, lalu memberikan kepada Balqis.


"Nah, dihabiskan yah!?"


"Terimakasih Bu Ningcih!"


Wanita paruh baya itu tersenyum.


"Mama Anna kenapa belum turun? apa tidak mau sarapan?"


Balqis mengunyah roti isi nya dengan cepat, lalu menelannya segera.


"Mama aku bangunin nggak bangun-bangun, terus pas aku Sun pipinya. Pipi Mama anget!" jelas Balqis, gadis itu berceloteh dengan roti isi di genggamannya.


"Kalo Papa?"


"Papa baru pulang lari."


"Oh .. kalau begitu Non Aqis jangan rewel sama Mama, kasian kalo Mamanya sakit. Kalo ada apa-apa panggil Teh Sisil aja yah?" Bu Ningsih mengusap kepala Balqis pelan.


Setelah beberapa menit berlalu, David terlihat berjalan menuruni tangga, lalu melangkahkan kaki kearah meja makan bundar dimana putrinya duduk di temani Bu Ningsih.


Mereka terlihat bercengkrama, keduanya saling tertawa saat wanita paruh baya itu melontarkan candaan kepada gadis kecil itu.


"Eh .. bapak, mau kopi?" Bu Ningsih bangkit.


"Air putih hangat saja! kasih teh sama gula sedikit!" titah David dengan ekspresi wajah datar seperti biasa.


"Teh manis hangat maksudnya pak?" Bu Ningsih kembali bertanya.


"Sarapan apa?" David mencium pipi Balqis yang sedang asik menyantap roti isi selai dan keju slice.


"Roti ... Mama nggak bangun Pah?" gadis itu menatap wajah ayahnya.


"Mama sedang tidak enak badan." David tersenyum.


"Ohh, pasti Mama kedinginan! soalnya dulu kalo musim ujan Mama juga suka demam!" ujar Balqis.


"Apa Mama sering sakit?"


Balqis mengangguk.


"Kalo Mama sakit, Aqis sama siapa?"


"Mama panggil Bu Ning buat masak di rumah, terus kalo sekolah kan di temenin Teteh."


David diam, dia menatap wajah Balqis lekat-lekat.


"Kamu cantik seperti istriku!" David bergumam.


"Humm ... apa? Papa ngomong sama aku?" Balqis menoleh.


"Iya ... Balqis cantik mirip istri Papa." pria itu terkekeh.


"Istri Papa siapa?" Balqis kembali bertanya, dengan rongga mulut yang masih penuh dengan isi makanan.


"Istri Papa ya ... Mama Anna!"


"Ish .. Mama Anna itu Mama aku, kenapa jadi istri Papa?"


"Iya itu sama saja!"


Balqis menjengit, dia membulatkan matanya.


"Nggak .. nggak! Mama Anna ya Mama aku, bukan Mama nya Papa, eh .. istri Papah!" tegas Balqis sedikit ketus.


Keduanya terus berselisih, hingga David kelimpungan sendiri, dia pusing dengan banyaknya pertanyaan yang Balqis tanyakan.


Sementara di dalam kamar yang berada di lantai dua. Suara getaran dan dering notifikasi terus menggema, sampai membuat Anna tersadar, lalu meraih ponsel yang terletak di atas kasur tidak jauh dari dirinya.


"Iya Rika, kenapa?" Anna menyapa dengan suara malas.


—Baru bangun tidur?


"Iya, kenapa? dan ada apa?"


—Hari ini Edgar datang sama keluarganya, dia ngelamar gue Ann.


Seketika Anna bangun, dia mendudukan tubuhnya.


"Secepet itu?"


—Iya, makasih ya .. cincinnya gua suka.


"Oh itu, iya sama-sama."


—Lo dimana? nanti sore ke rumah ya!?


"Gua di puncak, lagi honeymoon .. eh itu maksudnya apa .. euh nganterin liburan anak-anak."


—Honeymoon sama siape? lu nikah! sama si Syaif itu? kok nggak ngundang-ngundang.


"Mana ada, kapan gua bilang ada hubungan sama dia. Lagian dia berondong, lu tau sendiri gua sukanya yang agak Mateng dikit!"


—Terus, sama siapa?


"Papanya Balqis, maaf ya nggak ngundang, ini dadakan banget."


—Anjeer ... milim pirtimi ding?


"Ya gitu." Anna senyum-senyum sendiri.


—Yahh kedulua janda lagi gue!


"Ish .. mulai ngaco kan, udah ah!" cicit Anna.


—Yaudah, Minggu depan udah balik ke sini kan? datang yah! cuma akad biasa.


"Lho, inikan pernikahan pertama elu?"


—Iya, tapi kalo ada duit. Mending di pake modal usahalah.


"Oh yaudah semoga lancar."


—Iya thanks ya Anna.


"Iya sama-sama."


Lalu sambungan telfon itu terputus.


Hcimm ... hcimm...


"Ya ampun gua pilek! kelamaan di kamar mandi ini mah pasti." Anna menggosok hidungnya.


...•••••...


Guys! waktunya nge-vote...


Jangan lupa yah, di like, komen sama hadiahnya juga!


~Terimakasih cuyung kalian <3~